Mafia Girl Vs Ketua Osis

Mafia Girl Vs Ketua Osis
EPS 41


__ADS_3

HAPPY READING💛


.


.


.


..."Mungkin kita belum berjodoh dikehidupan ini, tapi dikehidupan yang akan mendatang ku pastikan kau akan menjadi milikku."...


...Agnes Charissa Alexandra....


.


.


.


"Gue tidak akan membiarkan kalian semua bahagia!" Teriak Salma marah sambil menodongkan pistol tepat pada jantung Agnes, sedikit saja Agnes bergerak Salma akan langsung menembaknya.


"Salma sayang jangan begitu yah! Sini biar Daddy jelasin yah Nak... Pistolnya ditaruh dulu yah sayang, bahaya." Ucap Abraham lembut lalu berjalan pelan-pelan menuju Salma sedangkan Alvaro dengan sigap menelepon pihak berwajib secara diam-diam.


Mereka tak ingin salah satu dari mereka mati!


"Diam disitu! Kalau nggak gue bakalan tembak kalian semua biar mati sekalian, hahaha." Ancam Salma disertai dengan tawanya membuat semua langsung diam membeku begitu juga para murid yang tadinya berbisik-bisik kini ikutan diam.


"Dasar Agnes si*lan! Jal*ng! Pembunuh! Nggapain lo bunuh Mommy gue ha! Apa salah Mommy gue!" Teriak menggelegar Salma sambil menatap tajam Agnes yang tenang disana.


"Nyawa dibayar nyawa, apa lo tau? Mommy kesayangan lo itu udah bunuh Mommy dan kembaran gue." Ucap tenang Agnes dengan nada datar.


Sedari tadi dia bergulat dengan pikirannya, coba bayangkan jika dia menghindar dari peluru tersebut maka peluruh itu akan menggenai Alvaro yang berada tepat dibelakangnya atau tidak Abangnya, jadi dia sengaja untuk mengulur waktu sampai pihak berwajib datang.


"Apa pun yang terjadi jangan menangis, karena gue gak suka." Lirih Agnes tapi masih bisa didengar Alvaro, Abraham, dan Kevin. Mereka bertiga langsung menatap tak percaya Agnes.


"Lo pikir gue percaya gitu sama omongan gak jelas lo! Mati saja lo ja*ang si*lan!" Emosi Salma langsung menarik pelatuk pistol tersebut ke arah Agnes.


Dor.


Dor.


Dor.


Salma dengan bruntal langsung menembakkan tiga buah peluru membuat Agnes jatuh termundur sambil memegangi perutnya dan disusul oleh suara sirinei polisi, langsung saja Salma dibawa oleh polisi tersebut ke dalam mobil.


Untung saja dengan cepat para polisi datang walau terlambat.


"Hahaha makan tuh ja*ang si*lan! Mati sana lo, gak ada yang peduli! gue bakal balas dendam!" Teriak Salma mencoba untuk melepaskan borgol ditangannya tapi tidak bisa, berbagai umpatan terdengar amat keras hingga gadis itu dimasukan kedalam mobil polisi.


"Nggak! Gak mungkin! Cepat telepon ambulans!" Suruh Alvaro cemas lalu menitikan air matanya sedikit demi sedikit sambil memegangi perut Agnes agar tidak ada darah yang keluar lebih banyak lagi tapi sia-sia darah tersebut makin keluar.


Alvaro sangat-sangat panik untuk sekarang, ia tak suka melihat gadisnya begini. Penuh darah, cukup dulu saja ia melihat darah Agnes sekarang jangan!


Dulu saja Alvaro mati-matian menekan rasa khawatirnya karena ia tak ingin dicap berlebihan oleh Agnes, namun sekarang...


"Alvaro dengar! Jangan nangis yah sayang.... Aku bahagia saat kamu nembak aku tadi dan saat dimana awal kita bertemu." Ucap Agnes tersenyum hangat lalu mengusap air mata Alvaro yang sedari tadi keluar sambil menahan rasa sakit yang amat mendalam dari tubuhnya, jika satu peluruh ia akan tahan lah ini tiga peluruh sekaligus tertanam sempurna diperutnya belum lagi saat dimana kejadian Leader Drakdevil tadi.


"Daddy sama Bang Kevin jangan nangis! Agnes gak papa kok Agnes kan kuat! Agnes cuman mau tidur sebentar Agnes capek, Maafkan Agnes yah jika punya salah! Oh ya jangan lupa jenguk Agnes, Mommy sama Kak Agni ya nantinya! Awas saja kalau enggak Agnes bakalan marah." Pamit Agnes terkekeh pelan sembari mencium pelan pipi Alvaro dan mulai menutup matanya pelan-pelan karena pengliatannya mulai buram.


"Nggak Agnes! please wake up sayang aku butuh kamu hiks." Tangis Alvaro tambah kencang tak peduli jika semua orang saat ini melihatnya.


Mereka cuman bisa menonton tanpa berniat membantu sedikit pun! Dasar sia*an! Ingin sekali Alvaro teriaki mereka satu persatu


"Ambulans mana sih! Bang*at lama banget." Kesal Kevin mencoba terus menelepon rumah sakit, tapi karena terlanjur kesal dan melihat keadaan Adik kandungnya yang amat dia sayangi penuh dengan darah membuat Kevin langsung menggendong ala brindal styel Agnes tak peduli lagi dengan bajunya yang putih ini nantinya akan berubah warna menjadi merah. Ia terus belari menuju rumah sakit terdekat dengan Abraham, Alvaro, Delia, Aksa dan Lisa dibelakangnya.


"WOY BRANKARA MANA SIH! SUSTER! DOKTER! LEMOT BANGET SIH! ADEK GUE TOLONGIN GO*LOK! KALAU GAK NIAT KERJA GAK USAH KERJA TO*O*!" Emosi Kevin tak peduli jika nanti dia akan dicap sebagai orang gila karena yang paling penting saat ini adalah nyawa Adik kandungnya.


Lalu datanglah sang suster dan dokter yang tergopoh-gopoh membawa brankara dan menaruh tubuh Lemas Agnes ke brankara tersebut, brankara didorong dengan kecepatan penuh tak lupa ucapan-ucapan semua yang menyuruh Agnes agar tetap bangun.


"Maaf keluarga pasien harap duduk disana." Suruh sang suster dengan nada sopan ketika tubuh Agnes telah dimasukan ke kamar bertuliskan 'ruang operasi'


"Lo be*o yah! Itu Adek gue disana ngapain gue disuruh disini! Mikir dong pakek otak! Gak punya yah? Sini gue beliin buat lo!" Marah Kevin dengan kata-kata yang amat pedas membuat suster tersebut hanya diam dan menunduk, dia tak ingin kehilangan nyawa Adik yang amat ia sayangi.

__ADS_1


Cukup sudah! Kevin tak mau terlihat bodoh lagi!


"Lo yang be*o! Suster maafkan teman saya silahkan suster masuk dulu, kalau mau Agnes selamat lo diam!" Ucap Lisa langsung duduk ditempat yang telah disediakan sedangkan Kevin hanya diam menatap tajam kepergian Lisa lalu memijat pelan pelipisnya dan berjongkok.


Jalan satu-satunya adalah dia harus diam dan menunggu hasilnya saja, dengan keadaan risau bahkan sekarang tempat itu hening hanya terdengar hembusan nafas lelah.


Empat jam kemudian, suster dan dokter keluar dengan wajah yang amat kelelahan, langsung saja diserbu pertanyaan beruntun oleh semua.


"He be*o! Adek gue mati salah lo!" Ancam Kevin menatap tajam dokter tersebut.


"Agnes bagaimana sat! Ngapain lo diam aja? Gak punya mulut yah!" Marah Alvaro sambil memegang kerah baju milik sang dokter.


"Bagaimana keadaan teman gue." Tambah Delia dan Lisa bersama-sama.


"Putri saya bagaimana dok?" Tanya Abraham khawatir.


"Tenang semua tenang, bilangnya satu-satu yah! Jangan buat dokter ini tambah binggung." Ucap Aksa menenangkan semua lalu melepaskan tangan Alvaro dari kerah baju sang dokter.


"Jadi saudari Agnes dinyatakan koma, karena tinggal satu peluruh yang tidak bisa kami ambil... Saya turut prihatin." Ucap dokter tersebut ikut merasakan khawatir dan sedih.


"Lo mau uang berapa sih! Sini gue bayar, gak becus banget jadi dokter gue pecat juga lo!" Ucap Kevin masih dengan emosinya membuat dokter tersebut harus extra sabar menghadapi Kevin yang sudah tersulut emosi.


"Kevin lo tenangin diri lo dulu, kasihan dokternya dari tadi lo marahin muluk." Ucap Aksa membuat Kevin mau tak mau harus diam dulu.


"Apa boleh kami semua melihatnya?" Tanya Abraham dan langsung mendapat anggukan dari sang dokter membuat semua langsung masuk ke kamar milik Agnes.


Tit.........Tit........Tit...........Tit.


Bunyi patient monitor tersebut sangat nyaring menandahkan bahwa Agnes saat ini sangat-sangat lemah atau sedang berada difase koma.


"Dek kamu kok bisa gini?" Lirih Kevin menatap sedih Adik kandungnya tersebut yang terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit beserta alat-alat medis yang melekat ditubuhnya dan tak terasa cairan berwarna bening tersebut jatuh mengngalir membasahi pipinya.


"Aku yakin kamu pasti bangun kok sayang." Ucap Alvaro menatap kosong sang kekasihnya, membiarkan air matanya berjatuhan.


"Daddy percaya kok kali ini! Jadi Agnes bangun yah." Ucap Abrahan ikut menitihkan air matanya. Dia benar-benar menyesal saat ini, Ayah macam apa dia yang tidak mempercayai anak kandungnya sendiri dan memilih untuk percaya dengan dua ja*ang tersebut.


"Lo gadis terkuat yang pernah gue temuin Nes, luka kecil gini gak seberapa kan bagi lo?" Tanya Lisa walaupun dia tau Agnes pasti tidak menjawabnya sambil mengusap kasar air matanya yang sedari tadi keluar.


❤❤❤MGVKO❤❤❤


"Gue kok kangen Agnes ya?" Gumam Agata yang dapat didengar Ansel. Gadis itu sedari tadi menatap Ansel bosan.


Saat ini keduanya tengah berada diruangan khusus milik Agnes. Awalnya hanya Ansel saja tetapi karena Agata merasa bosan dengan setumpuk kertas dan berbagai celotehan tak jelas dari para penjilat perusahaan, jadilah Agata memilih kesini.


Ansel menghentikan permainannya pada ponsel, seketika moodnya berubah. Agata yang melihat perubahan mood Ansel yang berubah drastis itu pun mengerutkan keningnya.


"An-"


"Gue khawatir sama Agnes."


"Ha? ada sesuatu terjadi pada Agnes?" Panik Agata menatap serius Ansel yang malah melamun, "ANSEL JAWAB!" Teriak Agata.


"Berisik!" Bibir Agata mengerucut mendengarnya, "Tadi gue ketemu Agnes waktu sedang diserang si Berly sia*an itu! dia bilang gak papa dan tetap mau pergi ke AIHS, mungkin gara-gara cowoknya."


"Terus?" Tanya Agata meminta penjelasan lebih.


"Walaupun dia bilang gak papa tapi gue tetap khawatir, perasaan gue udah gak enak waktu anterin dia ke AIHS."


"Kenapa lo baru cerita?" Sentak Agata menatap emosi Ansel.


"Gue tadi sibuk cari keberadaan Berly, sesuai yang Agnes minta. Waktu gue lacak dia sedang berada disekitar sini, gu-"


"Maaf menyela ucapan anda, tetapi saya kemari ingin memberi tau sesuatu yang penting." Keduanya menatap salah satu anak buah Agnes dari ujung pintu.


Anak buah itu ditugaskan untuk menjaga Agnes secara diam-diam oleh Ansel, Dan Ansel yakin dia tak akan berkhianat. Ansel terlalu menyayangi Adik angkatnya tersebut hingga rela mengeluarkan beribu-ribu uang bahkan bagi Ansel uang saja tak cukup tuk keselamatan Agnes.


Agata menoleh ke arah Ansel bermaksud untuk meminta penjelasan pasalnya lelaki itu sama sekali tak ada mirip-miripnya dengan anak buah Agnes.


Agata tau betul perbedaan para anak buah Agnes dan orang asing.


"Telah terjadi sesuatu pada Agnes." Ucap Ansel seakan mengerti apa yang ingin ditanyakan Agata.

__ADS_1


"Mak-"


"Bicaralah." Potong Ansel cepat, menatap datar anak buahnya.


Dari tadi perasaan ucapan gue dipotong muluk. Batin Agata merotasikan kedua bola matanya.


"Miss tertembak dibagian perutnya oleh saudari tirinya dan dikabarkan dia sedang melakukan operasi dirumah sakit xxxx."


Baik Ansel maupun Agata, keduanya nampak terdiam membisu. Mereka bingung ingin merespon bagaimana tapi yang jelas raut wajah sedih dicampur khawatir tercampur menjadi satu.


"Tinggal satu peluru diperut Nona ja-"


Brak.


Meja yang tak bersalah itu pun menjadi tempat pelampiasan amarah Ansel, dengan wajah kesal Ansel menatap anak buahnya.


"Kenapa rumah sakit itu tidak becus mengambil satu peluruh saja?"


"Ansel tenangkan dirimu dahulu." Ucap Agata takut-takut. Ansel salalu bersikap humoris didepannya namun sekalinya marah nampak sangat menakutkan dimata Agata.


Agata tak suka melihat Ansel begini.


"Sial!" Gumam Ansel sembari duduk kembali, lelaki itu tak ingin melihat wajah ketakutan Agata.


"Rumah sakitnya dimana? biar kami berdua akan kesana."


"Ru-"


"Tuan! maaf menganggu, Leader DrakDevil membuat kekacauan didepan markas!" Lapor salah satu anak buah Agnes yang ditugaskan untuk menjaga depan markas


"Arrggh, selesaikan dengan cepat! gue mau jenguk Adek gue." Kesal Ansel, "Bagaimana bisa alamat markas kita bocor?"


"Tetapi ketua sekarang sedang tidak ada ditempat, jadi..."


"Untuk sekarang gue yang pimpin." Ucap Ansel datar.


"Baik!" Jawab anak buah Agnes dengan semangat yang membara. Baginya, entah itu Agnes atau Ansel yang memimpin keduanya sama-sama bijak dalam mengambil keputusan.


"Tugaskan dua penjaga untuk menjaga pintu ini! jangan biarkan DrakDevil sia*an itu menerobos masuk!" Titah Ansel, lelaki itu melirik sekilas ke arah Agata yang nampak bergetar ketakutan.


Ansel tersenyum, tangannya terulur mengacak surai Agata membuat wajah Agata mendadak berubah menjadi cemberut.


"Disini aja ya? papa mau beresin hama dulu. Gak usah takut gitu, jelek lo kalau takut." Kekeh Ansel lalu berjalan pergi dari sana.


Agata terkejut bukan main, "Hati-hati!" Teriak Agata kencang.


"Baik, istriku!" Teriak balik Ansel membuat Agata diam-diam terkekeh.


DrakDevil sia*an! gue akan balasin dendam lo, Nes. Gumam Ansel membenarkan letak jubahnya.


Setelah sampai didepan markas, Ansel terkejut bukan main saat melihat semua anak buah Agnes malah diam tak melawan.


"Kenapa tidak ada yang melawan?"


"Karena tidak ada perintah, Tuan."


"Sekarang lawan! jangan biarkan si idiot itu menghancurkan markas kita! untuk sekarang gue yang pimpin, ketua kalian sedang sibuk."


"Sibuk atau mati?" Celetuk Berly tersenyum penuh arti.


"Wah apa nih? si pengecut datang! nanti biar gue taruh kepala lo didepan pintu markas Black Diamond Girl biar lo terharu." Ucap Ansel tersenyum mengejek.


"Mari kita lihat, kepala siapa yang bakal dipajang." Balas Berly meludah ke sembarang tempat.


BERSAMBUNG~


AUTHOR TIM SAD ENDING😈😂 EH BTW AUTHOR MAU IJIN NGGAK UP SABTU YAH LAGI DI USAHAIN UP SENIN KARENA AUTHORNYA GAK PUNYA PAKETAN😂, INI AJA NIBRUNG WIFI TEMEN😆


JANGAN LUPA LIKE👍 KOMEN💬 KASIH RANTING🌟 DAN TAMBAH KAN FAVORIT 💟 JIKA SUKAK SAMA CERITA INI😉


SEE YOU NEXT CHAPTER😀

__ADS_1


BABAY~


__ADS_2