Love You In Silent

Love You In Silent
18. Sahabat Lama


__ADS_3

Di sepanjang jalan menuju ruangan Nara, Kenta berusaha mengatur rasa gugupnya yang selalu membuatnya gelisah sendiri.


"Astagfirullah Ken…relaks Ken…relaks…" Kenta merelakskan pikiran dan tubuhnya yang selalu merasa gugup.


Sesampainya di depan ruangan Nara, Kenta hendak mengetuk pintu, namun ia mengurungkan niatnya saat mendengar suara lelaki yang terdengar akrab berbicara dengan Nara.


*****


"Bagaimana kau bisa ada disini? Dan bagaimana kamu tahu aku masuk rumah sakit?" Nara bertanya sambil menatap lelaki di depannya heran.


"Iyalah aku tahu! Kan aku sahabat terbaikmu sejak dulu, makanya aku tahu!" Lelaki itu menjelaskan sambil berpose lucu dengan meletakkan kedua tangannya di pinggang dan menegakkan tubuhnya.


"Hahaha…alasan apa itu!" Nara tertawa lepas karena alasan yang ia dengar dari sahabat lamanya itu.


Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, memunculkan sosok ayah Nara dengan Kenta di belakangnya.


"Assalamu'alaikum anak papa…" Ayahnya menghampiri tempat tidur Nara dengan Kenta di belakangnya.


"Wa'alaikumussalam papa! Kenta! Maaf lagi-lagi Nara merepotkan Ken…" Sebenarnya Nara merasa canggung saat ia melihat Kenta, namun ia berusaha menutupinya dengan bersikap seperti biasa.

__ADS_1


"Tidak sama sekali Nara, bagaimana keaadanmu?" Kenta mulai mendudukkan tubuhnya di kursi yang baru saja disediakan oleh ayah Nara.


"Alhamdulillah keadaanku sudah mulai membaik, oh iya perkenalkan ini sahabat lamaku, namanya Hendra Pratama, dan Hendra ini sahabat di sekolahku Akira Kenta Wiranda." Tatapan Hendra dan Kenta mengisyaratkan sesuatu yang tidak Nara sadari, hanya ayah Nara yang menyadari itu.


Kenta dan Hendra mulai bersalaman satu sama lain, dan mereka berdua sama-sama mencengkram tangan satu sama lain dengan kuat hingga ayah Nara yang menyadari hal itu tersenyum misterius.


"Salam kenal." Kenta dan Hendra sama-sama mengeluarkan suara dingin mereka. Seperti sama-sama ingin menyatakan perang.


Nara yang sama sekali tidak menyadari perubahan mereka hanya tersenyum puas saat memperkenalkan Kenta dan Hendra satu sama lain.


"Semoga kalian bisa akrab satu sama lain ya!" Jawab Nara sambil tersenyum.


Sepertinya anakku terlalu polos untuk urusan cinta saat ini.


*****


"Ya, kenapa sayang?" Ayah Nara menghentikan pekerjaannya sebentar lalu bangun dari duduknya menghampiri Nara.


"Papa gak perlu samperin Nara juga, Nara cuman mau nanya doang kok." Nara menggembungkan pipinya membuat ayahnya gemas.

__ADS_1


"Gak papa, pekerjaan papa juga udah selesai. Kenapa? Anak papa mau nanya apa?" Ayah Nara mengelus lembut kepala Nara.


"Nara bukan anak kecil pa!" Walaupun Nara ngambek karena sentuhan ayahnya, tapi Nara tetap menikmatinya.


"Mau sedewasa apapun kamu, kamu tetaplah anak kecil dimata papa." Perkataan ayahnya sontak membuat Nara menatap dalam ayahnya, dan entah kenapa Nara merasa ingin menangis.


*****


"Kamu gak bakal ninggalin abang kan dek?" Lelaki itu mengelus pipi adik perempuannya yang tertidur.


"Kamu…tetap akan disini kan dek…?" Lelaki itu mulai terisak akan keadaan adiknya yang semakin lama semakin memburuk.


"Eungh…" Lelaki itu dengan cepat menghapus air mata yang keluar dari matanya saat mendengar lenguhan adik perempuannya.


"Abang, kenapa disini?" Dengan suara serak khas bangun tidur adiknya menatap abangnya.


"Abang…abis nangis?" Adik perempuan itu menghampiri sang abang saat melihat mata merah sang abang seperti habis menangis.


"Gak kok…abang gak nangis, tadi anginnya kenceng terus ada debu masuk ke mata abang jadinya perih…" Abangnya itu menahan tangan adiknya yang ingin mengusap matanya.

__ADS_1


"Abang…gak bohong sama adek kan? Apa abang…nangis karena keadaan adek sekarang? Tenanglah bang…adek berjanji akan sembuh lalu kita bisa bermain bersama lagi seperti dulu!"


Kamu benar-benar berjanji akan kembali ke pelukan abang dan tidak akan meninggalkan abang kan? Bisakah abang berharap sekali saja untuk ini? Abang hanya ingin bersama denganmu lebih lama lagi. Apa keinginan ini terlalu sulit untuk kuraih?


__ADS_2