
HAPPY READINGš
.
.
..."Gue harap gue tidak salah menitipkan Adik gue, tapi jika orang itu gak becus jaga Adik gue! Gue bakal ambil kembali Adik gue apa pun caranya."...
...Agni Clarintta Alxandra....
.
.
.
Dua tahun berlalu.
Kalian tau hal apa yang sangat membahagiakan kedua pasang yang telah resmi menikah? Kabar itu adalah kabar kehamilan anak pertama dari kedua orang tua bernama Agnes Charissa Alexandra dengan Alvaro Marchello Anindito.
Bahkan kehamilannya saat ini sudah berangsur 9 bulan lamanya tinggal tunggu tanggal lahirannya aja, gak nyangkakan kalau Agnes yang sangat badgirl itu tiba-tiba hamil? Ups.
Yaps dua pasangan yang telah menikah satu tahun yang lalu kini telah dikaruniai anak kembar cewek dan cowok membuat sifat posesif Alvaro semakin bertambah dari hari-hari biasannya. Yuk kita lihat cuplikannya š
"Sayang jangan ke dapur, sudah berapa kali aku bilang biar pembantu kita aja!"
"Sayang apa kamu nggak khawatir dengan bayi kita?"
"Sayang jangan pegang itu!"
"Stop, sayang berhenti disitu!"
"Sayang kamu dengar nggak apa yang aku bilang?"
"Sudah-sudah sayang lebih baik kamu duduk manis di sofa aja deh, dari pada buat jantung ku mau copot rasanya."
Bla bla bla dan bla.
Begitulah yang sedari tadi ucapan Alvaro, yang selalu menghiasi mansion megah tersebut. Membuat Agnes kesal dan memilih untuk duduk di sofa dari pada mendengarkan ocehan Alvaro yang tiada hentinya padahalkan Agnes baru saja memegang pisau untuk mengupas bawang karena merasa kasihan dengan pembantu rumahnya yang sedari tadi berkerja keras.
Hanya memegang pisau saja! Bahkan dirinya dulu memegang yang lebih tajam dari pisau.
"Nyenyenye, Al kayaknya aku pingin sesuatu deh." Ucap Agnes setelah Alvaro duduk disebelah gadis itu sambil membenarkan letak dasinya, ingin berangkat ke kantor karena mengurus dua perusahan sekaligus yaitu punya istrinya dan punyanya sendiri.
Tak mungkinkan jika Agnes mengurus perusahaannya sendiri? Bertanya tentang Kenzo? Sang Adik tiri Agnes?
Dia sudah tumbuh besar sekarang dan tengah mengurus Abraham serta perusahan Abraham sementara Kevin? Sang Abang Agnes? Dia hidup dengan sederhana.
Kevin sengaja menolak tawaran Abraham agar mengurus perusahannya dan tinggal dimansion Alexandra beserta istrinya tapi Kevin tak mau karena Kavin ingin belajar hidup sederhana.
Sementara dua sahabatnya? Mereka berdua tetanggaan, hanya beda kampung saja. Kedua sahabatnya itu bahkan sering berkunjung dimansion Agnes hanya sekedar bermain saja.
"Apa itu?" Tanya Alvaro yang kini beralih membenarkan rambutnya.
"Aku ingin bunuh orang, tapi orangnya kamu." Jawab Agnes ngelantur membuat Alvaro langsung berhenti membenarkan rambutnya karena ucapan sang istri yang tiba-tiba, dia lupa bahwa istrinya tersebut mantan Mafia.
Ya, mantan Mafia karena Alvaro yang tidak ingin nyawa istrinya tersebut hilang lagi jadi Alvaro memaksa Agnes untuk berhenti menjadi Mafia walaupun Agnes sempat menolak keputusan Alvaro tapi...
Flashback on.
Satu meja dan dua kursi saling berhadapan dihias sebagus mungkin dengan aneka hidangan mewah sebagai pelengkap meja itu, kini tengah diduduki tamu VVIP restauran terkenal disana.
Tamu itu nampak serasi dengan balutan dress serta jas couple.
"Mau kemana kamu?" Tanya Alvaro ketika melihat Agnes berdiri dari tempat duduknya setelah mengangkat telepon.
"Biasa Mafia ku." Jawab Agnes enteng membuat rahang Alvaro langsung mengngeras seketika, jawaban macam apa itu? Santai sekali Agnes menjawabnya! Dia tidak tau hari itu Alvaro benar-benar ingin mati saja rasanya ketika tidak ada lagi belahan jiwanya disisinya. Tapi lihatlah sekarang?
Sungguh Alvaro dibuat binggung oleh pemikiran kekasihnya tersebut.
__ADS_1
"Keluarlah dari dunia gelap itu." Ucap mungkin lebih tepatnya suruh Alvaro datar dan dingin membuat Agnes langsung menatap tak suka Alvaro.
Apa-apaan Alvaro? Mafia itukan sudah bertahun-tahun lamanya Agnes buat, tapi dengan mudahnya Alvaro mengatakan bahwa ia harus keluar! Benar-benar tidak waras.
"Gak." Jawab Agnes datar dan dingin juga, Alvaro langsung menatap bola mata berwarna biru laut milik Agnes begitu juga dengan Agnes menatap balik bola mata hitam pekat milik Alvaro.
Kedua sejoli itu nampak saling melemparkan tatapan dinginnya masing-masing hingga atmosfer dimeja tersebut terasa mencengkam.
"Keluar!" Suruh Alvaro datar.
"Kalau aku bilang gak ya gak!" Ucap Agnes mantap lalu beranjak pergi dari tempat duduknya membiarkan Alvaro yang sedari tadi meneriaki namanya berulang-ulang kali.
"Bang*at!" Kesal Agnes mempercepat laju kendaraannya menuju markasnya.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mobil hitam pekat yang dinaiki Agnes berhenti tepat pada rumah tua dengan sepuluh anak buah yang sudah menyambutnya.
Agnes berjalan dengan langkah cepat tak lupa pula memakai topengnya.
Brakk.
Agnes dengan tidak sabaran mendorong pintu ruangan khusus miliknya membuat Ansel yang mencuri wifi milik Agnes langsung kaget.
"Eh ayam, njir* gue ketauan." Gumam Ansel menelan susah payah salivanya sedangkan Agnes langsung duduk dikursinya sambil memijat pelan pelipisnya "Lo ada apa?" Tanya Ansel menatap kasihan Adik angkatnya tersebut.
"Gue binggung....." Gadis itu nampak mengeluarkan handphonenya lantas menghidupkannya, disana terlihat foto dirinya dengan kekasihnya saat dipantai tengah tersenyum senang, senyuman itu menular hingga membuat Agnes ikutan tersenyum "Gue harus keluar dari Mafia atau gak?"
"Pasti Alvaro yang nyuruh." Tebak Ansel, Agnes mengangguk lesu.
Beginilah sifat asli Agnes dia bakalan lebih terbuka jika dengan orang-orang yang dia sayangi, jika dengan orang asing dia bakalan menggunakan nada datar dan dinginnya namun beda lagi jika dengan Alvaro.
"Ya gue lebih mihak Alvaro sih, lo harusnya keluar aja didunia gelap dan lo harusnya lebih fokus ke masa depan! Dunia gelap biar gue yang atur mungkin nanti anak-anak lo bisa terusin." Usul Ansel membuat Agnes terkejut bukan main, iya juga yah? Dia takut nanti ada apa-apa dengan keluarganya mengingat anggota DrakDevil masih belum dibantai dan begitu juga dengan Mafia lainnya yang pasti akan mengincar gelar nomor satu yang dimilik Mafia Agnes.
"Thanks."
"It's ok." Jawab Ansel kembali memainkan handphonenya, sama sekali tidak merasa bersalah padahal sudah mencuri wifi milik Agnes.
Agnes menatap lama layar handphonenya hingga layar itu mati tapi langsung dihidupkan kembali oleh gadis itu, begitu seterusnya sampai gadis itu puas.
"Sial!" Kesal Alvaro setelah melihat mobil sport hitam pekat milik Agnes perlahan menghilang.
"Lo ada masalah apa lagi Adik ipar?" Tanya seseorang laki-laki dengan setelan kaos oblong ditubuhnya sambil menepuk pelan pundak Alvaro, dia Kevin.
"Menurut lo gue egois yah?" Tanya balik Alvaro dan memulai pembicaraannya sambil berjalan menuju restoran tempat dia dan Agnes dinner tadi.
"Menurut gue tindakan lo sih bagus, tapi lo harusnya lebih lembut dong dengan cewek! Masa lo jadi cowok gitu.... Inget bro cewek itu dilembutin bukan dikasarin! Bicara pelan-pelan aja bro gue yakin pasti Adek gue ngerti." Saran Kevin lalu menarik kursi dan duduk setelah mendengarkan semua curhatan Alvaro.
Drrrttt.
Tiba-tiba ponsel Kevin bergetar menandahkan seseorang telah mengngirim pesan membuat Kevin langsung membacanya, setelah itu menepuk pelan dahinya.
"Intinya lo sabar aja yah sama Adek gue yang super keras kepala, sorry gak bisa lama-lama bini gue nyariin." Pamit Kevin menepuk pelan bahu Alvaro lalu bergegas pergi karena ia lupa kalau Lisa menitipkan sesuatu makanan aneh biasa bumil ngidam aneh-aneh maunya diturutin terus.
"Apa yang dikatakan Kevin benar, mungkin gue harus minta maaf duluan." Gumam Alvaro lalu menyusun rencana perminta maafannya sekalian satu rencana yang menurutnya amat penting?
Keesokan paginya.
Ddrrtttt.
Bunyi getaran handphone mampu membanggunkan sosok gadis cantik yang sedang bergulat dengan kasurnya.
"Hoam, ha? Alvaro." Gumam Agnes yang masih merasakan kantung yang amat mendalam karena baru saja Agnes tertidur sudah dibangunkan pukul enam pagi pula.
Boyfriend
Aku tunggu di cafe xxx sekarang ya sayang!
Pesan singkat tersebut mampu membuat mata Agnes terbuka lebar, pasalnya tadi malam Alvaro benar-benar marah padanya begitu juga sebaliknya tapi mengapa sekarang seakan tidak terjadi apa-apa semalam? Ah sudahlah lebih baik dia mandi dan bergegas pergi menuju Alvaro berada.
ā”ā”ā”TAMBAHKAN FAVORITā”ā”ā”
__ADS_1
"Atas nama Nona Agnes Charissa Alexandra?" Hampir saja jantung Agnes copot karena suara pegawai caffe tersebut padahal belum masuk ke dalam caffe itu yang nampak mewah jika dilihat dari depan.
"Ya." Jawab Agnes datar.
"Mari ikut saya." Ucap pegawai perempuan tersebut dengan nada formal serta sopan, membawa Agnes masuk kedalam caffe yang amat sepi dan hanya menyisakan satu kursi dan satu meja berbentuk bulat yang menghadap ke arah panggung kecil didepannya.
Serasa tamu VVIP aja gue. Batin Agnes langsung duduk ke tempat kursi yang telah disediakan lalu pegawai wanita tersebut hilang layaknya hantu dan tiba-tiba semua lampu di caffe tersebut mendadak mati kecuali lampu panggung kecil didepannya, membuat Agnes hanya fokus ke arah depan dan terlihatlah sosok pria yang tengah memainkan piano lalu mulai menyanyikan sebuah lagu.
Pria itu nampak tampan dengan balutan jas berwarna hitamnya serta rambutnya yang tertata se rapi mungkin.
Disini kau dan aku...
Terbiasa bersama...
Menjalani kasih sayang...
bahagia, ku dengan mu...
Pernahkah? Kau menguntai, hari paling indah...
Ku ukir nama kita berdua....
Disini, surga kita...
Bila kita mencintai yang lain...
Mungkinkah hati ini akan tegar? Sebisa mungkin.... tak akan pernah...
Sayang ku akan hilang....
If you love somebody could we be this strong....
I will fight to win our love will conquer.... All wouldn't reach my love, Even just one night...
Our love will stay in my heart...
My heart....
Ketika alunan piano serta suara tersebut terhenti, barulah sosok laki-laki tersebut menghampiri meja Agnes lalu berlutut dan mulai membuka sebuah kotak yang berisi cincin berwarna perak dengan mutiara diatasnya.
"Will you marry me? And I'm so sorry...." Tanya Alvaro serius, membuat Agnes langsung terdiam menatap Alvaro.
Apa ini? Padahal Agnes yang salah! Kenapa Alvaro yang minta maaf? Agnes jadi berasa dirinya pacar yang tak pengertian.
Greb.
Tiba-tiba Agnes langsung memeluk erat tubuh Alvaro sambil membisikan sesuatu tepat pada telinga Alvaro membuat Alvaro langsung membalas pelukan Agnes.
"Yes I will." Begitulah bisikan lembut Agnes yang mampu membuat Alvaro tersenyum.
"Thanks." Tepat saat Alvaro mengucapkan itu tiba-tiba lampu ruangan tersebut menyala memperlihatkan semua anggota keluarga Agnes maupun Alvaro yang kini telah bertepuk tangan.
"Semoga menjadi keluarga yang baik!" Ucap mereka dengan bersamaan, membiarkan kedua sejoli tersebut saling berpelukan.
Flashback off.
Cup.
Alvaro langsung mencium kening istrinya tersebut dengan lama.
"Jangan nakal-nakal yah dirumah? jadilah gadis baik oke!" Ucap Alvaro lalu bergegas pergi meninggalkan Agnes yang diam mematung.
Apa itu tadi? Batin Agnes yang masih melamun.
BERSAMBUNG~
DITUNGGU EXTRA CHAPTER BERIKUTNYAš "JANGAN LUPA JAGA KESEHATAN SEMUAš" UCAP SEMUA TOKOH MGVKO
LIKE, KOMEN, KASIH RANTING, DAN TAMBAH KAN FAVORIT šJANGAN LUPAš
__ADS_1
SEE YOU NEXT CHAPTERš
BABAY