MALAIKAT DALAM GAUN BARU

MALAIKAT DALAM GAUN BARU
BAB 21. DIMANA WANITA ITU?


__ADS_3

Anneke mulai mengoleskan tinta disana dengan goresan-goresan kuat seperti ada yang ingin dia sampaikan melalui lukisannya. Ia mengambil warna merah lalu memoleskannya dengan penuh tekanan, mengingat darahnya yang dahulu pernah mengalir! Tangannya sedikit bergetar, dan napasnya sedikit tidak beraturan. Rasa sakit didada kembali dirasakannya namun dia terus menggoreskan kuasnya.


Ia mengambil warna hitam untuk menunjukkan betapa kelamnya kehidupan yang dulu pernah dialaminya. Pahit! Sangat pahit! Sangat menyakitkan! Anneke berhenti sejenak lalu mengambil napas dalam-dalam. Sepertinya emosinya saat ini meluap pada lukisan mawar merah itu! Dengan lincah tangannya menggoresnya warna hitam legam keatas kanvas.


Setelah beberapa saat kemudian, entah mengapa sorot matanya yang memerah pun berubah. Kini sorot matanya berubah menjadi sorot mata yang lembut dan penuh kemurnian. Dengan jemari lentiknya, ia kemudian menggoreskan tinta putih dan hijau sebagai harapan baru yang akan menebus semua duka yang pernah dilaluinya di masa lalu. 


Setelah semuanya selesai ia pun tersenyum lebar. Lukisannya kali ini begitu indah dan mengagumkan.


Ya, seakan-akan itu adalah bunga hidup yang asli. Keindahan lukisan itu seolah ada gambaran hatinya. Sambil menghela napas panjang yang penuh kelegaan, samar-samar Anneke dapat mendengar suara kepala pelayan memanggilnya dari arah rumah.


“Nona…..cepatlah kemari! Tuan Besar mencarimu.” kata pelayan tua itu dari kejauhan. Kepala pelayan tua itu tampak melambaikan tangannya pada Anneke.


“Baiklah...baiklah…..aku datang!” jawab Anneke kepada kepala pelayan itu. Lalu dia beranjak membawa beberapa tangkai bunga mawar merah dalam keranjang serta membawa kanvas lukisan itu bersamanya. 


Dia berjalan perlahan menuju ke rumahnya. Sementara itu didalam rumah keluarga Runako,  tampak seseorang yang baru saja duduk di sofa setelah sang pemilik rumah mempersilahkannya masuk dengan wajah berseri-seri. Ya, orang itu adalah Rolan Abinanda. Dia datang menemui Anneke yang sudah lama tidak bertemu.


Rolan datang mengunjungi rumah keluarga Runako untuk pertama kalinya sejak dia kembali ke negara ini dua hari yang lalu. Kedatangannya untuk memenuhi janjinya pada Anneke, sahabatnya.


“Ayo….ayo...duduk. Pelayan sedang memanggil Keke. Tunggulah sebentar lagi dia akan datang.” ujar kakek Liam yang terlihat sangat senang.


Sudah lama dia mengharapkan kedatangan cucu rekan bisnisnya itu yang sudah lama dirindukan kedatangannya. Dan kehadiran Rolan kali ini dirumah itu membuat sang kakek pun merasa senang.


“Baiklah kakek. Aku akan menunggu.” ujar Rolan mengangguk. Dia mengedarkan pandangan sekilas ke interior rumah itu yang terasa indah dan juga elegan.

__ADS_1


“Ha ha ha ha….” tak henti-hentinya kakek Liam tertawa sembari menepuk-nepuk pundak pria itu, lalu dia pun berjalan kearah sofa lalu duduk. Kakek tua itu terlihat sangat senang. Apalagi pria muda itu membawakannya begitu banyak buah tangan kesukaannya. Dia terus saja menatap wajah Rolan yang tampan itu dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.


Ada suplemen kesehatan, teh herbal, kue-kue kesukaannya. Sungguh pria ini adalah pria yang bisa diandalkan! Benar, sore ini Rolan pergi ke kediaman Runako untuk menjemput Anneke, dia berjanji mengajaknya makan diluar dan kebetulan hari ini dia punya waktu luang. Dan memutuskan untuk menjemput Anneke.


Mengingat dia dan Anneke sudah lama kenal dan berteman, Rolan tidak sungkan lagi dengan keluarga Runako. Kedua keluarga mereka juga dulunya adalah rekan bisnis tapi keluarga Abinanda pindah ke luar negeri saat Rolan masih berusia sepuluh tahun. Tapi dia dan Anneke tanpa sengaja bertemu lagi saat berada diluar negeri.


Rolan tenggelam dalam pikirannya sendiri sembari meraih cangkir kopi hangat ditangannya. Sedikit demi sedikit ia menyesap kopi itu dan sesekali menghirup aromanya yang khas.


Beberapa waktu telah berlalu, hingga seseorang yang mereka tunggu akhirnya datang juga. Terdengar suara langkah kaki memasuki rumah dan menuju kearah mereka.


Sesosok gadis dengan kulit putih bersih, kedua bola mata yang indah, hidung mancung, bibir merah alami dan paras yang sebenarnya cantik rupawan. Wanita itu sedang berjalan sambil menenteng sekeranjang bunga mawar merah serta sebuah kanvas ditangannya. Sungguh! Pemandangan yang saat ini membuat Rolan tersenyum.


Rolan pernah melihat gadis ini saat masih kecil dan imut. Saat melihat paras cantik itu seketika Rolan tersenyum lebar. “Hai Keke! Apa kabarmu?”


“Rolan ada disini, dia sudah lama menunggumu. Jangan membuat pria setampan dia menunggu.”


“Brusssttttttt!!!”, Rolan tersedak mendengar nama itu, Rolan yang sebelumnya sedang menyesap kopi seketika sangat terkejut sampai-sampai seluruh kopi yang diteguknya tersembur keluar! Dia terkejut karena menahan tawa mendengar ucapan Kakek Liam.


Ya benar, Rolan tersedak kopinya sendiri sampai terbatuk-batuk. Bahkan saat ini dia kebingungan antara menahan batuk ataukah mencari sapu tangan di saku celananya. Pria itu salah tingkah, itulah yang dialaminya. 


“Kakek, lihatlah Rolan sampai tersedak! Berhentilah menggodanya!” ucap Anneke.


Kakek Liam yang melihat penampilan cucunya hanya bisa menggelengkan kepala. Kenapa cucu kesayangannya itu suka sekali berpakaian seperti anak remaja? Apakah dia tidak sadar kalau penampilannya itu sangat imut? Berapa banyak pria diluar sana yang akan tertarik pada cucunya? Untung saja ada Rolan yang bisa menjaga Anneke.

__ADS_1


“Keke….cepat siap-siap. Rolan mau mengajakmu makan diluar.” ujar kakek Liam. Dia senang sekali dengan kedatangan Rolan, karena Liam berpikir mungkin cucunya bersedih baru saja bercerai. Setidaknya dengan adanya Rolan bisa menghiburnya. Apalagi mereka sudah berteman sejak kecil dan Liam tahu sifat Rolan.


“Baiklah! Aku siap-siap dulu! Rolan tidak masalah kan menunggu sebentar lagi?” tanya Anneke.


“Tidak masalah! Kita tidak terburu-buru kok. Lagipula masih terlalu awal untuk makan siang.”


“Aku ganti pakaian dulu ya. Tambah lagi kopinya, jangan sungkan ya Rolan!” ucap Anneke seraya membalikkan tubuhnya dan pergi.


Tak berapa lama Anneke kembali dengan tampilan yang berbeda. Dia mengenakan celana jeans dipadukan dengan kardigan warna biru serta dalaman warna krim. Polesan makeup warna nude membuatnya terlihat fresh, rambutnya diikat kepang kuda dengan bagian ujungnya di curly.


Anneke mengenakan sepatu wedge dan tas satchel edisi terbatas. Setelah berpamitan dengan kakek dan ayahnya, mereka pun pergi meninggalkan kediaman Runako.


“Ceritakan padaku apa yang terjadi?” tanya Rolan sambil melajukan mobilnya.


“Tidak ada yang istimewa. Aku sudah bercerai!” ucap Anneke santai tanpa beban sedikitpun.


“Apa? Kamu serius? Kenapa tiba-tiba kamu mau bercerai? Selama ini aku pikir kamu sangat mencintai Noah! Sampai-sampai kamu mengorbankan segalanya demi pria itu.”


“Sudahlah! Tidak perlu dibahas lagi. Yang penting sekarang aku sudah bebas dari semuanya. Aku tidak mau jadi wanita bodoh lagi!” ujar Anneke menoleh kearah Rolan yang juga sedang menatapnya.


“Lalu apa rencanamu selanjutnya?” tanya Rolan yang penasaran dengan perubahan Anneke.


“Melakukan apa yang seharusnya aku lakukan! Rolan, aku tidak mau menyia-yiakan hidupku lagi.”

__ADS_1


__ADS_2