
HAPPY READING💛
.
.
..."Dari pada jadi boyband, aku lebih suka menjadi boyfriend mu."...
...Aksa Devian Arian....
.
.
.
"Hosh.... Hosh." Nafas terengah-engah dari Alvaro ketika bangun dari tidurnya dengan keringat yang bercucuran membuat semua pasang mata langsung melihat khawatir ke arah Alvaro.
"Oh masih disini, gue kira gue udah bahagia disana sama Agnes." Gumam Alvaro menatap kosong tangannya yang telah diperban banyak sekali lalu bersandar diranjang rumah sakit, Lisa yang mendengarkannya langsung berdiri dari duduknya dan menatap tajam Alvaro.
Gadis itu sangat sensitif jika menyangkut kematian sahabatnya itu.
Plakk.
Plakk.
Dua tamparan sekaligus mendarat tepat dipipi sebelah kanan dan kiri Alvaro, membuat semua langsung tercenga tapi tidak dengan Alvaro yang sedari tadi menatapnya tajam.
"Lo!-" Ucap Alvaro terpotong.
"Ha? Apa? Mau lagi? Sini kalau mau lagi! Denger yah Al! Bukan lo doang yang kehilangan Agnes! Gue, Delia, Kevin bahkan Om Abraham juga kehilangan Agnes, dan juga gue berharap ada keajaiban datang agar sahabat satu-satunya yang gue miliki hidup kembali tapi sayangnya itu cuman halusinasi gue aja! Emangnya dengan lo bunuh diri kayak orang gila tadi bisa bertemu Agnes ha? Nggak kan! Lo bahkan malah kehilangan dua orang yang amat lo cintai yaitu kedua orang tua lo sendiri. Sadar be*o sadar!" Emosi Lisa mengembun-embun dengan kedua tangannya dicekal Kevin agar kekasihnya tersebut tidak melukai Alvaro lagi, Alvaro terteguh mendengarkannya. Ucapan Lisa memang benar!
"Lo benar gue emang be*o.... Harusnya gue belajar mengikhlaskan Agnes bukan malah kayak tadi, sorry gue benar-benar gak bisa berpikir lagi tadi! Seakan-akan otak gue buntu." Sesal Alvaro mengingat kembali kejadian dimana dia mencoba bunuh diri, itu hal gila yang pernah ia lakukan.
"Sudah sayang." Ucap wanita paru baya (Mamanya Alvaro) dengan nada lembut lalu memeluk putra tunggalnya tersebut "Hampir saja hiks hampir saja Nak hiks." Tangis wanita tersebut didalam dekapan Alvaro.
"Maaf Mam." Alvaro terdiam sembari menepuk-nepuk pelan bahu Mamanya yang nampak bergetar, memang benar dirinya bodoh.
"Sudah yuk ke caffe? makasih sudah menolong untuk kedua kalinya sayang." Ucap Kevin mengecup puncak kepala Lisa lalu menggandeng lembut tangan Lisa menuju caffe langgangan Kevin, membiarkan ketiga keluarga tersebut saling berpelukan.
Sementara ditempat lain.
Tek.
Tek.
Tek.
Bunyi keybord yang sedari tadi ditekan-tekan oleh seorang gadis yang nampak serius dengan file-filenya, sedari tadi bunyi itu lah yang memecah sunyinya ruangan tersebut.
"Lo gak bosen apa dengan kertas-kertas itu? Gue aja bosan lihatnya walaupun gue menjabat jadi seketaris diperusahaan lo." Ucap seorang gadis yang tengah menompah dagunya dengan tangan kirinya (Agata), sudah sedari tadi ia melihat gadis yang sudah ia anggap Adik kandungnya tersebut mengotak-atik benda berbentuk persegi panjang itu.
"Diamlah kalau tidak mau mati." Ancam gadis tersebut datar, masih dengan komputer yang dia otak-atik sedari tadi membuat Agata langsung menjadi bungkam seketika karena takut dengan nada datar tersebut, sungguh tak berubah!
"Eh iya, lo kok bisa disini? Bukannya lo sudah..." Setelah beberapa menit hening akhirnya Agata angkat berbicara.
Habisnya dia amat sangat bosan, bagaimana tidak bosan kalau diruangan itu hanya ada bunyi keybord yang sedari tadi ditekan-tekan?
"Gue gak suka nggomong panjang." Ucap gadis tersebut dengan nada datar, membuat Agata memutar bola matanya malas.
"Ah, gak asik lo! Gue pergi aja deh mau gangguin Ansel." Ucap Agata lalu berdiri dari tempat duduknya tapi belum sampai dua langkah Agata langsung terkejut dengan ucapan gadis datar tersebut membuat Agata langsung kembali duduk manis lagi ditempat duduknya.
"Jadi gin-"
Brakk.
Pintu ruangan tersebut terbuka lebar menampakkan Ansel dengan nafas yang terengah-engah karena belari tergopo-gopo layaknya tengah dikejar hutang.
"Gila njir*, gue dikejar anggota DrakDevil!" Ucap Ansel serius, berjalan tergopo-gopo menuju kursi disebelah Agata.
"Ha? Lo yang benar? Terus kita harus gimana? Gue gak mau mati! Gue masih mau nikah mau punya anak 11 biar bisa bikin tim sepak bola....Duh gue gak tau dunia gelap lagi! Ya elah." Panik Agata.
"Tapi bo'ong hayukkk papalepapalepa." Ejek Ansel lalu tertawa terbahak-bahak setelah melihat wajah panik milik Agata.
Pletak.
Merasa dibohongi, Agata langsung menjitak pedas kepala Ansel membuat Ansel langsung mengusap-usap kepalanya, guyonan Ansel tadi sungguh tidak lucu! Dia sudah panik setengah mati eh malah dibohongi!
Mendadak ruangan itu berubah atmosfer menjadi mencengkam, baik Ansel maupun Agata mengusap tengkuk mereka masing-masing sembari menoleh kesamping, disana keduanya telah disambut tatapan datar khas Adik angkatnya itu.
"Ansel gue udah lama loh gak bunuh orang." Ucap gadis itu dengan nada datar dan dingin membuat Ansel menelan susah payah salivanya.
"Just kidding, damai lah!" Gugup Ansel lalu membentuk tangannya menjadi huruf V.
"Lo sih! Dahlah kita lanjut percakapan kita yuk, kacangin aja nih dugong." Ucap Agata bersemangat sekali, ingin mengetahui asal usul kok bisa gadis berwajah datar ini bisa kembali?
"Jadi-"
Ansel menatap heran Agata yang tengah menatap Agnes penuh binar lalu cowok itu menatap heran Agnes "Lo berdua ngomong apa sih? Gue nibrung." Sahut Ansel yang sedari tadi menjadi si perusak suasana.
__ADS_1
"Sekali lagi lo ganggu, gue pites lo! Ayuk lanjut." Kesal Agata karena sedari tadi pembicaraannya diganggu sedangkan Ansel langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, memang nasib menjadi cowok! Serba salah.
"Jadi gini...."
Flashback on
"Hosh....Hosh." Nafas terengah-engah dari seorang gadis yang baru saja bangun dari tidur panjangnya bernama Agnes Charissa Alexandra.
Ya, gadis yang selama ini ditunggu-tunggu kebangunannya oleh semua orang.
"12 pas, gue masih disini?" Tanya Agnes kepada dirinya sendiri setelah melihat jam hitam miliknya yang berada dipergelangan tangannya.
Dasar rumah sakit kurang canggi! Gue jual juga nih rumah sakit! Bisa mati gue lama-lama disini, kayaknya rumah sakit diAmerika cocok? sekaligus kelola Mafia gue disana. Batin Agnes.
Gadis itu hendak berdiri namun tangannya serasa digenggam erat oleh seseorang lantas Agnes menatap siapa pelakunya, dia tersenyum "Aku bakalan kangen sama kamu! thanks ya udah sabar jagain aku, bye sayang." Gumam Agnes mengecup lama dahi seorang laki-laki yang telah resmi menjadi pacarnya tersebut lalu melepaskan secara hati-hati tangannya yang digenggam erat oleh Alvaro.
Setelah itu Agnes langsung pergi dengan jalan santainya seakan peluruh yang masih ada diperutnya bukan masalah besar baginya.
Tapi sebelum itu, Agnes melihat seorang wanita paru baya dengan raut wajah yang amat khawatir sekali sembari meneteskan air matanya deras tengah berbicara dengan dokter yang nampak kebingungan. Merasa kasian Agnes langsung ke sana.
"Ada apa?" Ucap Agnes datar. Memang bocah satu ini sangat susah sekali menghilangkan nada datarnya tapi jika dengan Alvaro sangat berbeda sekali, memang hanya Alvaro saja yang mampu membuat sosok kejam Agnes sedikit demi sedikit berubah menjadi lembut.
Wanita paru baya itu menoleh kearah Agnes "Hiks anak saya ada didalam sedang melakukan operasi tapi saya tidak ada uang... suami saya sudah cerai dengan saya akibatnya anak saya jadi bunuh diri dengan pistol hiks hiks." Tangis wanita paru baya tersebut menatap khawatir putrinya yang terbaring lemah diatas ranjang dengan darah yang bercucuran banyak sekali.
Wanita itu sudah mencoba menawar pada dokter didepannya ini namun nihil, ia bahkan sudah menawarkan diri untuk berkeja disini full tanpa dibayar.
"Lakukan operasinya jika selesai pindahkan ke ruangan VVIP 109 dengan nama Agnes." Suruh Agnes datar langsung saja dituruti oleh dokter tersebut, tiba-tiba saja sebuah rencana terbit diotak mulusnya itu.
Tak mungkinkan jika ia tiba-tiba pergi dari sana kan? harus ada pertunjukan sedikitlah.
"Tapi itu ruangan milik anak kandung keluarga Alexandra." Memang benar Agnes menaruh putri wanita paru baya tersebut ke kamar miliknya membuat wanita paru baya tersebut semakin khawatir.
"Tidak apa, tapi dengan satu syarat anak anda harus mengatas namakan saya apapun yang terjadi anda harus tutup mulut." ucap Agnes datar lalu beranjak pergi.
"Terimakasih Nak." Teriak wanita paru baya tersebut menyetujui syarat yang diberikan Agnes lalu belari pergi menuju ruangan putrinya berada, hanya syarat yang kecil bukan?
Dia benar-benar sangat senang hari ini, syukurlah ada orang sebaik gadis itu untuk menolong putrinya.
"Hmm, lagian wajahnya hampir mirip dengan gue." Gumam Agnes setelah sampai didepan pintu rumah sakit lalu menggeluarkan benda pipih dari sakunya, ingin menelepon seseorang.
"Rumah sakit XXX"
"Ha? Agnes?" Kaget seseorang dari sebrang telepon (Ansel), laki-laki itu bahkan menganggap jika ini adalah arwah Agnes mengingat dirinya tak pernah menjenguk Agnes karena disibukkan masalah markas "Gue janji bakalan ngasih sesajen ke lo Nes tapi jan-"
"Lima menit atau gue bunuh." Ucap Agnes datar lalu mematikan telepon membuat Ansel berdecak kesal lagi-lagi Agnes mematikan teleponnya padahal Ansel belum bicara, berarti benar ini bukan arwah Agnes.
Tut tut tut.
Entah mengapa Mommynya itu membawanya kemari? Padahal Agnes telah mendesaknya.
Setelah beberapa menit akhirnya mobil Ansel tiba, lelaki itu dengan cepat keluar dari mobilnya lalu mengamati dengan seksama tubuh gadis didepannya ini.
"Lo gak papa, Nes?"
"Seperti yang lo lihat."
"Aisshh, gue percaya lo gak akan mati secepat itu Nes." Ucap Ansel tersenyum diam-diam lalu melangkah pergi dari sana untuk mengendarai mobil.
"Sabuk pengaman lo."
Agnes mengerutkan keningnya, "Tumben."
"Apanya?"
"Tumben lo perhatian biasanya gak gini."
"Udah pakek aja kenapa sih? nanti gak pergi-pergi nih kita."
"Hmm, gara-gara gue mati ya?"
"Jangan ngomong mati seenaknya gitu dong lo." Ucap Ansel yang tengah fokus menyetir namun tak dihiraukan sama sekali oleh gadis itu.
Jalanan nampak sangat sepi karena masih terlalu pagi untuk melakukan aktivitas sehari-hari dan pemandangan itu pun sangat memanjakan indra pengheliatan Agnes.
Nampak sangat tenang, tak ada klakson yang memekik, tak ada polusi udara hanya ada lampu-lampu jalanan yang menghiasi malam hari.
"Lo tau DrakDevil buat onar tadi."
"Terus?"
"Gak ada lo susah."
"Lo berhasil bunuh dia."
"Gak, dia lari."
"Cih."
Setelah itu hanya ada keheningan hingga Agnes tak sadar jika ia bergumam lirih.
__ADS_1
"Kenapa Mommy biarin gue hidup."
"Karena Mommy lo pengen liat lo sukses di kehidupan ini, Mommy lo aja yakin lo bisa ngelawatin beberapa rintangan kecil. Rintangan besar aja udah lo hadapi dengan mulus. Jadi jangan berfikir untuk hilangin nyawa lo lagi." Celetuk Ansel membuat Agnes menoleh ke arahnya.
"Thanks." Balas Agnes kembali menatap jalanan.
Angin berhembus dengan sejuk menerpa pipi Agnes hingga membuat sebagian rambut Agnes berterbangan. Untuk beberapa detik Ansel sempat terpesona akan kecantikan Agnes dibawah sinar rembulan.
Ya, walaupun wajah gadis itu sangat datar.
Pantas aja Alvaro sampai tergoda gini sama Agnes. Batin Ansel kembali fokus menyetir.
"Everything for you."
Flashback off.
™™™™™VOTE™™™™™
"Secepat ini dek kamu ninggalin kita?" Pria dengan jas biru laut tengah menatap sayang nisan dihadapannya.
Dia tak sendirian, dia membawa orang-orang tersayang Agnes disampingnya.
Nampak disana Alvaro diam seribu bahasa, bola mata hitam pekatnya tak pernah lepas sedikit pun dari gundungkan di depannya. Dia memang diam tapi lain lagi dengan perasaannya yang nyaris seperti terkena ribuan pisau.
Seakan peka, Aksa menepuk pelan bahu sahabatnya bermaksud tuk memberi kekuatan lelaki itu.
"Kita jenguk kamu ramai-ramai nih, Nes! pasti bahagia banget kan disana?"
Semua larut dalam kesedihan masing masing hingga tak menyadari seseorang pria asing dengan gadis disampingnya tengah membawa karangan bunga, bunga itu lantas ditaruh disamping nisan tersebut sembari memberi beberapa doa.
Tersadar, semuanya menatap heran dua sejoli itu.
"Per-"
"Gara-gara kalian!" Gumaman itu terdengar di telinga Alvaro, lelaki itu langsung saja menatap tajam pria di depannya.
Pria asing itu adalah Ansel dan disampingnya adalah partner bacotnya, Agata.
"Maksud lo apa?" Aksa dengan sigap menahan Alvaro yang hendak memukul rahang Ansel.
"Tenang Al, kita lagi ada di pemakaman."
"Lo siapa?" Kevin sedikit familiar dengan pria itu.
Ansel melepas kacamata hitamnya, menatap satu persatu teman-teman Agnes.
"Gak seharusnya gue biarin Adek gua berada ditangan busuk kalian, harusnya hari itu gue langsung bawa Agnes ke luar negri." Ucapan itu sangat memancing amarah semuanya.
Ansel berahli menatap Alvaro yang nampak sangat emosi, "Dan untuk lo! gue nyesel ngasih kepercayaan gue ke lo, andai waktu bisa diputar gue lebih milih orang lain dari pada lo."
"Sahabat atau keluarga macam apa kalian? menjaga satu nyawa saja tak bisa, merasa dekat? tapi tak tau masalah apa yang dihadapi Agnes. Apa kalian mau marah? silahkan, tapi inget! apa yang barusan gue omongin itu real."
"Kalian tak menyodorkan satu tangan pun kepada Agnes dan membiarkan gadis itu berjalan sendiri tanpa bantuan setelah itu menyesal dikemudian hari, cih sia*an."
"Kalian tau? aku yang orang asing saja tau semua tentang Agnes dan betapa menyebalkan kalian semua."
Ansel berujar panjang lebar membuat semuanya yang tadinya emosi kini diam. Perasaan campur aduk antara marah dan menyesal.
"Lebih baik kalian pergi dari sini, kalian semua tidak pantas menjenguk Agnes."
Kevin menatap garang Agata, lelaki itu maju selangkah namun diurungkan oleh Lisa. Gadis itu mengode semuanya agar mengalah saja lebih dulu.
Setelah kepergian semuanya Agata langsung melepas kacamatanya dan menghampiri wanita paru baya yang dari tadi bersembunyi dibalik pepohonan.
"Aduh, Ibu! kalau mau kesini jangan sampai ketahuan dong." Ujar Agata menuntun wanita itu tuk menghampiri makam putrinya.
"Maaf ya, Neng. Ibu sudah terlanjur kangen sama anak Ibu." Setetes air mata meluncur begitu saja saat dihadapkan dengan nisan putri kandungnya, "Neng, berapa lama pura-pura ini? saya memang senang ada yang menolong putri saya tapi saya ingin selalu mengunjungi makam putri saya tanpa harus bersembunyi terlebih dahulu."
Agata mengusap pelan air mata beliau lalu menepuk pelan bahu wanita itu, "Maaf ya, Bu. Untuk sekarang memang tidak bisa tapi secepatnya Adik saya akan mengurus semuanya! saya janji."
Wanita itu mengangguk, "Makasih ya, Neng sampaikan salam itu kepada adik kamu."
"Pasti!"
"Kalau begitu kami berdua pamit undur diri ya, Bu? anda pasti membutuhkan ruang untuk berbicara berdua dengan putri tersayang anda dan pasti putri anda sangat bersyukur mempunyai Ibu penyanyang seperti Ibu."
Wanita itu mengangguk dan tersenyum sembari beberapa kali mengucapkan kata terimakasih.
BERSAMBUNG~
BAKALAN HAPPY ENDING KOK TENANG AJA😆 CUMAN AKUNYA PEN ADA GREGETNYA GITU WKAKAKA😂
"Mangkannya thor jangan kebanyakan ngeprank, kasihan readersnya😢" Agata
"Ehehe maapkeun😅"
LIKE, KOMEN,KASIH RANTING,TAMBAHKAN FAVORIT👈 JANGA LUPA😄😉
SEE YOU NEXT CHAPTER😀
__ADS_1
BABAY~