Mafia Girl Vs Ketua Osis

Mafia Girl Vs Ketua Osis
EPS 40


__ADS_3

HAPPY READING💛


.


.


..."Bodohkah gue jika terlalu mencintai lo."...


...Alisa Adrian Elvarette....


.


.


.


Dua minggu kemudian.


Hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh semua murid AIHS karena acara kelulusan khusus kelas 12 kini hadir hari ini, membuat semua murid AIHS menyiapkan bakatnya masing-masing.


Eh tapi tunggu ada apa dengan Alvaro hari ini yang sejak tadi terlihat gusar? Bukannya hari ini harus senang yah? Atau mungkin...


"Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau diluar jangkauan, mohon tinggalkan pesan." Begitulah yang sedari tadi Alvaro dengarkan diponsel yang kini tepat pada genggaman tangannya.


Sudah belasan kali Alvaro menelepon.


"Ada apa ini! Lo kemana sih Nes?" Gumam Alvaro khawatir karena sudah berkali-kali Alvaro menelepon Agnes tapi yang sedari tadi ia dengar hanya lah suara oprator itu, apakah gadis itu melupakan janjinya?


Ingin sekali Alvaro membanting handphonenya yang sedari tadi berbunyi seorang operator bukan calon kekasihnya, tapi Alvaro harus menahannya jika tidak ia akan menjadi tontonan gratis nantinya.


Alvaro mengedarkan pandangannya, ia tersenyum lega saat melihat Kevin tengah bercanda gurau dengan Aksa. Lelaki itu menghampiri sahabatnya dengan wajah sumringan.


"Vin."


"Yo, Al! kenapa?"


"Widih, cakep banget nih si kulkas." Goda Aksa yang tak dihiraukan Alvaro.


Lelaki itu langsung mengarahkan tatapannya ke arah Kevin, "Adek lo kemana?"


"Lo kan tau gue ada problem sama Agnes, gak mungkinkan kita satu mobil? bisa-bisa Agnes ngamuk duluan." Jelas Kevin sedih membuat Alvaro mengangguk paham.


Kenapa Alvaro bodoh sekali!


"Gue khawatir sama Agnes."


Kevin menepuk pelan punggung sahabatnya itu, bermaksud menenangkan Alvaro. "Sans, adek gue kuat." Kekeh Kevin, "Dia cewek terkuat yang pernah gue liat."


Alvaro tersenyum samar, "Ya, semoga dia baik-baik saja."


<<<<<<<<<<<<>>>>>>>>>>>


Sudah sedari tadi Agnes tersenyum, gadis itu bahkan sudah seperti orang gila.


Agnes menatap ke arah spion mobilnya saat dirasa mobil berwarna merah pekat sedari tadi mengikutinya. Gadis itu tak bodoh, ia tau betul siapa pengemudi mobil tersebut ditambah lagi benda bersinar ditangannya.


Itu pistol! Agnes bisa melihatnya.


Agnes memutar stirnya ke lain arah, tak mungkinkan ia membawa musuhnya ke AIHS? bagaimana nanti dengan Alvaro?


Dor.


Dor.


Dor.


"Ck! DrakDevil si*lan!" Ucap Agnes dengan baju yang khusus untuk acara spesialnya? Sambil terus saja menancapkan gasnya karena saat ini dia berada disituasi yang amat genting.


Tapi, mungkin kali ini Agnes kurang beruntung sehingga ban mobilnya tertembak oleh Leader DrakDevil dan mengakibatkan mobilnya jatuh menggelinding ke arah jurang.


Duarrrr.


Ledakan yang amat kencang tersebut berasal dari mobil hitam pekat milik Agnes, membuat Leader DrakDevil langsung tersenyum simrik.


"Satu hama sudah mati! Kali ini Mafia gue bakalan menduduki peringkat satu lagi! Hahaha." Tawa menggelegar dari Leader DrakDevil sambil menatap senang ke arah bawah jurang lalu pergi menancapkan gasnya ke markasnya mungkin dia akan mengadakan pesta besar-besaran karena sudah membunuh sang Leader Black Diamond Girl yang amat ditakuti.


Setelah ini Berly akan membangun kembali mafianya yang sempat hancur karena ulah gadis sia*an itu!


Jika gadis itu masih saja belum tiada, tenang saja Leader DrakDevil punya rencana candangan yaitu, Salma.


Sementara ditempat lain, yaitu diluar mobil yang kini sudah terbakar habis. Seorang gadis berjalan pelan-pelan menuju arah pohon untuk bersandar dengan luka parah didahinya dan mulut yang dipenuhi darah, Walaupun tak terasa sakit tapi entah mengapa tubuhnya tak bisa diajak kerja sama.


"Huft...huft p... persis di... mimpi g.. gue." Ucap Agnes terbata-bata, ingin sekali dia menutup matanya karena tubuhnya yang amat lemas seperti mati rasa tapi tiba-tiba ucapan Alvaro memutar diotaknya.

__ADS_1


"Gue mohon yah sama lo! Lo datang minggu depan ke acara perpisahan kelulusan AIHS, sebagai penonton gak papalah."


"G.. gak gue gak boleh mati! Alvaro butuh gue!" Ucap Agnes mantap, mengusap dengan paksa semua darahnya dan belari menuju sekolahan SMA AIHS membiarkan baju yang ia kenangkan saat ini sedikit kotor.


Gue datang Alvaro, tunggu gue. Batin Agnes masih dengan larinya tak peduli dengan kakinya yang sangat sakit tapi sebelum itu ia mampir ditoko baju yang menurutnya pas dengannya.


Si penjual toko tentu saja merasa aneh dengan pembelinya yang datang dengan awut-awutan seperti sedang mengalami kecelakan yang parah? Namun penjaga toko itu tak bisa bertanya pasalnya pembelinya kali ini memancarkan aura yang sangat tak bersahabat, bahkan senyum saja tak ada dibibir pink itu.


Setelah itu Agnes pergi keluar sembari merogoh ponselnya. Untung saja ponselnya masih selamat, ya walaupun retak dibagian layar karena tak sengaja ia duduki.


"Ansel, lo cepet kesini!"


"Agnes? lo Kenapa? bukan-"


"Cepet!"


"Iya, cepetan kirim alamatnya."


Tangan gadis itu bergerak cepat guna untuk mengirim lokasinya saat ini kepada Ansel setelah sambungan teleponnya terputus.


"Ah, sia*an! gue bakal bunuh lo!" Gumam Agnes kesal.


Setelah beberapa menit lamanya, mobil merah pekat berhenti tepat didepan Agnes. Tanpa babibu gadis itu langsung menaiki mobil tersebut.


"Ke AIHS, cepet!" Ansel buru-buru menjalankan kembali mobilnya.


Lelaki itu melirik sekilas ke arah Agnes yang masih setia menatap Arlojinya dengan panik.


"Lo sebenernya kenapa sih? bukannya lo berangkat tadi senyum-senyum sendiri sekarang kok murung gitu?"


"DrakDevil."


"Kenapa?"


"Setelah ini lacak dengan benar dimana dia." Datar Agnes menatap ke arah pemandangan diluar.


Ansel mengerutkan alisnya namun lelaki itu memilih diam dengan banyak pertanyaan di kepala nya, "Gue punya filling buruk hari ini, lo hati-hati ya?" Ucap Ansel khawatir.


Entah mengapa lelaki itu tiba-tiba saja mengkhawatirkan Adiknya, seakan gadis itu akan pergi jauh. Ansel berusaha menepis pemikiran liar tersebut.


"Hmm." Jawab Agnes seadanya.


Gadis itu berpikir jika Ansel terlalu lebay padanya karena insiden dulu. Tapi tenang saja! Agnes bisa menjaga dirinya dengan baik, lagian siapa yang bisa membunuhnya...?


"Yah! Sekarang acara spesial kita dari kelas 12 IPA 1 yaitu menyanyikan sebuah lagu, kita panggil bersama-sama Alvaro Marchello Anindito." Panggilan meria dari si pembawa acara membuat semua lamunan Alvaro buyar tentu saja disambut dengan ocehan-ocehan serta tepuk tangan yang meriah dari semua orang.


Mungkin dia sibuk. Batin Alvaro membawa lesu gitarnya tapi baru satu langkah dia melangkah sudah dipeluk oleh seseorang gadis dari arah belakang.


"Semangat!" Ucap seseorang tersebut dengan nada lembut dan langsung duduk dikursi yang telah disiapkan, membuat wajah Alvaro yang tadinya kusut kini menjadi ceria dan lebih bersemangat menaiki panggung lalu menyanyikan sebuah lagu khusus yang dibuatnya tadi malam untuk orang spesial katanya?


Kau, diam-diam aku jatuh cinta kepada mu...


Ku bosan sudah ku menyimpan rasa.... kepada mu...


Tapi tak mampu, ku berkata... didepan mu...


Aku tak mudah mencintai...


Tak mudah bilang cinta...


Tapi mengapa kini dengan mu...


Aku jatuh cinta...


Tuhan tolonglah dengarkan ku, beri aku dia....


Tapi jika, belum....jodoh... aku bisa apa?


Gitar yang semula dipetik Alvaro berhenti begitu juga dengan suara merdunya, lelaki itu nampak menghembuskan nafasnya beberapa kali.


"Sa saya ingin mengatakan sesuatu yang penting."


Seketika semua hening. Sebagaian merasa bingung dengan ulah ketua osis mereka namun sebagaian lagi merasa penasaran, Kata apa yang ingin diucapkan Alvaro hingga sepenting itu? apa ini berhubungan dengan sekolahan? atau pemberian piagam pada anak berprestasi?


Alvaro menatap dalam Agnes, "Ayo, Al!" Gumam Alvaro menyemangati dirinya.


Jantungnya berdetak kencang, bibirnya terasa bergetar saat sang pujaan hati menatapnya balik.


"Agnes will you be my girlfriend?" Setelah lagu terakhir dan menyiapkan semua keberanian Alvaro, akhirnya Alvaro mengeluarkan semua perasaannya terhadap Agnes sedangkan Agnes langsung terkejut bukan main tapi itu hanya sekilas, walaupun detak jantungnya sekarang tidak karuan dia dengan santainya berjalan menuju panggung dan menggambil ahli mix yang dibawa sang pembawa acara.


"Sebelumnya saya ingin memberitau bahwa saya Agnes Charissa Alexandra pemilik resmi A'C Company Corp dan sang Leader Black Diamond Girl, apakah Alvaro Marchello Anindito masih mau menerima saya? sang gadis liar ini?" Tanya Agnes lantang membuat semua yang berada disana langsung terkejut bukan main.


Selesai sudah tidak ada lagi rahasia yang dimiliki Agnes saat ini memang ini adalah salah satu rencana Agnes.

__ADS_1


Apapun jawaban Alvaro Agnes akan menerimanya entah itu sebuah tolakan atau....


"Ya, aku akan menerima kamu apa adanya." Jawab Alvaro mantap sambil mengeluarkan senyuman hangatnya yang khusus diberikan Agnes, membuat Agnes langsung belari memeluk Alvaro.


"Makasih!" Ucap Agnes dengan nada lembut, membuat semua yang berada disana langsung ricuh layaknya dipasar.


Dia senang perasaannya tak bertepuk sebelah tangan, ya setidaknya ia bahagia sekarang.


"Best couple gue nih."


"Akhirnya official juga, udah merinding tadi takut ditolak."


"Hebat yah Agnes! Udah anak orang kaya, eh dia juga kaya. Apalagi punya Mafia wuihhh panutan gue nih."


"Untung gue gak pernah usik kehidupan Agnes, kalau iya entah apa jadi gue sekarang."


"Beb Agnes khuu pergi, gak papalah bisa cari cecan lagi."


"Pj! pj! jangan lupaaaa."


"Alvaro tega yah lo tinggalin gue yang udah hamil anak lo gini!"


Dua sejoli itu masih saja berpelukkan dengan disertai tepuk tangan meriah dari seluruh murid serta sorakan dan siulan dari mereka semua. Mereka kira ada apa! ternyata ini bagian pentingnya.


"Oh iya gue ada satu hal yang menarik, gue harap Daddy dan Abang Kevin mendengarkannya dengan seksama dan satu hal lagi jangan pernah menyesal atau berterima kasih karena gue sudah membunuh parasit itu." Ucap Agnes datar setelah melepaskan pelukannya dengan Alvaro lalu langsung memasang flashdisknya ke laptop milik anggota osis dan menyetelnya, membuat Abraham dan Kevin fokus mendengarkannya.


Mendadak situasi menjadi hening kembali, acara tambahan?


"Dasar sampah! Lo tuh harusnya mati dengan Mommy dan kembaran gak guna lo! Hahaha dari awal gue harusnya bunuh lo dulu baru Mommy gak guna lo itu terus gue habiskan semua harta Abraham yang bodoh itu hahaha"


Begitu lah bunyi dari vidio berdurasi lima menit itu, membuat Abraham dan Kevin langsung kaget begitu juga dengan semua murid AIHS yang mulai ricuh sedangkan Salma sedari tadi sudah menggenggam erat kedua tangannya karena sedari tadi dia mendapatkan tatapan jijik dari semua orang sebab suara tersebut milik Mommy Salma.


Berbagai umpatan terdengar dari telinga Salma hanya untuk dirinya, gadis itu semakin menunduk, menyembunyikan wajah merah padamnya serta tangisannya yang hendak keluar.


"Agnes." Panggil Abraham penuh dengan penyesalan lalu menghampiri putri bungsunya tersebut dan diikuti oleh Kevin dibelakangnya.


Mereka amat menyesal tidak mempercayai Agnes, mereka bodoh! membuang berlian demi sebongka sampah!


"Ada apa tuan Abraham, mau minta maaf?" Tanya Agnes datar, membuat Abraham dan Kevin langsung memeluk erat tubuh Agnes lalu terisak didalam pelukan Agnes.


Agnes yang menerima pelukan secara tiba-tiba itu langsung menahan air matanya agar tidak jatuh tapi tak bisa, sudah selesai ia tak lagi memainkan lagi dramanya.


Ia lemah jika menyangkut keluarganya.


"Hiks Daddy dan bang Kevin tau kan Agnes cuman berpura-pura nakal dan bersikap seolah-olah tak terjadi masalah? Itu hanya buat nutupi sisi lemah Agnes! Ya Agnes memang lemah! Tidak kuat seperti yang kalian bayangkan." Ucap Agnes dengan isakannya mengeluarkan semua yang sedari tadi ia ingin ucapkan ralat sedari dulu.


Perih rasanya jika mengingat semua peristiwa tentang dirinya, dimana ia harus berjuang sebisanya atau ia mati.


Sekarang selesai! Ini yang Agnes inginkan sedari dulu! Perasaan lega tak terbanyang pun kini hingga didada gadis itu, membuat gadis itu perlahan tersenyum.


Senyuman manis yang selama ini ia sembunyikan.


"Sudah-sudah Adik Abang gak boleh cenggeng, jadi kita mulai dari awal oke!" Ucap Kevin mengusap pelan air mata Adiknya yang sedari tadi berjatuhan.


"Tentu saja dengan anak tersayang Daddy yang jadi pemimpinnya, deal" Ucap Abraham tersenyum hangat menatap putri kecilnya yang kini sudah kembali lagi.


"Deal!" Ucap Agnes bersemangat.


"Mana nih menantu ku?" Goda Abraham membuat Agnes langsung merona.


"Hadirrrr Om!" Ucap Alvaro merangkul mesra pinggang Agnes lalu mereka semua tertawa bersama, sedari tadi Alvaro terharu mendengarkannya.


Walaupun Alvaro tak tau pasti apa penyebabnya namun laki-laki itu dapat merasakan jadi Agnes, gadis itu sungguh kuat! Tak pernah menintihkan setitik air matanya kala beribu-ribu masalah datang.


Gadis itu hanya salah caranya untuk melampiaskan semua kekesalannya dengan cara membangun Mafia yang terkejam sedunia.


Tapi permasalahannya kini telah usia, tak ada lagi tangis pilu yang dikeluarkan gadis itu lagi yang harus dikeluarkan hanyalah senyum manis! Sia-sia kan jika mempunyai lesung pipi namun tak dipakai?


Benar kata Mommynya, dia harus berdamai dengan masa lalu. Terus seperti itu akan membuatnya tersiksa sendiri nantinya.


"Gue tidak akan membiarkan kalian semua bahagia!" Teriak Salma sambil menodongkan pistol tepat pada Agnes, sudah cukup Salma melihat drama menjijikan diatas panggung itu.


Jika Ibunya mati maka semua harus mati!


BERSAMBUNG~


WAH WAH SALMA CARI GARA-GARA LAGI NIH😡


JANGAN LUPA LIKE👍 KOMEN💬👇 KASIH RANTING🌟 AND TAMBAH KAN FAVORIT💟 JIKA SUKAK SAMA CERITA INI😄


SEE YOU NEXT CHAPTER😉😀


BABAY~

__ADS_1


__ADS_2