Mafia Girl Vs Ketua Osis

Mafia Girl Vs Ketua Osis
EPS 36


__ADS_3

HAPPY READING☺


.


.


.


..."Rasa ingin memiliki itu selalu ada, namun kalah dengan rasa sadar diri... bahwa gue itu siapa lo?"...


...Adelia Faranissa Azni....


.


.


.


.


"Maaf." Lirih Agnes menatap ke arah lain pandangannya setelah melepaskan ikatan Alvaro, dirinya tak ingin menatap tatapan Alvaro yang memancarkan tatapan sendu sekaligus tatapan penuh tanda tanya.


"Untuk?" Tanya Alvaro yang masih setia menatap sayu Agnes, entah mengapa pertanyaan yang ingin Alvaro lontarkan ke Agnes hilang begitu saja.


"Gue udah libatin lo." Jawab Agnes datar berusaha sebisa mungkin menatap bola mata berwarna hitam pekat milik Alvaro yang kini tengah menatapnya sedih.


Sungguh Agnes benci dengan tatapan itu! Lebih baik Alvaro menatapnya kesal saja seperti hari-hari biasanya dari pada begitu!


Greb.


Tiba-tiba saja Alvaro memeluk erat tubuh Agnes membuat Agnes tanpa sengaja membalas pelukan hangat Alvaro, sebuah pelukan dari lelaki asing namun mampu membuat Agnes tenang seketika.


"Kenapa lo harus terjerat dalam dunia gelap ini sih? Kenapa lo gak jadi gadis baik yang penurut saja?" Lirih Alvaro tapi masih dapat terdengar Agnes.


"Suatu hal yang mendesak gue harus jadi kayak gini." Balas Agnes yang masih berada didalam dekapan hangat Alvaro, ini sungguh nyaman! Agnes tak ingin melepaskannya. Ini seperti dekapan hangat milik Mommynya.


"Cobalah untuk berdamai dengan masa lalu lo." Ucap Alvaro yang terdengar seperti saran lalu melepaskan pelukannya, dan menatap hangat manik mata biru laut milik Agnes.


"Itu akan sangat sulit bagi gue." Jawab Agnes menatap balik manik mata hitam milik Alvaro membuat Alvaro mampu merasakan kekecewaan yang amat mendalam yang dirasakan Agnes selama ini, setelah melihat bola mata berwarna biru laut tersebut.


Seberapa lama gadis itu memikul beban sendirian? Untung saja Agnes tak ada niatan tuk mengakhiri hidupnya begitu saja, mungkin?


Eh tunggu! Ini seperti Alvaro menyentuh darah...


Dengan refleks Alvaro memutuskan kontak matanya, dan berahli meneliti penampilan Agnes yang kini banyak darah dimana-mana. Oh astaga! Dari mana Agnes mendapatkan darah sebanyak ini?


Brugh.


Tiba-tiba saja Agnes jatuh dipelukannya, gadis itu pingsan! Membuat Alvaro kebinggungan. Membawanya menuju rumah sakit? Alvaro bahkan tak bawa mobil tadi.


Drrrrt drrtt drrtt.


Alvaro dengan sigap merogoh saku celana Agnes, dan dapat! Untung saja Agnes membawa handphone jadi pasti ada yang bisa dimintai tolong. syukurlah~


Ansel


Nes.


Agnes!


Woy jawab si*lan!


Gue bener-bener khawatir si*lan!


Lo kok ga balik-balik?


Lo kapan balik?


Lo kenapa?


Jawab gue!


Lo ada dimarkas DrakDevil?


Lo tunggu gue! Gue kesana.


(Read)


Ia tak tau Ansel siapa yang jelas orang itu akan menolong mereka berdua. Melihat begitu banyak pesan beruntun yang dikirimkan oleh lelaki asing itu, dan juga beberapa kali lelaki itu menelpon. Pertanda itu sudah jelas! Bahwa lelaki asing itu pasti akan menyelamatkan mereka berdua.


Ya walaupun Alvaro sempat cemburu tadi....


"Bertahan Nes...." Alvaro masih setia memeluk Agnes.


Brakk.


Pintu ruangan itu didobrak paksa menampakkan sosok pria dengan rambut acak-acakan, dan nafas yang tersengal-sengal lalu dengan sigap pria itu mengendong ala brindalstyel tubuh Agnes layaknya sosok Abang.

__ADS_1


Laki-laki itu kan yang dulunya menolongnya waktu dipalak geng Mafia Tengkorak? Begitulah yang ada dipikiran Alvaro.


"Bentar lagi anak buah gue kesini jemput lo, thanks udah jagain Adek gue."


Alvaro masih diam ditempat mencerna kata tiap kata yang dilontarkan pria itu yang kini telah berlalu pergi.


Satu hal yang Alvaro ketahui tentang Agnes, gadis itu....


MAFIA!


"Tunggu! Gue mau ikut lo."


Ansel menghentikkan langkahnya seraya menatap Alvaro dari atas ke bawah, wajah lesu tercetak jelas diwajah Alvaro "Lo yakin?"


"Ya."


"Dengan keadaan lo seperti itu? Lo bahkan bikin Agnes tambah bersalah nantinya." Alvaro terdiam sementara Ansel tersenyum "Pulanglah, Agnes aman bersama gue karena gue Abangnya."


"Kalau begitu tolong katakan ini pada Agnes setelah gadis itu bangun."


Ansel menghentikan langkah kakinya, "Apa?"


"Masakannya enak."


Ansel tersenyum lalu mulai melanjutkan langkahnya kembali, "Lo emang pantes buat Agnes."


______LIKE______


"Bagaimana keadaan Adik saya, Dok?" Tanya Ansel panik setelah seorang perempuan berjas putih keluar dari kamar Agnes.


"Untung lah tidak ada yang serius walaupun cukup banyak menghabiskan darah, luka-luka juga dapat disembuhkan jika rutin memakai salep yang kami berikan." Jeda Dokter itu, "Saya tidak tau Adik anda terkena apa hingga membuat saya kaget dengan banyaknya darah saat anda membawanya kesini."


Ansel meneguk susah payah salivanya, dia harus menjawab apa? kecelakaan? kecelakaan tidak parah seperti ini! disiksa? bisa-bisa Agnes akan diintrogasi nantinya oleh pihak berwajib.


Lelaki itu hanya diam saja, tak mau menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Dokter tersebut.


Merasa tidak dijawab, Dokter itu tersenyum. "Anda bisa menjenguk Adik anda, saya permisi."


Setelah kepergian dokter itu, Ansel dengan cepat membuka knop pintu didepannya. Manik matanya langsung disuguhi pemandangan Agnes yang tengah menatap lurus ke arah depan.


"Gue dimana?" Tanya Agnes pada Ansel yang berjalan perlahan mendekatinya.


Ansel tersentak kaget.


"Lo gak usah kayak di sinetron deh, gue dimana? gue siapa? lo siapa?" Ucap Ansel menye-menye, "Lo dirumah sakit."


"Wajar dong! DrakDevil ngapain lo sampai lo berdarah gitu?"


"Cambuk." Ansel melototkan matanya, "Alvaro mana?"


"Lo khawatirin diri lo sendiri kek, Nes! baru khawatirin orang lain. Lo dicambuk loh ini!"


"Jawab gue." Ansel mengacak rambutnya kasar.


"Lo buat gue frustasi, Nes! Alvaro udah gue suruh pulang."


"Sama siapa?" Tanya Agnes menatap tajam Ansel.


"Yaelah, biasa kali mata lo itu. Sama anak buah loh kok! tenang aja, karena gue tau dia spesial bagi lo jadi gak gue biarin lecet."


"Bagus."


"Gimana keadaan lo?"


"Apanya?" Tanya balik Agnes dengan raut wajah bingung.


"Aishh, susah emang ngomong sama lo yang gak khawatir sama sekali dengan kondisi lo." Kesal Ansel, "Lain kali lo hubungi gue dulu atau bawa anak buah lo sebagian, lo gak tau seberapa khawatirnya gue? gue keliling cuman cari lo, Nes!"


"Tapi sekarang gue baik-baik aja."


"Untuk sekarang lo emang baik-baik aja! tapi nanti bagaimana? lo jangan semudah itu biarin nyawa lo melayang. Gue sayang sama lo! gue gak mau kehilangan lo, Nes. Lo Adek gue satu-satunya! lo yang ngajarin gue gimana caranya bertahan dengan keadaan, lo selalu ada buat gue, lo yang semangatin gue."


Agnes diam saja menatap Ansel yang nampak menghembuskan nafasnya kasar dengan manik mata yang nampak berkaca-kaca.


"Gue gak tau sehancur apa gue kalau lo ninggalin gue..." Lirih Ansel, "Gue sayang sama lo, Nes! gue mohon jangan bertingkah gegabah seperti ini. Lo gak tau? sebanyak apa darah lo tadi?"


"Makasih, gak salah emang lo jadi Abang gue." Ucap Agnes. Walau tidak disertai senyuman, Ansel dapat melihat jelas jika Agnes mengatakan tulus kepadanya.


Sebenarnya gadis itu mudah sekali ditebak perasaannya namun jika kalian telah lama hidup disamping Agnes.


"Yeah, sama-sama." Jawab Ansel terharu., "Katanya masakan lo enak, ternyata lo bisa masak ya? mau dong di masakin."


Agnes mengerutkan alisnya, merasa bingung dengan ucapan Ansel yang terkesan mengodanya. Namun sedetik kemudian Agnes tersenyum tipis.


Itu dari Alvaro, pasti!


"Nanti ikut gue bantai DrakDevil."

__ADS_1


"AGNES! LO KENAPA?" Teriak nyaring dari arah pintu.


♡♡♡♡TAMBAHKAN FAVORIT♡♡♡♡


"Adelia Faranissa A?" Ucap sang Guru fisika yang terkenal killer (Tatik) sedang mengabsen satu persatu anak muridnya barang kali ada yang membolos atau terlambatkan?


Guru itu sangat tepat waktu jika sedang mengajar.


"Hadir Bu!" Jawab Delia semangat sambil mengangkat satu tangannya ke atas.


"Alisa Adrian E?"


"Hadir Bu."


"Alvaro Marcello Anindito?"


"Hadir Bu."


"Agnes?" Ucap Tatik seketika kelas tersebut langsung hening membuat Tatik kebinggungan karena tidak ada yang menyahut, perasaan kelasnya tadi ramai akan guyonan para murid deh tapi sekarang kok hening?


"Agnes?" Ulang Tatik tapi tetap saja kelas tersebut hening.


Hanya nama Agnes yang singkat tidak seperti yang lain seolah jati diri gadis itu tertutup rapat, padahal hanya nama?


Brakkk.


Tiba-tiba saja pintu kelas yang terbuat dari kayu tersebut terbuka lebar menampilkan seorang perempuan dengan wajah datarnya itu, tapi masih terlihat cantik! Siapa lagi kalau bukan bad girlnya AIHS (Agnes).


"Hadir." Jawab Agnes datar lalu berjalan santai menuju bangkunya tanpa memperdulikan tatapan kesal dari Tatik.


"Kamu. Keluar. Sekarang. Juga!" Kesal Tatik penuh dengan penekanan disetiap ucapannya.


"Oh." Jawab Agnes datar lalu berjalan santai melewati Tatik yang kini menatap sinis Agnes, membuat kelas tersebut yang awalnya hening sekarang menjadi ramai.


Kapan lo tobatnya Nes! Nes! Batin Delia dan Lisa sambil menghela nafas panjang.


Masih sama sifatnya. Batin Alvaro menatap sedih punggung Agnes yang lama-kelama hilang, dia kira Agnes akan berubah sejak insiden kemarin.


Tapi nyatanya?


Eh iya, bagaimana lukanya?


"Bu saya ijin ke toilet." Izin Alvaro yang langsung dibalas anggukan oleh Tatik, lelaki itu berlari cepat mencari Agnes namun gadis itu malah pergi duluan.


[[[[[[[[[[[[[[[[[[VOTE]]]]]]]]]]]]]]]]]]]


"Hai Mom, dan Dek. Apa kabar?" Tanya Kevin dikedua gundungkan bertuliskan Alexandra Unna, dan Agni Clarinta Alexandra. Tempat peristirahatan terakhir dua orang yang amat Kevin sayangi.


Entahlah ada apa dengan Kevin hari ini yang rela membolos sekolah demi melihat kedua gundukan milik Mommynya, dan Adik kandung perempuannya tersebut.


"Maafkan Kevin yang gak pernah berkunjung, dan maafkan Kevin sudah lalai dalam menjaga Agnes... Kalian berdua pasti kecewakan sama Kevin?" Tanya Kevin menatap hangat kedua nisan tersebut.


Sebenarnya Kevin sama dengan Agnes, sama-sama menaruh dendam yang besar dengan Abraham namun lelaki itu terlalu bodoh untuk sekedar mengambil keputusan.


Dirinya malah memilih hidup aman tentram dengan Abraham tanpa berminat bergabung dengan Agnes, memang benar-benar Kakak yang bodoh.


Kevin berahli menatap sayang ke arah nisan Adiknya, tangannya terulur mengelus sayang batu nisan itu "Terimakasih karena masih bersama Agnes. Kalian tau? Agnes tambah dingin sifatnya tak seperti dulu, tapi tenang! Kevin akan berusaha semampu Kevin agar sifat Agnes kembali lagi seperti sedia kala."


"Sedang apa lo?" Tanya Agnes datar sambil membawa keranjang bunga ditangannya lalu menatap datar ke arah Abangnya itu.


Kevin menoleh lalu kemudian mengerutkan keningnya saat dirasa ucapan Agnes agak tak menyenangkan "Gue lagi berkunjung dimakam Mommy, dan Adek gue. Gue kangen sekali." Jawab Kevin tersenyum hangat ke arah Agnes.


"Masih anggap Mommy Unna Mommy lo? Terus gimana dengan Ana?" Tanya Agnes datar, dan dingin. Sungguh ia sangat amat kecewa dengan Abangnya itu namun Agnes bisa apa? Mencoba marah? Tentu saja percuma, sebab ia sudah tak dipercaya lagi dengan Daddynya apalagi abangnya?


Yang ia harus lakukan sekarang adalah mencari bukti, dan mengembalikan kembali suasana rumahnya tanpa kedua orang yang ia sayang. Walau nantinya suasana rumah akan berbeda tapi Agnes tak akan membiarkan masalah ini mengalir begitu saja!


"Lo nggomong apa sih Dek? Mommy Unna tetap Mommy gue lah! Mommy yang ngelahirin gue, dan ngebesarin gue dari kecil." Jawab Kevin masih tetap setia menatap sayang ke arah Adik perempuannya tersebut.


"Bukannya Mommy lo cuma Ana? cuman gara-gara Ana hilang lo baru inget Mommy Unna? ck." Tanya Agnes lagi masih dengan nada yang sama yaitu datar, dan dingin. Membuat Kevin langsung terteguh mendengarnya.


Ya memang Agnes baru kali ini berbicara panjang dengan Kevin namun ucapannya terkesan sangat menusuk baginya ditambah lagi nada datar itu


"Lo benar-benar berubah Dek." Lirih Kevin menatap sedih wajah datar Agnes lalu pergi dari kuburan tersebut.


Gue kayak gini gara-gara lo Bang. Batin Agnes menatap sedih punggung Kevin yang lama-kelama hilang, kenapa? Kenapa! Abangnya itu tak mau berusaha bersama dengan Agnes untuk mencari kebenaran yang ada! Ini malah dirinya yang berusaha sendiri!


Gue kangen main bareng lo sama Kak Agni kayak dulu lagi. Batin Agnes lagi tiba-tiba saja kenangan bahagia waktu kecilnya terlintas begitu saja diotaknya membuatnya tanpa sadar tersenyum bahagia, sudah lama dirinya tak tersenyum.


BERSAMBUNG~


SABAR NES SABAR😂


JANGAN LUPA LIKE 👍 KOMEN💬👇 KASIH RANTING🌟 AND TAMBAHKAN FAVORIT 💟 JIKA SUKAK SAMA NIH NOVEL KU YANG SANGAT ABSURD😂😅


SEE YOU NEXT CHAPTER😄😉


BABAY~

__ADS_1


__ADS_2