
"Ken, bagaimana di sekolah? Ibu dengar kamu menolak untuk meloncati kelas." Ibu Kenta menanyakan Kenta yang sedang memainkan piano dengan lagu yang sama ia mainkan untuk Nara.
"Ken pengen menikmati masa SMP Ken bu, mereka baik-baik, tidak seperti saat aku di SD dulu, tidak apa-apa kan bu?" Kenta mulai berhenti memainkan piano nya dan mulai menatap ibunya.
Ibu Ken tersenyum mendengar alasan anak lelakinya. Lalu ia merengsek maju dan memeluk Kenta, sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan anak lelakinya karena harus mengurus sesuatu di luar negeri.
"Tidak apa-apa sayang…apapun yang membuatmu nyaman dan senang, ibu takkan melarangnya sama sekali, asal kamu bahagia dengan pilihanmu itu, ibu akan selalu menerimanya." Ibu Kenta mengelus kepala Kenta dan punggungnya dengan lembut. Kenta dengan perlahan menutup matanya menikmati sentuhan ibunya.
"Ngomong-ngomong Ken, apa kamu sedang menyukai seseorang?" Pertanyaan tiba-tiba yang dilontarkan oleh ibunya membuat Kenta terkejut dan spontan tubuhnya juga merespon, membuat ibunya Kenta langsung tersenyum misterius dan melepaskan pelukannya menatap Kenta.
"Sepertinya ibu benar 100%." Ibunya Kenta memperhatikan wajah Kenta yang sedikit merona, membuat ia yakin bahwa anak lelakinya sedang mengalami masa jatuh cinta.
"Tidak! Kenta tidak sedang menyukai siapapun. Ibu tahu sendiri kalau Kenta gak suka cinta-cintaan." Kenta memalingkan wajahnya kearah lain.
Apa ibu Kenta menyerah begitu saja? Oh…tentu saja tidak!
"Kalau begitu kenapa saat kamu mau berangkat ke rumah sakit menjenguk sahabatmu, kamu terlihat gugup berbicara sambil menatap cermin dikamarmu, bahkan kamu juga selalu merapihkan bajumu." Kenta yang mendengar hal itu terkejut, "Aaaa…apa ibu benar-benar melihatnya? Memalukan sekali! Rasanya aku ingin masuk lubang semut sedalam-dalamnya!" Kenta menutup matanya malu.
*****
"Abang kenapa ada disini? Bukannya abang harus sekolah? Kan abang udah kelas 12! Bilangin papa sama mamah loh!" Nara memarahi abangnya yang baru saja membuka pintu ruangannya.
"Ya Allah…bukannya seneng dijenguk malah dimarahin, abang lagi pulang cepet karena disekolah ada rapat, bilang aja sono sama mama papa!" Abang Nara langsung mengambil kursi dan duduk di dekat brankar tempat tidur Nara.
__ADS_1
Nara tidak mendengar apapun lagi saat ia melihat isi dari tentengan plastik yang dibawa abangnya.
"Nara mau…" Abang Nara yang melihat tatapan melas sang adik langsung memiliki ide untuk menjahilinya.
Abang Nara mengelurkan satu bungkus maklor yang dibawanya di dalam plastik, ia sengaja menyembunyikan satu bungkus lagi di dalam tas karena ia tahu adiknya pasti akan menginginkannya.
"Hmmm…baunya enak banget dek! Rasanya apalagi ya…" Abang Nara langsung mulai memakan maklornya di depan Nara yang sudah mulai mengeluarkan air liurnya.
"Ihh, jorok!" Abang Nara yang melihat itu langsung menjauh dari Nara.
"Salah abang! Siapa suruh beli 1 doang! Nara kan juga mau bang! Sengaja banget makan di depan Nara, keluar sana! Keluar!!!" Nara mengusir abangnya sambil tangannya melambai-lambai bermaksud untuk mengusir abangnya, bahkan Nara sudah mulai mengeluarkan air matanya hanya karena hal ini.
"Lah, kan adek lagi sakit, nanti kalau makan ini tambah sakit kan bahaya." Nara tidak peduli alasan yang diberikan abangnya, Nara tetap melambai-lambaikan tangannya untuk mengusir abangnya keluar.
Nara yang melihat maklor yang diberikan abangnya untuknya langsung menghapus air matanya dan dengan cepat memakan maklor itu.
Abang Nara menggeleng-gelengkan kepalanya akan sikap Nara yang cepat sekali berubah-ubah.
*****
"Jadi…siapa yang suruh kamu makan makanan begituan, Nara?" Saat ini Nara dan abangnya sedang di-introgasi oleh sang ibu.
Flashback On
__ADS_1
Saat Nara dan abangnya sedang menikmati maklor masing-masing, tiba-tiba pintu itu terbuka memunculkan sosok sang ayah dan sang ibu.
Ayah dan ibu Nara yang melihat sebuah makanan berwarna merah yang dipegang oleh Nara spontan langsung merebut makanan itu dari Nara.
Flashback Off
Dan disinilah sekarang, keduanya sedang di introgasi oleh kedua orang tuanya yang sudah menunjukkan wajah menyeramkannya.
"Kamu juga bang, kenapa malah beli beginian si? Kamu tahu sendiri adek kamu masih sakit. Malah beli beginian segala." Ayah Nara menunjukkan maklor yang sudah disitanya.
Abang Nara yang melihat itu hanya tersenyum masam saja, karena ia memang salah membeli makanan begituan untuk adiknya yang sedang sakit.
Karena Nara dan abangnya tidak memberikan pembelaan sedikitpun, akhirnya ayah dan ibu Nara memilih untuk membuang maklor yang hampir habis itu ke tempat sampah (Duh sayang banget…buat aku aja sini, pengen banget maklor😕).
"Awas kamu bang beli beginian lagi. Kalian boleh beli…tapi lihat keadaan juga, kamu kan juga lagi sakit dek…" Ibu Nara menasihati anak perempuannya.
"Iya mah…maaf…lagian salah abang yang beliin, coba kalau abang gak beliin, adek juga gak bakal makan begituan." Abang Nara yang mendengar itu rasanya ingin mencabik mulut adiknya itu, untung sekarang ada ayah dan ibunya, kalau tidak sudah habis Nara dibuat ngambek oleh abangnya.
"Yaudah, ayah tanya tentang makan siang kamu dulu, nanti abis makan langsung minum obat terus tidur." Ayah Nara keluar ruangan.
"Apa mau sholat Dzuhur dulu? Belum sholat kan? Gimana? Masih pusing?" Ibu Nara memegang kening Nara lalu memberikan air hangat yang dibawanya dari rumah.
"Sholat dulu deh, gak pusing lagi kok mah."
__ADS_1
"Yaudah, abang ke mushola rumah sakit dulu ya." Abang Nara mulai menuju mushola rumah sakit untuk melaksanakan sholat Dzuhur.