Mafia Girl Vs Ketua Osis

Mafia Girl Vs Ketua Osis
EPS 27


__ADS_3

HAPPY READING💬


.


.


.


.


.


Brakkk.


"Eh kodok nyungsep." Latah Lisa langsung menatap tajam Salma dkk yang dengan berani-beraninya mengganggunya.


"Dasar geng chilis! Lo pada mau apa sih? Gue cakar juga tuh muka!" Kesal Delia karena gebrakan meja dari Salma dkk membuat aktivitas makannya terganggu.


"Hahaha bi*chnya marah, lo sih udah jelek, dekil, be*o, miskin lagi! Pantes banget buat bahan bullyan." Tawa Salma dan gengnya sembari menatap remeh Lisa, dan Delia yang tengah tersulut emosi.


"Eh mbaknya miror dulu! Mau gelud lagi kayak dulu? Ayo!" Tantang Lisa kesal sambil menyiapkan kuda-kuda untuk menjambak rambut Amalia sedangkan Agnes hanya acuh sambil memakan baksonya santai seakan tak ada masalah didepannya.


"Oh ayo! Gue gak takut sama lo!" Tanpa babibu Amalia langsung menjambak rambut Lisa sedangkan Amanda menarik rambut Delia tentu saja dibalas jambakan rambut dari Delia kuat, dan terjadi perang jambak-jambakan lagi. Seperti Tom, and Jerry saja jika dipertemukan


"Eh bi*ch lo kok diam aja? Bisu yah? Apa lo gak berani sama gue?" Tanya Salma santai sembari duduk disamping Agnes tapi tidak direspon sama sekali dengan Agnes, melihat wajah sok Salma pun tak dihiraukan oleh Agnes membuat Salma ingin sekali menjambak rambut Agnes sampai rontok semua.


"Eh kalau orang nggomong tuh dijawab! Lo gak punya mulut yah?" Salma langsung menggebrak meja lagi tapi tetap saja Agnes tidak menghiraukannya, karena kesal Salma langsung menggoreskan tangan Agnes dengan silet berkarat yang ia temu tadi tapi Agnes tidak merespon sama sekali membuat Salma terus menyilet tangan Agnes sampai berdarah banyak sekali.


"Sudah?" Tanya Agnes datar, dan dingin setelah Salma berhenti menggores tangan Agnes dengan silet berkarat itu. Mungkin Salma lelah atau mungkin dia sudah puas. Baguslah jika sudah puas~


Mendengar nada dingin Agnes, membuat nyali Salma yang awalnya berani kini menciut ketakutan.


"Sekarang giliran gue." Agnes langsung mengambil paksa silet serta tangan Salma, dan mengoreskannya ke tangan Salma. Sontak Salma langsung berteriak minta tolong.


"Hei bi*ch! Lepasin tangan kotor lo dari sahabat gue! Atau gue akan lapor paman gue biar lo di D.O dari sekolahan ini." Ucap Amanda dengan simriknya, Agnes menghentikan aktivitas menggores tangan Salma lalu berjalan santai ke Amanda.


"Silahkan." Tantang Agnes datar, dan dingin, membiarkan tangannya berdarah sampai menetes ke lantai.


"Lihat nih bi*ch! Paman gue akan datang lima menit lagi! Lo akan diusir dari sekolahan AIHS, hahaha emang lo pada awalnya gak pantes sekolah disini! Gue tebak pasti lo anak beasiswa ya kan? Hahaha" Tawa Amanda disertai ejekannya tapi tak dihiraukan sama sekali dengan Agnes, dan benar saja lima menit berlalu paman Amanda datang dengan wajah tegasnya menghampiri keponakan tersayangnya tersebut.


Untung saja masih proses belajar mengajar membuat kantin itu sepi, dan hanya menyisakan Agnes dkk, dan Salma dkk saja.


"Ada apa Nak? Apa ada yang mengganggu mu?" Tanya Kayis selaku kepala sekolah AIHS sekaligus paman dari Amanda seraya mengelus sayang rambut hitam legam milik keponakan tersayangnya itu.


"Dia paman." Tunjuk Amanda dengan jarinya, dan disertai puppy eyesnya.


Mamp*s lo! Batin Salma, dan gengnya dengan senyum simriknya.


Gawat! Nanti Agnes di D.O lagi. Batin Lisa, dan Delia menatap khawatir sahabatnya itu sedangkan Agnes hanya menatap datar ke arah kepala sekolah tersebut.


"Emm, anu Pak se-"


"Bereskan semua." Suruh Agnes datar, dan dingin lalu pergi menuju ke suatu tempat dan dibalas anggukan oleh Kayis membuat Delia, Lisa, dan Salma dkk terkejut bukan main pasalnya Kayis adalah kepala sekolah yang terkenal datar namun tegas tetapi ini melunak dengan Agnes yang diketahui murid biasa (Mungkin).


"Kalian semua, minta maaf lah." Semua nyaris tak percaya dengan ucapan yang terlontar dari mulut Kayis.


"Sampai kapan pun aku tak akan sudi!" Ucap Amanda mantap, dirinya tak mau dianggap Salma lemah seperti Amalia.


"Ternyata benar kamu masih seperti bocah." Kayis pergi dari sana setelah mengatakan itu yang mampu membuat Amanda menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Sementara ditempat lain yaitu tepatnya di Mall mewah xxx nampak terjadi keributan antara sang pegawai Mall dengan pembeli. Keributan ini terjadi saat sang pegawai Mall tak sengaja menumpahkan segelas kopi ke arah baju mewah sang pembeli, sang pembeli yang merasa bajunya kotor pun lantas mencaci maki pegawai tersebun yang kini nampak bergetar ketakutan.


"Lo tau nggak gue ini Nyonya dari keluarga Alexandra?" Kedua bola mata pegawai Mall lantas melotot.


"Mo mohon ampun Ny Nyonya sa saya tak sengaja me melakukan hal itu."


"Sekarang gue minta lo sujud dikaki gue kalau gak mau Mall ini gue laporin ke perusahaan yang terkenal nomor tiga sedunia." Perlahan sang pegawai Mall menunduk sembari ditemani bulir-bulir keringat dinginnya namun seseorang lelaki menghadang gerakan wanita paru baya itu untuk sujud.


"Ketemu juga Nyonya Anabel Angelberrta." Pria itu nampak tak takut sama sekali saat membawa putung rokok didalam Mall mewah yang kini telah terisi banyak orang penasaran.


"Lo! siapa lo ha! bocah ingusan!"


Lelaki itu nampak meniup asap rokok dengan santainya, "Gue akan memaklumi tindakan itu karena ini perintah ketua."


Ana nampak tertawa terbahak-bahak mendengarkannya, "Ketua? gengster seperti kalian bisa masuk Mall ha?"


"Mall ini punya A'C Company Corp." Putung rokok yang semula berada ditangan lelaki itu kini terjatuh kebawah. Kaki jejang lelaki itu nampak menginjak bekas rokoknya, "Kalian para junior tangkap dia lalu bawa ke markas ingat! tanpa meninggalkan jejak, ini adalah tes kalian." Ucap laki-laki itu ke kedua anak buahnya lalu pergi dari sana.


"Camkan ini, jangan pernah merendahkan harga diri cuman gara-gara pekerjaan." Bisik laki-laki itu tepat pada telinga sang pegawai yang kini mengangguk perlahan.


VOTE! VOTE! VOTE! VOTE!


"Sudah?" Tanya Agnes datar ke Ansel setelah keluar dari mobil sport hitam pekat miliknya tentu saja disambut sesopan mungkin dengan para anak buahnya yang kini telah membungkuk hormat menyambut sang Leadernya.


"Sudah ada diruangan, apa perlu saya temani Miss?" Jawab Ansel sopan tersirat nada lain diucapannya itu. Agnes tidak menghiraukannya ia malah pergi berjalan dengan santai menuju ruang yang gelap, dan hanya menyisakan satu lampu didalamnya, dan satu tawanan perempuan yang sedang tertidur pulas karena obat bius.


Byurrrr.


Agnes langsung menyiram sang tawanan yang amat dia benci dengan air panas, membuat sang tawanan bangun, dan menjerit histeris.


"Udah bangun?" Tanya Agnes datar, dan dingin ke tawanan yang kini diikat kaki dengan tangannya disebuah kursi.


"Siapa gue?" Agnes mengulang ucapan Ana tadi seraya melepas topeng yang ia kenangkan, membuat bulu kuduk Ana semakin merinding setelah mengetahui siapa wajah dibalik topeng tersebut.


"A Agnes?" Ucap Ana tak percaya tentu saja dengan keringat yang bercucuran dipelipisnya, ia lupa bahwa gadis didepannya ini sang Leader Mafia yang terkenal akan ke-sadisannya.


"Kenapa? Lo kaget? Hahaha sudah telat bi*ch!" Ucap Agnes sembari memainkan pisau ditangannya lalu berjalan mengelilingi Ana, membuat Ana semakin merinding setelah mengetahui siapa Agnes sebenarnya.


"M mau a apa lo! J jangan lupa kalau gue bisa bilang ke Abaraham bi*ch!" Ditengah-tengah ambang kematiannya Ana masih saja berani berucap ditambah lagi ia sangat berani mengejek Agnes dengan sebuatan bi*ch.


Agnes tertawa meremeh "Lo mau mengakui kalau lo telah bunuh Mommy gue atau lo..." Agnes sengaja menggantungkan ucapannya.


Srettt.


Agnes langsung menggores sedikit leher Ana membuat leher Ana sedikit mengeluarkan darah.


"Hahaha ternyata itu mau lo hahaha dasar bi*ch! Sampai kapan pun gue gak akan bilang! Dasar bi*ch sia*an! Hahaha!" Tawa Ana menggelegar melupakan semua rasa takutnya, benar-benar cari mati!


Agnes menatap datar Ana "Ck, merepotkan." Gumam Agnes lalu pergi untuk mencari keberadaan Ansel.


"Kenapa lo kesini? Katanya lo mau nyiksa Ibu tiri lo." Kesal Ansel karena gelas berisi minuman alkoholnya dibuang begitu saja oleh Agnes.


"Lo urus dia, ingat jangan sampai mati!" Ucap Agnes datar lalu pergi ke ruangannya untuk merakit senjata berbahaya baru, karena jika ia yang menyiksa Ana pasti Ana akan mati duluan sebelum mendapatkan bukti jika Ana lah yang telah membunuh Mommy tersayangnya, dan Ana lah yang akan menguras habis harta Abraham nantinya.


"Hei tak sopan, Nes gue habis bikin onar ke Mall lo gue harap lo maklum." Ucap Ansel memberhentikan langkah Agnes.


Agnes nampak menyunggingkan senyumannya, "Lakukan apa yang lo mau karena lo Abang gue."


Tumben tadi gak ada Alvaro? Batin Agnes tersirat nada khawatir didalamnya?

__ADS_1


Ansel ikut tersenyum mendengarkannya, "Akhirnya gue nyiksa orang juga!" Gumam Ansel senang lalu pergi membawa pisau, dan cambuk. Selama ini ia hanya mengurus markas saja jadi jangan heran jika ia senang diberi tugas seperti ini.


***


"Gimana udah ngaku?" Tanya Agnes pada seseorang yang baru saja membuka pintu ruangan khusus miliknya.


Siapa lagi yang membuka pintu ruangan khusus milik Agnes dengan seenaknya begitu kalau bukan Ansel?


"Belum." Ansel menghidupkan satu putung rokok.


Agnes melirik sekilas ke arah Ansel, disana terdapat banyak sekali darah milik Ana tentunya. "Seneng?"


"Ya seneng lah! gue lo suruh ngawasin markas muluk sih."


"Bagus, gue ada satu misi buat lo."


"Tumben?" Ucap Ansel mengerutkan alisnya, "Lo ada masalah?"


"Banyak."


"Ha? sama siapa?"


Agnes terkekeh, "Masalah gue kan emang banyak." Gadis itu mulai menatap serius Ansel, "Lo bunuh sebagaian anggota DrakDevil terus kasih tanda kalau itu perbuatan Black Diamond Girl."


"Lo beneran nyatain perang" Agnes mengangguk sebagai jawaban, "Gara-gara balapan liar itu?"


"Gak, dia berani sentuh temen gue."


"Temen apa temen?" Tanya Ansel menggoda, "Gue yakin ini pasti bukan Delia atau Lisa."


"Cenayang lo?"


"Hanya temen padahal tapi mampu buat Adek gue ini bertindak lebih jauh bahkan gak ngeliat resikonya." Jeda Ansel menutupi senyuman mengejeknya, "Siapa nih? sayang banget kayaknya."


"Temen sekelas."


Kasihan banget hanya dianggep temen sama Agnes, friendzone. Batin Ansel tertawa dalam diam.


"Ciee." Ansel masih saja menggoda Agnes yang nampak acuh.


"Kepala lo mau gue pengal?" Ansel meneguk susah payah salivanya.


"Kayaknya gue harus jalanin misi lo sekarang deh." Ucap Ansel berjalan tegap setelah menghormati Agnes yang nampak duduk diam dikursinya.


Tapi setelah melewati ambang pintu, Ansel malah berbalik lagi menuju Agnes. Lelaki itu hormat kembali kepada Agnes yang masih menatap Ansel datar.


"Lapor! apakah saya dikasih gaji, Tuan? eh Nona?"


"Hmm."


Ansel tersenyum sumringan, "Siap laksanakan! terimakasih atas kemurahan hati anda Nona, saya pamit undur diri.'


BERSAMBUNG~


AKHIRNYA ANA KENA SIKSA😈😅


JANGAN LUPA LIKE👍 KOMEN💬 AND FAVORIT 😅😄 KASIH RANTING JUGA DONGS JANGAN LUPA😅


SEE YOU NEXT CHAPTER😙

__ADS_1


BABAY~


__ADS_2