
Waktu istirahat kedua setelah selesai sholat Dzuhur.
Karena tidak ada kabar apapun tentang Gaza dari wali kelas dan para guru, Neva akhirnya menyuruh Andre dan Kenta untuk mencari tahunya.
"Kayaknya ada yang aneh sejak kejadian itu…" gumam Neva yang tanpa sengaja didengar oleh Nara.
"Kejadian apa? Emang abis terjadi apaan?" Nara yang merasa Neva menyembunyikan sesuatu akhirnya memaksa Neva untuk menceritakannya.
Neva yang awalnya menolak untuk menceritakan akhirnya luluh juga saat Nara tidak juga menyerah untuk memaksa Neva.
"Jadi waktu aku ke rumah sakit buat jenguk kamu…" Neva akhirya menjelaskan semuanya, dimulai saat dia menemukan Gaza duduk lemas di bangku depan ruang IGD sampai akhirnya Gaza menyuruhnya untuk pergi ke ruangan Nara.
"Lalu bagaimana dengan anak kecil itu? Dibiarkan sendiri? Gimana kalau ayahnya datang dan nyakitin dia lagi?" Eliyah langsung mengeluarkan semua pertanyaannya, tanpa sengaja Eliyah bertanya dengan suara yang agak keras.
"El! Suaramu!" Neva langsung membekap mulut Eliyah walau sebenarnya sudah telat, tapi untungnya di sekitar mereka para siswa dan siswi lain sedang sibuk dengan temannya masing-masing.
"Maaf maaf, aku kebawa perasaan jadinya" Eliyah langsung berkali-kali mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Sudah gak papa kok, yang penting jangan sampai siapapun mengetahui hal ini saja" Neva langsung menghentikan gerakan kepala Eliyah yang masih saja belum berhenti.
"Entah kenapa aku merasa Gaza kena skorsing deh…" Nara tiba-tiba membuka suaranya dengan suara sepelan mungkin, tetapi masih bisa didengar keduanya.
"Awalnya aku juga mikir gitu, tapi kan si Gaza gak salah, plus si pelaku nya juga harusnya gak tahu dimana Gaza sekolah kan?" Neva sedikit membenarkan ucapan Nara walau sebenarnya ia sendiri masih belum terlalu yakin tentang itu.
__ADS_1
Selagi ketiganya berbincang, tiba-tiba Andre dan Kenta berlari menghampiri mereka dengan wajah pucat, hanya Andre saja, sedangkan Kenta masih tetap berwajah datar seperti biasanya.
"Gimana? Nemu apa?" Neva langsung bertanya saat kedua lelaki itu sudah mulai duduk.
Andre dan Kenta saling memandang satu sama lain sampai pada akhirnya mereka memandang ketiga perempuan di depan mereka dan mulai menceritakan apa yang mereka temukan.
Setelah beberapa menit mereka berdua menceritakan, lebih tepatnya Andre yang paling banyak berbicara, sedangkan Kenta hanya sekali-kali menjawab.
"Jadi bener Gaza kena skorsing…?" Neva dan Nara berbarengan mengucapkan kalimat yang sama, bahkan ekspresi nya pun sama.
"Bisa dibilang Gaza kena fitnah oleh si pelaku" Bukan Andre yang mengucapkan melainkan Kenta.
"Kenapa kamu bisa berpikir gitu Ken? Kita kan juga gak ada bukti" Andre bukannya marah, karena Andre sendiri pun merasa begitu. Hanya saja mereka tidak punya bukti apapun, maka dari itu Andre terlalu takut untuk membuka suara.
"Kau yakin Ken? Kau tahu sendiri kan kalau…" belum selesai Eliyah berbicara, Kenta langsung memotongnya.
"Aku yakin, serahkan saja kepadaku. Kalau begitu kalian mendekatlah, akan aku beritahu apa rencana kita nanti" semuanya langsung bergeser maju sedikit dan Kenta mulai membisikkan rencana yang sudah ia pikirkan dengan matang setelah mencari tahu tentang masalah skorsing nya Gaza.
"Baiklah, gue percaya sama lo Ken!" Andre menepuk bahu Ken dengan pelan dan para perempuan pun mengangguk akan ide yang Ken berikan.
"Kalau gitu, kita mulai rencananya mulai dari sekarang" Andre meletakkan tangan kanan nya di tengah-tengah mereka, dan mereka yang mengerti akan hal itu pun melakukan hal yang sama seperti Andre.
"Untuk Gaza."
__ADS_1
"Kita akan membebaskanmu Gaza."
"Tunggu kita Za."
"Misi ini harus berhasil untuk Gaza."
"Wait for us Za!"
Batin mereka masing-masing.
*****
"Kamu mau kemana?" seorang ibu memanggil anaknya yang terlihat sedang memakai sepatu di depan pintu masuk.
"Melakukan sesuatu yang seharusnya kulakukan bu, sepertinya aku akan pulang telat, gak perlu khawatir bu" anak itu langsung mengalihkan wajah ke arah ibunya, namun tangannya masih mencoba untuk memakai sepatu.
"Kamu yakin? Memangnya mau ngelakuin apa?" Ibu dari anak itu jadi merasa khawatir akan anaknya yang akan pergi itu. Walau nantinya ia akan kembali, tetap saja ibu itu khawatir.
"Iya, gak perlu khawatir. Kalau begitu aku berangkat ya bu! Assalamu'alaikum!" Selesai merapihkan sepatunya, ia langsung bangkit dari duduknya dan berlari keluar rumah.
"Ibu harap kamu tidak melakukan hal yang berlebihan di luar sana…" Ibu itu meletakkan kedua tangannya di depan dada dan berdoa dalam hati.
"Lihat saja, aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi."
__ADS_1