
Di tengah malam tepatnya jam 1 malam, seorang pria dewasa sedang berkutat dengan laptopnya dalam keadaan gelap gulita, hanya diterangi oleh cahaya bulan yang masuk melalui jendela dan juga sinar cahaya dari laptop.
Pria dewasa itu tidak merasakan rasa kantuk sama sekali dan berniat untuk lembur semalaman menyelesaikan pekerjaannya. Sebenarnya ia bisa saja melakukannya dari awal, tetapi…
Flashback On
Jam 9 malam di sebuah ruangan rumah sakit, Nara yang belum bisa tertidur di ranjangnya itu terlihat gelisah, membuat ayah Nara menghampirinya dan membuka selimut yang menutupi tubuh Nara, "Kenapa, hmm? Kok belum tidur?"
"Nara belum ngantuk…" Nara menggembungkan pipinya sambil cemberut, membuat ayah Nara mengambil kursi dan meletakkanya di samping ranjang Nara.
"Mau ngobrol-ngobrol atau curhat dulu sebelum tidur?" Ayah Nara menawarkan sesuatu yang sangat sering dilakukan keduanya saat sedang bosan ataupun saat hanya berdua saja.
"Mau!" Nara langsung bangun dari posisi tidurnya dengan semangat. Mana mungkin aku melewatkan kesempatan ini! Begitulah pikir Nara.
Keduanya pun mengobrol, jika ditanya kenapa hanya ada ayah Nara yang menemani Nara karena ayah Nara melarang ibunya Nara untuk menginap di rumah sakit. Jadi karena itulah ibu Nara berada dirumah bersama abang Nara. Selain itu, ayah Nara takut ibu Nara tidak akan bisa tidur seperti hari dimana keadaan Nara kembali drop dan sempat kritis di tengah malam.
Sudah hampir sejam keduanya mengobrol, hingga mata Nara sudah mulai terlihat lelah. Ayah Nara yang baru saja keluar dari toilet langsung menghampiri Nara.
__ADS_1
"Tidurlah…jangan dipaksakan, kamu harus istirahat yang cukup agar cepat sembuh." Ayah Nara mencium kening Nara lalu membaringkan Nara dengan pelan. Terakhir, ayah Nara menaikkan selimut untuk menutupi tubuh Nara. Nara yang memang sudah sangat mengantuk langsung menutup rapat matanya dan mulai menuju kealam mimpi.
Selesai mengawasi Nara yang sudah tertidur, ayah Nara kembali mengerjakan pekerjaannya yang belum terselesaikan.
Flashback Off
"Alhamdulillah sudah selesai…" Ayah Nara meregangkan kedua tangannya lalu menutup laptop. Ayah Nara menghampiri Nara yang sudah tertidur pulas, ia mengelus kepala Nara dengan lembut, "Maaf…kamu harus mengalami semua ini, maaf…" Ayah Nara terduduk di lantai dengan tangan yang masih berada di kepala Nara.
"Papah memang tidak berguna…" Ayah Nara menahan isak tangisnya karena takut membangunkan Nara yang sudah tertidur pulas.
*****
"Gaz…is that you?" Neva berdiri di depan Gaza yang sedang menundukkan wajahnya dan sama sekali tidak menyadari keberadaan Neva.
"Neva…? Mau jenguk Nara?" Gaza langsung menampilkan senyum terpaksanya. Walau ia tersenyum tapi wajah pucat itu tidak bisa membohongi Neva bahwa Gaza sedang tidak baik-baik saja.
"Gaz, nungguin siapa? Kenapa wajahmu sampai pucat begitu?" Neva langsung duduk di samping Gaza, Neva berpikir ia tidak boleh terburu-buru untuk mengeluarkan semua pertanyaan yang ada di kepalanya saat ini.
__ADS_1
Gaza tidak menjawab, ia langsung menundukkan kepalanya kembali dan mulai terdengar isak tangisan disana. Neva memberanikan diri untuk menenangkan Gaza dengan mengelus punggunggnya. Setidaknya itu bisa membuat Gaza sedikit rileks.
"Nev…gue ketemu anak kecil di gang…gue ngeliat sendiri betapa dunia yang luas ini dia tidak merasakan kebahagiaan sedikitpun…gue ngeliat sendiri dia dipukul sampai babak belur oleh ayahnya sendiri…jadi gue gak salah kan kalo gue mukul balik ayahnya sampai babak belur…?" Neva yang mendengar itu terkejut, sekarang ia tahu kenapa ada noda darah di tangan dan baju Gaza.
"Gak Gaz…lo gak salah…lu udah membantu memberikan keadilan ke anak itu…" Dengan perlahan Neva sedikit memeluk Gaza menenangkannya. Maaf jika ia kelewatan batas, tetapi dia tidak bisa membiarkan Gaza sendirian. Sosok yang dikenal selalu ceria dan suka menjahili teman-temannya sekarang terlihat sangat mengenaskan, berbanding terbalik dengan yang selalu ia lihat di sekolah. Senyum yang selalu terpampang di wajahnya sekarang berubah menjadi kesedihan yang sangat mendalam.
"Gue yakin pasti anak itu bisa bertahan…jangan merasa bersalah Gaz…lo udah ngelakuin yang terbaik, dan Allah juga lihat apa yang lo lakuin, lo gak salah…" Neva menepuk-nepukkan tangannya di punggu Gaza yang sedikiy bergetar. Ini adalah pertama kalinya Neva melihat Gaza sangat terpuruk seperti ini.
Walau kamu selalu terlihat kuat di luar, ternyata di dalam dirimu terdapat hati yang rapuh ya Gaz…aku bersyukur bisa bertemu denganmu. Kehadiranmu di hidupku merubah sesuatu yang tadinya takkan bisa kurubah menjadi benar-benar berubah. Sekarang biar aku membalas semua kebaikanmu.
*****
Assalamu'alaikum, maaf ya aku gak post beberapa hari ini, ada seminggu kali ya :'D
Karena musim nya lagi musim penyakit jadi sempat tertular juga dan jujur itu gak enak. Dan juga karena banyak tugas sekolah makanya jadi agak keteteran. Alhamdulillah sekarang udah bisa nge-post lagi :D
Btw gak nyadar udah episode 20 aja ya, masih banyak masa lalu dan misteri yang belum terkuak, bahkan aku sendiri sebenarnya masih suka mengkhayal ceritanya beberapa kali :v
__ADS_1
Terima kasih bagi yang masih setia nungguin novel ini :D✨
Wassalamu'alaikum~