
HAPPY READING💛
.
.
..."Kemana pun kamu pergi aku akan selalu mengikuti mu! walaupun nyawa ku taruhannya!"...
...Alvaro Marchello Anindito....
.
.
.
Seorang lelaki melihat sekeliling dengan bingung sembari terus berjalan lurus hingga kakinya berhenti tepat pada ayunan yang tengah dinaiki seorang gadis.
"Agnes..." Gumam Lelaki itu membuat gadis tersebut menoleh ke arahnya, "AGNES! Abang kangen sama kamu! balik yuk?" Tangis Kevin mengengam erat jemari adiknya namun langsung ditepis begitu saja.
Agnes bangun dari tempat duduknya lalu menatap tajam lelaki didepannya itu, "Mengapa Abang begitu jahat! Abang tega biarin Mommy sama Kak Agni pergi terus sekarang Abang malah tega biarin Agnes ikutan juga."
"Dek..."
"Abang lemah! jahat! biarin aku hidup sendiri dengan kekuatanku sendiri, apa Abang tau jika aku mati-matian mempertaruhkan nyawaku sendiri."
"Maaf..." Sesal Kevin.
"Maaf? hanya maaf?"
Tangan Kevin terulur hendak mengengam jari Agnes namun langsung ditepis begitu saja oleh seorang gadis yang nampak sangat mirip dengan Agnes, dia kembaran Agnes. Agni.
Agni menatap tajam Kevin, "Agnes sudah memilih bergabung denganku, kau yang bodoh membiarkan Agnes begitu saja!"
"Agni! kalau begitu bawa aku juga!"
Agni menyunggingkan senyuman sinisnya, "Aku tak akan sudi, Ayo Nes! sudah waktunya kita pergi." Keduanya berbalik pergi dari sana dengan Kevin yang malah diam mematung.
Kedua kaki lelaki itu tak bisa di gerakan begitu juga dengan mulutnya. Hanya tangisan yang keluar sekarang hingga kegelapan menyambut.
"Agnes!" Teriak Kevin ketika bangun dari tidurnya dengan nafas yang terengah-engah dan dengan keringat yang membanjiri wajah tampannya.
Mungkin gara-gara lelaki itu selalu menyalahkan dirinya sendiri jadi ia memimpikan hal tersebut.
"Nih minum dulu." Ucap Lisa lembut sambil menyodorkan segelas air putih ke hadapan Kevin tapi langsung ditepis dengan kasar oleh cowok itu.
Pranggg.
Lisa dibuat benar-benar terkejut dengan sifat Kevin kali ini, ada apa? Apa salahnya?
"Kenapa lo selamatin gue be*o! Lo kan tau gue mau nyusul Adek gue to*o*! Dasar cewek si*lan!" Maki Kevin sambil menatap tajam Lisa yang sedari tadi berdiam diri.
Plakkk.
__ADS_1
Satu tamparan tepat pada pipi mulus Kevin, membuat Kevin menatap tak percaya Lisa.
"Lo yang be*o! Lo juga yang to*o*! Gue udah selamatin lo tapi apa balasan lo! Ingat bukan lo doang yang kehilangan Agnes, gue juga! Apa dengan cara lo bunuh diri lo bakalan ketemu sama Agnes? Nggak! lo malah tambah dibenci Agnes! Pikir dong! Gue cinta sama lo Kevin! Gue sayang sama lo hiks tapi apa? Gue benci lo Alexandra Kevin Arhelaus hiks benci!" Kesal Lisa mengembun-embun lalu berjongkok sambil mengusap paksa air matanya yang hendak turun tanpa ia sadari Lisa menyatakan semua isi hatinya kepada cowok didepannya ini.
Dia tidak mau terlihat lemah dihadapan cowok yang dia sukai tapi apa sekarang?
"Gue gak mau kehilangan lo kayak gue kehilangan Agnes. Gue gak suka lo kayak gini, Vin..." Lirih Gadis itu.
Gerb.
Kevin langsung memeluk tubuh bergetar Lisa membawanya dalam dekapan hangatnya membuat Lisa kaget tapi hanya sekilas dia langsung membalas pelukan hangat Kevin, cowok yang benar-benar dia sukai sejak pertama kali melihatnya, bahkan dia rela menjadi seorang stalker hanya untuk Kevin seorang.
Dia bukan gadis yang menyukai Kevin pada pandangan pertama namun lelaki itu pernah menyelamatkan nyawanya dulu, bukan sekali tapi dua kali! entah Kevin mengingatnya atau tidak.
"Maaf gue bener-bener bodoh! Gue gak tau kalau lo suka gue, gue benar-benar gak peka sama perasaan lo dan makasih sudah buat gue sadar." Ucap Kevin menatap bola mata Lisa lekat, membuat detak jantung Lisa langsung berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
"Udah dong nangisnya, nanti cantiknya hilang loh." Goda Kevin menghapus pelan air mata yang sedari tadi turun dipipi gadis itu membuat pipi Lisa langsung merona.
"Aduh duh pipinya merah hahaha, yuk! Ikut gue ke tempat peristirahatan terakhir Agnes. Gue belum ke sana... Sekalian kenalin lo ke Agnes bahwa Alisa Adrian Elvarette telah sah jadi calon istri gue." Ucap Kevin mantap lalu berdiri untuk pergi ke pemakaman Adiknya sambil menggandeng erat jari jemari Lisa, detak jantung masih saja berbunyi begitu juga dengan rona merah dikedua pipi gadis itu.
Akhirnya. Batin Lisa menatap senang punggung belakang Kevin, ia resmi menjadi pacar Kevin tapi ia juga sedih ditinggal sahabat sengkleknya itu.
Jika saja Agnes masih hidup Lisa tak kan seberani ini menyatahkan semua isi hatinya, sungguh Lisa amat beruntung mendapatkan sahabat sebaik Agnes walaupun Agnes bersikap acuh kepadanya tapi gadis itu punya cara sendiri untuk mengungkapkan semua perhatiannya.
_____________KOMEN___________
"Hai Adik kecil Abang! Cepet banget yah kamu perginya padahal kita belum bicara layaknya seorang Adik dengan Kakak bukan orang asing." Sapa hangat Kevin setelah menaburi bunga pada nisan yang bertuliskan Agnes Charissa Alexandra sambil meneteskan air matanya dengan gerakan perlahan.
"Masa Abang tadi mimpiin kamu sama Agni..."
"Oh iya, Dek ini Kakak ipar mu loh! Kamu tau? Dia sahabat mu loh! Gak nyangkah kan?" Ucap Kevin menatap sayang batu nisan milik Agnes.
"Agni dan Mommy jaga Agnes yah disana, kalian bertiga baik-baik yah disana! Maaf Kevin tak bisa ke sana sebab ada hal lain yang akan Kevin jaga hingga selamanya" sambung Kevin menatap lembut batu nisan milik kedua Adik kecilnya dan Mommynya tersebut.
Kini tiga nyawa sekaligus telah menghilang akibat kebodohannya.
"Sekarang kamu udah gak ngerasah sakit hati lagi Dek, Abang akan selalu berkunjung disini tentu saja ditemani sahabat kamu yang nantinya akan berubah marga." Air mata Kevin sudah tak dapat lagi laki-laki itu tahan, ia menumpahkan semua kesedihannya pada ketiga batu nisan dihadapannya.
"Kalian bertiga kalau misalnya Kevin lupa berkunjung datangin aja di mimpi Kevin sekalian aku ingin bicara dengan kalian." Jeda Kevin, "Kalau ditanya ikhlas atau tidak tentu Kevin dengan cepat menjawab tidak tapi apa boleh buat kan?"
Drrrt Drrrt Drrrt.
Tiba-tiba saja saku celana Kevin bergetar pertanda ada yang menelepon dirinya, tertera nama 'Ibu Alvaro is calling you' disana membuat Kevin dengan sigap berdiri lantas menjauh dari sana setelah mendapat izin dari kekasihnya.
"Nes, makasih udah kasih gue keberanian hingga buat Kevin jadi milik gue seutuhnya. Kalau bukan karena lo pasti sekarang Kevin bersanding dengan wanita lain." Lirih Lisa menatap hangat nisan didepannya setelah Kevin pergi dari sana.
"Well, dia masih tetap bodoh Nes! dia bahkan ngerelain nyawanya sendiri demi lo Nes tapi gue masih tetap cinta sama dia." Ucap Lisa terkekeh geli, " Kalau lo muncul lagi dimimpi Kevin, tolong pukul saja kepalanya jangan patahin semangat hidup nya. Oke besti?"
Kembali lagi ke Kevin,
"Iya Te, ada apa yah?"
"Akhirnya Nak Kevin angkat, Tante mau minta tolong dong kamu kesini cepat! Itu Alvaro dalam bahaya." Ucap Ibunya Alvaro dengan nada cemas dari sebrang telepon ditambah lagi bibirnya yang nampak keluh untuk berbicara panjang dan menjelaskan semua akar permasalahannya membuat Kevin dapat merasakan jika sekarang beliau tengah dilanda kebingungan yang amat mendalam dan tangisan yang tertahan.
__ADS_1
Tut tut tut.
Panggilan berakhir, membuat Kevin cepat-cepat belari menuju Lisa lalu pergi ke rumah sahabatnya tersebut.
Nggak Alvaro! Lo bener-bener gila kali ini! Batin Kevin cemas, tak mungkinkan jika Alvaro mengikuti jejaknya?
Sementara dikediaman Alvaro, Lima menit yang lalu.
"Gue gak percaya lo pergi secepat ini Nes..." Lirih Alvaro menatap kosong ke arah depan setelah pulang dari pemakaman milik kekasihnya tersebut, sudah sedari tadi Alvaro menatap kosong ke arah depan, seakan sebagian hidupnya telah hilang.
"Lo udah janji sama gue gak bakalan kalah dari kematian! Tapi apa buktinya? Lo pembohong!" Kesal Alvaro lalu melempar segala jenis perabot rumahnya menjadikan rumahnya yang awalnya bersih dan rapi kini telah menjadi kapal pecah.
Semua barang kesayangan dan barang mewahnya terjatuh begitu saja diatas lantai keramik itu, banyak sekali serpihan kaca disana namun Alvaro tak memperdulikannya.
Prang.
Prang.
Pyarrr.
Terakhir Alvaro langsung meninju jendela rumahnya membiarkan tangannya tergores dan mengakibatkan darah yang keluar banyak lalu Alvaro mengambil serpihan kaca tersebut dan menggoresnya pada tangannya bertuliskan 'Agnes'
"Lihatlah kamu masih cantik kok walau hanya nama, hahaha ternyata aku berbakat juga yah." Tawa Alvaro menggelegar.
Alvaro benar-benar hilang kendali untuk saat ini karena kehilangan sosok cewek yang berhasil melelehkan hati sekeras batunya.
"Kamu nggak sendirian lagi kok Nes! Tenang aku akan ke sana yah? Wait me honey." Ucap Alvaro mengusap sayang tangannya yang sudah bertuliskan nama kekasihnya tersebut, Alvaro kali ini benar-benar tak waras.
Hanya karena cinta dirinya jadi seperti itu! Padahal cowok itu sempat mengatakan dengan berani kedirinya sendiri bahwa tak akan ada yang bisa merubah sikapnya menjadi hangat walaupun dia sudah menikah sekalipun, namun sekarang? Dirinya bahkan telah kemakan ucapannya sendiri.
Brugh.
Karena sudah banyak darah yang dikeluarkan Alvaro mengakibatkan tubuh Alvaro jatuh pingsan didinginnya lantai yang telah bertaburan seripan kaca, darah semakin keluar dari tubuh cowok datar itu.
BRAKKK.
Tepat pada saat itu, pintu kamar yang telah dikunci serapat mungkin oleh Alvaro kini terbuka lebar menampilkan Lisa, Kevin, dan kedua orang tua Alvaro dibelakangnya, diduga Kevin lah sang pelaku yang telah berhasil mendobrak pintu kayu itu.
"Alvaro!" Teriak Kevin histeris lalu berjalan mendekati sahabatnya tersebut diikuti Lisa dan kedua orang tua Alvaro di belakangnya.
"Tenang Nak! Mama udah panggilkan ambulans, hiks kenapa kamu seperti ini Nak hiks." Tangis Mama Alvaro kencang ketika melihat putra semata wayangnya tersebut pingsan dengan darah yang bercucuran ditangannya begitu juga dengan tubunya yang tadinya tertancap sempurna oleh serpihan kaca.
"Sudah Ma, tenangin diri dulu." Uscap Papanya Alvaro tenang, mencoba untuk menenangkan istrinya tersebut sambil menintihkan air matanya dengan perlahan.
Kenapa bisa gini? Arrrgh, gue gak nyangka lo bakalan ngelakuhin hal bodoh semacam ini Al! Batin Kevin menatap sedih sahabatnya tersebut lalu tiba-tiba suara sirine ambulan yang amat kencang datang membuat suster dan dokter cepat-cepat mengangkat tubuh Alvaro ke arah tandu diikuti oleh Kevin, Lisa dan kedua orang tua Alvaro dibelakangnya tentu saja masih dengan tangisannya dan berharap agar Alvaro bangun.
Kehilangan satu nyawa tapi mampu membuat dua orang hampir mati!
BERSAMBUNG ATAU END NGGAK NIH?😅
BERKIBARLAH BENDERA SAD ENDING:V
JANGAN LUPA LIKE👍 KOMEN💬👇 KASIH RANTING🌟DAN TAMBAHKAN FAVORIT❤ OKEEEE😄
__ADS_1
SEE YOU NEXT CHAPTER😉
BABAY~