MALAIKAT DALAM GAUN BARU

MALAIKAT DALAM GAUN BARU
BAB 33. RENCANA PERTAMA


__ADS_3

“Papa….” Anneke memanggil ayahnya dengan suara lembut. Dia merasa sangat bersalah dengan semua kesalah pahaman yang mungkin disembunyikan didalam hati ayahnya selama ini.


“Ehmm…..” Alfred mendongakkan kepalanya dan melihat putri kesayangannya itu dengan hati yang sedikit bergetar. Suara Anneke memang sangat mirip sekali dengan ibunya!


Wanita yang sangat dicintai oleh Alfred Runako! Sayangnya istrinya itu saat ini…….


“Pa, kenapa papa melamun saja dari tadi? Apa yang sedang papa pikirkan?” tanya Anneke seketika memecah lamunan Alfred tentang istrinya.


“Ah Keke….kau disini. Duduklah.” Alfred bergegas bangkit dari duduknya.


Dia pun menggandeng lengan Anneke untuk duduk di sofa berwarna hitam diruang kerjanya itu. “Apa kau sudah makan? Papa akan menyuruh sekretarisku untuk membelikan makanan,” Alfred terlihat sangat peduli pada putri semata wayangnya itu dan memintanya untuk makan siang bersama meskipun ada sedikit kekecewaan di suaranya.


“Katakan kau mau makan apa siang ini? Papa akan memesan semua yang kau suka.” ucap Alfred.


“Baiklah asal papa juga menemaniku makan. Kita makan bersama oke? Sudah lama kita tidak makan siang bersama.” jawab Anneke dengan suara sedikit manja. Sudah lama sekali dia tidak bersikap seperti itu pada ayahnya dan dia merasakan kehangatan saat ini.


Hal yang sangat dia rindukan dan dia lupakan pada kehidupan sebelumnya. Dia kehilangan kasih sayang dan kehangatan keluarga. Alfred Runako segera menghubungi sekretarisnya dan meminta untuk membelikan makanan untuk mereka. Ketika sang ayah sedang sibuk dengan teleponnya, dan bicara dengan seseorang sesekali dia melirik putrinya.


Anneke tidak bisa tidak memikirkan bagaimana ekspresi Kaylee saat ia mengetahui bahwa semua akses kartu-kartu itu telah diblokir. “Pasti akan menarik….” gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Bagi Anneke ini barulah permulaan untuk membalaskan dendamnya. Masih banyak kejutan-kejutan lainnya yang akan menanti Kaylee didepannya.


“Keke….” sang ayah terdengar memanggilnya setelah selesai dengan teleponnya. Sepertinya sang ayah merasa sedikit penasaran dengan kedatangan putri malasnya itu ke perusahaan hari ini.


Dia sudah bisa mengira bahwa kedatangan Anneke pasti bukan sekedar untuk berkunjung saja.  Selama ini Anneke jarang mengunjungi perusahaan sehingga tidak banyak karyawan yang mengenalnya.


Apalagi setelah menikah dengan Noah, putrinya itu pun tidak pernah muncul lagi. Orang-orang hanya tahu Alfred Runako memiliki seorang putri. Tapi tak ada seorangpun yang mengenal dan tahu wajahnya.


“Iya papa,” Anneke seolah sudah bisa menebak apa yang akan ditanyakan oleh ayahnya. Dia langsung memasang senyum manisnya


Mungkin ini adalah waktu yang tepat baginya untuk memainkan triknya! Bukan saja trik karena Anneke ingin membuka kebenaran dihadapan ayahnya, sebuah kebenaran yang sudah lama disimpannya! Bagaimanapun dia harus mengatakan semuanya sekarang!


“Mengapa kamu kemari?” tanya Alfred. Dia sebenarnya juga merasa penasaran dengan Anneke.


Apalagi dalam salah satu tagihan dia pernah melihat pemesanan beberapa botol minuman keras yang menyesakkan hatinya sebagai seorang ayah. Dia mengira kehidupan putri semata wayangnya itu hanyalah bermalas-malasan dan hura-hura menghambur-hamburkan uang seenaknya. Seketika itu juga perasaan lega terlukis di wajah pria paruh baya itu.


Sebelum akhirnya dia bertanya-tanya, jika bukan Anneke yang menggunakan akses semua kartunya pribadinya lalu siapakah yang sudah sangat berani melakukan semua itu? Setiap kali Alfred melihat tagihan kartu milik putrinya, dia pusing! Tidak berapa lama, saat Anneke dan Alfred sedang berbincang-bincang dari arah pintu terdengar suara ketukan diikuti dengan kehadiran Pram.


Tampak pria itu membawa beberapa kartu baru dan laporan pemblokiran, dia menghampiri Anneke yang telah lama menunggunya. “Selamat siang Tuan dan Nona. Ini adalah laporan pemblokiran kartu-kartu milik Nona Anneke dan ini semua kartu baru yang Nona Anneke minta.” ucap Pram sembari menyerahkan amplop kepada wanita itu.

__ADS_1


“Baiklah! Terima kasih Pak Pram,” Anneke mengambil amplop dari tangan Pram dan meletakkannya diatas meja tepat disamping dokumen-dokumen milik ayahnya yang menumpuk.


Sekilas, Alfred melirik kearah sana untuk melihat kartu-kartu milik anaknya yang baru saja dibuat itu. Dengan memicingkan matanya Alfred tidak bisa menahan diri.


Muncul gejolak amarah didalam hatinya, dia pun ingin bertanya pada Anneke sambil mencoba menahan emosinya. Melihat gelagat ayahnya yang tampak mulai emosi, Anneke berpikir pasti ayahnya sudah mengetahui laporan keuangan di kartu-kartu miliknya. Namun seperti biasanya ayahnya bukanlah tipe orang yang suka bertanya tentang hal-hal yang bersifat pribadi.


Meskipun begitu Anneke tetap harus membuka semuanya pada sang ayah hari ini juga. Dengan melakukan itu maka semua beban pikiran yang disimpan ayahnya selama dua tahun ini bisa terangkat dan tidak ada kesalahpahaman lagi diantara mereka.


“Pak Pram, terima kasih banyak atas bantuanmu. Lain kali aku tidak akan menyerahkan kartu-kartuku pada Kaylee.” ucap Anneke tersenyum senang.


Mendengar perkataan putrinya, Alfred sangat terkejut. Kaylee? Jadi selama ini semua kartu-kartu milik putrinya berada ditangan Kaylee? Jika itu memang benar dipakai oleh Kaylee berarti selama ini dia sudah berprasangka buruk kepada putrinya sendiri. Melihat itu timbul rasa bersalah didalam hatinya yang terdalam. Selama ini dia sudah salah menilai putrinya itu.


Selama ini dia mengira kalau putrinya itu boros dan menyalahgunakan keistimewaan dari keluarga Runako meskipun dia sudah menikah dengan keluarga Arsenio. Apalagi dalam satu tagihan, Alfred pernah melihat adanya tagihan pemesanan beberapa botol minuman keras. Saat itu dia sangat sedih dan marah karena berpikir Anneke menjalani kehidupan liar diluar sana.


Akhirnya Alfred Runako menghela napas lega. Semua dugaannya selama ini tentang putrinya ternyata salah! Alfre membetulkan posisi duduknya dan dia sekarang merasa sedikit penasaran kenapa putrinya itu dengan begitu mudahnya menyerahkan kartu-kartunya pada Kaylee. Apakah putrinya itu begitu bodohnya dan mempercayai Kaylee dengan mudah?


“Keke, apakah kau yang memberikan sendiri semua kartumu pada Kaylee?” tanya Alfred yang masih bersikap tenang seperti biasanya. Bagaimanapun Kaylee adalah keponakannya dan sudah banyak membantunya di perusahaan.


“Tidak papa.” jawab Anneke dengan singkat sambil memasukkan kartu barunya kedalam dompet miliknya. Didalam hatinya dia merasa senang membayangkan reaksi Kaylee yang sudah kehilangan kesenangannya sekarang.

__ADS_1


“Mengapa kartumu bisa berada ditangan Kaylee? Kenapa dia bisa menggunakan kartumu dengan bebas?” tanyanya dengan kedua alis yang sudah mengerut.


“Papa, dulu Kaylee bilang padaku kalau dia akan membantuku untuk menyimpan kartu-kartu itu karena aku tidak pandai mengelola keuanganku. Sedangkan dia sangat pintar, katanya dia takut kalau aku kehilangan kartuku atau tidak bisa mengontrol pemakaian kartuku. Jadi dia sendiri yang memintanya dariku dengan alasan itu, pa.”


__ADS_2