
HAPPY READING💣
.
.
.
.
..."Kalau mencintai lo adalah sebuah kesalahan, yasudah biar gue salah terus saja!"...
...Aksa Devian Arian....
.
.
.
.
"Uhuk, maaf bos kami tidak bisa menculik target kita." Ucap takut-takut anak buah DrakDevil yang kini terdapat luka memar disekujur tubuhnya karena serangan Agnes yang begitu kuat, mereka tak tau jika targetnya kali ini bukan seorang gadis lemah! Namun seorang gadis yang pandai bela diri.
"Dasar anak buah gak guna!" Marah sang Leader DrakDevil menatap tajam ke arah anak buahnya.
Hening.
Ruangan itu mendadak hening, kini aura Leader Drakdevil lah yang paling mendominasi membuat semua anak buahnya hanya bisa menunduk ketakutan.
"Bos tadi kami melihat target kita sedang berada didepan mansion milik seorang anak laki-laki pemilik perusahaan terkaya nomor dua." Lapor salah satu anak buah DrakDevil yang sedari tadi menunduk ketakutan.
"Ha? Gak sangka gue Leader Mafia yang paling ditakuti nomor satu bisa jatuh cinta juga! Culik dia lalu beri tau target kita, ini akan menjadi permainan yang sangat menarik." Suruh Leader DrakDevil dengan senyum simriknya lalu dituruti langsung oleh kedua anak buahnya.
"Hancur lah lo kali ini, gue akan menunggu saat dimana Mafia gue berjaya."
Sementara ditempat lain.
Tok tok tok.
Seseorang mengetuk pelan pintu kamar dengan cat berwarna hitam hingga suara didalam pintu tersebut berkata 'masuk'
"Mommy? kenapa kesini?"
Wanita paru baya itu tersenyum menatap lembut wajah putranya yang kini nampak lesu. Pelipisnya terdapat beberapa bulir-bulir keringat.
Berjalan menghampiri putranya tanpa menjawab pertanyaan tadi, tangan halus itu menempel sempurnah dikening anaknya.
"Udah diminum obatnya?" Tanyanya lembut yang dibalas anggukan dari anaknya.
Dia Alvaro serta Mommynya yang melihatnya khawatir.
"Mommy bawa apa?" Tanya Alvaro memecah keheningan.
"Itu tadi dari seorang gadis kata Bi Atun, pacar kamu ya?"
"Alvaro gak punya pacar, Mom."
"Terus siapa dong?"
"Nggak tau, sini biar Alvaro bukain." Alvaro mengambil ahli rantang tersebut lalu duduk bersandar ditepi ranjang dengan sisa tenangnya.
Alvaro baru saja sakit.
"Ada suratnya tuh." Celetuk Mommy Alvaro menunjuk sebuah lembar keras yang ditekuk didalam rantang tersebut.
Kening Alvaro mengernyit heran, tangannya terulur membuka kertas tersebut.
GWS, Al.
-Agnes.
Hanya itu pesan dari sepucuk surat tersebut. Sangat singkat.
Alvaro tertawa melihatnya, lucu juga. Dimana-mana mengapa gadis itu selalu datar? Alvaro jadi ingin merubah sikap datar itu, bagaimana jika Agnes bucin? ditambah lagi bucinnya karena Alvaro.
"Hey, malah ngelamun! lihat nasinya! dibentuk love loh, hayo dari siapa?"
Dengan cepat Alvaro menoleh kearah rantang berisikan makanan tadi yang kini berada ditangan Mommynya. Alvaro semakin tertawa melihatnya, tumben sekali Agnes bersikap begini kepadanya?
Pyarr.
Saat tengah asik berbincang ria bersama Ibunya, Alvaro terkejut bukan main melihat kaca jendelanya pecah begitu saja. Dengan gerakan cepat Alvaro melindungi tubuh Mommynya hingga serpihan kaca tersebut mengenai punggung Alvaro.
"Ikut dengan kami dan akan kita pastikan nyawa Ibu lo selamat." Seseorang dengan masker berwarna hitam mengacungkan pisau didepan keduanya.
Alvaro mengeram marah, dengan sisa tenangnya ia mencoba bangkit. Berusaha melindungi Momnynya. Alvaro tak tau ada apa ini? tapi yang jelas Mommynya dalam bahaya.
"Mom, cepat telepon Daddy atau polisi." Bisik Alvaro dengan keringat yang berjatuhan.
Kepalanya berkunang-kunang, pandangannya kabur namun Alvaro masih setia mempertahankan kuda-kudanya. Rasa kantuk tiba-tiba menyerang, mungkin efek obat yang tadi dia minum ditambah lagi sakit kepalanya yang tiba-tiba menyerang.
"MOMMY CEPAT PERGI!" Teriak Alvaro berusaha membuka matanya.
Wanita paru baya itu masih setia menatap lekat anaknya sembari mengelengkan kepalanya pelan. Mommy Alvaro masih shock dengan keadaan hingga tak memperdulikan teriakan penuh kekhawatiran dari putranya.
"Na-"
Brugh.
Sayangnya Alvaro tidak bisa menahan efek obat tersebut, lelaki itu jatuh ke lantai dengan mata yang terpejam.
__ADS_1
"Bawa dia." Salah satu pria misterius tersebut mengode temannya agar membawa tubuh Alvaro.
"Tidak! ku mohon! jangan bawa anak ku hiks, saya berjanji akan memberi anda uang dengan jumlah yang tak terkira." Mohon Mommy Alvaro dengan berlinang air mata.
"Minggir! anda akan mati jika menghadang jalan kita." Sentak pria itu masih setia menodongkan pisau.
Mommy Alvaro meneguk salivanya kasar, matanya sudah dibanjiri oleh air mata begitu juga mulutnya yang sedari tadi bergumam tuk melepaskan anaknya.
"Kita hanya ditugaskan membawa anak ini, bagaimana? apa kita membunuh wanita berisik itu?" Bisik pria yang sudah memampah tubuh Alvaro.
"Lewat jendela, cepat!"
"TIDAK! ALVARO!" Teriakan itu begitu nyaring dengan diselipkan nada pilu, mendadak pikiran wanita itu menjadi hilang seketika karena amat shock berat.
Bagaimana sekarang? apa yang dia lakukan? putranya dalam ba-
Ddddrrrtt ddddrrrttt ddddrrrttt.
Itu bukan ponselnya melainkan ponsel putranya! dengan cepat wanita itu menggeser ikon berwarna hijau berbentuk telpon disana, tanpa melihat siapa yang tengah menelepon putranya.
"Tolong! tolong putra saya, saya mohon! Saya akan membayar berapapun itu!"
Tiba-tiba ponsel Alvaro mati membuat wanita itu binggung bukan main.
Sementara di seberang telepon, seorang gadis berdecak kesal. Jari jemari gadis itu menggenggam erat pertanda ia mulai emosi, siapa! siapa yang berani menyentuh miliknya!
Niat awal gadis itu akan menanyai Alvaro pasal masakannya enak atau tidak karena ia baru pertama kali mencoba masak, tentu saja ide gila itu bersumber dari sang pakar cinta, Agata.
Agata memang berniat untuk modus saja ke Alvaro dan dengan gampangnya Agnes menyetujuinya, ini akan semakin menarik jika Agata ikut bergabung! gadis itu sekuat tenang untuk menjodohkan keduanya dengan kekuatan nakal ala-ala Agata.
Ya walaupun Agata tak tau betul dengan sikap Alvaro namun Agata percaya jika Alvaro lelaki baik yang mampu mencairkan sikap Agnes! Agnes yang dingin saja rela melakukan apapun demi sang pujaan hati, maka dapat dipastikan jika Alvaro baik!
Mendengar cerita Agnes saja sudah membuat tekad Agata bulat tuk menjodohkan keduanya, ini hanya perihal waktu! tenang saja.
Tak butuh waktu lama, Agnes menginjakkan kembali kakinya didepan mansion mega nan mewah kepunyaan keluarga Anindhito.
Nampak disana kaca kamar Alvaro pecah disusul dengan tangisan hebat seorang wanita paru baya yang sekarang berada dipelukan sang pembantu.
Kacau, disini benar-benar kacau!
Manik mata Mommy Alvaro tak sengaja menangkap siluet gadis yang tengah dirundung emosi besar, wanita itu dengan cepat mengejar dan memberhentikan langkah kaki gadis tersebut.
"Agnes! Yang tadi saya telepon kan? Kamu teman tidak pacar putra saya? Kamu mau kemana?" Pertanyaan beruntun namun satu pertanyaan yang mampu membuat Agnes tersipu, bisa-bisanya di situasi begini dirinya malah tersipu.
Fokus, Agnes!
Agnes memilih tuk menggenggam kembali tangan wanita itu, hangat seperti punya Mommynya.
"Saya berjanji akan membawa kembali putra Anda tanpa lecet sedikitpun, Nyonya Anindhito." Agnes berujar yakin membuat wanita itu agak sedikit tenang dan perlahan mulai melepaskan genggaman tangan tersebut.
Agnes tersenyum samar lalu berbalik hendak pergi dari sana.
"Hati-hati, nak! Saya percaya padamu." Mommy Alvaro tersenyum, "Lain kali jika kita bertemu kembali panggil saya, Mommy."
Mommy? apakah boleh Agnes memanggil beliau seperti itu?
Suara deringan telepon tak Agnes hiraukan, gadis itu menatap nyalang bangunan dihadapannya.
"Hai, cantik!" Sambut pemuda dengan tato yang amat banyak ditubuhnya.
"Gadis manis sepertimu tak cocok berada ditempat menyeramkan seperti ini. Pulanglah, ibumu pasti mengkhawatirkan mu." Sahut pemuda satunya yang nampak tenang menghirup sebatang rokok.
Agnes dengan cepat menendang muka sok tenang pemuda itu, "Gue piatu."
"Ya sudah kalau begitu, ikutlah bersama ibumu itu!" Pemuda satunya yang tadinya terkejut langsung melayangkan pukulannya ke arah Agnes namun Agnes dengan sigap menghindar.
Gadis itu dengan gerakan cepat langsung mengeluarkan pisau lipatnya lalu menancapkannya pada punggung belakang pemuda tersebut.
"Lo yakin?" Sahut Agnes menatap remeh pada pria yang sudah tergeletak dibawahnya, "Bye~"
"Sia*an!" Laki-laki yang tadinya mendapat tendangan maut dari Agnes kini bangkit berdiri hendak menyerang kembali Agnes namun urung kala sebuah suara menginterupsi keduanya.
Suara itu bersumber dari ketua DrakDevil yang menatap tajam mayat anak buahnya serta seorang wanita disampingnya.
"Bos." Lelaki itu menunduk namun Berly langsung saja menginjak kepala laki-laki tersebut.
"Tidak becus!"
"Mana Alvaro?" Tanya Agnes datar.
"Kami akan memberitau lo saat lo ikut bersama kita." Jawab gadis yang berada disebelah Berly.
Agnes melirik pada tangan gadis itu yang nampak bergetar ketakutan, Agnes tertawa dalam hati. Gadis rumahan seperti dia mengapa ikut kesini?
Agnes mengangguk lalu mulai mengikuti langkah kaki Berly, ya untung sekarang biarkan Agnes mengikuti permainan kecil mereka berdua.
"Apa mau lo?" Tanya Agnes tenang padahal dia sudah diikat disebuah kursi oleh dua orang berbeda jenis. Satu perempuan, dan satu laki-laki didepannya yang kini tengah tersenyum simrik ke arahnya.
Agnes sudah menduga jika permainannya akan begini.
"Hahaha, ternyata menangkap lo mudah juga yah." Tawa menggelegar dari Salma sambil memainkan cambuk ditangannya, bermaksud menggertak Agnes agar gadis itu minta maaf kepadanya dan bersujud.
Membayangkan saja membuat Salma tertawa senang, dasar siluman.
Agnes hanya menatap datar saudari tirinya itu, "Oh." Ucap Agnes santai seakan tak ada masalah, membuat Salma langsung saja mencambuk tubuh Agnes kesal tapi tidak ada erangan kesakitan yang keluar dari mulut Agnes. Agnes malah menatap datar Salma yang kini menggelengkan kepalanya terkejut.
Ini diluar dugaan Salma!
Satu hal lagi yang ada didalam diri Agnes ia menderita penyakit masokis, sesakit apa pun luka ditubuhnya. Agnes selalu menikmati luka itu.
Penyakit itu terjadi dikarenakan masa lalu Agnes yang kelam, dan penyakit itu terjadi saat Agnes mulai menginjak didunia gelap.
__ADS_1
"Sedang apa lo?" Tanya Agnes santai membuat Salma, dan Berly melototkan matanya. "Ini pembalasan dendam lo? cih, gak berasa." Lanjut Agnes menatap ke arah Berly.
Gila, gue baru tau ada yang tahan dari cambuk beracun milik gue. Batin Berly menatap tak percaya ke arah Agnes.
"G gak m mungkin." Ucap Salma langsung mencambuk kembali tubuh Agnes, berharap kali ini Agnes langsung mati saja! Sudah tak ada toleransi lagi!
Pletar.
Pletar.
Pletar.
Pletar.
Pletar.
Sudah berkali-kali Salma mencambuk Agnes sampai Salma capek sendiri dibuatnya tapi tetap saja tidak ada erangan kesakitan yang keluar dari mulut Agnes melainkan darah yang mengalir deras dari tubuh Agnes. Agnes malah menatap datar Salma, dan Berly yang kini nampak terheran-heran.
"Lepaskan Alvaro ketika saya masih bersikap baik." Dingin Agnes membuat kedua orang itu menenguk salivanya kasar.
Mata Agnes sangat mengintimidasi ditambah lagi hawa dinginya.
"G gue gak takut sama lo!" Teriak Salma, dengan tangan yang bergetar. Gadis itu nekat mencambuk Agnes lagi.
"Sudah?" Tanya Agnes datar, dan dingin membuat nyali keduanya menciut seketika, dengan mudahnya tali yang tadi untuk mengikat kedua tangan Agnes kini terlepas membuat Agnes berdiri dari tempat duduknya, dan merebut kembali cambuk dari tangan Salma.
Dengan tubuh yang penuh darah Agnes berdiri menghadap mereka berdua sembari membawa cambuk. tatapan datar, dan dinginnya tak lepas dari gadis itu. Siapapun yang berani mencari gara-gara dengannya! Dia harus mati!
Glek.
Salma menelan susah payah salivanya saat melihat Agnes yang semakin dekat dengannya layaknya malaikat pencabut nyawa untuk dirinya. Entah mengapa tubuh Salma tak bisa digerakkan lagi bagai mantra kala dirinya menatap manik biru laut itu, semakin ditatap maka semakin membuatnya ngeri sendiri.
"Apa-apaan ini! Eh lo sana kasih perintah ke anak buah lo bilang kita lagi ada masalah!" Suruh Salma dengan menatap waspada Agnes yang kini sedang memainkan cambuk, membuat Berly memutar bola matanya malas. Bisa-bisanya saat-saat seperti ini gadis itu bertindak seperti ratu?
Mending gue kabur. Batin Berly lalu langsung belari tanpa memperdulikan keadaan Salma.
Biarkan kali ini markasnya akan diratakan Black Diamond Girl, ia akan menata rencana lagi. Yang penting sekarang adalah nyawanya.
Sia*an! Batin Salma yang kini merinding melihat wajah ingin membunuh Agnes, membuat Salma langsung jatuh pingsan seketika padahal belum dicambuk sama sekali oleh Agnes.
"Ck, suka nyenggol giliran disenggol gak mau." Malas Agnes menatap datar tubuh Salma yang terbaring diatas tanah "Bunuh atau tidak? Sudahlah nyawa Alvaro lebih penting." Gumam Agnes langsung belari menuju ruangan Alvaro berada.
Ingin sekali Agnes membunuh Salma atau tidak memotong-motong tubuhnya hingga beberapa bagian lalu memberi makan Rogue kesayangannya, namun Alvaro? Cowok itu bahkan tak tau apa-apa tiba-tiba saja terseret dalam hidup mengerikan Agnes ditambah lagi Alvaro tengah demam tinggi.
Agnes tak ingin Alvaro kenapa-napa.
Sementara diruang tahanan.
Perlahan kedua mata lelaki itu terbuka, hidungnya mencium aroma tak sedap disekelilingnya. Kedua tangannya ia gerakan, berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan tersebut.
"Kalian semua! mau apa?" Geram Alvaro menatap tajam sekelilingnya.
"Kita gak ada masalah sama lo tapi pacar lo yang punya masalah sama kita."
Alvaro mengerutkan keningnya, "Kalian salah paham! gue gak punya pacar."
"Jangan mencoba untuk membohongi kita! lebih baik lo diam sampai pacar lo datang, ehm sepertinya pacar lo gak akan datang." Pria itu menyeringai, "Karena ketua kita akan langsung membunuhnya."
Tiba-tiba perasaan Alvaro berubah menjadi tak enak, sebenarnya ada apa ini? pacar? siapa pacarnya? sejauh ini dia tak ada hubungan spesial apapun pada seorang gadis.
Mengapa pertanyaan pria itu seakan mengatakan jika orang terdekatnya akan mati.
Siapa pun lo yang udah libatin gue, gue harap lo hidup. Batin Alvaro entah ditujukan untuk siapa.
Brakkk.
"Keluar atau gue bunuh lo semua." Ancam Agnes datar, dan dingin setelah menendang paksa pintu yang terbuat dari kayu dengan kakinya.
Para anak buah DrakDevil lantas menoleh ke arah sumber suara.
"Siapa lo?" Tanya laki-laki berbadan besar sambil memegang kayu ditangannya, lelaki berotot itu ditugaskan untuk menjaga Alvaro.
Dor.
Agnes langsung menembak santai tepat pada jantung laki-laki berbadan besar itu, membuat laki-laki tersebut mati dengan darah segar yang mengalir deras membanjiri markas DrakDevil tersebut.
"Keluar!" Kini suara Agnes naik satu oktaf, membuat bulu kuduk kedua anak buah DrakDevil berdiri semua.
"Lo-"
Dor.
Dor.
"Lama." Ucap Agnes santai setelah menembak tepat pada jantung kedua anak buah DrakDevil membuat Alvaro menatap Agnes kaget.
Gawat, gue lupa kalau ada Alvaro disini. Batin Agnes berusaha menghilangkan rasa gugupnya dengan cara berjalan santai menuju Alvaro seakan tak terjadi apa-apa.
Membiarkan jubanya basah terkena darah dari anak buah DrakDevil sedangkan Alvaro masih setia menatap sayu bola mata berwarna biru laut milik Agnes.
Adegan Agnes menembak orang-orang berbadan kekar tadi masih terngia-ngia dikepala Alvaro, Alvaro pikir Agnes hanya seorang gadis biasa yang hanya tau membuat onar dikarenakan gadis itu Brokenhome. Mungkin?
Banyak sekali pertanya-pertanyaan yang ingin Alvaro ucapkan ke Agnes namun...
Tali pengikat terlepas, lalu...
BERSAMBUNG~
HAYO LOH AGNES KETAHUAN SAMA ALVARO😅
JANGAN LUPA LIKE 👍 KOMEN💬👇 KASIH BINTANG🌟 AND TAMBAHKAN FAVORIT💟 KALAU SUKAK CERITA INI😄😉
__ADS_1
SEE YOU NEXT CHAPTER😉
BABAY~