
HAPPY READING💛
.
.
.
..."Sepertinya memang lebih pantas untuk sekedar mengagumi bukan memiliki."...
...Ansel Arian Raymood....
.
.
.
Wiuuuu... wiuuuu... wiuuuu...
Decakan kesal terdengar didalam mobil yang kini ditumpangi seorang gadis dengan kecepatan penuh, dibelakangnya ada empat mobil polisi dengan sirine yang amat nyaring bermaksud tuk menghentikan mobil Agnes.
Gadis itu berdecak kesal bukan karena dikejar polisi namun ia tak bisa menyelesaikan balapannya dengan tenang.
Gara-gara tidak ada Ansel jadi tidak ada yang mengamati situasi, Agnes tidak tau apa yang terjadi pada kawasan balapan liar tadi.
Tangan gadis itu merogoh saku celananya guna untuk mencari benda pipih dan canggih itu.
"Woy katanya ada polisi?" Tanya Ansel dari sebrang telepon yang hanya dibalas deheman dari Agnes.
"Terus lo gi-"
"Markas."
"Ha? yang bener woi ngomongnya."
"Ck, gue mau ke markas."
Ansel dibuat tambah kebingungan dengan ucapan Agnes yang nampak tak masuk dikepalanya.
"Mobil?"
"Kenapa?"
"Ada?"
"Sumpah gue furtasi sama lo lama-lama."
"Mobil gue dimansion masih ada?" Ulang Agnes yang kini mampu membuat Ansel paham dan langsung mengangguk.
Agnes mengerutkan keningnya saat tak ada jawaban apapun, "Masih?" Tanya Agnes membuat Ansel menepuk pelan dahinya.
Mana mungkin Agnes bisa melihat Ansel mengangguk atau tidak?
"Iya kok masih, Kenapa?"
"Suruh anak buah gue masuk kedalam mobil terus bersiap, gue kesana sekarang." Ansel berniat bertanya namun sambungan telepon tiba-tiba terputus.
"Lihat seberapa beraninya kalian." Ucap Agnes menatap sekilas spion mobilnya lalu tersenyum simrik.
Tangan gadis itu memutar stir kemudi dengan tiba-tiba menuju kearah kawasan mafia Black Diamond Girl diikuti keempat mobil polisi yang masih setia mengikuti mobil Agnes.
Hanya dengan beberapa detik, Agnes telah sampai didepan markas mafianya. Pintu rumah itu tiba-tiba terbuka dan tertutup kembali saat Agnes telah masuk kedalam.
Semua polisi tersebut langsung berhamburan keluar saat dirasa targetnya telah terpojok.
"Keluar! kami tau kamu ada didalam!" Perintah polisi itu dengan teriakan nyaring.
Hening.
Semua polisi nampak mengerutkan alisnya bingung.
"Tiga." Ucap seseorang.
__ADS_1
Sontak saja semua mobil yang didapati Agnes dari balapan liar, mulai maju keluar satu persatu membuat ke empat polisi itu berlari pergi bahkan melupakan kendaraan mereka masing-masing.
"Lo ada dendam apa sama polisinya? biasanya lo tanganin sendiri tapi kali ini lo bawa ke markas." Kekeh Ansel menatap lucu kearah depan, "Gak baik banget ya kita? masa ada tamu bukannya disuruh masuk malah disuruh pergi." Lagi-lagi Ansel tertawa.
Lucu saja rencana Agnes kali ini, dia bahkan tak bisa menebak tadinya. Yang lebih lucunya lagi Agata malah ikutan bersemangat sembari dibonceng salah satu anak buah Agnes. Gadis itu sedari tadi berteriak tak jelas.
Memikirkannya saja mampu membuat Ansel kembali terkikik geli.
"Pastikan ke empatnya mati." Datar Agnes lalu pergi dari sana.
Ansel mulai mengeluarkan handphonenya, menghubungi semua anggotanya. Lelaki itu bermaksud menyampaikan pesan Leadernya kepada bawahannya, sebagai wakil ketua ia wajib menjalankan tugas apapun dari atasannya walaupun Agnes adalah adik angkatnya.
Begitu juga dengan Agata, keduanya tak pernah main-main soal jabatan mereka berdua. Agnes adalah adiknya tetapi mereka berdua tak boleh semena-mena, baik diperusahaan maupun didunia gelap.
"Pastikan keempatnya mati, mengerti?"
"Baik! mengerti, wakil ketua!" Ucap mereka serempak.
"Siapa yang se mobil dengan gadis cerewet tadi?"
"Saya!" Ucap salah satu anak buah Agnes.
"Kamu jaga dia, pastikan dia tidak kenapa-kenapa."
"Baik!"
√√√√MAFIA GIRL VS KETUA OSIS√√√
Dan hari ujian kelulusan pun datang membuat semua murid-murid AIHS disibukkan oleh belajar, belajar, dan terus belajar tapi tidak dengan Agnes yang dengan santainya malah balapan tadi malam, seakan ujian itu tak masalah baginya.
Disaat semua murid dikelas serius mengerjakan ujian, Agnes malah tidur dengan earphone yang menyumpal kedua telinganya membuat Lilik yang sedari tadi mengawasi Agnes langsung dibuat kesal, memang mata Guru satu itu tak pernah lepas sedikitpun dari gadis biang onar itu.
"AGNES!" Panggil Lilik tersirat nada kesal didalamnya membuat semua murid yang berada dikelas melihat Agnes semua tapi Agnes malah tidak merasa terganggu sama sekali.
"Woy bangun lo." Bisik Alvaro sambil mengusap pelan rambut depan Agnes membuat tidur Agnes sedikit terusik.
"Apa?" Tanya Agnes menoleh malas ke arah Alvaro membuat jarak diantara Alvaro dan Agnes hanya tinggal beberapa centi.
Yeah, terdengar bodoh! tapi itu yang Alvaro rasakan sekarang.
Untuk sekilas dua sejoli itu saling melempar pandangan, deru nafas keduanya saling bersautan begitu juga dengan detak jantung mereka berdua yang seakan tengah lari marathon. Entah aa yang ada dipikiran mereka berdua, yang jelas keduanya enggan memutuskan kontak mata tersebut.
"Ekhem, masih asik tatapannya?" Tanya Lilik sang perusak suasana sambil melipatkan kedua tangannya didepan dada lalu menatap tajam kedua muridnya tersebut.
"Oh Guru." Ucap Agnes datar dan mencoba untuk menetralkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak kencang, sial! Jantung sia*an!
Sedangkan Alvaro memalingkan wajahnya ke arah lain berusaha menetralkan detak jantungnya juga, gadis didepannya ini sungguh berbahaya bagi kesehatan jantungnya.
"Oh Guru! Enak banget kamu bilang yah! Ujian kamu emang selesai? Ingat, jangan anggap remeh ujian kali ini!" Oceh Lilik dengan nada membentak membuat Agnes langsung menyerahkan selembar kertas ujian miliknya.
"Cepet banget." Gumam Lilik meneliti jawaban Agnes satu persatu barang kali ada yang belum dijawab tapi nihil kertas ujian Agnes sudah penuh dengan jawabannya, perasaan tadi gadis itu hanya tertidur? Kapan gadis itu mengerjakannya?
"Eh... Eh kemana kamu?" Tanya Lilik ketika Agnes tiba-tiba berdiri dan ingin beranjak pergi dari kursinya tersebut.
"Pulang." Jawab Agnes datar membuat Lilik mau tak mau harus menurutinya, memang benar kalau sudah menyelesaikan ujian bisa pulang atau lebih memilih ke kantin untuk mengisi perutnya yang sedang lapar.
Setelah kepergian Agnes barulah Alvaro dan Kevin selesai mengerjakan ujiannya hanya tinggal menunggu teman satunya dikantin.
"Lo tau siswi disini yang terkenal badgirl?" Setelah sekian lama hening akhirnya si manusia es (Alvaro) bersuara sambil mengaduk pelan minuman berwarna biru itu persis sekali dengan manik mata Agnes, astaga Alvaro!
"Agnes?" Tebak Kevin membuat Alvaro mengangguk.
Ada apa dengan Adek gue? Batin Kevin binggung lalu menatap serius Alvaro, membiarkan cowok datar itu melanjutkan ucapannya.
"Gue suka sama dia, rencananya nanti saat hari kelulusan tiba gue nyatain perasaan gue yang sebenarnya." Ucap Alvaro mantap, membuat Kevin langsung melototkan matanya kaget tapi hanya sekilas setelah itu ia merubah raut wajahnya menjadi serius.
Topik kali ini serius karena menyangkut adik kecilnya, maka dari Kevin berusaha tuj bersikap lebih serius.
"Dia itu susah untuk ditaklukin harus beribu-ribu cara untuk mendapatkannya, dia itu selalu memendam semua perasaannya sendiri, sekali lo berkhianat lo bakalan nyesel sendiri." Ucap Kevin sambil mengingat kembali kenangan masa kecilnya, saat keluarganya masih utuh saat dimana senyuman Adik kecilnya itu tak pernah luntur dari bibir pinknya.
Dia merindukannya, dia merindukan saat-saat bersama kedua adik kecilnya. Tertawa tanpa beban, tidak seperti sekarang.
"Dari mana lo tau?"
__ADS_1
"Dia Adik kandung gue, Adik yang paling gue sayangi tapi suatu kesalahan yang gue lakuin dimasa itu membuat Adik gue memilih untuk hidup sendiri dan menanggung semua beban hidupnya bahkan untuk sekedar meminta uang jajan saja dia tak pernah." Sedih Kevin tersirat nada kecewa yang amat mendalam dari dirinya sendiri.
Betapa bodohnya dia dimasa itu, dimana dia saat Adiknya memerlukan pelukan hangat? dan dimana dia saat Adiknya amat membutuhkan kasih sayang orang tua? Kevin benar-benar menyesal saat ini ingin rasanya ia memutar kembali waktu! Kalau bisa.
"Jadi selama ini dia Adik kandung lo? dia juga dong yang punya sekolahan ini?" Tanya Alvaro beruntun, sungguh ia saat ini benar-benar penasaran tentang jati diri Agnes yang menurutnya benar-benar tertutup rapat sekali bahkan tak ada celah satu pun untuk orang asing sepertinya masuk?
"Ya dia Adik kandung gue Agnes Charissa Alexandra dan dia juga yang punya sekolahan ini, kelak gue minta tolong lo jaga dia yah calon pacar Adik gue semoga lo diterima." Ucap Kevin menepuk pelan bahu Alvaro lalu tersenyum membuat Alvaro mau tak mau harus membalas senyuman dari sang calon Kakak iparnya?
Lampu hijau sudah ada di depan mata!
"Makasi, tenang gue pasti jaga Adik kecil lo itu tanpa ada luka sedikit pun!" Alvaro tersenyum bangga saat mengetahui nama lengkap gadisnya, Agnes Charissa Alexandra. Nama yang cantik seperti yang punya.
"Sip, gue bakalan bantuin lo kok tenang."
Gue percaya sama lo Al batin Kevin, dia berharap dengan adanya Alvaro Adik kecilnya itu sedikit demi sedikit berubah.
"Woy gue ketinggal apa nih!" Ucap tiba-tiba dari Aksa lalu meminun minuman Kevin tiba-tiba tanpa ada rasa bersalah sedikit pun membuat Alvaro langsung mengubah raut wajahnya seperti biasanya yaitu datar.
"Lo ketinggalan banyak bik! mending lo pesanin makanan sono jangan lupa tuh minuman gue gantiin." Ucap Kevin menatap sedih cangkir minumannya yang sudah tandas dan hanya menyisakan satu es batu saja itu pun nanti bakalan dimakan Aksa, karena bocah satu ini suka sekali dengan yang namanya es batu.
"Gilak, ujian tadi sulit njir* mana tadi gue gak belajar gara-gara maen toktik atau apalah itu namanya! Karena gue baek gue bakalan teraktir manusia-manusia yang gak punya duit sama sekali ini." Sombong Aksa lalu bergegas pergi memesan makanan.
"Serah lo nyed." Teriak Kevin membuat Aksa diam-diam terkekeh lalu menunjukkan jari tengahnya dari arah kejauhan.
《《《《《KOMEN》》》》
Dor.
Dor.
Dor.
Sudah berkali-kali peluruh yang dilontarkan dari seorang gadis dengan baju sekolah yang masih melekat ditubuhnya sambil menembakkan peluruhnya tepat pada foto yang amat dibenci karena sudah membunuh Mommy tersayangnya dengan cara sadis.
"Gue bakalan balas lo bang*at! gue gak bakal diam aja ketika seorang yang amat gue sayang mati ditangan bi*ch sia*an seperti lo!" Marah gadis tersebut sambil menggepalkan kedua tangannya.
Gadis itu sudah tau fungsi dan sudah belajar cara menembak dengan benar.
Sementara ditempat lain, yaitu dimansion keluarga Alexandra terjadi pertengkaran hebat dikarenakan sang putri bungsu tersebut pulang terlalu larut malam.
"Jam berapa ini." Tanya sang Ayah (Abraham) tersirat nada emosi didalamnya.
"Anda punya jam kan?" Tanya balik Agnes dengan datar membuat Abraham tambah dibuat emosi.
"Lihat sekarang Mommy kamu hilang! Tapi apa reaksi kamu? Kamu malah biasa saja seakan tak terjadi apa-apa! Anak macam apa kamu!" Bentak Abraham yang sudah tersulut emosi.
"Apa hubungannya dengan saya?" Tanya Agnes tenang berusaha mati-matian agar terlihat baik-baik saja.
"Keterlaluan kamu Agnes! Daddy tidak pernah mengajarkan kamu begitu!"
"Oh." Ucap Agnes masih dengan nada datarnya lalu berlalu pergi tapi setelah dua langkah Agnes berhenti karena ucapan sang Daddynya yang sungguh membuat perasaannya langsung hancur seketika.
"Memang pantas Mommy kamu meninggal! Ia tidak akan sudi menganggap putri semata wayangnya sekarang yang sudah ia didik dengan baik dari kecil tapi lihat! Kamu sekarang amat bandel! Kalau saja Mommy kamu hidup dia bakalan menyesal punya anak seperti kamu!" Bentak Abraham emosi membuat Agnes menggepalkan kedua tangannya erat berusah sebisa mungkin agar tidak menetas kan air matanya.
Agnes harus kuat!
"Anda bakalan menyesal nanti tuan Abaraham Alexandra Pratama yang terhormat." Ucap Agnes dengan nada yang amat datar dan dingin lalu melanjutkan langkahnya menuju kamarnya meninggalkan Abraham yang berdiri disana, Agnes amat sensitif jika membicarakan tentang Mommynya atau kembarannya.
Kalau saja Abraham bukan Daddynya! Sudah dipastikan kepalanya tak lagi dibadannya detik itu juga!
Ini sakit! Batin Agnes meneteskan satu air matanya saat dirinya membuka pintu kamarnya, gadis itu bersandar dibalik pintu sembari berjongkok disana.
Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi gadis itu.
Apa aku tadi sangat keterlaluan yah? Batin Abraham bertanya-tanya sambil menatap sedih punggung belakang putri kandung semata wayangnya tersebut yang lama kelama hilang ditelan pintu kamar putrinya.
BERSAMBUNG~
MAAF JIKA MASIH PENDEK😧
JANGAN LUPA LIKE👍 KOMEN💬👇 KASIH RANTING🌟 DAN TAMBAH KAN FAVORIT💟 JIKA SUKA SAMA NOVEL INI😉
SEE YOU NEXT CHAPTER😀😉
__ADS_1