
HAPPY READING💛
.
.
..."Kenapa gue baru peka sekarang."...
...Alexandra Kevin Arhelaus....
.
.
.
Satu minggu kemudian.
Walaupun hari telah berlalu dengan cepat namun gadis diatas bangkara tersebut masih tetap memejamkan matanya seakan enggan membuka mata lalu melakukan aktivitas yang biasa ia lakukan.
"Kamu kapan bangunnya sih sayang? aku rindu sama kamu, nggak capek apa tidur terus?" Tanya Alvaro mengajak bicara Agnes yang masih setia memejamkan matanya sambil menggenggam tangan Agnes sesekali Alvaro mencium tangan gadisnya lembut.
Ya, Alvaro sedari kemarin selalu menunggu mata kekasihnya itu terbuka entah itu sampai kapan pun Alvaro akan tetap menunggu bahkan ia tak pernah pulang ke rumah membuat kedua orang tuanya khawatir dengan kondisi tubuh putranya.
Namun Alvaro dengan gampangnya malah menjawab ia tak apa-apa. Kedua orang tua Alvaro tak bisa mencegah putranya untuk berhenti mengunjungi Agnes karena amukan lelaki itu bak orang kesetanan.
Mommy Alvaro bahkan sangat sedih melihat perubahan putranya. Wanita paru baya itu memohon agar kekasih putranya cepat membuka matanya agar tingkah Alvaro kembali seperti semua.
Hanya Agnes yang bisa merubah tingkah buruk Alvaro.
"Aku rindu tatapan datar kamu, aku juga rindu suara kamu yang bahkan sangat singkat. Kamu tau gak? Bu Anis punya cucu baru loh! dan kamu diundang ke acaranya, katanya beliau dia rindu sama badgirlnya AIHS." Alvaro terkekeh sendiri.
"Banyak yang rindu tuh, kamu gak ada niatan mau buka mata kamu gitu? aku mau lihat manik mata biru laut kamu."
Cklek.
Suara pintu terbuka menampilkan Kevin dan Abraham dibelakangnya. Alvaro menoleh lalu tersenyum tipis.
"Loh Nak Alvaro?" Tanya Abraham kaget pasalnya tadi suster mengatakan jika tidak ada orang.
"Sore Om." Ucap Alvaro sopan lalu bangkit dari duduknya untuk salim dengan Abraham.
"Dek Abang pikir kamu udah bangun... Ayo dong Dek bangun! Kamu nggak ngikutin Mommy sama Agni kan? Nggak kan?" Tanya Kevin ke Agnes sambil mengelus rambut hitam nan panjang milik Adik kandungnya tersebut "Dek kamu tau nggak? ternyata benar kata kamu dulu, Abang tuh emang bodoh."
"Putri kecil ku, Daddy mohon bangun yah sayang." Ucap Abraham menatap sedih putri kandungnya yang kini terbaring lemah diranjang rumah sakit dengan alat-alat medis yang masih setia melekat ditubuh mungil Agnes.
Cklek.
Disaat suasana tengah sedih, pintu ruangan rumah sakit tersebut terbuka lebar membuat semua menoleh ke sumber suara dan menampilkan Lisa yang sedang berdiri disana sembari membawa sebucket bunga mawar digenggaman tangannya.
"Sore Om, Alvaro dan Kevin lo berdua disini juga?" tanya Lisa dan dibalas anggukan dari Alvaro serta Kevin.
Lisa berjalan mendekati ranjang sahabatnya tersebut sembari menaruh bunganya diatas nakas, dia kira sahabatnya itu akan bangun lalu menampakkan wajah datarnya itu hingga membuatnya ingin sekali menghajar muka beku itu namun sekarang tidak.
"Hai Agnes! Lo kok masih tidur sih! Gue udah bangun nih... Masa lo mau tidur terus, gue mohon sama lo bangun yah." Ucap Lisa menghapus kasar air matanya yang hendak turun.
Tidak ada lagi suara datar yang keluar dari mulut sahabatnya yang selalu melindunginya itu, yang ada hanya suara dengkuran halus.
__ADS_1
Tit.......tit........tit........tit......tit.
Hanya bunyi tersebut yang sedari tadi mengisi keheningan ruangan itu karena semua telah larut dengan pikirannya masing-masing.
Seakan telah nyaman dengan tidurnya gadis diatas ranjang itu sama sekali tak mau membuka matanya walaupun suara bising penuh permohonan dari teman-temannya serta keluarganya yang memintanya untuk segera membuka matanya.
Flashback on.
Sementara dialam bawah sadar Agnes, kemarin malam yang dimana semua orang tertidur karena jam menunjukkan angka 12 malam.
"Gue dimana?" Tanya seorang gadis dengan baju putihnya ke dirinya sendiri ketika melihat tempat yang dipijakinya sekarang berwarna putih semua bahkan tidak ada ujungnya.
"Tempat mu seharusnya tak disini putri kecil ku, Agnes." Ucap seseorang wanita dengan pakaian serbah putih membuat Agnes terkejut dan berbalik kebelakang ingin melihat siapakah pemilik suara yang amat familiar menurutnya tersebut.
"Hai putriku kita bertemu lagi! dan sepertinya kedatanganmu kemari dengan tujuan yang berbeda."
"Mommy dan Kak Agni? huwaaa Agnes kangen." Senang Agnes lalu belari memeluk kedua orang yang amat dia sayangi tersebut "Ayo pulang Mom hiks Agnes kesepian disana."
"Hahaha, ternyata lo bisa mati juga, Nes." Ledek Agni membuat Agnes langsung menatap binggung Agni, memang gadis itu sangat pandai mencairkan suasana.
"Ini dimana Mom, kak?" Tanya Agnes sambil mengernyitkan dahinya bingung.
"Dibawah alam sadar lo Nes." Jawab Agni.
"Ha? dibawah alam sadar gue? gue kira itu cuman mitos."
"Tidak sayang itu nyata." Agnes kembali menoleh ke arah Mommynya, gadis itu kembali memeluk wanita paru baya tersebut.
Tangan Unna bergerak mengelus sayang surai putrinya hingga Agnes tak ingin melepaskan pelukan hangat tersebut.
"Iya, putri Mommy memang hebat! Mommy kira kamu tidak akan mau melakukan hal itu sayang."
"Apapun itu Agnes akan turuti untuk kalian berdua."
"Jadi kamu memilih bangun atau bergabung bersama kami?" Tanya Unna menatap sayang putri kecilnya yang kini sudah beranjak dewasa, sungguh dia sangat-sangat rindu dengan putrinya tersebut.
Pelukan sekilas tadi tak sebanding dengan rasa rindu yang amat berat itu, selama ini Unna tak melihat perkembangan putrinya itu tau-tau sudah dewasa dan cantik seperti dirinya dulu.
Agnes melepas pelukannya, "Aku ingin ikut kalian, tak masalah jika nyawa ku taruhannya." Jawab Agnes langsung.
"Tapi-"
"Tidak Mom! Agnes sudah tidak bisa berpura-pura kuat lagi didunia yang amat kejam itu, Mommy kan tau sendiri Agnes tidak sekuat yang Mommy kira! Mom dan Kak Agni tau sendiri kan Agnes selalu curhat masalah Agnes ke pemakaman kalian berdua. Hanya tempat itulah satu-satunya yang bisa membuat Agnes kembali tegar." Sela Agnes menghapus paksa air matanya yang hendak turun.
Dunia fana memang kejam, kalian harus jadi kuat dulu baru bisa bergabung didunia itu! Agnes yang statusnya gadis lemah namun pura-pura kuat bisa apa?
"Tenang Nes ada gue yang selalu jagain lo, jika ada yang berani macam-macam dengan lo tinggal gue hajar yah gak!" Ucap Agni tersenyum hangat mencoba untuk mencairkan suasana lagi.
Sebenarnya Agni ingin sekali bersama kembarannya tersebut tapi dia tidak boleh egois, apapun yang nantinya diucapkan Agnes dia akan menerimanya walaupun dengan berat hati.
"Tidak! Aku tidak mau!" Jawab Agnes menolak mentah-mentah ucapan kembarannya itu membuat Agni menatap tak percaya Agnes, Agni pikir Adik kandungnya tersebut bakalan memilih bangun tapi...
"Tapi bagaimana dengan orang-orang yang menyayangi mu sayang? Lihatlah sekarang kamu tidak sendirian lagi Nak! Kamu bersama dengan orang-orang yang benar-benar tulus menyayangi mu." Ucap Unna memaksa agar putrinya tersebut tidak mengikutinya walaupun didalam hatinya ingin sekali bersama putrinya tersebut.
Dunia yang mereka pijaki ini memang sangat indah namun kalian harus mengikhlaskan nyawa dulu baru bisa hidup abadi didunia ini tanpa ada haters satu pun.
"Tidak mau! Kalian berdua tau kan Agnes tersiksa dikehidupan itu, Kenapa? Kenapa kalian semua jahat dengan ku? Aku kan juga berhak bahagia! Hiks." Roboh juga pertahanan Agnes yang sedari tadi ia tahan agar tidak menangis dikedua orang yang amat dia sayangi membuat Unna dan Agni menatap iba Agnes.
__ADS_1
"Baiklah jika itu mau kamu, Mommy tidak memaksa kamu lagi. Kemarilah sayang." Panggil Unna membuat Agnes langsung berjalan mendekat menuju Unna dan Agni lalu tiba-tiba cahaya putih keluar menyinari mereka bertiga.
"Belum saatnya." Samar-samar Agnes mendengar gumaman itu. Gumaman yang berada tepat ditelinganya, mengalun dengan lembut. Entah milik siapa.
Flashback off.
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit.
Bunyi patient monitor tersebut terdengar sangat nyaring membuat semua langsung terkejut dan bergegas memangggil dokter. Garis-garis yang tadinya naik turun kini berganti menjadi garis datar begitu pula dengan alat bantu pernapasan yang tak bekerja lagi.
"Nggak kamu gak ninggalin aku kan, sayang?" Ucap Alvaro menatap sedih tubuh Agnes yang sedang diperiksa oleh dokter.
Dokter dengan cekatan mengarahkan Stetoskopnya kearah dada serta nadi Agnes, beliau mengerutkan keningnya bingung.
"Saya turut berduka cita atas kematian saudari Agnes." Sedih dokter tersebut ketika tidak lagi menemukan detak jantung Agnes lalu pamit undur diri meninggalkan keluarga yang sedang berduka cita tersebut.
Bagai dihantam ribuan batu, semua orang nampak diam tak bergeming hingga suara dokter yang meminta izin tuk undur diri membuyarkan lamunan mereka semua.
"Nggak! Nggak ini pasti bohong kan? Agnes kamu pernah berjanji pada ku untuk tidak akan pernah kalah melawan kematian! Tapi apa buktinya sekarang? Kamu pembohong!" Ucap Alvaro menatap kosong tubuh tak bernyawa Agnes, membiarkan air matanya mengalir begitu deras tanpa disuruh.
"Nes, lo kok tega banget ninggalin gue dan Delia gitu aja hiks." Tangis kencang Lisa, dengan tangan gemetaran Lisa langsung menghubungi Delia.
"Agnes maafin Daddy sayang, Daddy benar-benar menyesal kalau saja Daddy tidak menikahi ja*ang itu kamu pasti nggak begini Nak." Tangis Abraham tidak rela bahwa nyawa putri kecilnya tersebut diambil, namun apa boleh buat? Agnes lebih bahagia disana dari pada disini. Agnes lebih senang ikut Mommy dan kembarannya dari pada ikut dengannya.
Sungguh dia benar-benar amat menyesal kali ini kalau saja itu semua tidak terjadi pasti putri kecilnya sekarang masih hidup dan menikah dengan orang yang ia cintai, tapi sia-sia saja menyesal itu tidak akan bisa membangunkan Agnes yang kini telah pergi meninggalkan dia selamanya.
Sementara Kevin, dia sudah belari sekencang-kencangnya menerobos hujan yang amat deras beserta petir dimana-mana tentu saja dengan Lisa dibelakangnya karena Lisa amat khawatir dengan keadaan Kevin kali ini.
Bisa-bisanya pria itu langsung berlari meninggalkan ruangan duka tadi.
"KEVIN!" Teriakan itu samar-samar tak terdengar lagi.
Tin tin tin.
Sebuah mobil dari arah samping Kevin menekan klaksonnya kencang agar Kevin menghindar dari jalannya tapi Kevin malah berdiam diri ditempat sambil menatap senang mobil tersebut, seakan mobil tersebut adalah penyelamatnya.
"Gue bakalan ketemu Adik tersayang gue, sebentar lagi Abang nyusul Dek! Tunggu Abang yah." Ucap Kevin membiarkan dirinya ditubruk mobil tersebut.
Entahlah Kevin benar-benar tidak bisa berfikir untuk kali ini dan malah memilih untuk mengikuti jalan kedua Adiknya yang kini telah tiada.
Pikiran lelaki itu tengah kacau sepenuhnya, ia menganggap semua ini adalah salahnya. Dulu ia dengan bodohnya tak bisa melindungi Mommy dan Adiknya pertamanya namun sekarang kejadian itu terulang kembali.
"Tidak! Kevin! Jangannnnn!" Teriak Lisa menggelegar berusaha belari sekencang-kencangnya.
Nggak! Nggak lo gak boleh mati Kevin, lo gak boleh mati! Kalau lo mati gue bakalan mati juga sekarang! Batin Lisa dengan larinya yang kini dipercepat tentu saja dengan air mata yang kini telah bercampur dengan air hujan.
BERSAMBUNG
AKHIRNYA BISA UP JUGA😅, AYO SEMANGATS MBAK LISA KEJAR BABANG KEVIN😆😂#AUTHOR PERUSAK SUASANA😆😅 BABAY AGNES😭
JANGAN LUPA LIKE👍 KOMEN💬 KASIH RANTING🌟 DAN TAMBAH KAN FAVORIT❤ JIKA SUKAK SAMA CERITA INI 😄
SEE YOU NEXT CHAPTER😉
BABAY~
SEMOGA AGNES BAHAGIA:)))
__ADS_1