Mafia Girl Vs Ketua Osis

Mafia Girl Vs Ketua Osis
EPS 21


__ADS_3

HAPPY READING💛


.


.


.


.


.


"Lo pasti bolos sekolah kan! Gue bilangin ke Daddy lo!" Sinis Ana ketika melihat Agnes dengan santainya menaiki tangga menuju kamarnya, setelah mendengar itu Agnes pun berhenti lalu berbalik berjalan menuju Ana dan menatap datar wajah Ana.


Mungkin adu bacot dengan Mommy tiri tersayangnya itu, boleh juga. Mumpung dirinya punya waktu sedikit.


Agnes mengerutkan keningnya, pengaduh rupanya"Silahkan." Balas Agnes datar dan dingin.


"Oke" Ucap Ana lalu memberitahu Daddy Agnes siapa lagi kalau bukan Abraham lewat sms.


Jari jemari Ana yang dihiasi kutek berwarna merah, mengetik lincah diatas handphone keluaran terbarunya "Hahaha, lihat gue menang! Nanti Daddy lo bakal marahin lo terus gue lihat pertunjukan lo lagi deh." Sambung Ana tertawa jahat.


"Puasin aja dulu ja*ang uang Daddy gue tapi nanti nikmati kematian lo! karena gue gak bakal diam saja ketika dua orang yang amat gue sayang mati sia-sia ditangan busuk lo itu, camkan ini!" Bisik Agnes datar dan dingin tepat pada telinga Ana membuat bulu kuduk Ana berdiri semua, Agnes memang baru kali ini berbicara panjang namun nadanya terdengar tak bersahabat sedikit pun.


Ini adalah salah satu rencananya, bukannya Agnes bodoh bukan! Tapi gadis itu punya cara tersendiri sebelum menyiksa parasit itu.


"Hahaha, gue gak bakal percaya omongan lo bocah!" Marah Ana mencoba memberanikan diri agar tidak terlihat lemah dihadapan Agnes dan dibalas senyuman mengerikan dari Agnes, Agnes lalu pergi dari hadapan Ana menuju mobil sport warna hitam pekat miliknya. Mobil itu adalah mobil kesayangan Agnes.


Agnes mengendarahi mobilnya dengan kecepatan penuh menuju tempat yang selalu membuatnya menangis itu, namun dengan menangis ditempat itu entah mengapa perasaan lega Agnes muncul.


Mobil mewah itu terparkir sempurna didepan tempat yang bertuliskan 'makam' gadis itu membeli bunga keranjang ke penjual yang selalu berjualan bunga didaerah itu.


Berjalan dengan langkah ringan hingga langkah itu terhenti tepat dikedua gundukan yang amat ia sayangi, air mata tanpa diundang pun menetes begitu saja kala menatap nisan didepannya, rasa sesak langsung menyerang rongga dadanya.


Agnes berjongkok "Tenang Kak dan Mommy aku bakalan bersumpah akan membunuh Ana dengan tangan ku sendiri karena berani-beraninya mengusik kehidupan damai ku serta membunuh kalian berdua bila perlu aku akan membunuh Salma lalu Kenzo." Sedih Agnes mengelus sayang batu nisan yang bertuliskan Agni Clarinta Alexandra serta Unna Alexandra lalu menaburkan bunga yang ia beli tadi dikedua gundukan tersebut dengan perasaan sedih, marah, dan menyesal karena waktu itu ia tak sempat menyelamatkan Mommy kesayangannya.


Kalau saja! Kalau saja ia tepat waktu hari itu, ini semua takkan terjadi.


Dulu ia terlalu bodoh dan hanya bisa menangis saja tanpa mau bertindak tapi sekarang...


"Kak, Mom maafkan Agnes yang sudah terjerat didunia gelap. Dunia yang tak seharusnya Agnes tepati dan dunia yang paling kalian berdua benci! Pasti kalian berdua benci Agnes kan? Gak papa memang pantas kalian benci Agnes, Agnes hanya ingin membalas dendam kalian berdua kok! Setelah itu Agnes janji akan meninggalkan dunia gelap itu." sambung Agnes tersenyum manis hingga lesung pipinya terlihat jelas, dan dalam tapi tak lama setelah itu bulir-bulir bening mengalir membasahi pipi mulus Agnes dengan deras sampai jatuh ke tanah milik Agni lalu entah mengapa hujan lebat datang seakan mengerti perasaan Agnes saat ini, membuat tubuh Agnes basah kuyub tapi Agnes tak peduli ia masih saja terus menangis.


Air hujan yang dingin itu tak kunjung membuat gadis lemah itu beranjak dari tempat itu.


"Hiks kalian berdua memang jago membuat ku menangis, aku rindu kalian berdua sangat-sangat rindu kalian, kalian jahat! Jahat sekali! Kalian tega ninggalin Agnes disini sendirian." Tangis Agnes begitu deras dibawah lebatnya hujan lalu memeluk satu persatu batu nisan mereka berdua sambil mengucapkan kata 'rindu' berharap mereka berdua mendengarnya.

__ADS_1


Agnes menatap lama nisan didepannya ini sembari mengecupnya lama, gadis itu berdiri lalu berjalan pergi menuju mobilnya berada.


Kesal, marah, emosi itu semua yang mewakili perasaan Agnes saat ini, diderasnya hujan mobil sport berwarna hitam pekat tengah melaju kencang membiarkan orang-orang menyumpahinya karena mengendarai mobil yang sangat ugal-ugalan.


Ckitttt.


Agnes merem mobilnya mendadak ketika dirinya hampir saja masuk jurang. Sedikit lagi nyawanya hampir melayang kalau tadi Agnes tak membelokkan stirnya dengan cepat, untung saja disana tidak ada pepohonan.


"Sial! Gue udah gila! Cuma gara-gara Ana doang, hahaha." Ucap Agnes tertawa garing, perlahan tawa itu mengecil lalu berhenti hingga membuat mobil itu tiba-tiba hening.


"Mati! Mati! Mati lo ja*ang kep*rat sia*an!" Emosi Agnes dengan memukul-mukul stir kemudinya lalu melajukan kembali mobilnya menuju markasnya berada.


"Miss." Hormat semua anak buahnya.


"Ada penghianat?" Tanya Agnes datar dan dingin ke Ansel setelah sampai ke markasnya dengan baju yang dibiarkan basah serta topeng yang bertengger manis diwajah cantiknya.


"G gak a ada cuma mata-mata aja d diruang penyiksaan." Balas Ansel terbata-bata karena nada bicara Agnes yang sangat dingin tidak seperti biasanya, setelah mendengar itu Agnes langsung pergi ke ruang penyiksaan untuk melampiaskan semua kemarahannya.


Brakkkk.


Agnes menendang paksa pintu ruangan tersebut dengan kakinya, membuat anak buahnya yang ingin menyiksa mata-mata tersebut terlonjak kaget.


"Miss." Hormat sopan dari anak buah Agnes sambil membungkukkan badannya.


"Gue yang tanganin." Ucap Agnes datar dan dingin lalu dituriti oleh anak buahnya.


"Oh jadi lo Leadernya?" Tanya mata-mata tersebut yang tangan dengan kakinya diikat dikursi ketika Agnes berdiri tepat didepannya sambil memegang pisau lipat ditangannya.


Srettt.


Tanpa aba-aba Agnes langsung menyilet lengan tangan milik mata-mata tersebut dengan pisau lipat yang selalu ia bawa kemana-mana.


"Aarggh, lumayan juga kekuatan lo! girl." Ucap mata-mata tersebut berani padahal ajalnya akan segera tiba.


"Lo, siapa yang nyuruh?" Tanya Agnes datar dan dingin tapi tidak dihiraukan oleh pria tersebut, memang benar-benar cari mati!


Sekelebat bayangan Ana yang tengah bermesran ria dengan Abraham muncul dalam benak Agnes membuat gadis itu tanpa sengaja menekan pisau lipatnya pada leher pria itu hingga pria itu mati, Harusnya Mommynya yang berada diatas pangkuan Abraham waktu itu! Harusnya Mommynya yang kini tengah berfoya-foya dengan uang Abraham! Bukan wanita jahanam itu!


****! Batin Agnes menggeram marah, gadis itu membuang asal pisaunya lalu pergi dari sana meninggalkan mayat pria tadi.


"Nes!" Agnes berbalik saat mendengar namanya dipanggil seseorang, "Lo kenapa, hm? cerita sama gue."


Dia adalah Ansel.


"Tapi sebelum itu ganti dulu baju lo nanti lo sakit." Agnes menatap lama Ansel dengan raut wajah emosi namun setelah itu terdengar helaan nafas dari mulut gadis Tersebut.

__ADS_1


"Kenapa? apa yang membuat lo sampai semarah ini?" Tanya Ansel lagi.


"Biasa." Ansel mengangguk paham. Masalah ibu tirinya Agnes lagi ternyata, Ansel sudah menebak itu sedari awal.


Apa lagi yang membuat Agnes marah kalau bukan hal-hal yang bersangkutan dengan keluarga palsu itu.


"Gue butuh informasi."


"Apa?"


"Drakdevil."


"Kenapa? dia buat onar lagi?" Lagi-lagi Agnes menatap Ansel.


"Gue takut dia bongkar rahasia gue dan yang paling gue takutin adalah, dia nyakitin orang terdekat gue." Racau Agnes, "Gue udah muak dengan Ana sekarang bertambah Berly, kenapa begitu banyak hama disekeliling gue?" Agnes memijit pelan keningnya.


"Lo gak boleh takut! lo harus tunjukin ke semua hama lo itu kalau lo itu sekuat baja, ya walaupun gue tau lo cuman manusia biasa. Tapi kalau lo tiba-tiba melemah gini lo akan ditindas mereka." Ucap Ansel membuat Agnes terdiam.


"Lo bener. Gue harus jadi kuat agar gue gak kehilangan orang yang gue sayangin lagi."


Ansel menepuk pundak Agnes pelan, "Itu baru adek gue!" Ansel tersenyum, "Gue bakal cari semampu gue semua informasi dari Berly."


"Gue percaya sama lo, karena cuman lo yang gue punya." Agnes tersenyum samar, "Makasih." Gadis itu melangkah pergi.


Sementara Ansel masih terdiam.


"Agnes tadi senyum kan? iya kan?" Tanya Ansel pada dirinya sendiri, "Dia senyum sama gue! gue dapet senyum pertama Agnes! harus pamer ke Agata."


Ansel berjalan cepat menuju Agnes.


"Nes lo tadi senyum kan? iya kan? lo harus bilang iya! kalau nggak-"


"Kalau nggak kenapa?" Tanya Agnes datar.


"Kalau enggak ya gak papa." Jawab Ansel kikuk.


"Tapi lo tadi senyum kan, Nes?" Tanya Ansel lagi membuat Agnes memutar bola matanya malas.


"Lo mau potong gaji?"


BERSAMBUNG~


AGNES KALAU MARAH SEREM😱


JANGAN LUPA VOTE👍 AND KOMEN💬 DI BAWAH YAH GAISSS😉😄

__ADS_1


SEE YOU NEXT CHAPTER 😊


BABAY~


__ADS_2