
HAPPY READING😻
.
.
.
.
.
.
"Boleh duduk disini nggak?" Tanya seorang pemuda sembari membawa nampan berisi makanannya, dia Aksa.
Gilak tambah hari tambah ganteng aja sih! meleleh Dedek Bang. Batin Delia sambil menatap lekat wajah Aksa ketika melihat siapa yang ingin bergabung makan dengannya sontak saja Delia berharap Lisa berkata 'boleh'
Gadis humoris itu menatap penuh binar Lisa.
"Duduk aja." Jawab Lisa lalu dituruti oleh Kevin dan Aksa, akhirnya Lisa bisa diajak kompromi juga~
Itu Abangnya Agnes kan? Batin Lisa menatap sekilas wajah Kevin lalu melanjutkan makannya tadi yang sempat tertunda.
"Hei, nggak dimakan makanannya? Sini kalau nggak mau buat gue aja." Celetuk Aksa membuat Delia tersadar dari lamunannya.
Mampu*! Gue terciduk sama masa depan! Batin Delia merutuki kebodohannya, bisa-bisanya ia tertangkap basah tengah memandangi wajah tampan milik Aksa.
"Eh ng nggak di dimakan kok! Ehehe" jawab Delia kikuk karena menahan malunya sembari menundukan kepalanya, tak berani melihat wajah Aksa lagi.
Aksa menarik sudut bibirnya ke atas, lucu juga gadis itu, pamandangan mata Aksa mengedar mencari seseorang "Loh kemana teman lo satunya?" Tanya Aksa heran karena ia sedari tadi tak melihat keberadaan Agnes, hal itu membuat Kevin menatap kedua gadis didepannya ini dan benar saja Adiknya tidak ada! Kenapa ia baru saja menyadarinya.
"Dipanggil tadi suruh ke ruangan BK, yuk Del ke ruang BK cek Agnes!" Jawab Lisa lalu menarik paksa pergelangan tangan Delia membawanya menuju ruangan BK.
Yah gak jadi deh nikmati pemandangannya. Batin Delia kecewa, baru saja Delia bersyukur karena Lisa bisa diajak kerja sama eh malah endingnya begini! Nyesek banget! Serasa kita tuh abis diterbangin tinggi-tinggi lalu dihempaskan begitu saja, skip bucin.
Gilak, jantung gue berdebar kencang banget! Batin Lisa sambil menetralkan detak jantungnya yang seakan seperti lari marathon karena melihat wajah tampan dari Kevin, hanya wajah doang padahal.
Kamu buat onar apa lagi Nes? Batin Kevin sedih, dia kira Adiknya itu akan berubah disekolah barunya tapi tetap saja kelakuannya sama seperti disekolah lamanya.
Memang benar ternyata hati Adiknya kini sudah sekeras batu! Tak ada yang bisa merubahnya kecuali dua orang yang Adiknya sayangi tapi sekarang telah tiada.
Cewek tadi cantik juga dan sedikit lucu. Batin Aksa tersenyum menatap kepergian kedua cewek tadi ralat maksudnya hanya Delia saja.
Sementara diruang BK yang kini berisik akan kicauan Anis.
"Kamu tuh yah! Gerbang sekolah kamu tabrak asal sampai nggak berbentuk gitu! kamu kira itu mainan apa? Kamu tau nggak ini sekolah punya siapa?" Tanya Anis yang sedari tadi cerewet menceramahi Agnes tak henti-hentinya, membuat telinga Agnes serasa dibakar.
"Gue." Jawab Agnes cuek, memang benarkan apa yang Agnes bilang?
"Ini sekolah milik putri keluarga Alexandra, keluarga terkaya nomor tiga tau!"
"Oh."
"Oh doang? Haduh Nes Agnes kalau misalnya kamu nggak pintar pasti saya keluarkan! Terus ini bagaimana? Kamu tau kan gerbangnya mahal!" Cerewet Anis lagi sambil memijat pelipisnya pelan, selalu menghadapi siswinya yang amat bandel dan selalu bikin onar ini.
"Berapa? Nanti gue yang bayar." Jawab Agnes santai langsung keluar dari ruangan BK menuju ruangan kepala sekolah, tanpa menghiraukan lagi kicauan Anis.
"Dasar terlalu bad girl!" Desis Anis menatap tajam kepergian Agnes lalu memikirkan cara untuk memperbaiki kembali gerbang itu sebelum pemilik sekolah ini marah?
Brakkk.
"Urus gerbang sekolah, uangnya nanti gue transfer." Ucap Agnes datar tanpa sopan santun sedikit pun sambil menendang pintu ruangan tersebut dengan kakinya, membuat Kayis yang tengah menanda tanganin sebuah surat kaget.
"I iya Nona a ada lagi?" Jawab sekaligus tanya Kayis dengan nada sopan karena sudah tau bahwa Agnes lah yang sekarang menjadi pemilik sah sekolah AIHS, mendengar itu Agnes langsung pergi tanpa berminat untuk menjawabnya. Yang tua yang sopan~ yang muda pecicilan!
"Agnes lo kok diruangan kepala sekolah? bukannya lo tadi diruangan Bk yah?" Tanya Delia binggung setelah melihat Agnes yang keluar dari ruang kepala sekolah.
"Gue tersesat." Dengan nada datar, Agnes mengucapkan kalimat tersebut membuat Delia dan Lisa seketika tertawa terbahak-bahak sampai-sampai mengeluarkan air matanya.
__ADS_1
"Dan tak tau arah jalan pulang!" Lanjut Delia menahan tawanya agar tak pecah lagi namun tak bisa! Melihat wajah lucu Lisa saja dia tertawa apalagi melihat wajah datar Agnes, entah mengapa gadis itu receh sekali padahal hanya menatap wajah Agnes yang seperti tembok itu.
"Lo gak cocok jadi pelawak Nes." Ucap Lisa sembari tertawa terbahak-bahak dengan Delia sedangkan Agnes hanya acuh dan pergi menuju parkirannya.
"Lo mau kemana?" Tanya Lisa setelah menghentikan tawanya.
"Ya elah jangan ditanya Agnes mah pasti mau bolos." Ucap Delia memutar bola matanya malas lagi-lagi sahabatnya itu bolos tidak pernah sekalipun beta didalam kelas apalagi selalu tidak membawa tas membuat Agnes dengan mudahnya bolos sekolah.
Pernah dulu Agnes disuruh Delia dan Lisa untuk membawa tas tapi percuma saja jika bad girl tetap lah bad girl, coba kalian bayangkan isinya hanya bulpoin satu sama buku tulis satu udah itu aja! Memang benar-benar tidak niat sekolah.
"Lo berdua ada liat Agnes?" Tanya Alvaro tiba-tiba dengan keringat yang membanjiri wajahnya seakan ia baru saja lari marathon.
"Tuh." Tunjuk Delia dan Lisa bersamaan, membuat Alvaro mengejar Agnes tapi tetap saja Alvaro kalah cepat.
"Mulai lagi dramanya." Ucap Delia lalu pergi menuju kelas bersama Lisa, mereka sudah tau akhirnya nanti.
Alvaro mengumpat tertahan, dia tadi hanya ingin membicarakan sesuatu yang penting saja namun malah begini.
"Lo haus gak? gue tadi beli minum."
"Kenapa sih lo selalu nempel ke gue? risih tau gak."
"Yeuh, gue juga normal kali."
"Orang kayak lo gak pantes jadi normal." Malas Alvaro.
"Kenapa sih lo sensi amat? gue tadi cuman nawarin lo minum doang, kalau gak mau yaudah."
"Gue gak butuh, pasti beracun." Berly hanya memutar bola matanya malas, "Lo beneran temennya Agnes?" Berly tersenyum lebar.
"Kasih gue mata lo, baru gue jawab."
"Lo nantangin?"
"Emang gue takut?"
Keduanya malah sama-sama tersulut emosi.
"Gak ada kan? jadi stop berusaha ngejauhin gue dari Agnes, lo gak ada hak." Tekan Berly pada akhir kalimat, "Kalau gue bilang gue itu mantannya Agnes lo mau apa?"
"Sia*an lo!"
Bugh.
"She is mine! jauhin dia bang*at" Teriak Alvaro tanpa sadar bahkan memukul rahang Berly hingga membuat lelaki itu jatuh terduduk karena tak siap menerima pukulan tersebut.
"Jadi lo nantangin gue?"
👍👍👍LIKE👍👍👍
"Lo ada rencana?" Tanya Ansel tiba-tiba ke Agnes saat berada disebuah tempat yang hanya ada satu lampu didalamnya dan satu meja untuk mereka berdua duduki sekarang.
Agnes melepas topengnya, menaruhnya pada sampingnya "Bunuh dia." Jawab Agnes cepat sambil menatap datar ke arah depan.
"Lo gila! Gak takut dengan polisi lo?" Tanya Ansel lagi sambil menyesap rokok elektronik ditangannya.
"Gue emang buronan." Jawab Agnes santai, ya Agnes memang buronan bukan dia tapi Mafianya karena telah membunuh beribu-ribu orang alhasil Agnes sekarang menjadi buronan tapi tidak ada satu pun orang yang mengetahui keberadaan Agnes bahkan wajahnya pun tak tau, entah gimana nanti jika Agnes tertangkap? Pasti lah tidak akan bisa tertangkap secara Agnes selalu menggunakan mode senggol bacok~
"Lo gak takut?"
Agnes kembali memakai topengnya lantas berdiri "Dikamus gue gak ada kata takut, utus salah satu anak buah gue untuk culik dia...Gue udah muak dengan permainan ini!" Ucap Agnes datar lalu hendak pergi dari sana.
"Kenapa gak dari awal lo ngelakuin ini? Kenapa mesti lo harus tersakiti dulu baru akhiri game konyol ini?"
"Karena ini salah satu trik gue." Jawab Agnes tersenyum simrik seraya melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana.
"Hmm, patut dicontoh." Gumam Ansel ke dirinya sendiri lalu pergi menjalankan perintah Agnes tapi sebelumnya ia mematikan rokoknya terlebih dahulu.
Tinggal lah Agnes sendirian diruangan pribadi miliknya. Saku celannya tiba-tiba bergetar pertanda seseorang tengah menelepon dirinya.
__ADS_1
Agnes menatap layar ponselnya sekilas, "Kenapa?"
"Woy Lis! demi apa diangkat sama Agnes!"
"Diem lo gak usah ribut." Ucap Lisa dari telepon yang sedari tadi rusuh akan teriakan Delia membuat Agnes menghela nafasnya, "Nes, lo ada dimana sekarang?"
"Dikamar."
"Alvaro nes!" Teriak heboh Delia.
"Gak usah pakek teriak, monyet!"
Agnes mengerutkan keningnya, "Kenapa?"
"Alvaro berantem sama Berly! sampe Bu Anis susah berhentiin mereka berdua."
Tut tut tut.
"Tunggu sampai gue ratain markas lo." Emosi Agnes berlari menuju mobilnya berada.
Perjalanan yang terasa jauh itu pun telah Agnes lalui dengan mobilnya yang ia kendarahi secara ugal-ugalan, bahkan sampai disekolah AIHS mobil Agnes malah ia biarkan terparkir didepan pagar yang sudah tertutup rapat.
"Wih, pagar baru." Gumam Agnes terkekeh sekilas lalu mulai memanjat pagar tersebut.
Entah mengapa kedua kakinya mengikuti saja apa yang ada diotaknya yaitu, Uks.
Brak.
"Agnes?" gumam seseorang yang berada diuks, orang itu tengah mengembalikan kotak p3k diatas lemari.
"Lo gak papa?" Tanya Agnes, tersirat nada khawatir didalamnya.
"Lo balik kesini ngapain?" Bukannya menjawab Agnes malah meneliti muka Alvaro yang penuh lebam dimana-mana namun lebam itu telah tertutupi salep.
"Beraninya lo, Ber." Gumam Agnes lalu beranjak pergi dari sana.
Alvaro yang mendengar gumam Agnes pun langsung menarik lengan gadis itu, "Lo mau apa, Nes? Lo cewek, gak usah ngelakuin hal aneh-aneh."
"Gak ada."
"Gue khawatir sama lo, Nes."
Agnes Mengerutkan alisnya, "Bukannya lo yang harusnya dikhwatirin?"
"Lo beneran temennya, Berly?" Tanya Alvaro mencoba mengahlikan topik.
"Lo tau dari Berly?" Tanya balik Agnes.
"Iya."
"Lo percaya?" Alvaro menggeleng ragu, cekalan tangannya mulai mengendur.
"Lo jangan temenan sama Berly, dia jahat! buktinya gue dipukul sama dia."
Agnes menahan rasa gemasnya pada Alvaro yang nampak seperti kucing di mata nya.
"Lo gak percaya?"
"Gu- percaya! gue percaya!" Alvaro berusaha berpikir positif namun tetap saja tak bisa.
"Percaya sama gue." Agnes berusaha meyakinkan Alvaro dari sorot matanya yang nampak serius, "Lo pernah lihat gue bohong?" Tanya Agnes membuat Alvaro menggeleng.
"Gue percaya sama lo, Nes." Jawab Alvaro, "Karena gue sayang sama lo." Gumam Alvaro dengan suara yang amat pelan.
BERSAMBUNG~
SAHA TEH YANG DIBUNUH NES?:V
JANGAN LUPA LIKE👍, FAVORIT, KASIH RANTING DAN KOMEN EHE💬😉😙😅
__ADS_1
SEE YOU NEXT CHAPTER😙
BABAY~