
POV Gaza
"Kalau belok kesini, berarti akan cepat sampai di jalan itu, tapi…bagaimana dengan rute satunya yang berlawanan? Kita hanya mengejar berdua. Sudahlah! Yang penting sekarang gue kecoh dulu!" Batinku sambil berlari lebih cepat.
"Itu dia!" Aku melihat paman itu baru saja keluar dari gang yang lumayan sempit itu. Tanpa menunggu lama, aku langsung menambah kecepatan lariku dan langsung menerjang paman itu.
"Sial!" Decakku kesal saat paman itu berhasil lolos dari terjanganku dan berlari ke rute yang berlawanan.
"Za, lo gapapa?" Andre bertanya padaku dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Sialnya dia kabur Ndre" Aku yang juga ngos-ngosan merasa tidak kuat lagi untuk berlari akhirnya hanya melihat paman itu berlari semakin jauh tanpa bisa kukejar.
"Gapapa, ada bala bantuan" Andre mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"Bala bantuan?" Pikirku.
POV Gaza End
Seorang lelaki remaja baru saja melihat dari jauh jika Gaza terlepas dari paman itu, langsung saja lelaki remaja itu berlari menghampiri paman itu.
__ADS_1
Dan dalam beberapa detik kemudian, paman itu terjatuh akibat terjangan dari sang lelaki remaja.
BRUK
"Mau lari kemana? Bukankah kau sudah sangat yakin bahwa kau tidak akan tertangkap? Lalu kenapa lari?" Lelaki remaja itu menginjak tubuh paman tersebut sehingga paman itu tidak bisa melarikan diri lagi.
"A-ampuni paman, Nino…paman mohon…" Ya, lelaki remaja itu bernama Nino.
"Atas dasar apa kau meminta ampun padaku? Apa aku mengenalmu, paman?" Nino menekankan kata 'paman' yang membuat lelaki dewasa itu merasa takut.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang cepat dari arah depan menghampiri mereka, Nino yang merasa bahwa orang itu adalah komplotan si paman langsung menarik rambut paman itu kebelakang dan mengeluarkan pisau dari sakunya lalu mengarahkannya ke leher si paman.
"Jangan membunuhnya!" Teriak orang itu saat sudah berada di dekat Nino dan paman.
"Saya Kenta, saya berniat menangkapnya karena dia sudah memfitnah teman saya, melakukan kekerasan pada anak, dan membawa kabur uang perusahaan ayah saya." Benar, lelaki itu adalah Kenta. Kenta menjelaskannya secara rinci dengan wajah tenang.
Nino masih merasa ragu, namun saat mendengar penjelasan yang Kenta berikan membuat Nino menjauhkan pisaunya dari leher si paman.
"Kalau begitu kutanya, darimana kau tahu keberadaan paman ini?" Nino bertanya dengan wajah datar.
__ADS_1
"Saya memberikan alat GPS ke teman saya untuk menemukan orang ini. Teman saya bernama Andre dan Gaza." Kenta pun juga menjawab dengan wajah datar.
Hanya paman seorang yang berwajah pucat saat dihadapkan oleh kedua orang yang sangat ingin ia jauhi. Betapa tidak beruntungnya.
"AKHHH!!!" Paman itu berteriak saat Nino menarik kepalanya dan menahan tubuhnya dengan satu kakinya.
Kenta yang melihat hal itu ingin melepaskan sang paman dari genggaman Nino, tetapi Nino langsung menyuruh Kenta berhenti dengan tangannya.
"Rasa sakit ini bukanlah apa-apa dibandingkan luka yang kau berikan pada Fandra!" Nino langsung melepaskan tangannya dari rambut paman dan pergi meninggalkan paman itu dengan Kenta yang masih terkejut.
"Sepertinya lelaki itu mengenali paman ini." Kenta langsung menelpon sang asisten untuk mengangkat tubuh paman itu karena tidak bisa bangun akibat hal yang barusan Nino lakukan.
"Jangan harap kau bisa lepas kali ini, tuan Irfan." Kenta menekankan kalimat itu, jangan lupa ekspresinya yang sangat mirip dengan ayahnya saat marah.
Extra:
"Ndre, bala bantuan apaan??" Tanya Gaza sambil menggoyang-goyangkan bahu Andre.
"Hah…hah…hah…b-bentar…Za…gu-e…capek…" Jawab Andre dengan napas ngos-ngosan.
__ADS_1
Saat Andre bilang ada bala bantuan, Gaza langsung menarik Andre untuk berlari kembali mengejar si paman. Namun beberapa kali Andre terjatuh karena saking lelahnya membuat Gaza akhirnya menyerah untuk memaksanya.
"Maaf Ndre, gue terlalu bersemangat." Jawab Gaza sambil memalingkan wajahnya.