
Aing paling suka part ini:v so...
HAPPY READING😎
.
.
.
.
.
"Hey, ada apa nih? Sang Queen Racing kebanggaan kita kok kalah?" Tanya Ansel menepuk bahu Agnes pelan ketika melihat Agnes datang terlambat setelah mobil musuhnya, tak seperti Agnes biasanya.
"Agnes lo ada apa? Banyak pikiran yah? Sini cerita sama gue." Tawar Agata dengan pertanyaan beruntunnya sementara Agnes hanya diam.
Agnes melipat kedua tangannya didepan dada sembari bersandar dibody mobilnya "Dia curang!" Jawab Agnes datar, dan dingin. Menatap tajam ke arah pria yang sedang bertos ria disana.
Ya memang musuh balapan Agnes sangat curang kali ini. Saat ia mulai melajukan mobilnya tiba-tiba saja musuhnya menyalipnya, dan langsung berhenti mendadak didepan mobil Agnes membuat Agnes merem mendadak mobilnya, dan mengakibatkan luka didahinya. Melihat mobil Agnes terhenti baru lah musuh itu menjalankan mobilnya kembali sembari tertawa penuh kemenangan.
Agnes benci akan hal itu! Tapi dirinya saat ini sedang tidak mood tuk cari masalah.
"Wah cari mati nih orang! Apa perlu gue kasih pelajaran sedikit?" Tanya Ansel ke Agnes tapi hanya dibalas gelengan dari Agnes.
"Kasih dia mobil yang dia inginkan." Ucap Agnes datar lalu dibalas anggukan dari Ansel "Bagaimana?" Sambung Agnes menatap datar Ansel.
"Masih belum mengngaku." Jawab Ansel menghela nafas panjang.
"Ck! Sangat merepotkan! Besok gue kesana, gue cabut." Ucap Agnes datar.
"Hey, kenapa dahi lo?" Ucap Berly tiba-tiba hendak memeriksa dahi Agnes namun tangannya ditepis begitu saja oleh Ansel.
"Tangan lo gak pantes buat pegang Adek gue, bang*at!" Ucap Ansel dengan tatapan tajamnya.
Berly terkekeh, "Sadar diri dong, lo tuh cuman numpang dikehidupan Agnes." Bisik Berly.
"Sia*an!" Ansel yang sejak dulu emosian pun mengarahkan bogeman mentahnya ke arah Berly namun dicegat oleh Agnes.
Dari arah belakang Agnes sudah mengeluarkan hawa-hawa tak sedap, Agnes mendengarkan itu. Agnes dengar ucapan Berly tadi.
"Dia Abang kesayangan gue." Datar Agnes, "Lo gak jaga markas lo?"
"Nes, gue pengen damai sama lo. Iya gue ngaku salah cuman gara-gara mukul Alvaro, tapi dia duluan yang pukul gue Nes."
"Sekali lo sentuh punya gue, lo bakal berhadapan sama gue. Paham?" Tekan Agnes.
"Ne-"
Tiba-tiba Agata datang dengan keringat yang bercucuran, "Nes hosh gu- Elo!" Teriak Agata nyaring, "Lo berani banget celakain Adek gue!"
Ansel mencekal tangan Agata yang hendak menampar Berly, lelaki itu berusaha dengan sekuat tenang agar mereka berdua tak bertengkar.
"Hey, lo tenang dulu."
"Gimana gue bisa tenang kalau dia! dia udah suruh para brandalan itu buat ngelakuin hal berbahaya pada Agnes."
"Maksud lo?"
"Berandalan itu!" Tunjuk Agata pada segerombol lelaki yang tadi melawan Agnes, "Dia satu geng sama Berly! bisa-bisa nya lo berbuat busuk gini sama Adek gue breng*ek!"
Ansel memeluk Agata, "Ssst."
__ADS_1
"Agnes gak papa kan, Sel? untung Agnes jago, kalau enggak..." Agata tak meneruskan ucapannya, ia malah menangis didalam pelukan Ansel.
"Keterlaluan lo." Gumam Ansel melayangkan tatapan tajamnya ke arah Berly yang masih terdiam.
"Mending lo cabut." Ucap Agnes yang sedari tadi diam.
Berly yang merasakan hawa disekitarnya semakin mencekam itu pun lantas pergi dari sana namun baru tiga langkah Berly dikejutkan oleh ucapan Agnes.
"Sekali lagi lo buat onar, gue pastiin lo gak bakal liat dunia lagi." Terdengar santai namun sangat penuh ancaman bagi Berly.
Lelaki itu hanya mengengam erat jemarinya untuk mengurangi sedikit rasa emosinya.
Tunggu gue tau kelemahan lo, Nes! gue pastiin, lo gak akan bisa lagi ngancem seenaknya. Lo pikir lo doang yang berkuasa disini? Batin Berly.
Setelah kepergian Berly, Agata dengan perlahan mulai tenang.
"Nes, dahi lo? Sini gue obatin." Tawar Agata menyeka air matanya.
"Gue udah biasa." Jawab Agnes datar lalu memasuki mobilnya, dan pergi dari area balapan tersebut. "Cengeng lo." Teriak Agnes membuat Agata tersipu malu.
"Haiss, dasar keras kepala." Ucap Agata menatap kepergian mobil Agnes yang lama-kelama hilang.
"Tenang saja! Dia baik-baik saja kok, gue salut dengan dia yang gak pernah mengeluh saat beribu-ribu masalah datang menghampirinya." Ucap Ansel tersenyum menatap belakang mobil Agnes, membuat Agata tersenyum juga.
"Perlahan namun pasti, itu lah prinsipnya." Timpal Agata.
"Mantep! siapa ya yang tadi nangis sampai ngabisin beberapa menit, duh kaki gue keram." Pipi Agata sudah sepenuhnya berwarna merah.
"Ansel..." Rengek Agata membuat Ansel tertawa, "Ish, jahat banget."
Sementara dimansion Alexandra. Suasana dimansion tersebut sangat lah ricuh lagi karena Ana tentunya yang sudah dua hari belum ditemukan oleh pihak berwajib, membuat Abraham memijat pelan pelipisnya pertanda ia mulai pusing sedangkan Salma tak henti-hentinya menangis dipelukan Kenzo yang sedari tadi mengusap pelan punggung Salma. Berusaha menenangkan sang Kakak perempuannya.
Abraham yang semula duduk disofa sembari memijat pelipisnya pelan kini bangkit berdiri "Kamu selalu pulang jam segini!" Marah Abraham ketika melihat putri kandungnya tersebut berjalan dengan santainya melewatinya, dan tanpa rasa bersalah mengacuhkannya. Memilih untuk pergi ke kamarnya.
"Dek." Panggil Kevin tapi telat, Agnes sudah menutup pintu kamarnya rapat-rapat.
💬💬💬KOMEN💬💬💬
"Jiahhhh, Queen chilisnya nangis... Ululu ada apa nih?" Tanya Delia tidak lebih tepatnya mengejek. Ketika melihat Salma dkk saling berpelukan, dan menangis tersedu-sedu.
"Diem lo bi*ch hiks gue lagi gak mood berantem sama lo, hiks." Kesal Salma dengan sesenggukan tangisannya.
"Hahaha, mana nih Queen chilis yang biasanya koar-koar gak jelas! Sampek telinga gue serasa dibakar terus bully orang yang gak mampu! Heh." Ejek Delia lagi sambil memandang jijik ke arah Salma dkk.
Plak.
Tiba-tiba saja Salma langsung berdiri, dan menampar pipi mulus milik Delia membuat Lisa mengeram marah saat sahabatnya ditampar sedangkan Agnes? Jangan tanyakan gadis cantik tersebut. Ia masih bergulat dengan kasurnya dirumahnya.
"Mampu* lo bi*ch! Mangkanya jangan main-main sama gue." Ancam Salma yang bahkan tak berpengaruh sama sekali bagi Delia, dan Lisa.
Plak.
"Impas." Ucap Lisa santai setelah menampar pipi Salma hingga sedikit mengngeluarkan darah.
"Awas lo bi*ch!" Ancam Salma sembari memegang bekas tamparan Lisa, ingin sekali dia menampar Lisa tapi bel pertanda masuk sudah berbunyi terlebih dahulu membuat Salma dkk langsung bergegas ke kelas karena di AIHS ia terkenal dengan sebutan murid teladan.
Sementara didepan gerbang sekolah.
"Buka atau gue tabrak lagi nih gerbang." Ancam Agnes datar setelah melihat gerbang sekolahnya sudah tertutup rapat. Menyisakkan Alvaro disana yang kini tengah menatap fokus dahi lalu tangan Agnes, langsung saja Alvaro membuka gerbang tersebut, dan menarik paksa pergelangan tangan Agnes. Membawanya menuju uks.
"Kenapa lo suka sekali melukai diri lo sendiri?" Setelah hening beberapa saat akhirnya Alvaro berbicara walau terdengar lirih tapi masih sempat didengar Agnes sembari mengobati luka Agnes dengan teliti.
"Menantang kematian adalah hobi gue." Jawab Agnes santai sembari melihat Alvaro yang sangat ahli mengobati luka-lukanya, membuat Alvaro berhenti sejenak mengobati luka Agnes lalu menatap bola mata berwarna biru laut milik Agnes.
__ADS_1
"Kenapa lo semudah itu mengatakannya?"
"Karena hidup gue gak seberharga itu." Jawab Agnes lagi dengan nada datar kali ini menyelipkan nada kecewa yang amat mendalam diucapannya itu.
Sorot mata gadis itu berubah. Cahaya matanya meredup. Alvaro terdiam melihatnya.
"Jangan katakan hal tersebut dengan gue karena gue benci mendengarkannya!" Ucap Alvaro datar membuat Agnes tersentak sekilas, baru kali ini! Baru kali ini ada yang menginginkannya tinggal didunia kejam ini!
Agnes tersenyum samar "Lagi pula kematian pasti bosan jika selalu gue kunjungi, dan gue pasti akan menang melawan kematian." Entah lah ada apa dengan Agnes kali ini ia menjawab perkataan Alvaro dengan panjang, membuat Alvaro terdiam sesaat.
"Kalau begitu berjanji lah!" Jawab Alvaro membuat Agnes menaikan satu alisnya pertanda 'Apa?'
"Berjajilah, jika lo tidak akan kalah melawan kematian." Sambung Alvaro menatap manik biru laut milik Agnes, membuat Agnes juga menatap manik hitam pekat milik Alvaro.
Dua iris mata itu saling beradu pandang, seperti sedang mencurahkan semua perasaannya melalui sorotan mata masing-masing. Cukup lama mereka berpandangan tanpa mau mengatakan sepata kata pun, hingga Agnes berujar lirih.
"Gue mohon jangan jatuh cinta, gue bukan gadis baik seperti yang lain." Lirih Agnes melupakan nada datar, dan dinginnya menjadi nada sedikit lembut.
Tatapan itu kini berubah menjadi agak sedih lain lagi dengan Alvaro yang tiba-tiba merasakan debaran aneh didirinya, ada apa ini?
☆☆☆☆☆KASIH RANTING☆☆☆☆☆
"Arrggh, kenapa? Kenapa! Dunia gak adil bang*at! Ketika semua orang merasakan apa itu cinta sedangkan gue?" Marah Agnes tapi masih bisa ia netralkan karena kalau tidak Agni bisa saja mengambil ahli tubuhnya, dan ia tak mau itu terjadi.
Dor.
Agnes menembak asal ke arah depan tapi tepat pada sasaran. Agnes tengah berada dimarkasnya dengan pistol yang ia bawa, dan duduk sendirian dibangku tersebut.
"Apa gue sebegitu gak pantasnya ada didunia ini? Hahaha iya pasti! Seharusnya gue ikut Mommy, dan Kak Agni." Tawa Agnes hambar.
Dor.
"Satu Ibu, dan kembaran gue mati!"
Dor.
"Dua dengan gampangnya Bang Kevin, dan Daddy percaya dengan ja*ang itu! Padahal gue berharap mereka berdua bela gue tapi apa ini? Bahkan gue harus berjuang sendiri sejak gue masih kecil!"
Dor.
"Tiga gue gak bisa merasakan cinta! Padahal itu first love gue."
Dor.
"Pasti akan ada saatnya gue bahagia! Pasti akan ada saatnya kedua ja*ang itu mati! Pasti gue yakin pasti hahaha." Tawa Agnes menggelegar, membuat pintu ruangan tersebut langsung didobrak secara paksa. Menampakkan Ansel, dan Agata yang terburu-buru menghampiri Agnes.
Agata langsung memeluk erat tubuh Agnes yang sudah ia anggap Adik kandungnya, membuat Agnes membalas pelukan hangat itu, dan menumpahkan semua kesedihannya.
Jika kalian menganggap Agnes itu kuat atau tegar maka kalian salah! Justru gadis itu sangat rapuh, dan membutuhkan sebuah pelukan hangat sang Ayah atau tidak Ibunya, dia hanya berpura-pura kuat agar semuanya baik-baik saja, dan berjalan semestinya.
Sakit rasanya jika orang yang kalian percaya tidak mempercayai kalian terlebih lagi itu keluarga kalian! Keluarga yang amat kalian sayangi.
"Tenang Nes! Lo gak sendirian! Gue, dan Ansel juga. Maka dari itu kita bertiga harus bisa menghadapi kerasnya dunia ini! Jangan lemah! Tunjukkan bahwa lo bisa! Ayo Nes!" Ucap Agata yang tengah berada didekapan Agnes sembari menyemangati gadia rapuh itu, membuat Agnes langsung membalas pelukan hangat Agata yang sudah ia anggap Kakak perempuan Agnes sedangkan Ansel ia tersenyum mengamati kedua perempuan tersebut yang sudah ia anggap Adik kandungnya.
Gadis rapuh itu mengusap pelan air matanya yang hendak turun kembali seraya melepaskan pelukannya "Kak, Bang sepertinya Agnes jatuh cinta..."
Baik Agata maupun Ansel terkejut bukan main, kedua sejoli itu nampak saling pandang lalu kemudian sama-sama saling melemparkan senyumannya.
BERSAMBUNG~
YANG SABAR YAH NES MENGHADAPI MASALAH😅 NANTI LO BAKAL BAHAGIA KOK😅🌹
JANGAN LUPA LIKE👍 KOMEN💬 KASIH RANTING🌟 AND TAMBAHKAN FAVORIT💟 EHEHE😅😉😄 BIAR AUTHOR NYA TAMBAH SEMANGAT😅😀
__ADS_1
SEE YOU NEXT CHAPTER😘
BABAY~