
Akhirnya inilah yang terjadi, semakin hari dia semakin sering berinteraksi dengan pria itu. Bahkan sikap pria itu padanya sangat aneh. Saat dia meneliti kembali kontrak kerjasama itu, Anneke mendiskusikan bersama Aliyah Cassidy yang terkejut dengan nilai kontrak itu yang menurutnya tidak wajar.
Harga yang ditawarkan Noah sangat tinggi untuk kerjasam dengan perusahaan Anneke.
“Noah! Bangun!” teriaknya lagi sambil terus bergerak ingin melepaskan diri dari pria itu. Dia benar-benar kesal dan marah sekarang.
“Ehmmmm…..teruslah bergerak! Sesuatu dibawah sana sudah terbangun gara-gara ulahmu! Apa kau mau bertanggung jawab?” sahut Noah berbisik ditelinga wanita itu seakan memperingati dan menggodanya.
Sensasi napas yang berhembus ditelinganya lagi-lagi membuat Anneke meremang dan tubuhnya seakan dialiri listrik yang membuatnya terbakar hasrat. Tidak! Dia tidak boleh jatuh dalam pesona pria itu!
“Apa?” Anneke kaget dan dia paham ancaman itu. Dia bisa merasakan sesuatu yang besar dan keras dibagian belakangnya menempel. Sehingga dia pun membeku dan tidak berani melakukan apa-apa lagi. Dia tidak berani bergerak! Dia takut kalau Noah akan melahapnya dengan ganas seperti malam itu.
Anneke kini tahu kekuatan pria itu dan dia tidak mau mengambil resiko. Dia tidak mau melakukan itu lagi yang bisa membuatnya hamil! Dia tidak mau merusak masa depannya. Tapi diakuinya kalau pria itu terlalu mempesona dan menggoda!
Ya Tuhan, ini sungguh tidak adil! Kenapa dia harus menjalani ini dikehidupan sekarang? Anneke pun menitikkan airmata meratapi nasibnya. Seharusnya tidak seperti ini yang terjadi! Seharusnya dia cerai dan memulai hidup baru.
Beberapa menit kemudian situasi didalam ruangan itu kembali tenang. Noah membenamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu yang membuatnya sangat nyaman sampai dia lupa kalau mereka beristirahat cukup lama.
Bahkan sampai jam kerja berakhir dan meninggalkan semua pekerjaan yang tidak terjamah sejak siang. Padahal Anneke rencananya hari ini akan membuat desain perhiasan di kantornya.
Sebenarnya tadi Noah merasa kasihan melihat Anneke, ternyata hatinya tidak sanggup melihat penderitaan istrinya itu. Dia pun menghentikan balas dendamnya saat dia melihat Anneke kelelahan hingga tertidur di sofa.
Hatinya terasa tergelitik hingga ia menggendong wanita itu dan menidurkannya di ranjang pribadinya. Setelah itu dia malah berbaring disamping Anneke dan ketiduran.
__ADS_1
Noah membuka matanya dan melihat Anneke sudah pulas kembali. Dia mengamati paras yang nampak polos dan lugu itu ketika tertidur. Dimatanya, wanita ini memang benar-benar sangatlah bodoh dan mudah ditipu.
Lihat saja cara tidurnya yang meringkuk dengan mulut sedikit terbuka sama sekali bukan gaya tidur yang menawan untuk dipandang. Namun, anehnya melihat gaya tidur istrinya yang aneh itu dia justru ikut tergoda dan memeluknya bagai sebuah guling.
Sangat nyaman! Batinnya sambil tersenyum sembari terus memeluk wanita itu. Noah terlihat menikmati aroma tubuh Anneke dan dia bak seorang anak kecil yang mencari pelrindungan dari induknya.
Pemandangan itu sangat manis, pria angkuh dan dingin yang sebelumnya memperlakukan istrinya dengan begitu kejam sekarang malah menunjukkan sisi lainnya. Sebenarnya Noah mulai menyadari kalau sedikit demi sedikit wanita itu telah mengisi ruang hatinya yang dingin bak gunung es.
Tanpa dia sadari, dia pun mulai berubah menjadi lebih lembut dari sebelumnya. Tanpa keduanya sadari mereka telah hanyut dalam sebuah kebersamaan yang hangat yang tak pernah mereka rencanakan.
Sudah satu jam berlalu, Anneke membuka matanya dan bertahan teguh dengan posisinya yang aneh menurutnya. Kaki besar Noah menindih kakinya dan tangan Noah memeluknya. Anneke merasa sesak dan detak jantungnya sangat kencang.
‘Aduh…..sampai kapan begini? Kapan penderitaan ini akan berakhir? Ck.’ gerutunya dalam hati. Saat ini Anneke terlihat seperti kucing kecil yang patuh pada majikannya. Sesuai dengan yang diharapkan Noah! Sayangnya kedamaian Noah tidak bertahan lama karena mendadak terdengar suara.
Suara itu terdengar kencang dan Noah merasa aneh darimana asalnya suara itu. Dia pun membuka matanya dan suara itu membuat hati kecilnya tergelitik untuk bangun.
Krukkkk Krukkkk Krukkkk…..suara itu kembali terdengar bahkan lebih keras dari sebelumnya. Sampai-sampai dia bisa merasakan getaran di tangannya. “Bodoh!” ucapnya melepaskan tangannya yang sedari tadi berada diatas perut Anneke.
“Apa kau bilang barusan? Bodoh? Noah! Siapa yang kau panggil bodoh, hah?” Anneke terlihat sangat kesal dan dia masih berada pada posisinya tanpa mau bergerak sama sekali.
Noah yang sudah pulih sepenuhnya dan merasa tubuhnya segar segera bangkit dari ranjang dan berbalik menatap Anneke yang saat itu juga langsung duduk ditepi ranjang.
“Anneke, ayo bangun! Apa kau mau terus kelaparan dan mati disini? Aku tidak mau jadi duda ditinggal mati istrinya yang kelaparan!” ujar Noah. “Atau kau sedang menungguku untuk melakukannya lagi denganmu? Aku tidak keberatan! Kali ini kau tidak akan protes karena tidak puas.” Noah nampak menyunggingkan senyuman nakalnya membuat Anneke bergidik ngeri.
__ADS_1
“Tidak! Dasar mesum! Kau pikir kau itu hebat sekali dalam urusan begituan? Huh!” tanpa menunggu lama Anneke bergegas bangun dan membenahi penampilannya yang kusut dan berantakan.
“Kau memang bodoh!” Noah kembali bergumam seraya melirik perut kecil Anneke yang terus mengeluarkan suara-suara aneh. Ia pun menghela napas dan segera berjalan menuju meja untuk mengambil ponselnya.
“Apa kau bilang barusan? Noah! Kau memang kejam! Aku tidak akan pernah menerima suami sepertimu! Kau tidak pantas! Aku kelelahan dan kelaparan gara-gara ulahmu!”
“Aku bahkan tidak mengerjakan desainku hari ini! Semua pekerjaanku berantakan gara-gara ulahmu! Kau harus membayar ganti rugi! Aku tidak makan siang, tidak minum! Pekerjaanku terbengkalai! Noah! Kau harus membayar ganti rugi sekarang.” Anneke meluapkan emosinya dan menujuk kearah wajah Noah dengan jari telunjuknya.
Noah menatap jari kecil yang lentik itu, ini pertama kalinya ada yang berani menunjuknya seperi itu seolah dia adalah seorang penjahat. Dia diam saja menatap Anneke yang terus mengumpat dan menujuk-nunjukknya. Karena tak tahan lagi diumpat dan ditunjuk-tunjuk mukanya, Noah pun menggigit jari itu.
“Krak!”
“Awwwwwkkk! Sakit!” teriak Anneke meringis kesakitan dan kaget. “Noah! Kau benar-benar brengsek!” Anneke menarik kembali tangannya dan melihat bekas gigitan Noah di jarinya. Dia meniup-niup jarinya dan menatap tajam pada Noah.
“Anneke! Dengar baik-baik ya, itu adalah hukuman untukmu karena kelakuanmu kemarin dan kenakalanmu siang ini!” kata Noah.
“Kalau kau masih berani melakukannya lagi maka…..” pria itu tidak melanjutkan kalimatnya namun tatapan matanya terlihat mengancam. Anneke bisa melihat kelicikan pria itu dan paham maksud dari perkataannya.
Ya, dia mengakui kalau dia memang keterlaluan siang ini. Memasukkan obat pencahar kedalam makanan Noah dan memasukkan banyak lada hitam di steak.
Untung saja Noah tidak memakannya, bisa-bisa dia tidak akan bisa berdiri dan terpaksa dirawat.
Anneke pun menundukkan kepalanya, “Tidak! Aku tidak berani lagi! Tapi kau tetap harus membayar ganti rugi karena pekerjaanku terbengkalai. Dan kau juga harus mentraktirku makan.” awalnya dia mengaku bersalah namun memikirkannya kembali, dia pun tak ingin mengalah.
__ADS_1