
HAPPY READING💛
.
.
.
.
.
"Anak-anak ayo duduk yang tenang dulu! kita kedatangan satu murid baru pindahan lagi." Ucap Lilik seraya mempersilahkan sang murid baru tersebut untuk memperkenalkan diri didepannya.
Murid baru itu tersenyum lebar, "Halo gue Berly Roberto! panggil aja Berly, senang bertemu dengan kalian." Ucap Berly ramah hingga membuat para siswi disana berbisik ria bahkan ada yang centil dengan Berly.
Pupil mata Agnes membesar, gadis itu terkejut bukan main. Pikirannya berkecamuk kemana-mana, takut-takut jika Berly akan melukai keluarganya atau sahabatnya atau mungkin Alvaro! Dunia gelap itu memang mengerikan.
Sebisa mungkin Agnes menutupi kekhawatiran tersebut.
"Yasudah Berly, cari saja tempat duduk yang kosong." Berly mengangguk seraya berjalan pelan ke arah bangku kosong.
Agnes tiba-tiba bangkit dari duduknya lalu kemudian melangkah pergi dari sana, "Saya ijin bolos." Ucap Agnes datar.
Namun, Tak sengaja keduanya malah bertemu. Agnes dengan tatapan datarnya hanya menatap sekilas Berly lalu kemudian melanjutkan lagi langkahnya sementara Berly tersenyum manis sambil memegang lengan Agnes secara diam-diam.
"Salah satu sahabat lo cantik juga."
"Pilih cacat atau mati?"
Berly terkekeh, "Gue tau lo gak pernah main-main dalam ucapan lo, tapi gue kesini niatnya cuman mau belajar."
"Oh." Agnes menarik lengannya lalu melewati begitu saja Lilik yang tengah menampakkan raut wajah merah padamnya.
Sedari tadi mata Alvaro tak pernah lepas dari cekalan murid baru itu terhadap lengan Agnes, entah apa yang dibicarakan keduanya yang jelas Alvaro sekarang tengah dilanda emosi.
Berly menarik kursi disebelah kiri Alvaro karena disebelah kanan sudah ditempati Agnes.
"Halo gue Ber-"
"Gak usah sok dekat lo sama gue!" datar Alvaro, "Dan jauhi Agnes."
Berly tersenyum manis, "Wow, apa nih? Kalian pacaran?" Tanya Berly yang hanha dianggap angin lalu oleh Alvaro.
"Gimana ya? gue tertarik sama Agnes."
Bagai diberi kobaran api, kini emosi Alvaro semakin meluap-luap bahkan membuat pena yang semula berada digenggaman tangan Alvaro sekarang telah terbela dua.
Alvaro melirik tajam Berly yang masih setia mempertahankan senyumannya.
"Bu, saya ijin ke kamar mandi." Pamit Alvaro bangkit dari kursinya, "Jauhin atau lo berurusan sama gue." Bisik Alvaro tajam.
Berly terkekeh, kedua matanya menatap punggung Alvaro yang lama kelama hilang dibalik pintu.
"Temperamennya buruk sekali."
♥(✿ฺ´∀`✿ฺ)ノ VOTE
"Eh! Eh Lis itu Agnes kan? Biar gue kagetin."
"Permainan bodoh apalagi yang lo mainin sekarang." Ucap Lisa menggelengkan kepalanya pelan kala sahabatnya itu tersenyum amat lebar sembari menghampiri Agnes.
"WOY NYET UDAH PESEN AJA!" Teriak Delia heboh ketika melihat Agnes sudah duduk manis dimeja kantin dengan bakso yang dilahap Agnes.
__ADS_1
Bukannya kaget Agnes malah menatap Delia datar "Toa" Gumam Agnes cuek lalu mulai mengunyah kembali baksonya.
"Emang dia toa kok Nes." Ucap Lisa santai lalu menarik kursi untuk ia duduki.
"Sembarang aja kalian berdua! Tenang princess baik hati ini tidak akan membunuh kalian berdua karena suasana hati gue lagi senang~" Senang Delia lalu duduk disebelah Agnes dan Lisa.
Delia menatap Lisa lalu berahli menatap Agnes "Kalian tau gak?" Sambung Delia dengan wajah yang masih saja berseri-seri.
"Gak." Jawab Agnes dan Lisa cuek.
"Yaudah gue kasih tau! Surat kerja sama gue dan perusahaan yang terkaya nomor satu diterima! Ah senangnya~" Ucap Delia bahagia.
"Gue juga diterima tapi biasa aja tuh." Ucap Lisa santai lalu memesan makanan.
"Tapi heran! Yang punya perusahaan gak bisa datang malah seketarisnya, bodoh banget sih padahalkan gue penasaran." Kesal Delia memanyunkan bibirnya, bahkan sampai sekarang pun Bos dari perusahaan terkaya nomor satu itu masih misteri! Entahlah siapa Bos besar itu? Apa dia sudah tua? Hingga dia malu untuk bertemu Klientnya? Jika Delia bertemu nanti, dia akan memotret wajahnya hingga memory galerynya penuh! Lalu pamer ke semua orang.
Delia tersenyum penuh rencana, membuat Lisa merinding melihatnya.
Bodoh? Batin Agnes.
Brakkk.
"Ayam!" Kaget Delia lalu gadis itu menepuk mulutnya sendiri kala Lisa menertawainya "Astaga latah gue."
"Lo berani bolos pelajaran biologi!" Kesal Alvaro yang tiba-tiba muncul lalu mengebrak meja makan itu sembari melayangkan tatapan tajamnya kearah Agnes.
"Karena gue bosan." Jawab Agnes datar lalu memakan kembali baksonya bahkan tidak peduli dengan tatapan tajam Alvaro yang seakan-akan ingin melahapnya hidup-hidup.
"Sekarang lo ikut gue ke BK." Ucap Alvaro datar lalu menarik paksa pergelangan tangan Agnes membawanya menuju ruang yang salama ini dihindari oleh seluruh siswa-siswa AIHS bernama 'BK'.
"Bosen gue sama BK." Ucap Agnes datar, setiap kali tidak setiap menit dirinya pasti tak lepas dengan ruangan BK padahal dulu waktu dirinya tak disekolah AIHS ia hanya mendapat surat dari BK pertanda jika ia dikeluarkan lagi tak pernah sekalipun kakinya itu menginjak ruangan keramat itu.
"Ck, perang dunia lagi." Ucap Lisa menatap kedua sejoli itu yang kini mulai menjauh.
Mereka berdua langsung saling pandang lalu sedikit demi sedikit tersenyum amat lebar membuat siapa saja yang melihatnya langsung bergidik ngeri.
Bukan karena takut melainkan agak seram saja melihat senyum selebar itu.
☆☆☆☆☆RANTING 5☆☆☆☆☆
"Kamu lagi, gak capek apa bikin onar terus?" Tanya Anis sambil memijat pelipisnya pelan ketika melihat siswi langgangan BK yang mulai duduk cantik disofa.
"Gak." Jawab Agnes santai.
"Haiss! Sekarang kamu beri tau nomor handphone orang tua kamu, cepat!" Suruh Anis kesal lalu mengambil handphonenya.
Agnes menatap Anis datar "08xx-xxxx-xxx"
"Halo, apa benar ini orang tua dari siswi yang bernama Agnes?" Tanya Anis sopan ketika teleponnya sudah tersambung.
"Selamat! Anda adalah pelanggan pertama kami! Jadi kami akan membantu membersihkan toilet anda sebersih mungkin, kasih tau alamatnya?" Ucap seseorang dari sebrang sana, langsung saja Anis mematikan teleponnya sepihak dengan detak jantung yang seakan lari marathon.
Tut tut tut.
" A G N E S! APA KAMU INGIN DIHUKUM HA?" Kesal Anis karena siswi didepannya ini berani membohonginya dengan cara memberi nomor telepon sedot wc? Dia kira dirinya tak malu apa tadi?
Agnes nampak berfikir sejenak "Hanya itu nomor yang gue ingat ketika membersihkan toilet." Guman Agnes yang dapat didengar Anis.
Anis mendelik tajam "Apa kamu bilang! Tidak bisa kah kamu sehari aja tidak bikin ulah? Pusing kepala saya liat kamu terus bolak-balik ke BK dan lagi kamu sekarang mulai berani yah bohongin saya!" Lagi-lagi Anis dibuat kesal dengan tingkah Agnes, bisa-bisanya gadis didepannya ini mengerjainya! Padahal tadi ia sudah berbicara sesopan mungkin tapi malah nomor sedot wc yang di beri!
"Sudah?"
"Ha? apa yang kamu bilang!?" Emosi Anis, melihat tanda-tanda Anis akan meledak membuat Agnes langsung lari pergi dari sana.
__ADS_1
"AGNESS! KEMBALI KESINI KAMU! DASAR GADIS NAKAL!" Teriak menggelegar Anis yang kini sudah ada dua tanduk dikepalanya.
"Gawat bakso gue belum dimakan." Ucap Agnes masih dengan larinya menuju parkiran untuk ke markasnya.
Namun ditengah perjalanannya Agnes malah bertemu dengan Ketua osis AIHS yang seperti menunggu kehadiran dirinya?
"Kenapa?" Tanya Agnes saat lengannya ditarik menuju uks.
Salah satu tangan Alvaro menempel pada dinding hingga membuat tubuh kedua sejoli itu sangat dekat, bahkan keduanya dapat mendengar deru nafas mereka.
"Ke-"
"Lo ada hubungan apa sama si murid baru?"
Kenapa lagi nih si ketua osis? pikir Agnes.
"Musuh." Jawab Agnes jujur.
Memang benarkan seperti itu hubungan mereka? sama-sama bertujuan untuk membunuh satu sama lain, entah dengan Berly?
"Lo kenal dia?"
"Gak."
"Bagus." Puji Alvaro yang tiba-tiba merasa senang, "Jauhi dia." Alvaro berbalik hendak pergi.
Aneh. Batin Agnes merotasikan kedua bola matanya saat melihat Alvaro pergi begitu saja.
Hanya membicarakan itu saja Agnes sampai diseret menuju uks?
♡♡♡♡TAMBAH FAVORIT♡♡♡♡
"Miss." Sambut anak buah Agnes sopan dan secara serempak ketika melihat Leadernya keluar dari mobil sport berwarna hitam pekat dengan memakai topeng tentunya.
Seluruh anak buah dimarkas Agnes tidak mengentahui asal usul apa pun dari Agnes bahkan wajahnya pun mereka tidak tau kecuali Ansel dan Agata, mereka semua hanya mengandalkan kalung yang dipakai Agnes pertanda bahwa gadis itu adalah ketua mereka.
"Hey, tumben lo kesini?" Tanya Ansel sok akrab sambil merangkul pundak Agnes.
"Gila." Ucap Agnes datar lalu melepaskan tangan Ansel dari pundaknya dan berlalu pergi, membuat Ansel yang baru saja dicampakkan tadi langsung tertawa renyah dan langsung pergi dari sana.
"Mana?" Tanya Agnes datar dan dingin ke anak buahnya saat diruang yang terdapat satu lampu sebagai penerang dan satu kursi untuk Agnes duduk.
"Setelah saya selidiki ternyata Nona Agni Miss." Ucap anak buah Agnes sopan dan takut-takut.
Agnes langsung mengingat-ingat waktu peristiwa dimana Ibu kandungnya dibunuh didepan matanya Sendiri, oh iya! Kembarannya itu pernah memeggang pisau yang dibuat Ana untuk membunuh Unna. (bagi yang lupa bisa cek dieps tiga😉)
"Buang pisau itu sejauh mungkin." Suruh Agnes datar dan dingin lalu langsung dituruti oleh anak buahnya dengan perasaan bingung tentunya, tadi suruh cari sekarang suruh buang! Besok-besok suruh apa lagi? Nasib jadi anak buah mah gitu.
Untung saja Agnes dulu yang mendapatkan pisau itu! Jika bukan dia! Bisa gawat kembarannya, kembarannya itu memang sangat ceroboh. Mengambil tindakan tanpa melihat dulu resikonya.
"Tinggal tunggu tanggal mainnya aja, kita lihat siapa yang menang~" Agnes dengan senyum psikopatnya dan tidak sabar untuk menjalankan misinya kali ini.
BERSAMBUNG~
JANGAN LUPA LIKE👍 AND KOMEN💬 DI BAWAH YAH GUYSSS 😄
"Gak like dan komen gue bunuh!" Agnes sambil pegang pisau
"Kata Author mau di kasih cast gak?" Alvaro
SEE YOU NEXT CHAPTER😉
BABAY~
__ADS_1