Love You In Silent

Love You In Silent
6. Aku memang Ngangenin


__ADS_3

Kini hari sudah menjelang malam. Dan Nara masih belum menyadari gelang kesayangannya yang hilang.


Saat Nara ingin pergi ke kamar mandi tiba-tiba ponsel yang Nara letakkan di nakas meja berdering, pada akhirnya Nara memilih untuk mengangkat ponsel nya terlebih dahulu.


Hal yang pertama kali Nara lihat adalah sebuah panggilan dari nomor yang tidak Nara kenal, awalnya Nara ragu untuk mengangkatnya dan berniat untuk membiarkannya, tetapi Nara takut jika itu adalah panggilan dari orang yang dikenalnya. Pada akhirnya Nara memberanikan diri untuk mengangkat panggilan yang tidak dikenalnya itu.


"Assalamu'alaikum…i-ini siapa ya?" Nara memberanikan diri untuk bertanya lebih dulu.


Tidak ada satupun jawaban dari orang asing itu.


"Halo…?" jantung Nara mulai berdetak tidak beraturan karena ia tidak mendengar satupun jawaban dari seberang sana.


"Saya akan tutup jika anda tidak mengatakan apapun" Nara memberanikan diri untuk mengancam orang itu dan setelah menunggu beberapa saat Nara masih tidak mendapat satupun jawaban dari panggilan tersebut. Alhasil Nara langsung mematikan panggilan itu dan juga mematikan ponselnya, takut jika orang itu menelepon lagi.

__ADS_1


Setelah mematikan ponselnya Nara langsung berlari menuju kamar mandi yang ada di kamarnya. Di kamar mandi Nara tidak bisa tenang sedikitpun dan itu membuat Nara mual lalu memuntahkan isi perutnya. Beruntung Nara tidak banyak mengeluarkan isi perutnya.


Saat Nara sedang mencuci wajahnya sambil menatap cermin Nara merasa ada sesuatu yang kurang di tangannya, setelah berpikir beberapa saat Nara mulai panik.


"Gelangku mana???" Nara mulai keluar kamar mandi dengan terburu-buru.


Nara memeriksa seluruh kamarnya berharap gelang itu hilang di kamarnya, tetapi setelah Nara cari beberapa menit gelang itu tidak kunjung ia temukan.


Dan akhinya Nara berjongkok dan menangis, karena itu adalah gelang terakhir pemberian dari neneknya yang sudah tiada. Nara merasa ia tidak becus dalam menjaga barang kesayangannya.


Hari ini adalah hari kedua Nara masuk sekolah. Nara masih memikirkan nasib gelangnya yang hilang, tapi Nara juga tahu kalau nasi sudah menjadi bubur, sepertinya gelang itu hilang saat Nara sedang berjalan-jalan di mall. Itulah yang Nara pikirkan.


Saat masuk ke kelas, kelas masih terasa sepi belum banyak murid-murid yang sudah datang ke sekolah, pada akhirnya Nara lebih memilih untuk menggambar random sampai bel masuk sekolah berbunyi.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, hai Nara!" Neva baru saja datang dan langsung menghampiri Nara teman sebangkunya.


"Wa'alaikumussalam, oh akhirnya kamu datang juga Nev" Nara tersenyum.


"Cieee kangen ya? Aku itu emang orangnya ngangenin kok…" goda Neva.


"Iya, ngangenin untuk di diemin" Nara lanjut menggambar di bukunya.


"Dih gitu, ya maaf lah Ra" Neva mencoba untuk membujuk Nara yang sebenarnya juga hanya bercanda.


"Btw aku mau cerita Nev" entah darimana keberanian yang Nara miliki, tetapi Nara merasa kalau ia dan Neva sudah sangat dekat.


"Kenapa? Tumben" di dalam hati Neva senang akan perubahan sikap Nara terhadapnya yang tidak takut untuk berbicara ataupun curhat.

__ADS_1


"Semalam…aku di telpon orang gak dikenal, pas aku angkat dan ngomong 'halo halo' gak ada jawaban sama sekali, bahkan aku juga sempet ngancam tetap gak ada jawaban, aku takut deh, btw dia dapat nomorku darimana ya" Nara gemetar sendiri mengingat kejadian semalam, Nara takut bahwa nomor dia disebar di media sosial oleh orang lain.


Neva yang mendengarnya terkejut.


__ADS_2