MALAIKAT DALAM GAUN BARU

MALAIKAT DALAM GAUN BARU
BAB 64. DERITA SANG ASISTEN


__ADS_3

Sudah tiga kali Anneke mengganti menu namun semuanya ditolak oleh Noah. Pria itu selalu menyuruhnya mengganti makanan. Hingga membuat Anneke merasa lelah dan akhrinya menyerah. Dia pun memutuskan membuat ham omelet sandwich sederhana. Dia hanya membuat dua potong sandwich yang tidak dibubuhi obat pencahar.


Jika suami brengseknya itu tidak mau memakannya, terserah! Dia sudah lelah melakukan kejahatan hari ini dengan makanan itu. Melihat sandwich sederhana didepannya, Noah segera meraihnya dan langsung memakannya. Sejak tadi dia sudah kelaparan tapi dia mengikuti istri kecilnya bermain-main. Sejak tadi dia mengawasi Anneke melalui cctv.


Dia tahu kalau wanita itu membubuhkan obat pencahar didalam semua makanannya. Noah tersenyum puas menyantap sandwich sederhana itu kemulutnya. Rasanya sangat enak dan merupakan sandwich terenak yang pernah dia makan didalam hidupnya. Setelah memakan habis sandwich dan minum, ia menyadari kalau suasana sangat hening.


Dia menolehkan kepalanya dan mendapati istrinya sudah tertidur pulas dengan tangan terjuntai hampir menyentuh lantai. Wanita itu memang sangat ceroboh! Bagaimana mungkin ia tertidur begitu saja diruangan yang bukan kamar mereka? Bagaimana kalau dia sampai tidur ditempat lain dan pria lain melihat istrinya yang cantik itu? Bagamana jika pria lain jatuh cinta pada istrinya?


Memikirkan kemungkinan itu saja membuat Noah kesal bukan main. Dia tidak rela jika Anneke bersama pria lain. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, dia selalu merasa tak rela jika istrinya itu dilirik pria lain. Anneke hanya miliknya! Hanya miliknya seorang! Dia tidak akan membiarkan istrinya itu lepas dari genggamannya.


Noah mengeluarkan ponselnya dan menghubungi asistennya, “Levi! Tidak ada seorangpun diizinkan masuk kekantorku. Aku mau istirahat!” perintahnya.


“Ba----ba---baik Tuan.” Levi menjawab terbata-bata sembari menahan rasa sakit diperutnya.


Tanpa menunggu lama, Levi menghubungi sekretaris untuk memberitahunya perintah Noah barusan. Dia memegangi ponsel di satu tangan sedangkan tangan satunya memegangi perutnya yang sakit.


Levi juga menghubungi kepala sekuriti untuk mengirimkan sekuriti agar berjaga didepan lift khusus bos besarnya itu. Setelah menyelesaikan tugasnya, Levi kembali mengerang kesakitan dan berlari ke kamar mandi. Dia sudah kesekian kalinya dia bolak balik ke kamar mandi. Levi merasakan tubuhnya lemas dan energinya terkuras habis.


Dia bahkan tidak sanggup lagi menggerakkan jarinya, semuanya terasa mati rasa! Apakah nyonya Anneke sedang membalaskan dendam padanya? Levi merutuki nasibnya yang buruk, andai dia tahu nasibnya akan berakhir seperti ini dia tidak akan memaksakan diri memakan semua makanan yang diberikan nyonyanya tadi.


Makanan itu terlalu lezat apalagi steak saus jamur lada hitam, Levi tahu kalau daging sapi wagyu itu harganya mahal. Sayang sekali kalau tidak dimakan, dia memakan habis semuanya. Dengan tubuh gemetar dia berusaha berdiri sambil memegangi dinding untuk berjalan. Jika dia tahu efek makanan itu begitu dasyat, dia tidak akan menghabiskan semua makanannya.

__ADS_1


Apa saja yang dimasukkan nyonyanya itu kedalam makanan? Levi bersumpah didalam hatinya, dia tidak akan mau lagi memaknan masakan nyonyanya itu lagi. Entah apapun yang akan terjadi padanya lebih baik dia dipukuli, ditendang daripada memakan masakan nyonyanya lagi! Didalam hatinya dia berdoa agar terbebas dari semua kesialan yang menimpanya hari ini.


Waktu berlalu begitu cepat hari ini, seakan-akan satu hari berlalu begitu saja dalam sekejap mata. Perusahaan Arsenio hari ini benar-benar sibuk karena beberapa proyek besar sehingga para karyawan sibuk menyelesakan pekerjaan masing-masing.


Tidak terkecuali manajer Jesica Malory yang sedang duduk didepan mejanya dengan tumpukan dokumen. Wanita itu berpenampilan dewasa dan memiliki kemampuan yang cukup bagus dalam pekerjaannya. Dia juga memiliki etika yang baik, dari cara duduk dan cara berjalannya.


Dia terlihat fokus mengerjakan tugas-tugasnya tanpa henti. Ada terdapat beberapa piagam di dinding ruangannya. Manajer Jesica Malory mulai bekerja di perusahaan Arsenio beberapa tahun lalu.


Ia melalui persaingan yang sangat ketat untuk bisa menduduki jabatannya yang sekarang. Itulah alasannya mengapa semua karyawan sangat mengagumi dedikasinya yang luar biasa. Bahkan mereka menganggapnya bagai seorang dewi.


Seperti biasanya, sore ini dia memeriksa seluruh dokumen desain taman kota, jam kerja sudah berakhir namun dia sepertinya enggan meninggalkan ruang kerjanya.


Dia seperti sedang menunggu sesuatu atau mungkin seseorang. Sambil memegang tumpukan gambar dari bawahannya, dia diam-diam melirik jam didinding yang sudah menunjukkan pukul enam sore dan dia masih betah duduk disana sampai dia tidak mendengar ponselnya berbunyi.


“Jesica! Kau ada dimana sekarang?”


“Bu, aku masih dikantor. Aku lembur hari ini karena sedang banyak proyek.” sahutnya sembari merapikan dokumen-dokumen dimejanya.


“Kenapa kau selalu lembur? Jangan terlalu lelah bekerja, ingatlah untuk menjaga kesehatanmu.”


“Ibu, sebenarnya aku---”

__ADS_1


“Sudahlah, ibu tahu kau sedang menunggunya! Tapi dia belum bercerai bukan?”


Sang ibu yang sudah mengetahui isi hati anak perempuannya itu sekedar mengingatkan. Mendengar perkataan ibunya sekilas wajah Jesica memerah karena rasa malu.


Dia adalah orang yang serius dan tidak pernah membicarakan soal cinta dan masalah pribadi lainnya dengan keluarganya. Sang ibu merasa sudah waktunya dia bertindak karena tak mau anaknya memendam perasaan sekian lama.


Tapi bagaimana? Pria itu sudah beristri, tapi bukankah jaman sekarang hal yang biasa bagi pria kaya memiliki wanita lain selain istri mereka? Bahkan para pria itu memiliki istri lebih dari satu kan?


Lalu bagaimana caranya pria itu mengetahui isi hati anaknya? Dia akan mulai bertindak membantu anaknya, tidak masalah jika anaknya menjadi istri kedua atau istri simpanan pria itu.


Keluarga pria itu sangat kaya, meskipun kelak anaknya tidak menjadi istri sah kehidupan anaknya akan jauh lebih baik. Apalagi selama ini dia tahu kabar berapa banyak wanita yang selalu terlihat mendampingin pria itu.


Jika dia tidak bertindak cepat maka anaknya akan tersingkirkan oleh wanita lain. Selain ingin memberi perhatian dan kasih sayang pada anaknya, didalam hatinya dia tidak mempermasalahkan status pria itu.


Kekayaan, pengaruh dan kekuasaan semuanya itu dimiliki pria itu. Dia sangat mengharapkan pria itu bisa menjadi menantunya. Sehingga dia tidak akan menunggu anaknya yang bertindak begitu lamban.


“Jesica, ibumu ini sudah tua dan kau sudah cukup dewasa untuk menikah. Dengarkan ibu baik-baik, aku akan mengatur agar kau bisa bertemu dan berduaan dengannya.”


“Aku akan mengatur semuanya untukmu, kalian akan bisa menghabiskan waktu bersama dan berbincang layaknya anak muda. Setelah itu ibu akan menawarkan pernikahan pada keluarganya. Jika kita tidak bertindak cepat mungkin wanita lain yang akan melakukannya! Jadi biar ibumu ini membantumu mendapatkan pria yang kau sukai itu.”


Mendengar perkataan ibunya akhirnya hati Jesica pun merasa lega. Ternyata ibunya selama ini diam-diam mengamati dirinya dan mau membantunya. Tentu saja ide itu mungkin sebuah pilihan terbaik dibandingkan dia harus selalu menahan keinginannya dan mencintai dalam diam.

__ADS_1


“Bu, terima kasih! Aku senang sekali ibu mau membantuku.” ucap Jesica kembali.


__ADS_2