
HAPPY READING💛
.
.
..."Gue cinta sama lo, tapi lo nya aja yang setiap dikode gak pernah peka! dasar brengshake!"...
...Agata Jovita Rawnie....
.
.
.
Dor.
Dor.
Dor.
Seorang pria tengah menembakkan peluruhnya tepat pada ban mobil musuhnya tapi sialnya tak ada sama sekali peluru tersebut menggenai ban mobil musuhnya, membuat pria tersebut berdecak malas dan berusaha menembak lagi peluruhnya.
Setelah berkali-kali mencoba menembakkan peluruhnya tepat pada ban mobil didepannya itu akhirnya pria tersebut berhasil mengngenai ban mobil musuhnya, membuat mobil tersebut langsung oleng dan menggelinding menuju jurang.
Duarrrr.
Suara ledakan mobil itu terdengar amat besar hingga membuat sekitarnya ikut bergetar kecil sekaligus membuat pria tersebut langsung tersenyum simrik dibalik topengnya dan pergi meninggalkan tempat kejadian tersebut dengan wajah yang amat senang tentunya.
"Misi selesai." Gumam lelaki misterius itu, "Mangkannya jangan cari gara-gara sama gue, mati kan lo!"
Sementara ditempat lain, yaitu diluar mobil yang kini sudah terbakar habis. Seorang gadis tengah menatap histeris mobilnya dan berjalan pelan ke pohon untuk bersandar dengan luka yang amat parah didahinya. Meskipun gadis itu tak merasakan sakit sedikit pun tapi entah mengapa tubuhnya terasa lemas.
Kejadian tadi membuat dahi gadis itu sedikit mengeluarkan darah dan untung saja gadis tersebut keluar pada waktu yang tepat kalau tidak ia bisa saja habis terbakar bersama mobil mewahnya itu.
"G.. gue m...mati di... sini?" Ucap gadis tersebut terbata-bata lalu tersenyum sangat manis sampai lesung pipinya muncul.
"M..maafin g...gue Al, Mom Kak aku datang." Sambung gadis itu lalu menutup kedua matanya pelan karena pandangannya mulai buram begitu juga dengan tubuhnya yang lemas seakan telah mati rasa.
Kegelapan tadi langsung berganti menjadi sinar matahari yang menembus melalui celah-celah kaca jendelanya.
"Hosh....hosh" Agnes langsung terbangun dari tidurnya dengan keringat dingin yang bercucuran ditubuhnya, mimpi tadi sangat terasa nyata!
"Ng nggak itu pasti bukan gue! Gue masih hidup." Ucap Agnes histeris menelan susah payah salivanya lalu bersandar ditepi ranjang berusaha untuk melupakan mimpi buruk yang terlihat sangat nyata tersebut tapi nihil semakin dia melupakan mimpi buruknya maka semakin dia teringat terus.
"Kenapa gue minta maaf sama Alvaro?" Tanyanya pada dirinya sendiri.
Gadis itu mengeleng sekilas tanpa menunggu lebih lama lagi, Agnes langsung beranjak pergi menuju kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya. Mungkin sedikit air hangat dapat menghilangkan mimpi tadi.
☆☆☆☆☆KASIH RANTING 5☆☆☆☆☆
"Eh...Eh! Lihat peringkat pertama sang badgirl itu njir*"
"Yayang Agnes khuu peringkat pertama!"
"Ini berkat doa gue semalem sih."
"Gak nyangkah gue."
"Halah nyontek kali."
"Kok bisa ya?"
"Gue peringkat terakhir huwaaaa."
Begitulah ocehan-ocehan siswa AIHS yang sedari tadi heboh karena nama gadis badgirl itu berada diurutan paling pertama, padahal waktu ujian Agnes hanya tidur terus. Mungkin mereka semua iri~
"Woy! Woy! Minggir semua! Bacod banget sih! Iri yah kalau Agnes peringkat satu? Dah sana pada bubar-bubar!" Usir Delia secara tiba-tiba membuat semua langsung pergi dengan decakan malas dan jangan lupa sumpahan untuk Delia yang dibuat khusus karena sudah menggusir mereka dengan se enaknya.
"Apa lo liat-liat? cakep ya gue? emang sih." Pd Delia sembari mengibaskan rambutnya membuat sebagian siswa yang masih disana berlagak memuntahkan isi perutnya lalu pergi dari sana. Gila memang Delia.
"Dih, matanya gitu amat." Geram Delia saat ia tak sengaja melihat salah satu siswi meliriknya tajam.
"Peringkat satu lo Nes." Puji Lisa setelah menemukan nama Agnes dibagian paling depan disusul nama Alvaro dibawah Agnes lalu kemudian namanya serta Kevin
"Gak penting." Jawab Agnes cuek dan pergi menuju kelasnya untuk tidur karena tadi pagi sudah disusul oleh kedua sahabatnya dengan alasan ada pembullyan! kan kamvret! Agnes langsung menatap tajam kedua temannya tersebut.
Sebelum Agnes beranjak dari sana, kedua bahunya sudah ditahan oleh Delia. Gadis itu mengoncangkan badan sahabatnya kedepan dan kebelakang.
"AGNES! LO TUH HARUSNYA BERSYUKUR KEK, PERINGKAT SATU LOH INI! S.A.T.U." Teriak Delia mengelegar lalu melepaskan goncangan pada sahabatnya yang nampak pusing.
__ADS_1
"Harusnya gue yang peringkat satu, Nes." Ucap Delia berpura-pura menghapus bawah kelopak matanya dengan kedua tangannya, padahal tidak ada air mata disana, "Aku tuh gak bisa diginiin."
Lisa yang melihat Agnes nampak menetralkan nafasnya pun menolong gadis itu, "Tarik nafas, buang, yuk bisa yuk! Delia itu memang stres orangnya."
"Yeuh, lo kira Agnes lagi lahiran?" Celetuk Delia.
"Ambil aja."
"Apanya yang diambil? Lisa, lo translate in ucapan Agnes dong."
Lisa menatap Agnes yang tengah menunjuk data-data peringkat siswa AIHS, gadis itu mengangguk seolah mengerti apa yang dibicarakan sahabatnya tersebut.
"Maksudnya Agnes tuh, ambil aja peringkat dia. Agnes gak peduli soalnya."
"Gila! sejak kapan lo bisa bahasa Agnes?"
"Sejak lo warasan dikit tapi kayaknya lo gak bisa waras deh, Del."
"Hmm." Sahut Agnes tiba-tiba lalu beranjak pergi dari sana.
Delia menoleh ke arah Lisa, "Dia ngomong apaan lagi?"
"Agnes juga sependapat sama gue."
Bola mata Delia memutar malas, "Serah lo Nes, WHAT? OMG! OMG! apa-apaan ini! gue peringkat ke enam setelah Aksa! Oh gak papa deh beb Aksa aja bukan yang laen." Teriak histeris Delia dan setelah itu melembut ketika menyebut nama Aksa.
Memang Delia sudah menyukai secara diam Aksa sejak pertama kali dia masuk disekolahan bernama AIHS, menurut Delia Aksa tampan dan memiliki sisi humoris sama sepertinya! Cocok saja jika mereka berdua bersanding.
"Lo suka sama yang belum tentu jadi milik lo, sama kayak gue." Lirih Lisa tapi dapat didengar Delia.
"Ha? Maksudnya lo suka sama orang!?" tanya Delia menatap serius Lisa.
"Gak, yok masuk! Dah ada Bu Lilik tuh." Alibi Lisa langsung menarik pergelangan tangan Delia membuat Delia diam-diam tersenyum.
Semangat Lisa! Jangan capek buat kejar dia, walau mungkin belum tentu jadi milik lo batin Delia.
Setelah mereka berdua masuk, barulah Lilik masuk kelas dengan membawa buku catatan ditangan sebelahnya membuat kelas tersebut langsung hening karena sang wali kelas telah memasuki kelas tersebut.
"Karena kalian sudah berusaha sekeras mungkin ujian kali ini.... Jadi sekolah ini mengngadakan acara perpisahan khusus untuk kelas 12 dan didatangin langsung oleh pemilik sekolah ini! Jadi kalian semua yang memiliki bakat apa saja bisa di tampilkan bakat apa saja dipanggung dan diselenggarakan minggu depan, saya harap kelas ini bisa menampilkan satu atau banyak bakat kalian okeee!" Oceh Lilik panjang × lebar × tinggi membuat kelas tersebut langsung ramai bak pasar yang baru saja mendapat diskon besar-besaran.
"Siapp! Bu Lilik tersayangggg!"
"Bu kalau main game cacing boleh kah Bu?"
"Setujuhhh."
"Penasaran njir* sama suara mereka berdua ketika nyanyi bareng."
"Gue penonton ajalah."
"Gue mau nari!"
"Gue mau apa yah?"
Ini yang gue tunggu-tunggu! Batin Alvaro senang karena sebentar lagi, dia akan mengutarakan perasaannya yang sesungguhnya kepada orang yang dia cintai sejak pandangan pertama?
Alvaro sadar selama ini bahwa dirinya menyukai sang badgirl AIHS, apa Agnes juga begitu?
Tanpa disadari Alvaro selama ini, Agnes telah menaruh hati pada sosok yang dengan berani masuk dalam hidupnya lalu mengobrak-abrik hati beku Agnes membawa gadis itu menuju apa arti cinta sesungguhnya, Agnes sempat meragukan kata 'cinta' dan wow! kini Agnes sedang berada difase itu.
Ternyata jatuh cinta itu menyenangkan...Lebih menyenangkan lagi jika sosok yang kita cintai juga mencintai kita!
Badgirl dengan godboy? Apa bisa bersatu?
"Iya boleh! Semua bakat yang kalian punya boleh ditampilkan dipanggung... sudah-sudah sekarang kembali ke topik kita yaitu belajar, baiklah anak-anak mari kita mulai pembelajaran kita hari ini...." Ucap Lilik membuat kelas tersebut langsung berdecak malas, Lilik yang mendengar decakan malas itu diam-diam terkekeh karena dari awal memang tidak ada proses pembelajaran karena sudah melewati ujian.
Goda dikit gak papa kali yah! Batin Lilik, tapi lagi-lagi dia dibuat kesal sama badgirlnya AIHS karena Agnes dengan santainya melewatinya yang sedang mengajar.
"Mau kemana kamu Agnes?" Tanya Lilik dengan nada tidak santuynya sambil menatap tajam Agnes.
"Pulang." Jawab Agnes cuek lalu pergi melanjutkan langkahnya kembali, membuat Lilik berusaha sekuat mungkin agar tidak baku hantam dengan siswi yang amat bandel tersebut.
"Bu saya izin ke kamar mandi." Pamit Alvaro dan langsung mendapatkan anggukan dari Lilik, Alvaro langsung belari mengejar Agnes yang cukup jauh dari arahnya.
"Tunggu!" Teriak Alvaro kencang tidak peduli dengan proses belajar mengajar yang pastinya amat terganggu karena terikan kencang Alvaro.
Agnes berbalik menghadap Alvaro, sekelebat bayangan tadi malam menghantuinya. Dia masih bertanya-tanya, mengapa dia meminta maaf kepada Alvaro? apa dia ada salah dengan pria itu?
Setiap kali netra Agnes tak sengaja bertubrukan langsung dengan Alvaro, gadis itu pasti berfikir seperti itu lalu berakhir Agnes tak berani menatap Alvaro karena sudah terlalu malas memikirkan jawabannya.
"Biasa aja, gue gak tuli." Ucap Agnes menatap datar Alvaro yang sedang menetralkan nafasnya karena belari cukup jauh, Alvaro sempat terkekeh mendengar ucapan datar itu.
__ADS_1
"Gue mohon sama lo, lo datang yah minggu depan ke acara perpisahan SMA kita! Sebagai penonton gak papalah." Ucap Alvaro to the point setelah mengumpulkan semua keberaniannya lalu menatap memohon ke arah Agnes membuat Agnes langsung terpanah melihatnya.
Apa-apaan tatapan itu! sangat imut? Batin Agnes tanpa sadar dan berusaha sebisa mungkin agar tidak meninggalkan rona merah dipipinya, sudah dibilang Agnes menyukai Alvaro tapi gadis itu merasa tak cocok saja jika bersanding dengan cowok itu.
Alvaro tampan dan sopan sedangkan dia? bicara sopan saja tidak pernah, bunuh orang mah iya! Begitu? masih cocok kah?
"Ya." Jawab Agnes singkat dan melanjutkan lagi langkahnya yang sempat tertunda, padahal dirinya sudah merencanakan untuk tiduran saja dirumah.
"Makasih."
"Sama-sama." Walaupun tidak melihat jelas wajah Agnes tapi Alvaro langsung terteguh pasalnya nada bicara Agnes tidaklah datar seperti biasanya tapi sedikit lembut membuat Alvaro langsung tersenyum hangat menatap kepergian Agnes.
Jika selama ini Alvaro selalu mengumpat ketika Agnes bolos sekolah tapi kali ini tidak, malahan Alvaro tersenyum hangat menatap kepergian Agnes.
Ada apa ini? Apa kah dua sejoli yang sama-sama manusia es ini sudah dibuka pintu hatinya? Semoga saja iya? Memang iya kan? Hanya saja mereka berdua gengsi saja...
Lampu hijau sudah ada didepan mata! Batin Alvaro terkekeh senang lalu pergi menuju kelasnya.
♡♡♡♡TAMBAHKAN FAVORIT♡♡♡♡
"Agnes! kenapa kamu sudah pulang?" Tanya Abraham sambil mengamati putri kandung semata wayangnya tersebut.
"Apa urusannya dengan anda?" Tanya balik Agnes membuat Abraham langsung marah dibuatnya tapi dia tahan.
"Minggu depan acara kelulusan SMA AIHS, kamu harus datang disana dengan Daddy sebagai pemilik sah SMA AIHS." Jelas Abraham.
"Oh." Jawab Agnes cuek lalu pergi menaiki tangga menuju kamarnya untuk mempersiapkan rencananya.
Namun Abraham tak membiarkan putrinya itu pergi, lengan Agnes tiba-tiba ditarik begitu saja membuat gadis itu mundur beberapa langkah.
"Sampai kapan kamu mau seperti ini, Nak? kembali lah seperti dulu. Daddy mohon! Daddy mengaku salah, Daddy minta maaf ya?" Abraham menatap sayu manik mata Agnes yang malah semakin menatapnya datar.
"Maaf?" Ulang Agnes membuat Abraham mengangguk kecil, "Apa kata maaf dapat mengembalikan Mommy dan kembaran saya?" Abraham tersentak sementara Agnes terkekeh miris.
"Tap-"
"Anda tidak akan sekuat saya jika berada diposisi saya." Agnes mulai melangkah tanpa gangguan Abraham, karena lelaki paru baya tersebut memilih diam mematung.
Kalau saja Unna tidak meninggal mungkin saja keluarga ku tidak separah ini. Batin Abraham lelah.
Kapan terakhir kali aku ke pemakaman Unna? Batin Abraham bertanya-tanya lalu bergegas pergi menuju peristirahatan terakhir istrinya.
Sungguh dia benar-benar lupa kali ini karena dia terlalu fokus mencari Ana yang sedari tadi belum ditemukan, entahlah ada apa dengan Ana? Kenapa bisa dia menghilang secepat itu?
✨✨ MAFIA GIRL VS KETUA OSIS ✨✨
Seorang gadis nampak berjalan linglung ditempat yang hanya ada dirinya serta padang bunga matahari. Gadis itu tak tau ia sedang berada dimana, padahal seingatnya tadi ia sedang tiduran di kasur nya.
"Kamu sudah berjuang banyak, Nak! Mommy bangga padamu." Ucap lembut seorang wanita berbaju putih dengan tersenyum lembut menatap putrinya membuat gadis itu berbalik, "Tetapi menghilangkan nyawa seseorang itu tidak baik, sayang."
Gadis itu Agnes. Manik mata Agnes nampak berkaca-kaca melihat pemandangan didepannya. Itu Mommynya! kedua kakinya hendak menuju ke arah Mommynya berada tuk memeluk erat Mommynya tersebut dan menumpahkan semua kesedihannya namun urung.
"Hai Nes! apa kabar? sorry ya gue ngaduh ke Mommy hehe. Nes, disini gue kesepian tau." Itu kembarannya!
Air mata Agnes sudah tak bisa lagi ia bedung, gadis itu menangis sejadi-jadinya. Apa ini mimpi? jika benar tolong jangan bangunkan Agnes sekarang. Dia menikmati mimpinya! sangat-sangat menikmati.
"Wah Mommy bikin Adek nangis tuh." Unna hanya tersenyum menatap putrinya yang masih menangis.
"Mommy sedih Agnes berubah banyak seperti ini tapi disisi lain Mommy amat menyayangimu, hiduplah dengan baik nak! maafkan lah Daddymu." Agnes mendonga menatap Ibunya, entah mengapa suara gadis itu tak ingin keluar sedari tadi.
"Agnes sayang Daddy kan? Agnes harus bisa berdamai dengan masa lalu, lupakan kita." Agnes menggeleng kuat entah mengapa tiba-tiba saja Mommnya sedikit demi sedikit menghilang, "Agnes harus bisa! Mommy percaya padamu, sayang. Kita akan bertemu lagi nanti."
"Nes, jujur gue rindu Daddy sama Abang dan gue tau lo juga gitu. Lo pasti bisa! Mommy sama gue bakal pantau lo dari atas kok! janji ya lo bisa baikan sama Daddy kalau gak gue marah nih? see you! gak usah nangis gitu, jelek lo."
Perlahan tawa Agni tak terdengar lagi, entah mengapa kedua kakinya tak bisa digerakkan seperti ia disini hanya untuk mendengarkan celetohen kedua orang tadi.
"Sia*an! kenapa kalian pergi hiks ayo sama-sama seperti dulu lagi! kalian hiks jahat..." Gadis itu terduduk lesu diatas rerumputan dengan air mata yang terus saja berjatuhan.
Padahal dia ingin memeluk keduanya tapi mengapa begitu susah? untuk apa dia disini kalau ujungnya akan seperti ini?
Tiba-tiba saja kegelapan menarik Agnes.
Manik mata Agnes terbuka perlahan, ia mengamati sekelilingnya.
"Mimpi." Gumam Agnes menyeka air matanya, "Gue harus maafin Daddy? Are you kidding me, Mom?"
BERSAMBUNG~
ECIECIEEE (V) ALAG🙊 (ALVARO, AGNES) SUDAH MULAI JATUH CINTA😂
JANGAN LUPA LIKE👍 KOMEN💬👇 KASIH RANTING🌟 DAN TAMBAH KAN FAVORIT💟 JIKA SUKAK SAMA NOVEL INI😁
__ADS_1
SEE YOU NEXT CHAPTER😉
BABAY~