Mafia Girl Vs Ketua Osis

Mafia Girl Vs Ketua Osis
EPS 28


__ADS_3

HAPPY READING😀


.


.


.


.


.


.


"Momyyyyy!" Teriak Salma menggelegar karena sang Ibu kandungnya tak kunjung datang sampai suara Salma habis, dengan kesal Salma langsung pergi mencari sang Mommy tapi nihil ia sudah mencari diseluruh penjuru rumah tapi tetap saja tidak menemukan keberadaan Mommynya.


"Kenzoooo!" Teriak Salma lagi memanggil sang Adik, membuat Kenzo langsung terbangun dari tidur nyenyaknya dan belari tergopoh-gopo menuju asal suara.


"Ada apa kak? Hoam." Tanya Kenzo serak, khas orang baru bangun tidur sembari mengusap kedua matanya dengan tangan mungilnya.


"Kamu tau Mommy nggak?" Tanya Salma to the point ke Adiknya itu, dan dibalas gelengan kecil dari Kenzo dengan perasaan khawatir Salma langsung menelepon Mommynya tapi nihil! Hanya ada suara operator yang menandahkan bahwa Mommynya tidak dapat dihubungi untuk sekarang.


"Ini kenapa sih!" Sudah berkali-kali Salma menelepon sang Mommynya itu tapi tak kunjung diangkat wanita paru baya tersebut.


"Aarrggh, apaan sih! Gue tuh mau bicara sama Mommy gue bukan sama lo! Dasar operator bodoh! Sial banget sih gue hari ini!" Marah Salma tersirat nada khawatir didalamnya, membuat Kenzo ketakutan karena sedari tadi Kakak perempuannya tersebut marah-marah tak jelas sambil menyumpahi orang yang bicara tak jelas juga dihandphone mewah milik sang Kakak perempuannya itu.


"Daddy!" Tiba-tiba saja Salma teringat akan hal itu membuatnya langsung cepat-cepat menghubungi sang Daddynya karena ia sangat-sangat khawatir saat ini, entah lah ada perasaan aneh didalam dirinya tentang Mommynya yang tiba-tiba hilang itu.


"Iya halo, ada apa nak?" Tanya seseorang pria paru baya disebrang telepon, dia Abraham.


"Daddy tau Mommy nggak?" Balas Salma sembari menggigit kukunya khawatir berharap Abraham mengetahui keberadaan Mommynya.


"Nggak, terakhir Mommy kamu bilang mau ke mall."


"Tapi dari tadi handphonenya gak aktif! Sudah Salma cari kemana-mana tapi gak ada, terus gimana ini? hiks." Salma langsung meneteskan air matanya karena saat ini ia benar-benar sangat khawatir dengan keadaan Mommynya itu, membuat Kenzo langsung memeluk erat kaki Salma karena ia terlalu pendek untuk memeluk Salma alhasil ia hanya bisa memeluk kaki sang Kakak perempuannya itu berharap sang Kakak tidak menangis lagi karena Mommynya sering memeluk dirinya ketika ia menangis.


"Tenang yah kamu disana Daddy langsung ke rumah sekarang." Ucap Abraham mengakhiri percakapannya ditelepon, dan langsung bergegas pulang karena ia juga memiliki firasat buruk tentang Ana.

__ADS_1


Tut tut tut.


"Hiks Mommy hiks." Tangis Salma memeluk erat Kenzo sementara Kenzo mengelus sayang punggung Salma, berusaha menenangkan sang Kakak perempuannya itu.


Pukul satu malam.


Jam sudah menujukkan sangat larut malam tapi Ana masih saja belum ditemukan. Membuat kediaman Alexandra begitu khawatir, dan ricuh oleh tangisan Salma, dan Kenzo tapi dengan santainya seorang gadis bak Dewi Yunani keluar dari mobil hitam miliknya. Berjalan santai melewati semua anggota keluarganya yang tengah binggung. Sibuk mencari keberadaan Ana yang tiba-tiba menghilang itu.


Abraham lantas bangkit berdiri, tatapan tajamnya ia arahkan ke putrinya itu "Dari mana saja kamu! Kamu gak tau kalau Mommy kamu hilang ha!" Bentak Abraham sangat marah ketika Agnes dengan santainya berjalan melewatinya yang binggung mencari Ana terlebih lagi Agnes sudah terlalu larut malam untuk pulang, ini tak baik bagi seorang gadis seperti Agnes!


"Ck, dia bukan Mommy saya!" Ucap Agnes datar, dan dingin lalu pergi dari sana, tapi sebelum itu tangannya dicekal seseorang membuatnya dengan refleks berhenti.


"Dek, Abang mohon kali ini saja tolong bantu kami mencari Mommy yah?" Mohon Kevin sembari mencekal tangan sang Adik kandungnya itu tapi langsung dihempaskan begitu saja oleh Agnes.


Seketika tatapan Agnes berubah menjadi datar, tawa sinis ia lemparkan ke Abangnya itu "Heh, apa Abang pernah menolong Mommy gue dulu? Nggak kan? sekarang kita impas!" Kata Agnes datar lalu pergi dari sana. Tersirat nada kecewa, dan sedih yang amat mendalam disana. Kevin bisa merasakannya ketika ia menatap manik biru laut tersebut membuatnya diam menatap punggung Agnes yang lama-kelama hilang.


Terlihat disana bahwa Adik kandungnya tersebut sangat-sangat sendirian, dan sangat-sangat rapuh. Ingin sekali Kevin memeluk sang Adiknya tersebut mengingat ia tak pernah memeluk Adiknya sejak dirinya masih berumur lima tahun.


Insiden itu sungguh membuat rumah tangganya tak harmonis seperti dulu lagi.


Apa yang harus gue lakukan? Gue harus percaya sama siapa? Batin Kevin binggung tapi hati kecilnya tergerak untuk membantu sang Adik kandungnya sebelum terlambat, entah lah ia punya firasat buruk tentang Adik kandungnya itu.


Disebuah ruangan yang bertuliskan 'Ruang BK' berisi celotehan sang Guru BK. Bu Anis, membuat seorang gadis cantik tersebut memasang diam-diam earphone ditelinganya. Mendengarkan lagu kesukaannya, dan bergumam tak jelas sesuai lagu tersebut.


"Hei, apa kamu tidak mendengarkan saya!" Tanya sang Guru BK dengan nada kesal karena siswanya tersebut lagi-lagi membuat onar yaitu tidak mengikuti upacara, dan malah pergi ke kantin untung saja ada Alvaro yang membawanya ke BK. Dan sekarang lihat! Dia bahkan tidak mendengarkannys yang sudah berceloteh panjang lebar sampai-sampai air liurnya jatuh-jatuh.


"Hmm." Dehem Agnes sebagai tanda 'iya'


"Kamu itu bla bla bla...." Cerewet Anis lagi, membuat Agnes langsung memberi Anis sebotol minuman. Berharap mulut Anis diam, dan tidak bersuara seperti radio rusak.


"Kok tau sih kalau saya haus?" Tanpa babibu Anis langsung meminum air tersebut bahkan tak menaruh curiga sama sekali keminuman itu.


"Eh ini apa kok kayak-" Ucap Anis terpotong karena lidahnya merasakan minuman tadi agak..... Basi? mybe?


Anis langsung menatap Agnes "Entah, gue nemu dibawah meja." Jawab Agnes santai langsung saja Anis melototkan matanya untung saja tidak jatuh bola matanya, Anis langsung belari menuju toilet, dan mengeluarkan semua isi perutnya disana.


"Iya sama-sama." Gumam Agnes lalu beranjak pergi, tapi sebelum itu ia bertemu Alvaro dengan raut muka yang binggung karena tiba-tiba Bu Anis keluar menuju toilet dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


"Lo apa kan Bu Anis?" Tanya Alvaro ketika melihat Agnes keluar dari ruangan tersebut tapi matanya fokus pada tangan Agnes yang terlihat bekas goresan silet banyak sekali, apa Agnes selalu depresi? Hingga tangannya ia sileti sendiri? Apa masalah gadis itu terlalu besar? Apa Agnes tak merasa sakit barang sedikit pun? Apa tangannya sudah diobati?


Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang ingin Alvaro lemparkan ke gadis itu namun ia memilih diam saja.


"Kenapa lo suka sekali membahayakan diri lo sendiri?" Gumam Alvaro tapi masih dapat didengar Agnes sembari menatap fokus pada tangan Agnes.


"Luka lo udah sembuh?" Bukannya menjawab Agnes malah balik bertanya.


"Luka kecil gini mah gak masalah bagi gue." Ucap sombong Alvaro, "Semenjak hari itu, Berly gak masuk. Lo tau dia kenapa?"


"Gak."


Alvaro menatap curiga Agnes, " Lo gak di apa-apa in kan sama Berly?"


"Gue bisa jaga diri." Jawab Agnes acuh tapi tidak dengan hatinya, ada yang aneh dengan dirinya setiap berhadapan dengan Alvaro? Terlebih lagi saat pandangan matanya tak sengaja bertemu.


"Beneran lo? kalau ada apa-apa telepon gue aja, gue free buat lo kok." Alvaro tersenyum lebar namun senyuman itu langsung memudar kala ucapannya ada yang tidak beres, "Maksud gue sebagai temen! Se-"


"Iya." Singkat Agnes yang langsung membuat Alvaro gelagapan, lelaki itu cepat-cepat merubah topik pembicaraan.


Alvaro melirik sekilas dibelakang Agnes, "Lo apain Bu Anis?"


"Gue kasih minum."


"Ha?" Beo Alvaro binggung, dan langsung berjalan menuju minuman tersebut lalu mengamati minuman tersebut dengan teliti, Agnes yang melihat ada kesempatan itu pun lantas berlari pergi dari sana sebelum ia masuk BK lagi sungguh membuat telinganya panas! lebih baik ia balapan mobil dengan orang yang baru saja menantangnya lewat pesan.


Gila! Ini mah sudah kadaluwarsa. Batin Alvaro lalu pergi ke Agnes ingin memarahi habis-habisan gadis tersebut tapi ia tidak menemukan keberadaan Agnes.


Sia*an! Kabur lagi dia, gue seharusnya ngobati dulu lukanya. Batin Alvaro menghela nafas panjang.


Tapi seru juga menghukumnya. Batin Alvaro lagi sembari terkekeh sepertinya ia mungkin agak tertarik dengan gadis pembuat onar tersebut?


BERSAMBUNG~


BILANG AJA LU SUKA MA AGNES KAN AL!


JANGAN LUPA LIKE👍 KOMEN💬 FAVORIT💟 DAN KASIH RANTING🌟 EHEK😅😄

__ADS_1


SEE YOU NEXT CHAPTER😉😄


BABAY~


__ADS_2