Mafia Girl Vs Ketua Osis

Mafia Girl Vs Ketua Osis
EPS 33


__ADS_3

**HAPPY READING**βœ”


.


.


.


..."Susah banget yah jadi prioritas lo."...


...Alisa Adrian Elvarette....


.


.


.


AUTHOR POV.


"To the point aja!" Ucap Salma singkat sembari menatap serius pria didepannya tersebut, sedangkan pria itu meminum santai jus didepannya yang baru saja mereka pesan.


Setelah hening beberapa saat akhirnya pria misterius itu berujar "Agnes." Ucap pria itu santai.


"Maksud lo?" Tanya Salma binggung tapi tak mendapat jawaban apapun dari pria bertopeng itu, membuat Salma berpikir keras maksud dari pria misterius didepannya itu


Sedetik kemudian dia tersadar, dan langsung mengepalkan erat tangannya hingga kuku-kuku jarinya memutih. Marah? sangat! Kenapa Agnes bisa segila itu!


Brakk.


Pria bertopeng itu tersenyum simrik seraya menggumamkan kata, "Dasar lemot!"


"Keterlaluan!" Marah Salma sembari menggebrak kuat meja cafe didepannya. Lalu berdiri dari duduknya, dan melangkahkan kakinya untuk pergi menghampiri Agnes.


Ingin sekali dirinya melabrak Agnes atau tidak menjambak rambut Agnes hingga gadis itu mati ditangannya, ini sepadan dengan apa yang Agnes lakukan ke Mommynya!


"Jangan terburu-buru, girl" Ucap santai pria itu membuat Salma kembali duduk,dan menatap tajam pria tersebut.


"Apa lo gi-"


"Lo tau Mommy lo dibunuh secara sadis dengan Agnes?" Pancing pria itu sembari meminum jusnya kembali, membuat Salma menggenggam erat tangannya sendiri pertanda ia mulai kesal! Kali ini sangat kesal.


Bagaimana tidak kesal Ibu kandungnya sendiri dibunuh secara sadis dengan Agnes! Benar-benar gadis yang tak waras.


Permainan akan segera dimulai. Batin pria itu tersenyum penuh rencana, dan mulai membisikan rencananya ke Salma.


Berly Roberto Raymood, sosok yang pernah hampir membunuh Agnes karena benci dengan Mafia milik Agnes yang mampu mengalahkan Mafianya, sosok lelaki itu telah menaruh rasa bencinya saat Agnes masih pemula didunia gelap, dan dia juga yang kemarin kalah melawan Agnes.


😈😈😈😈LIKE😈😈😈😈


"Dek!" Panggil Kevin kala melihat Adiknya berjalan santai melewatinya tanpa menghiraukan panggilan Kevin membuat Kevin mau tak mau mengejar Adiknya itu, meninggalkan sarapan paginya


"Dek, Abang antar yah?" Tanya Kevin lembut mencoba berbicara pada sang Adiknya atau lebih tepatnya mencoba untuk memperbaiki hubungan persaudaraannya, walaupun ia tau pasti akhirnya sia-sia.


"Gak." Tolak Agnes mentah-mentah sembari membuka pintu mobilnya, berniat menujuh sekolah.


"Sekali saja." Bujuk Kevin tapi tetap saja tidak dihirukan Agnes.Gadis itu malah melajukan mobilnya, dan pergi dari mansion Alexandra membuat Kevin menghela nafas panjang.


Semangat Kevin! Batin Kevin menyemangati dirinya sendiri lalu bergegas untuk sekolah juga.


Mulai detik ini Kevin berniat tuk memperbaiki kembali hubungan persaudaran antara dirinya dengan Agnes. Ia tak akan menyerah walaupun dirinya akan ditolak berkali-kali seperti tadi.


Kevin asik dengan lamunannya hingga tak menyadari seorang pria paru baya menepuk pundaknya pelan.


"Kamu habis ngapain? sampai lari keluar buru-buru gitu." Dia Abraham, senyumannya masih terlihat tampan walau sudah termakan usia.

__ADS_1


Kevin membalas senyuman Abraham, "Eh, Daddy!" Seru Kevin, "Dad, kira-kira sampai kapan Agnes begitu?"


"Maksud kamu?"


"Sampai kapan Agnes bersikap dingin kepada kita? kita kan keluarganya."


"Daddy tidak tau." Ucap Abraham dengan raut wajah sedih membuat Kevin merasa bersalah.


Bodohnya dia malah membahas hal ini bersama Daddynya yang baru saja kehilangan istrinya yaitu Mommy tiri Kevin, Mommy Ana.


"Ehm, tenang Dad! Kevin akan berusaha bujuk Agnes, Daddy jangan banyak pikiran! nanti sakit." Cemas Kevin.


Abraham tersenyum, "Daddy percaya kamu bisa merubah Agnes."


"Ya, semoga."


πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰KOMEN🎊🎊🎊🎊


"Girls lo tau kan rencananya?" Tanya Salma dengan senyum simriknya lalu dibalas anggukan oleh kedua temannya.


Ini hanya pemulaan bagi lo Nes! sebagai ancaman buat lo, agar lo berhati-hati! lo salah milih lawan. Batin Salma emosi lalu mulai diam guna mendengarkan langkah kaki dari geng Agnes.


Dibalik pintu kelas XI IPA 1 sudah terdapat tepung satu ember yang siap meluncur jika seorang yang tak lain, dan tak bukan adalah Agnes dkk jika saja Agnes dkk membuka pintu ruangan itu.


Dari ujung ruangan sosok pria tersenyum lebar dengan kedua tangan sebagai tumpuan wajahnya.


Enak banget punya anak buah. Batin Pria itu.


"Huwaaa, gue telat lagi dong! Untung aja si ketos datar kagak ada." Tangis alay dari Delia membuat Agnes, dan Lisa menutup telinganya masing-masing


"Gue telat b aja tuh." Celetuk Agnes datar.


"Guru disini pada malas hukum lo Nes, mending lo hukum diri lo sendiri aja." Ejek Lisa dengan kekehannya lalu ingin membuka pintu kelas tapi tangannya sudah dicegat terlebih dahulu oleh Agnes.


"Kita tunggu Guru." Ucap Agnes menatap datar pintu kelas tersebut lalu bersandar didinding sembari melipat kedua tangannya didepan dada.


"Ha? Maksud lo apaan? Kita malah dihukum Guru ogeb! Sudah telat masih aja didepan pintu! Oh ayo lah Nes lo masih waras kan? Ya kan?" Tanya beruntun Delia sembari menatap penuh kebinggungan Agnes yang malah dengan santainya bersandar ditembok padahlahkan sekarang waktunya Guru fisika sang Guru terkiller AIHS. Apa Agnes mulai mengajarinya menjadi bad girl? Tidak mungkin! Walaupun Delia amat suka menjadi bad girl tapi Agnes...


Sedangkan Lisa tidak mau ambil pusing ia malah bersandar disebelah Agnes, dan mulai membuka handphonenya. Memulai memainkan permainan kegemarannya


Agnes sudah cukup lama menjadi Mafia. Hal kecil macam ini tak berpengaruh padanya! Agnes mengetahuinya saat para murid dikelas mulai diam tak seperti biasanya, dan ditambah lagi suara-suara aneh dibalik pintu.


"Nes hiks gue mau nangis ngeliat lo, Lis! kok lo diem aja sih? kita diajari nakal loh sama Agnes!" Delia masih saja mengoceh tak jelas.


"Gue tau, lo begini pasti ada alasan." Bisik Lisa dengan mata yang masih fokus ke arah ponselnya tanpa mau menghirauka. rengekan manja dari Delia.


"Pinter." Ucap Agnes.


"Sedang apa kalian bertiga disini? Mau membolos, ha?" Tanya Tatik menatap tajam ketiga murid yang bersandar ditembok mungkin lebih tepatnya menatap tajam Agnes yang memandangnya dengan tatapan santai.


Delia sudah kalang kabut melihat Tatik, "It-" Ucap Delia terpotong.


"Pintunya terkunci." Jawab Agnes datar, membuat Delia menatap penuh kebinggungan sahabat satunya itu. Jelas-jelas pintu itu tinggal dibuka saja.


"Ada-ada saja kamu membuat alasan, lihat pintunya ti-"


Brugh.


Tiba-tiba saja tepung satu ember menancap sempurna diseluruh tubuh Tatik setelah membuka pintu, membuat Tatik menggenggam tangannya erat pertanda ia mulai emosi bahkan ember yang tadinya berada dikepala Tatik kini terlempar jauh.


"Siapa. Yang. Melakukan. Ini?" Tanya Tatik penuh dengan penekanan disetiap ucapannya membuat nyali Salma dkk menciut sedangkan Lisa, dan Delia tertawa terbahak-bahak melihatnya. Oh jadi ini maksud dari sahabatnya itu! Benar-benar peka akan sekitar.


"Agnes sama kawan-kawannya Bu." Elak Salma mencoba untuk mencari alasan, padahal jelas-jelas alasan itu tak masuk akal.


"Agnes dari tadi sama Ibu kok." Ucap Tatik tersirat nada kesal didalamnya.

__ADS_1


Geng Salma sudah berwajah masam sedari tadi, memikirkan alasan apa yang cocok agar mereka bertiga terhindar dari ruangan keramat bernama BK.


"Udah Bu bawa aja ke ruang BK kan kasihan baju Ibu? Udah beli mahal-mahal eh malah kena tepung." Timpal Delia memanasi, masih dengan tawanya.


Mendengar itu Tatik mulai tersulut emosi, "Salma, Amanda, Amalia! Kalian bertiga ikut Ibu ke ruangan BK sekarang!" Kesal Tatik lalu pergi ke toilet untuk membersihkan diri sementara Salma dkk menurut saja, dan berjalan pasrah ke ruangan BK.


"Mampu* senjata makan tuan!" Ejek Delia masih dengan tawanya membuat Salma menatap tajam Delia.


"Awas lo B*tch sia*an!" Ancam Salma menatap tajam satu persatu geng Agnes, dan dibalas wajah mengejek dari Delia.


"Gue pulang." Setelah kepergian Salma Agnes langsung bicara dengan nada khasnya yaitu datar.


"Serah lo Nes serah, sekalian dah tuh lo gak usah sekolah!" Kesal Delia malas, pasti besok Agnes mendapatkan surat cinta dari Bu Anis lagi karena bolos sekolah lagi.


Ingin sekali Delia menaruh lem dikursi milik sahabat datarnya itu agar Agnes tak se-enaknya bolos sekolah. Kan Delia jadi iri.


"Dah lah lo masuk aja, nih gue punya game cacing." Ucap Lisa santai lalu memberikan handphonenya ke Delia tentu saja diterima dengan senang hati oleh Delia langsung saja Delia pergi menuju kursinya untuk memainkan game tersebut dengan khusyuk.


"Si cerewet udah gue aman kan, lo hati-hati dijalan jangan asal tubruk semut." Ucap Lisa menepuk pelan bahu Agnes sembari terkekeh sendiri saat mendengar ucapannya tadi lalu pergi meninggalkan Agnes karena bel pertanda masuk telah berbunyi.


Gue mohon jangan hancurkan persahabatan ku ya Tuhan. Cukup Mommy, dan kembaran ku saja yang pergi sahabat ku jangan! Batin Agnes tersenyum sangat tipis bahkan hampir tak terlihat bahwa dia tersenyum.


"Woy Nes masuk lo! Ngapain lo masih diluar." Tiba-tiba saja suara sang ketua osis menggema disepanjang koridor sekolah hingga membuat semua lamunan Agnes buyar seketika.


Agnes menatap datar Alvaro yang kini berlari ke arahnya. Gadis itu menarik alisnya bingung kala tangan Alvaro menempel didahinya.


"Untung lo gak demam gara-gara kemarin." Alvaro tersenyum simpul.


"Kemarin?"


"Iya kemarin waktu hujan..."


"Gue gak ketemu lo." Kini giliran Alvaro yang dibuat bingung akan sifat Agnes, kenapa gadis ini? dari hawanya juga sudah berbeda.


"Lo lupa? atau gimana?"


Agnes nampak diam sejenak, kemarin ia tiba-tiba saja berada dikasur dan Agnes yakin itu pasti perbuataan kembarannya karena waktu hujan turun sosok ditubuh Agnes berontak untuk keluar. Jangan-jangan Agni...


"Nes-"


Agnes menatap serius Alvaro yang tiba-tiba terkejut, "Dia lakuin apa sama lo? maksud gue lo ngapain aja sama gue?"


"Ha?"


"Aishhhh, lo gak akan paham." Gumam Agnes berjalan pergi dari sana meninggalkan Alvaro yang berdiam diri.


Aneh. Batin Alvaro yang masih diam.


Lain kali jangan asal keluar, Kak! Batin Agnes berharap itu dapat didengar Agni.


Agnes tidak tau apa yang diperbuat Agni tapi yang jelas Agnes malu saat ini, kembarannya itu pasti berbuat seenaknya pada Alvaro. Entah apa yang diperbuat.


Agni itu sifatnya berbanding terbalik dengan Agnes! gadis itu asal ceplos! bagaimana jika Agni berucap yang tidak- tidak kepada Alvaro?


"Woy, Nes!" Teriak Alvaro sementara Agnes masih dengan pikirannya.


BERSAMBUNG~


HAHAHA SENJATA MAKAN TUAN MAMPU* LO SALMAπŸ˜‚


JANGAN LUPA LIKEπŸ‘ KOMENπŸ’¬πŸ‘‡(NANTI AUTHOR RESPON KOKπŸ˜‰) KASIH BINTANG🌟 AND TAMBAH KAN FAVORITπŸ’Ÿ JIKA SUKA DENGAN NOVEL INIπŸ˜πŸ˜€πŸ˜‰


SEE YOU NEXT CHAPTERπŸ˜‰πŸ˜Š


BABAY~

__ADS_1


__ADS_2