
Sejak kejadian tadi pagi, kedatangan Ken membuat para murid-murid senang, selain karena Ken sangat tampan, ia juga adalah seorang ketua kelas yang sangat bertanggung jawab.
Ya, Kenta sudah tahu bahwa ia dijadikan ketua kelas oleh teman-temannya tanpa sepengetahuan dirinya. Tapi walaupun begitu, Ken tidak marah atau ngeluh sedikitpun. Karena Kenta merasa bahwa menjadi ketua kelas bisa membuat ia belajar bertanggung jawab untuk memimpin, jadi Kenta terima-terima saja.
Sejak pelajaran pertama entah kenapa Kenta merasa penasaran dengan Nara si anak baru. Bahkan entah kenapa Kenta merasa ia tak ingin mengembalikan gelang milik Nara yang ia temukan di mall kemarin.
Tanpa Kenta dan lainnya sadari, ia sedikit tersenyum saat memperhatikan Nara dari belakang, bahkan baru kali ini Kenta tidak terlalu memperhatikan pelajaran yang sedang berlangsung.
Bel tanda istirahat berbunyi dan itu sedikit mengagetkan Kenta yang sedari tadi ngelamun.
"Ken." Panggil Andre yang tiba-tiba sudah dibelakang Ken, spontan Kenta langsung menghadap kebelakangnya.
"Ya, kenapa?" Setelah menetralkan rasa terkejutnya, Kenta lalu menjawab.
__ADS_1
"Kayaknya gua perhatiin daritadi tumben lu gak fokus gitu, apa jangan-jangan Kenta si kulkas ini sudah menyukai seseorang? Siapa? Siapa?" Goda Andre, Kenta yang tahu akan kemana pembicaraan ini lebih memilih untuk langsung meninggalkan Andre yang masih menggodanya.
*****
Di sekolah SD, seorang anak perempuan sedang menahan sakit akibat bully-an dari sekelasnya.
"Abang…" lirih anak perempuan itu.
"Abang abang, abang lu gak bakal tahu lo disini, jadi jangan berharap deh, salah lu cari gara-gara sama gua, sekarang lu harus tanggung jawab dong…?" Pembully itu menarik kerudung anak perempuan tersebut yang sudah melirih kesakitan.
Tiba-tiba suara tepuk tangan terdengar dan hal itu membuat para pembully itu mengalihkan padangan nya ke arah orang yang bertepuk tangan.
"Berani-berani nya lo pada nyakitin adek kesayangan gue ya…" Nada seorang gadis remaja itu terdengar menakutkan di telinga para pembully, bukan hanya itu, tatapannya juga seolah menusuk para pembully itu.
__ADS_1
"Makanya kalau punya adek tuh diajarin sopan santun, siapa suruh dia songong sama gue, gimana si lo jadi kakaknya?" Tanpa rasa takut sedikitpun, pembully itu menantang kakak dari anak yang dibully nya.
Gadis remaja itu mengeluarkan ponsel dari saku celana nya dan menyalakan sebuah video dengan volume full.
"Karena bukti ini, gue gak akan segan-segan buat ngancurin lo pada anak bau kencur! Kecil-kecil ternyata sudah begini, gimana kabar orang tuanya ya? Harusnya diajarin sopan santun walau dengan teman sebaya kan? Gimana sih para orang tua kalian?" Suara dari video tersebut sudah membuat para pembully itu ketakutan, ketua dari pembully itu sudah siap melarikan diri tetapi…
"Mau kabur kemana? Tadi berani nantang, sekarang takut? Ngompol gak ya kira-kira. Ahahaha!" Goda gadis remaja itu, sebenarnya gadis itu sudah sangat emosi melihat keadaan adik perempuannya, tetapi dia tak ingin kehilangan kendali, bisa hancur rencananya jika ia lepas kendali sedikitpun.
"BAJ*NGAN!!!" Ketua pembully itu mau mulai menyerang gadis remaja itu, tetapi dengan cepat gadis remaja itu menepis serangan membalik tubuh pembully itu hingga jatuh ke tanah.
Para bawahan pembully itu juga mulai menyerang membantu ketuanya, tetapi dengan mudah serangan mereka semua bisa ditahan oleh gadis remaja itu. Beberapa menit kemudian setelah membereskan para pembully yang sudah kabur karena takut, gadis itu mendekati adik perempuannya yang masih menangis.
"Dek? Maafin kakak dek…maaf kakak gak bisa jaga adek!" Gadis itu memeluk adik perempuannya yang sudah penuh dengan luka, dengan cepat gadis itu menggendong adiknya dan membawanya kerumah sakit.
__ADS_1
"Ja-jangan beri-tahu…siapapun ya…k-kak." Lirih adik perempuannya dalam gendongan gadis itu. Membuat gadis itu menahan tangisnya.