
HAPPY READING💛
.
.
..."Angin! Sampaikan rindu ku kepadanya jika dia menolak, hancurkan saja rumahnya beserta isinya! Tapi jangan orangnya lumayan buat pajangan dirumah."...
...Adelia Faranisa Azni....
.
.
.
Beberapa bulan kemudian.
"Jam tiga pas, lo udah kirim pesan ke Alvaro belum? Kok lama banget dia sampai?" Tanya Delia setelah melihat jam berwarna pinknya yang bertengger manis dipergelangan tangannya.
"Udah kok, mungkin sebentar lagi." Jawab Aksa, sebenarnya dia sedari tadi sama sekali belum mengngirim pesan ke Alvaro karena ia ingin berlama-lama dengan Delia. Dasar bucin tingkat dewa.
Udahlah gue bilang ke Alvaro, sayang sekali gak bisa liat mukanya lama-lama. Batin Aksa tersirat nada kecewa didalamnya lalu mengambil handphone untuk mengngirim pesan ke Alvaro.
Memang Aksa dan Delia sudah berencana untuk menghibur Alvaro setelah mendapat kabar bahwa Alvaro depresi karena ditinggal Agnes maka dari itu Aksa dan Delia mengajak Alvaro disebuah cafe favoritnya, mungkin dengan cara itu Alvaro bisa kembali ceria dan lekas mencari pengganti Agnes?
"Del gue mau nggomong sesuatu sama lo...." Setelah hening beberapa saat akhirnya Aksa angkat bicara membuat Delia langsung fokus mendengarkan ucapan Aksa selanjutnya.
"Gue-" Ucapan Aksa terpotong karena suara seorang pria dengan setelan kaos oblong ditubuhnya, membuat kadar ketampanannya bertambah.
"Udah lama nunggu?" Tanya Alvaro dengan nada datar lalu duduk disebelah Aksa.
"Iya, gue sama Aksa udah pesenin minuman...Nih minum." Suruh Delia lembut sambil menyodorkan gelas berwarna coklat kesukaan Alvaro langsung saja dituruti oleh Alvaro sementara Aksa hanya bisa bersabar karena acara yang paling penting menurutnya sudah hancur tidak sesuai harapannya.
Hening.
Satu kata yang dapat menjelaskan situasi saat ini, karena ketiga manusia tersebut tidak ada yang mau memulai pembicaraannya. Aksa yang sedari tadi berkutat dengan handphonenya sedangkan Alvaro menatap kosong ke arah gelasnya yang sedari tadi ia aduk-aduk hanya Delia saja yang berusaha mencairkan suasana dengan cara berusaha mencari topik yang seru.
Situasi macam apa ini? Awakward banget. Batin Delia menggenggam erat tangannya.
"Wuih! Ada yah pasar malam tapi bukanya pagi! Eh an*ir ternyata taman, boleh juga nih tempat." Gumam Aksa senang lalu mulai mencari tau alamatnya.
Kali ini tidak akan gue biarkan lolos! Batin Aksa dengan semangat yang membara setelah mengetahui alamat taman tersebut yang tidak jauh dari tempatnya sekarang.
"Ekhm, kayaknya udah mau sore yuk pulang." Alibi Aksa agar ia bisa menjalankan rencananya, padahal mereka tak ada satu pun yang mau membuka bicara! Lantas mengapa tadi nyuruh ke caffe jika ujung-ujungnya akan pulang!
"Ahaha, i i iya yuk pulang." Tambah Delia tersenyum canggung karena dia benar-benar tidak beta dengan suasana tersebut.
"Lo berdua duluan aja, gue disini." Ucap Alvaro.
"Udah lah bro jangan galau-galau muluk! Nanti Agnes tambah marah loh! Jaga kesehatan bro kalau ada apa-apa telepon gue, tenang gue free kok buat lo." Ucap Aksa menyemangati sahabatnya tersebut lalu menepuk pelan bahu Alvaro dan berdiri dari tempat duduknya untuk pergi.
"Jaga kesehatan Al, bye." Pamit Delia lalu belari mengejar Aksa yang sudah berjarak dua langkah tersebut, usai ditinggalkan oleh Delia dan Aksa tiba-tiba situasi menjadi...
Hening.
Disaat semua meja di caffe tersebut ramai dengan canda tawa orang-orang, hanya meja yang diduduki Alvaro saat inilah yang hening seakan meja tersebut tidak ada orang yang menduduki.
"Satu bulan, selama itu kamu pergi ninggalin aku disini, huft... kayaknya kamu benar-benar beta disana. Aku kangen kamu Nes..." Lirih Alvaro menatap sayang foto yang tak sengaja ia dapatkan ketika Agnes menjalankan hukuman waktu disekolahan.
Sangat-sangat cantik foto tersebut walaupun dengan wajah datar dan dengan ekspresi yang tak siap.
"Sudahlah." Ucap Alavro lalu beranjak pergi dari caffe tersebut menuju tempat peristirahatan terakhir seorang gadis yang amat dia cintai setelah Ibunya.
__ADS_1
////////////////VOTE////////////
"Hai Nes! kamu pasti kangenkan dengan aku?" Tanya Alvaro mengajak bicara gundukan bertuliskan AGNES CHARISSA A lalu tak terasa bulir-bulir bening mengalir dipipinya ditambah lagi hujan lebat yang tiba-tiba datang membuat kaos yang di kenangkan Alvaro basah.
Eh, tunggu-tunggu!
Tapi kok tidak basah?
"Kamu mau sakit ha? Udah tau hujan lebat tapi masih gak mau neduh." Marah seorang gadis dengan membawa payung agar tubuhnya dan tubuh Alvaro tidak menyentuh dinginnya air hujan.
"Jangan ganggu gue, mendingan lo pergi aja deh." Usir Alvaro dengan nada datar tapi belum melihat wajah seorang gadis dibelakangnya.
"Beneran aku disuruh pergi lagi? Padahal aku kira kamu kangen." Tanya seorang gadis tersebut dengan nada datar.
Kok suaranya kayak familiar ditelinga gue? Batin Alvaro membuatnya mau tak mau langsung membalikkan badannya.
Deg.
Seakan dunia berhenti berputar dan detak jantung Alvaro berdetak lebih cepat dari biasanya, betapa kagetnya dia ketika seorang gadis tersebut adalah sosok yang paling dia cintai dan sangat-sangat dia rindu beberapa hari ini.
"Yakin mau aku pergi?" Tanya lagi seorang gadis dengan nada datar siapa lagi kalau bukan Agnes sementara Alvaro menatap tak percaya seorang gadis yang tengah berdiri tegak dihadapannya sambil membawa payung diderasnya hujan.
Greb.
Alvaro langsung saja memeluk erat tubuh mungil milik Agnes, seakan dia tak mau kehilangan Agnes untuk kedua kalinya. Lelaki itu sudah tak peduli lagu dengan hujan yang membahasahi tubuh mereka berdua dan mengakibatkan demam karena payung tersebut langsung jatuh ke tanah dikarenakan Agnes yang tidak siap menerima pelukan secara mendadak dari Alvaro.
"Jika ini mimpi tolong jangan bangunkan aku dulu! aku ingin berlama-lama dengan mu hiks jujur aku belum siap kehilangan kamu Nes hiks." Tangis Alvaro kencang dilebatnya hujan, menumpahkan semua isi hatinya yang sedari tadi ia pendam. Terserah mau bilang Alvaro cowok lemah atau apalah itu karena sudah menangis didalam pelukan Agnes.
Jujur Alvaro saat ini benar-benar sangat merindukan sesorang gadis yang sudah berstatus pacarnya tersebut.
"Miss me?" Tanya Agnes membalas pelukan hangat Alvaro yang amat dia rindukan selama satu bulan ini lalu menghirup dalam-dalam aroma mint milik Alvaro.
"I really miss you." Jawab Alvaro membenamkan wajahnya pada ceruk leher gadisnya, Agnes tersenyum dalam diam.
☆☆☆KASIH BINTANG 5☆☆☆
"Agnes!" Teriak kencang Abraham, Delia, Lisa, Aksa, dan Kevin serempak lalu menatap tak percaya Agnes. Memang Alvaro menyuruh semua berkumpul dikediaman Alexandra untuk membicarakan hal penting sedangkan Agnes hanya cuek dan memilih untuk meminum jus yang telah disediakan.
Agnes sudah menduga akan seperti ini karena gadis itu sudah lama memata-matai para sahabatnya,keluarganya dan kekasihnya itu, dirinya sempat terkekeh pelan kala semuanya beranggapan bahwa dia sudah meninggal.
Greb.
Delia dan Lisa langsung memeluk tubuh Agnes.
"Hiks jahat lo Nes! Gue udah nangis kek orang gila giliran loh malah santuy seakan tak terjadi apa-apa! Kalau bukan sahabat gue udah gue buang lo ke rawa-rawa eh jangan deh nanti gue dibunuh sama lo." Tangis Delia dalam pelukan Agnes.
"Hiks gue kangen lo Nes." Tambah Lisa ikut meneteskan air matanya.
"Tapi gue gak kangen lo berdua." Ucap menusuk Agnes dengan nada santai, membuat Lisa dan Delia langsung melepaskan pelukannya dan mengngerucutkan bibirnya.
"Jangan gitu bibirnya minta dicium kah?" Tanya Aksa dan Kevin dengan kekehannya yang sukses membuat pipi kedua gadis tersebut memerah.
"Lepas Al, aku mau ke sana." Kesal Agnes karena sedari tadi tangannya di genggam erat oleh Alvaro, oke fixs sifat posesif Alvaro kambuh lagi membuat Agnes sedari tadi memutar bola matanya malas sekaligus membuat semua langsung terkekeh melihatnya.
"Kapan nih nikahannya? Asik makan gratis ayem coming!" Goda Aksa.
"Jangan lupa ponakan yang lucu-lucu." Tambah Delia.
"Cocoklah, ditunggu undangannya." Tambah Lisa ikut mengoda Agnes.
"Sudah besar anak Daddy ternyata." Timpal Abraham terkekeh pelan, sayang sekali tidak ada Unna disini.
"Baru datang udah romantis-romantisan aja, nggak kangen sama Abang nih?" Yang terakhir dari Kevin membuat semua langsung tertawa lebar.
__ADS_1
Semua begitu merindukan Agnes apalagi si Kevin yang dulu amat terpuruk, sekarang Kevin hanya menatap penuh rindu Agnes masalah pelukan nanti saja itu privasi begitu juga dengan Abraham.
"Ehem nona Agnes bisa dijelaskan? Kenapa bisa ke sini?" Tanya Abraham membuat semua langsung tersadar benar juga apa kata Abraham mereka langsung menatap penuh minat ke arah Agnes..
Sedangkan Agnes hanya menghela nafasnya berat, dia tak ingin bicara panjang! Kebiasaannya itu tak bisa lepas dari diri Agnes.
"Oke, tugas gue sudah selesai! Gue harap lo bahagia Nes." Ucap arwah Agni lalu pergi menuju tempatnya berasal karena mungkin Adiknya sudah tidak membutuhkan pertolongannya lagi.
Tentu saja dengan senyuman yang tak pernah pudar dari bibir gadis itu, walaupun Agni tak bisa memeluk mereka bertiga dan menghadiri acara pernikahan kembarannya itu namun Agni bahagia karena sebagian bebannya hilang.
Kini barulah tak ada lagi masalah! Agni bisa tenang ke alamnya.
🎉🎉MAFIA GIRL VS KETUA OSIS🎉🎉
"Terawat sekali ya." Ucap Abraham dengan senyuman mengarah ke kedua gundukan dihadapannya.
"Iya dong! Agnes yang rawat." Celutuk Kevin ikutan menaburi bunga serta air.
Semuanya nampak berdoa dengan khusyuk.
"Mommy! Kevin minta restu ya buat nikah sama Lisa." Kekeh Kevin yang paling pertama selesai berdoa.
"Mommy nanti kalau Kevin jahatin aku marahin ya." Lisa pura-pura mengerucutkan bibirnya, "Sebelumnya kenalin aku Lisa calon Kevin, Agni pasti kenal aku!" Manik matanya menoleh kesebelah gundukan.
"Walaupun sudah beberapa tahun berlalu, kamu masih tetap dihati aku. Maaf telah mengecewakanmu akhir-akhir ini." Abraham berjongkok guna untuk mencium nisan istrinya, "Aku telah gagal mendidik anak-anak."
Agnes menepuk pelan pundak Daddynya untuk menenangkan pria paru baya tersebut.
"Saya Alvaro, untuk kedepannya saya pasti menjaga putri tersayang anda. Mommy." Alvaro tersenyum yakin.
Semuanya nampak saling berbincang ria seolah dua gundukan itu dapat membalas ucapan mereka kecuali Agnes yang sedari tadi masih mempertahankan senyumnya.
Gadis itu tak bicara sepata kata pun bahkan sampai semuanya hendak pulang.
"Kalian duluan saja, aku masih ada urusan disini."
"Biar aku temani!" Celetuk Alvaro semangat.
"Tidak aku ingin sendiri."
"Tap-"
"Ayolah, Bro! biarkan Adek gue sendiri dulu." Kevin mengeret Alvaro yang masih tak terima dibantu Lisa disampingnya.
"Nak, jangan lama-lama." Pesan Abraham sebelum beranjak pergi dari sana, lelaki paru baya itu sempat mengelus sayang surai putrinya.
Hening menyapa kala semuanya pergi dari sana.
"Aku hanya punya beberapa menit. Mom, Kak." Ucap Agnes pada akhirnya, "Aku tidak tau ingin berterima kasih atau bagaimana setelah Mommy mengirimku kesini, aku ingin berada disana sebenarnya."
"Ini kan kemauan Mommy? berdamai dengan masa lalu tidak buruk juga."
Agnes menyeka air matanya yang hendak turun, "Gak boleh ada air mata." Semangat Agnes pada dirinya sendiri.
"Kak Agni nanti jangan rasuki anak aku ya nanti! awas nanti kalau sikap bar-bar kamu malah nurun ke anak aku." Kekeh Agnes, "Walaupun nanti Agnes akan sibuk tapi percayalah! Agnes akan selalu berkunjung disini karena ini tempat paling Agnes sukai."
"Agnes sayang kalian berdua! datang ke mimpi Agnes ya?" Ucap Agnes masih berusaha untuk tak menitihkan air mata walaupun kedua manik matanya berkaca-kaca, "Bagaimana dengan Alvaro? dia calon Agnes loh."
DI TUNGGU YAH GAISS EXTRA CHAPTERNYA😙
SEBELUMNYA AUTHOR MINTA MAAF NEH, UDAH KASIH PRANK AWOK😆
LIKE, KOMEN, KASIH RANTING, DAN TAMBAHKAN FAVORIT👈 JANGAN LUPA😄😉
__ADS_1
BABAY~