Make A Wish

Make A Wish
21


__ADS_3

''Kenn ternyata kau dan saudara mu itu sama saja awalnya aku berfikir kenapa sifat kalian begitu mirip tapi semua sudah terjawab kini, apa kau tau aku rindu kejahilan mu aku mau bermanja-manja dengan mu kau tau aku tidak suka dengan wajah Joel dia itu menyebalkan tapi aku juga sayang sama dia, entah lah Kenn aku lelah'' kata Viola menyerah karna kehabisan kata-kata


Setelah keheningan itu Viola berucap sangat lirih karna sangat iba dengan kondisi sepupu suami nya itu


''Kenn, bangun dong apa kau tak bosan tidur terus, aku merindukan mu dan Stela membutuhkan mu apa kau sudah tak ingin berniat menyelesaikan ini semua? Ku mohon buka mata mu bawa Stela kembali ku mohon''


Entah angin apa yang membuat Kennan tiba-tiba meneteskan air mata dan jari tangan nya yang bergerak Joel dan Alex langsung sibuk memanggil dokter dan mereka semua keluar menunggu berita yang akan dibawakan oleh sang Dokter


***


Ditempat lain di sebuah ruangan yang gelap tiada yang tau ini tempat apa


Setelah Stela pingsan ia terbangun lagi karna haus yang melandanya entah sudah keberapa kalinya ia kehilangan kesadaran nya selain fisik dia juga tertekan batin dan kecewa dengan semua fakta yang ia dengar.


''Wah ternyata putri tidur kita sudah bangun? Apa kau begitu menikmati tidur nyenyak mu itu?'' Kata Felicia mengejek


''Haus'' hanya itu rintihan yang keluar dari bibir mungil Stela


''Apa kau butuh air? Maafkan aku tapi aku bahkan tak sudi melihat mu meminum air setetes pun''


''Apa kau menginginkan kematian ku?'' Tanyak Stela pelan


''Tentu, tapi aku tak ingin mengotori tangan ku dengan hanya untuk menghabisimu. Aku ingin kau menikmati sedikit penderitaan hingga kau sendiri yang akan mengakhiri hidup mu Stela''


Namun Stela hanya terdiam karna sudah tak memiliki tenaga dia belum makan dan minum entah sudah keberapa harinya setelah itu Felicia keluar dan diganti oleh sang Ayah yaitu Alvian


''Kenapa kau tak mati saja sih?''


Kata  Alvian kesal


''Ini sudah dua bulan lebih dan kau masih bertahan hidup, baiklah biar ku beritahu satu hal kau tau aku ingin menghabisimu pakai tangan ku tapi aku tak ingin kehilangan apa yang sudah kumiliki kini, kau tau sebenarnya aku ingin sekali menganggap mu sama seperti Felicia tapi aku benci karna kau itu adalah keturunan Ernest yang harus di musnahkan andai saja dulu ibumu lebih memilih ku dibandingkan si Auristelo brengsek itu mungkin sekarang kita sudah hidup bahagia, apa kau tau kau dan ibu sama persis keras kepala nya aku bahkan masih rindu dengan nya tapi ya sudah lah mau dikatakan apa lagi, aku harap setelah ini kau tak akan pernah pulang pada keluarga mu karna mereka yang telah membuat mu seperti ini hidup menderita'' kata Albert


''Aku hancur Iva, aku yang seharusnya menjadi papamu, aku menyesal telah menyakiti hati ibumu yang membuat ia berpaling pada Auristelo, aku marah pada diriku yang sangat menjijikkan ini, tapi aku sudah tidak butuh lagi itu aku hanya butuh warisan dari keluarga ernest'' kata Albert sambil tertawa dan keluar meninggalkan Stela dalam kesendiriannya dan kesunyian hanya air mata yang menjadi saksi betapa ia sangat hancur sekarang, betapa kecewa nya ia pada semua keluarga besar nya, kecewa pada orangtua nya yang tak pernah mengatakan fakta sebenarnya dan kecewa pada takdir yang telah mempertemukan ia dengan kebahagiaan nya namun juga pelaku luka yang telah tergores dihati nya.


Andai aku bisa menentukan dengan keluarga seperti apa aku dilahirkan aku hanya ingin keluarga yang mengasihi dan menyayangi aku hingga hanya akan ada kebahagiaan disana.

__ADS_1


Andai aku punya pilihan orangtua seperti apa yang aku ingin kan aku hanya ingin orangtua yang bertanggung jawab, bukan malah lari dari fakta yang ada.


Andai aku bisa memilih aku tak ingin hidup dikeluarga kaya raya yang pada akhirnya hanya membuat ku tersiksa karna orang lain yang menginginkan nya.


Andai aku bisa melupakan masa lalu dan membangun masa yang akan datang namun aku terjebak dengan rasa marah pada diri sendiri karna masa lalu itu.


Bukan aku yang memintak untuk hadir di keluarga seperti ini.


Bukan keinginan ku untuk bertahan dalam keadaan seperti ini


Hanya saja aku ini masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki segala yang telah mereka perbuat walau susah namun nyatanya jika aku tidak bisa melakukan nya maka aku sama dengan mereka. Kata Stela dalam hati


Tak lama setelah itu seseorang membukakan pintu ternyata disana sudah ada Viola yang menatap Stela dengan tatapan rindu yang tak tertahankan, senyum nya menandakan bahwa ia bahagia dapat menemukan Stela namun ia juga marah karna kondisi Stela yang seperti ini


''Iva...'' kata Viola menghampiri Stela dan memeluk Stela dengan sangat erat


''Va are you okey? '' katanya lagi


Namun karna sudah tak tahan lagi Stela hanya mengangguk dan tersenyum tak lama setelah itu seseorang datang


''Kau cukup pandai Vio, tapi biar om ingatkan satu hal kau tak akan pernah bisa lepas dari tangan om apa kau sudah punya pilihan kau dan anak mu atau saudara mu itu?'' Kata Alvian sambil menodong kan Revolver kearah Stela dan Viola bergantian


''Aku tak sudi mengakui mu sebagai Om ku, cuih... kau bahkan tak pantas menjadi seorang ayah Albert" kata Viola menantang


''Jaga sopan santun mu Viola asal kau tau aku ini suami dari adik ibumu''


''Tapi aku tak menganggap seperti itu'' kata Viola dengan tak mau kalah yang membuat Alvian naik pitam


''Bersiaplah menerima ajalmu'' kata Albert murka ibarat adegan yang sengaja dibuat lambat namun sangat cepat Viola sudah tutup mata menunggu kapan peluru itu kapan akan mengenainya namun tak terasa hingga akhirnya dia membuka mata


''Iva'' kata nya teriak dan menangis histeris sedangkan Albert mematung karna dia tak pernah berniat ingin mencelakai siapa pun dia hanya ingin menggertak Viola


''Viola?''


''Iva?'' Kata Alex dan Joel bersamaan

__ADS_1


Polisi pun menangkap Albert yang masih mematung dengan memintak maaf pada keluarga nya?''apa yang telah ia lakukan


''Va bertahanlah ku mohon'' kata Alex panik menggendong Stela menuju RS terdekat


Sudah lebih dari  satu jam berlalu namun dokter yang menangani Stela masih belum keluar juga


''Kak gimana?'' Kata Joel pada Alex yang menunggu dari tadi


''Masih belum ada...''


''Keluarga Saudara Auristela?'' Kata dokter yang keluar dari ruangan Stela memotong pembicaraan Alex dan Joel


''Ya dok, saya kakak nya bagaimana keadaan adik saya?'' Kata Alex


''Tak ada yang perlu dikhawatirkan peluru tak menembus terlalu dalam dan kondisi pasien sudah lebih baik, kita tinggal menunggu pasien sadar beberapa jam ke depan'' kata dokter itu sambil tersenyum


Wajah Joel dan juga Alex yang sudah sangat kacau dari tadi kini berubah jadi sangat cerah dengan senyum kelegahan di wajah mereka


''Makasih banyak dok apa kami dapat menjenguknya?'' Kata Joel


''Ya setelah pasien dipindahkan ke ruang rawat inap kalau begitu saya permisi pak'' kata dokter itu dan berlalu begitu saja


Setelah tiga jam lebih Stela mulai membuka mata nya Joel yang memang menjaga Stela karna Viola dan Alex yang memeriksa keadaan Alex yang sedikit memburuk tadi.


''Iva? Apa kau ingin sesuatu?'' Tanyak Joel dengan wajah yang masih sangat khawatir


''Haus'' hanya kata itu yang bisa Stela ungkapkan dengan suara yang sangat kecil hingga Joel sedikit bingung akhirnya Stela menggerak kan tangan nya menuju gelas yang ada disampingnya barulah Joel mengerti


Setelah membantu Stela minum


''Va apa kau merasakan sesuatu?''


''Kepala ku pusing'' kata Stela memegang kepala nya


''Baiklah sekarang istirahat lah'' kata Joel sambil merapikan selimut Stela dan mencium pucuk kepala Stela dengan penuh kasih sayang yang dibalas senyum yang sangat tipis dan air mata oleh Stela.

__ADS_1


''Hai, tenang lah Iva kesayangan ku kuat jangan menangis ya, aku menyayangi mu Va'' kata Joel sambil menggenggam tangan Stela berharap dia memberi sedikit kekuatan untuk Stela.


__ADS_2