
HAPPY READING👀
.
.
.
..."Jangan jatuh cinta ke gue, karena gue gak pantas untuk lo yang baik hati."...
...Agnes Charissa Alexandra....
.
.
.
.
"AGNES! BERANI SEKALI KAMU TIDUR DI JAM SAYA!" Teriak menggelegar dari Lilik sang wali kelas XI IPA 1, membuat seisi kelas langsung menoleh ke arah Agnes dengan berbagai tatapan. Tapi tetap saja gadis tersebut tidak bangun, mungkin ke asikan dengan mimpi indahnya.
"Ya ampun bidadari Abang tidur."
"Pasti mimpiin gue nih!"
"Cantik banget, walaupun masih tidur."
"Pulas bener dah tidurnya."
"Alay!"
"Apaan sih bikin ulah aja!"
"Gak punya tempat tidur yah?"
"Tidur kok dikelas!"
"Udah Bu hukum aja!"
Dan masih banyak lagi celotehan-celotehan dari siswa yang sedang berada dikelas sembari menatap sinis, dan ada juga yang menatapnya sayang atau penuh cinta. Dasar makhluk bucin.
Brakkk.
Dengan emosi Lilik langsung menghampiri Agnes, dan menggebrak kuat meja Agnes membuat gadis itu terbangun dari mimpi indahnya.
"Ban*at!" Umpat Agnes kaget, mendengar itu Lilik melotot tajam ke arah Agnes. Berani sekali siswinya satu ini mengumpat kearahnya!
"Bangun. Cuci. Muka. Sekarang!" Perintah Lilik penuh dengan penekanan disetiap katanya sembari terus saja menatap tajam salah satu siswi pembuat onar tersebut.
Perlahan kesadaran Agnes pulih, gadis itu lantas balik menatap tajam Guru disampinya ini sekilas "Oh." Agnes bangkit dari duduknya, dan beranjak pergi. Jangan kira Agnes pergi untuk cuci muka? Tidak kalian salah! Agnes pergi menuju tempat parkir mobilnya untuk bolos pastinya.
Tapi sebelum keluar kelas Agnes sempat menatap tajam sekilas orang-orang yang menatapnya sinis hingga orang-orang tersebut langsung menunduk ketakutan.
Agnes selalu gitu datang jam 09.00 pulang jam 10.00 maklum sekolah miliknya sendiri jadi bebas.
Agnes kok dibiarin pergi. Batin Lisa,dan Delia terkekeh secara bersamaan. Ia hafal betul dengan sahabatnya itu yang pastinya akan bolos.
✔✔✔KASIH RANTING 5✔✔✔
Agnes lagi, dan lagi berkunjung dikedua gundukan yang amat dia sayang. Dia selalu berkunjung disana tanpa bolos sedikitpun bahkan ketika ia sibuk sekalipun masih saja tetap berkunjung padahal hanya sekedar menatap lama nisan kedua orang yang dirinya sayangi.
"Lihat Kak, dan Mom! Aku berhasil membunuh ja*ang itu! Bagaimana? Apa kalian berdua bisa kembali ke dunia ini lagi?" Senang Agnes mulai mengajak bicara ke dua gundukan yang berada tepat didepannya.
__ADS_1
Gila memang, tapi Agnes tak peduli! Dia belum sanggup ditinggalkan oleh dua orang yang ia sayangi dalam satu hari! Apalagi itu waktu dimana dia kecil, dan sangat membutuhkan kasih sayang sang Mommy.
"Kenapa kalian berdua tidak menjawab? Apa kalian berdua benci sama Agnes? Karena Agnes sudah membunuh ratusan orang? Tidak lebih tepatnya ribuan orang?" Tanya Agnes sekali lagi dengan senyuman yang khusus diberikan oleh Mommynya, dan kembarannya itu sembari menatap hangat ke dua nisan bertuliskan Alexandra Unna , dan Agni Clarinta Alexandra.
Nampak disana terlihat rapi, dan terawat. Tentu saja itu semua ulah Agnes yang dengan rutin menjaga makam milik Mommynya, dan Kembarannya.
Gadis itu tak akan pernah dan tak akan mungkin membiarkan satu daun hinggap dimakam kedua keluarganya, bahkan Agnes menyewa orang hanya untuk mengawasi makam dua orang itu.
Hening.
Satu kata, tapi mampu membuat Agnes mengeluarkan bulir-bulir bening dari pelupuk matanya dengan deras, membuat pipi mulus gadis itu basah terkena air matanya sendiri.
Agnes lemah jika berurusan dengan Mommynya apalagi kembarannya namun Agnes dapat tersenyum manis hingga menampilkan kedua lesung pipinya seketika hanya untuk Mommynya, dan kembarannya saja. Mungkin?
"Maaf." Lirih Agnes masih dengan tangisannya lalu menyenderkan kepalanya dinisan bertuliskan Alexandra Unna sang Mommy kandungnya.
"Aku akan ikut kalian." Gumam Agnes, dan tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya ditambah petir yang menyambar sana sini seakan mendukung suasana Agnes saat ini. Mengguyur tubuh Agnes yang masih setia menyederkan kepalanya dinisan milik Mommynya. Nisannya hangat persis seperti pelukan Mommynya~
Agnes tidak peduli saat ini yang ia pedulikan hanya satu. Ikut dengan kedua orang yang Agnes sayangi. Tak masalah meskipun nyawanya taruhannya.
Tanpa Agnes sadari sosok didalam tubuhnya berontak untuk dikeluarkan.
Perlahan kesadaran Agnes mulai berkurang. Mata indah itu dengan perlahan mulai menutup namun saat Agnes menutup matanya tiba-tiba matanya terbuka kembali menampilkan bola mata berwarna ungu milik Agni.
Walaupun Agni tidak dipanggil langsung oleh Agnes tapi sang Kakak perempuan tersebut pernah berjanji untuk selalu melindungi Adiknya yang nyaris nyawanya akan hilang untung saja Agni datang tepat waktu.
"Bodoh benar-benar bodoh!" Ucap Agni sedih menghapus paksa air matanya yang sedari tadi keluar, kali ini air mata kesedihannya bukan air mata kembarannya.
"Harusnya lo gak bikin hal gila seperti ini Nes. Gue bahagia kok disana dengan Mommy, dan juga gue sama Mommy gak akan pernah bisa benci lo sekalipun lo itu orang terbejat didunia ini. Kita sayang sama lo." Sambung Agni lagi lalu belari menuju mobil Agnes berada, karena takut tubuh Agnes terkena demam.
Kembarannya ini sangat nakal bahkan melebihi kata nakal, namun seburuk apapun Agnes Agni tetap menyayanginya walau dulu ia sempat berbicara kasar ke Agnes membuat gadis itu marah berbulan-bulan dengannya tapi Agni langsung membujuknya dengan sebuah lolipop seharga lima ratusan berbentuk bunga mawar.
Ah, jadi rindu masa itu.....
Masa dimana dia bercanda, dan berkumpul ria dengan keluarganya tapi sekarang tidak lagi. Dia hanya keluar jika dipanggil Agnes atau jika Agnes dalam masalah besar yang akan mengancam nyawa gadis itu.
Abraham bahkan tak pernah mengunjungi makamnya begitu juga dengan Kevin membuat Agni hanya bisa berfikir positif bahwa kedua orang itu mungkin sedang sibuk, ya pasti mereka berdua sedang sibuk!
Tanpa disadari Agni kedua orang itu perlahan melupakannya kecuali Agnes.
"Gue rindu lo Nes, Agnes Charissa Alexandra...."
Tuk tuk tuk.
Agni terkejut bukan main, padahal dirinya berniat untuk pulang namun urung. Dengan cepat tangannya terulur membuka kaca spion mobilnya.
Disana terlihat seorang pemuda asing menurutnya dengan baju serta rambut yang basah akibat air hujan. Terlihat tampan dimata Agni.
"Lo siapa?" Pemuda itu terkejut bukan main.
"Nes, lo gak bercanda kan?"
"Gue serius." Datar Agni.
Kalau tidak salah Agni pernah melihat sosok ini namun ia lupa. Gadis itu masih mencoba mengingat pemuda tersebut yang nampak sedikit tak asing namun nihil.
"Gue Alvaro! temen sekelas lo, ketua osis yang selalu hukum lo."
"Ha?" Agni sama sekali tak mengenali pemuda itu, sungguh. "Lo jahat gak? lo musuh adek gue ya? kenapa lo kesini? lo mau jahatin adek gue ya? jawab, sia*an!"
"Nes, lo kenapa?" Risau Alvaro, "Lo gak seperti biasanya, Nes."
Sedetik kemudian Agni menepuk dahinya pelan.
__ADS_1
Lah iya, gue kan lagi jadi Agnes! mungkin dia temennya Agnes soalnya gue gak liat ada niatan jahat pada dirinya. Batin Agnes.
"Haha, gue ngeprank lo doang tadi." Alvaro terteguh melihat senyuman Agnes yang pertama kali ia lihat, "Woi malah bengong! masuk sini, lo gak kedinginan?"
Senyuman itu manis sekali, Alvaro baru tau jika Agnes memiliki dia lesung pipi.
Alvaro mengerutkan alisnya, "Tumben lo ngomong panjang?" Tanya pria itu sembari memasuki mobil Agnes, "Lo ada salah makan?"
"Lah emang gue biasanya gimana?"
"Biasanya kayak tembok."
Mam*us gue! ketauan gak ya? gue gak bisa datar-datar amat lagi. Batin Agni pasrah dengan keadaannya.
"Perasaan lo kali, lo kenapa ada dikuburan? abis ngepet lo?"
"Sembarang lo! gue abis jenguk makam kakek gue." Jawab Alvaro, "Lo sendiri kenapa kesini? lo gila ya? udah tau hujan malah gak neduh."
Perhatian amat nih laki-laki sama Agnes, untung Agnes gak sendirian lagi. Batin Agni tersenyum dalam diam.
"Gue seneng aja di kuburan gitu, hawanya adem."
"Gila lo." Ucap Alvaro menatap Agni heran.
"Bercanda, ahelah. Yakali cantik-cantik gini mainnya ke kuburan."
"Iya lo cantik apalagi kalau lo senyum lagi." Ucap Alvaro tersenyum tipis.
"Lo suka ya sama Agnes?" Alvaro melototkan matanya, "Ketauan kan!"
Agni tertawa terbahak-bahak karena berhasil membuat pemuda disebelahnya ini memerah seperti tomat.
Sedari tadi mata Alvaro tak pernah lepas dari Agni yang masih setia menertawakannya, "Cantik."
"Ha?"
"Lo cantik."
Hening.
♡♡♡TAMBAH KAN FAVORIT♡♡♡
Salma pov.
Benar-benar menyebalkan! Sudah satu jam gue dicafe ini tapi apa? Orang tersebut tidak datang! Dasar membuang waktu berharga gue aja, apalagi hujan deras diluar sana! Apa-apan ini! Harusnya gue gak percaya omongan bullshit dari orang gak jelas asal usulnya itu ditambah lagi orang itu baru gue kenal.
Gue langsung mendengkus kesal, dan hendak beranjak dari cafe yang dipenuhi oleh orang-orang berpasangan. Kan gue iri!
Tapi belum sempat gue berdiri dari bangku yang gue duduki sekarang, tiba-tiba saja suara bariton seseorang menginstrupsi gue, membuat gue langsung duduk kembali.
"Udah lama yah girl?" Tanya pria tersebut tanpa dosa lantas duduk didepan gue begitu saja. Ingin sekali gue jawab iya, dan mencekik leher orang itu namun gue harus sabar demi info Mommy tersayang gue.
Emm, penampilannya keren sih tapi kenapa dia memakai topeng? Membuat gue gak bisa melihat wajahnya! Dilihat-lihat dia laki-laki se-umuran dengan gue? Mungkin? Apa dia masih sekolah? Kenapa dia tau tentang masalah keluarga gue? Padahal ini hal yang berbau privasi! Banyak sekali pertanyaan yang ingin gue lontarkan ke si pria misterius didepan gue ini.
Tanpa sadar gue melamun sembari menatap lekat wajahnya.
"Ada apa girl? Apa ada yang salah dengan wajah gue?" Tanyanya, membuat gue langsung tersadar dari lamunan gue, dan kembali dari posisi awal gue yaitu duduk dengan tenang.
BERSAMBUNG~
APA-APAAN INI! AGNES PUNYA MASALAH LAGI? NES AGNES YANG SABAR YAH! SESUNGGUHNYA ORANG SABAR ITU PACARNYA GANTENG!😂
JANGAN LUPA GAISSS LIKE👍 KOMEN💬👇 KASIH RANTING🌟 AND TAMBAH KE FAVORIT💟 JIKA SUKA SAMA CERITA INI 😀😅
__ADS_1
SEE YOU NEXT CHAPTER😄😉
BABAY~