Mafia Girl Vs Ketua Osis

Mafia Girl Vs Ketua Osis
EPS 34


__ADS_3

HAPPY READING💌


.


.


.


..."Cobalah untuk berdamai dengan masa lalu mu."...


...Alexandra Kevin Arhelaus....


.


.


.


.


"Hey nerd miskin, kita bertemu lagi yah! Gimana waktu gak ada gue? Seneng-seneng yah lo?" Tanya Salma tersenyum sinis lalu mencegat seorang nerd dengan kacamata bulat tebal miliknya yang senantiasa dipakainya, dia Cerlin si gadis kutu buku yang selalu menjadi bahan pembullyan Salma dkk.


Entah ada dendam pribadi apa Salma dkk dengan Cerlin hingga membully gadis itu terus menerus. Sepertinya bukan karena dendam melainkan karena kesenangan pribadi.


Langkah Cerlin terhenti. Kaki, dan tangannya tiba-tiba bergetar begitu saja "Ke -kena-pa ya... kak?" Tanya Cerlin dengan terbata-bata lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam karena takut kejadian dulu terulang lagi padanya.


Amalia mengintip sekilas ke arah saku Cerlin, nampak disana dua uang berwarna hijau, "Oy nerd miskin! Duit lo banyak tuh, bagilah ke kita-kita." Ucap Amalia sambil melipat kedua tangannya didepan dada.


"Tau tuh, wuihhh banyak juga tuh duit." Kini giliran Amanda yang berucap.


Prok prok prok.


"Gue baru tau sekarang! Ternyata orang kaya tuh minta duitnya ke orang miskin, contohnya ini nih chili-chilian didepan gue." Sindir Delia sambil bertepuk tangan lalu menatap tajam Salma dkk.


"Eh bi*ch! Ini urusan gue yah! Gue gak ada urusan sama geng norak kayak lo!" Sinis Salma langsung mendorong bahu Delia untung saja Delia sempat ditangkap oleh Lisa hingga gadis itu tak terjatuh ke lantai.


Salma dkk lantas tertawa melihatnya.


"Lo-"


Bugh.


Tanpa aba-aba Agnes langsung menendang perut Salma membuat Salma langsung tersungkur ke belakang lalu meringis kesakitan sambil memegangi perutnya. Melihat itu kedua teman Salma dengan sigap berjalan mendekati Salma, dan menolong gadis itu untuk berdiri.


"Lagi?" Tanya Agnes lalu berjalan mendekat menatap sinis Salma membuat Salma langsung bergidik ngeri. Gadis datar itu berjongkok, mensejajarkan tingginya "Jangan pernah lo sentuh sahabat gue dengan tangan kotor lo ini." Bisik Agnes datar, dan dingin.


Seketika semua bulu kuduk Salma meremang, bagaimana caranya membalas dendam kalau gini caranya? "Ca cabut geng!" Suruh Salma langsung saja dituruti oleh kedua temannya.


Awas aja lo Nes, lihat apa yang akan gue lakukan nanti! Batin Salma menatap tajam sekilas Agnes, dan dibalas tatapan datar Agnes.


"Wuih, kapan lo datangnya?" Tanya Delia heran karena tadi Agnes benar-benar tidak ada, tapi sekarang lihatlah! Agnes bahkan telah menolongnya.


"Entah." Jawab Agnes datar.


Delia memutar bola matanya malas, namun sedetik kemudian dirinya menatap penuh binar sahabatnya itu "Btw thanks Nes, lo udah nolongin gue kalau gak ada lo tadi entar si biang kerok tadi pasti ikut-ikutan bully kita berdua abis itu kita masuk BK lagi." Ucap Delia berterimakasih dengan tulus, dan hanya dibalas deheman oleh Agnes. Membuat Delia lagi-lagi memutar bola matanya malas.


Bayangkan saja, dia tadi berbicara panjang lebar tapi balasan Agnes hanya deheman. Tak bisakah sahabatnya ini berbicara panjang juga kedia? Satu kali saja! Dasar kutub utara!


"Mending lo Del jangan tanya Agnes deh! Pasti nanti jawabannya entah, hmm habis itu angguk kepala atau geleng kepala udah itu aja. Emang dia irit banget kalau bicara, oksigen disekitar nya habis kali." Celetuk Lisa terkekeh.


"Oke-oke besok-besok gue gak akan tanya Agnes!" Kesal Delia tertawa bersama Lisa.


"Emm, a a aku pe permisi du dulu ya K Kak?" Pamit Cerlin yang sedari tadi menunduk langsung saja ia pergi karena tak mau berurusan lagi dengan geng Agnes, berurusan dengan geng Salma saja sudah membuat Cerlin kalang kabut apalagi berurusan dengan geng Agnes! Bisa mati muda dia nanti.


"Woyy! Dah gue bilang dari kemaren-kemaren jangan nunduk terus! Elah." Teriak Delia yang hanya dianggap angin lalu oleh Cerlin "Heran gue sama dia tuh! Apa kagak nabrak pohon tuh anak?"


"Gue pulang." Ucap Agnes datar lalu melangkahkan kakinya.

__ADS_1


"Yah pulang sana, mumpung ketosnya lagi sakit." Jawab Delia mulai berhenti tertawa, membuat langkah kaki Agnes langsung berhenti sekilas lalu berjalan kembali.


"Yah gak asik, gak bisa lihat drama lagi."


Sakit? Tumben banget? Batin Agnes tersirat nada khawatir didalamnya?


Agnes masih terus saja berjalan dengan pikiran yang kini malah berpusat pada Alvaro, biasanya dia akan bermain kejar-kejaran dengan Alvaro dan berakhir Alvaro mengumpati dirinya. Hal sederhana begitu saja dapat membuat Agnes senang.


Hanya Alvaro yang peduli dengannya...


"Hai!" Sapa seseorang menghadang jalan Agnes.


Agnes menatap datar pria tersebut, "Mau apa lagi?"


"Dengar-dengar lo habis bunuh seseorang ya?"


"Lo mau gue bunuh?"


"Dan kalau gak salah lo bunuh Mommy tiri lo, Ibunya Salma. Terus lo tau nggak apa yang menarik?"


Gadis itu mulai melangkah, membiarkan Berly mengoceh tak jelas. Lagi pula ia tak tertarik sama sekali dengan ocehan Berly.


"Gue gak sengaja bocorin soal itu ke anaknya! dan sekarang anaknya marah besar, mungkin dia mau balas dendam?"


Dengan gerakan cepat pisau lancip milik Agnes berada dileher Berly, sedikit saja lelaki itu bergerak pisau tersebut akan mengores lehernya.


Agnes tertawa hambar, "Balas dendam? cih, lo bisa bunuh gue aja gak mungkin." Ejek Agnes dengan seringainya.


Berly mengeram marah, "Sombong sekali lo! inget! gue gak selamanya lemah." Berly menepis pisau tersebut.


Namun Agnes dengan cepat mengores leher Berly dengan pisau yang berada ditangan satunya, Lelaki itu terkejut bukan main pasalngya tadi dia yakin Agnes hanya membawa satu pisau.


"Ba-bagaimana bisa?" Berly terkejut bukan main bahkan rasa nyeri dilehernya tak sembanding dengan keterkejutannya, gerakannya cepat sekali!


"See? gue gak pernah makek satu senjata."


"Lo lemah, camkan." Kekeh Agnes membersihkan pisaunya dengan sapu tangan miliknya lalu beranjak pergi dari sana.


Berly menatap nyalang punggung belakang Agnes, ini sama aja merendahkan harga dirinya! bisa-bisanya dirinya kalah dengan cewek sia*an itu!


"Lo yang nyatai perang duluan, Nes!" Geram Berly membuat Agnes berbalik.


Tatapan datar Agnes langsung bertubrukan dengan tatapan penuh permusuhan dari Berly.


"Gue pernah bilang."


"Apa?"


"Jaga markas lo."


Berly menaikkan sebelah alisnya, "Ke-"


"Lo bahkan gak tau keadaan markas lo sekarang gimana." Agnes melempar selembar foto ke arah Berly.


Berly menatap tajam Agnes sekilas lalu memungut foto tersebut, manik mata lelaki itu melotot sempurna lalu bergegas pergi dari sana.


Disana terlihat foto Ansel tengah tersenyum dengan satu jempol menghadap ke arah kamera, bukan! bukan itu yang membuat Berly kaget. Namun pemandangan dibelakang Ansel lah.


Sebuah markas dengan kobaran api yang sangat besar beserta sepanduk dengan tulisan, I winner Drakdekil!


Gue bakal buat lo mati! Batin Berly mantap.


Agnes tertawa terbahak-bahak hingga mengeluarkan air mata, padahal itu hanya sebuah foto palsu yang sengaja Ansel edit.


Mudah sekali menipu Leader DrakDevil, sungguh konyol.


{{{{{{{{KOMEN}}}}}}}}}

__ADS_1


Brakkk.


Seorang gadis dengan pakaian SMA yang masih melekat ditubuh rampingnya itu tiba tiba saja mendobrak paksa pintu kayu yang terlihat usang tersebut, membuat dua orang berjenis kelamin laki-laki yang tengah bermain catur tersentak kaget lalu menatap malas orang yang sudah berani mengganggunya.


"Gue gak mau tau, pokoknya hari ini siksa dia!" Perinta Salma mutlak sambil menatap sebal pria didepannya ini, setelah insiden itu gadis tersebut langsung kesini.


"Kok lo jadi ratu disini!" Kesal laki-laki tersebut (Berly) sambil menatap tajam Salma.


"Gak mau tau! Pokoknya besok gue siksa dia!" Bentak Salma yang mulai tersulut emosi lalu beranjak pergi dari ruangan tersebut.


"Si*lan! Niat gue mau adu domba malah gue yang kena imbasnya, sia*an! Gue dimanfaatin tapi gak apa-apa gue bisa siksa Agnes." Ucap Berly tersenyum penuh misterius "Lo culik orang ini atau nyawa lo taruhannya." Ancam Berly lalu memberikan selembar foto yang terdapat gambar Agnes ke anak buahnya dan dituruti langsung oleh anak buah Berly.


Foto itu dapat ia ambil waktu menghack komputer milik markas Black Diamond Girl. Ya walupun taruhannya identitasnya juga terbongkar, dan komputernya rusak akibat itu.


Semenjak insiden tadi siang, Berly benar-benar akan serius melawan Agnes! Dirinya dengan bodohnya mempercayai ucapan tak masuk akal Agnes hingga berlari dengan baju awut-awutan menuju markasnya berada.


Menanyakan kalimat ngawur kepada anak buahnya yang malah menertawainya. Sial! dirinya ditipu.


Sementara ditempat lain.


Seorang siswi AIHS yang dicap sebagai bad girl kini berdiri dimansion milik sang ketua osis AIHS dengan membawa rantang berisi makanan lengkap dengan lauk pauknya. Aroma semerbak khas makanan mewah tercium di indra penciuman gadis itu kala gadis tersebut keluar dari mobilnya.


Jika kalian bertanya kok bisa Agnes sampai sini? Mudah saja dengan bantuan Ansel semua masalah pasti beres, dan juga Agnes sempat bertanya ke Agata tadi membuat Agata tersenyum lebar, dan mulai memberitahukan sarannya.


Agata nampak semangat saat Agnes menanyainya tentang sesuatu.


Menjenguk sang ketos! Adalah langkah awal!


"Gue datang juga ternyata." Gumam Agnes kedirinya sendiri. Menatap datar mansion tersebut lalu berjalan ke seorang wanita paru baya yang tengah menyapu daun-daun kering didepannya. Agnes tebak ini adalah salah satu pembantu Alvaro "Harus senyum." Gumam Agnes lagi.


"Nek, bisa tolong berikan ini ke Alvaro?" Tanya Agnes mencoba untuk sopan tapi nihil ucapannya masih bersifat datar membuat wanita paru baya tersebut bergetar ketakutan ditambah lagi senyuman mengerikan Agnes.


Agnes kini sudah nampak seperti gadis pschyo.


Persetanan dengan kata sopan!


"O oh i iya N Nak." Tanpa babibu wanita paru baya tersebut mengambil rantang berisi makanan tersebut dari tangan Agnes, setelah itu Agnes langsung pergi tanpa salam sedikit pun. Dasar Agnes!


Gini ya caranya? Batin Agnes bingung, seumur hidupnya baru kali ini dirinya menjenguk laki-laki asing.


Sementara wanita paru baya itu sudah lemas ditempat, "Astaga." Gumamnya sembari berjalan menuju kamar Tuannya berada.


"Bi Atun? Apa itu?" Tanya Nyonya keluarga Anindhito sambil berjalan penuh elegan dari arah tangga. Wanita yang tadinya dipanggil Bi Atun itu pun menoleh lantas tersenyum ke arah Nyonya pemilik kediaman ini.


"Ini dari seorang gadis yang gayanya seperti preman bahkan saat pergi pun gadis itu tak mengucapkan salam, senyumannya juga mengerikan." Oceh Bi Atun dengan geramnya.


Nyonya keluarga Anindhito lantas tertawa pelan, "Jangan nilai buku dari sampulnya, siapa tau itu menantu ku kelak?"


Senyumnnya sangat menawan ditambah lagi gaya anggun itu sangat bermartabat. Walaupun sudah tua namun wanita tersebut masih mendapat julukan 'wanita anggun'


"Memang Nyonya mau menerima gadis seperti itu tuk jadi Nyonya keluarga Anindhito selanjutnya?"


"Saya hanya mencari menantu berhati tulus, tak masalah jika dia orang terbejat sekalipun." Ucap wanita kalem itu lalu mengambil ahli rantang berisikan makanan dari tangan pembantunya, "Saya duluan Bi."


Bi Atun terteguh mendengarkannya, dia sudah salah. Seenaknya menilai sembarang orang.


"Tak salah Tuan muda memiliki sifat baik hati, Ibunya saja seperti itu." Pembantu itu tersenyum lalu mulai berjalan pergi, hendak meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.


BERSAMBUNG~


AGNES GAK BISA SOPAN😂


JANGAN LUPA LIKE 👍 KOMEN💬 KASIH RANTING🌟 DAN TAMBAHKAN FAVORI💟


MAAF AUTHOR TELAT UPDET😧😟


SEE YOU NEXT CHAPTER😁😄

__ADS_1


BABAY~


__ADS_2