MALAIKAT DALAM GAUN BARU

MALAIKAT DALAM GAUN BARU
BAB 58. KHAWATIR


__ADS_3

“Langsung ke kantor dan jangan lupa pesankan sarapan untuk wanita itu! Antar ke kantornya!” perintah Noah yang dijawab asistennya dengan anggukan kepala. “Levi! Apa yang harus dilakukan seorang pria agar tidak diabaikan wanita?” tanyanya tiba-tiba membuat asistennya merasa terkejut.


‘Aduh! Pertanyaan lagi? Aku saja belum pernah pacaran bagaimana aku bisa tahu?’ keluh Levi.


“Kenapa kau diam saja? Apa kau mau bilang tidak tahu? Ck! Tak berguna! Kau harus segera memiliki kekasih agar kau tahu menjawab pertanyaanku!” ucap Noah kesal.


“Tidak mudah mencari kekasih, Tuan! Lagipula saya belum minat untuk menjalin hubungan.” jawab Levi dengan sejujurnya. Karena memang itu yang ada dipikirannya saat ini. Melihat hubungan Noah dan Anneke saja sudah membuatnya pusing. Apalagi kalau dia punya kekasih?


“Menjawab saja! Aku akan naikkan gajimu kalau kau punya kekasih! Kuberi waktu sebulan!”


“Hah? Mana bisa begitu Tuan? Saya memang suka naik gaji tapi jangan dikaitkan dengan punya kekasih? Saya tidak mau sembarangan berhubungan dengan seseorang.” ujar Levi.


“Apa kau ini masih seorang lelaki? Apa kau tidak tertarik pada perempuan?” tanya Noah lagi.


Sebelum Levi menjawab, mereka sudah tiba di perusahaan. Dia pun menghela napas lega karena tidak perlu terjebak pada pertanyaan atasannya itu.


“Kau merasa lega, heh? Ingat ya, aku beri kau kesempatan untuk menjawab pertanyaanku tadi!”


“Hehe…..maaf tuan! Saya sarankan Tuan harus lebih perhatian pada Nyonya supaya dia tidak mengabaikan Tuan. Mungkin Tuan bisa mulai memberinya hadiah-hadiah kejutan.” ucap Levi.


Dia pun sebenarnya tidak yakin dengan jawabannya tapi dia harus menjawab daripada gajinya dipotong. “Biasanya wanita suka diberi hadiah dan kejutan kecil yang membuat mereka senang.”


“Memangnya apa yang disukai wanita? Perhiasan? Uang, iyakan?” ucap Noah.


“Tapi sepertinya Nyonya berbeda dari wanita lainnya. Kalau anda memberikan uang atau perhiasan langsung nyonya akan menganggap Tuan meremehkannya.”


“Apa begitu?” Noah mengerutkan kedua alisnya.


“Yang saya baca dari internet memang begitu, Tuan.”


“Baiklah! Kau harus lebih banyak baca di internet lagi. Cari tahu apa saja yang membuat wanita bahagia!” ujar Noah saat mereka sudah memasuki lift khusus eksekutif.


Levi hanya bisa menghela napas panjang, kini tugasnya malah ditambah lagi.


“Sudah kau pesankan sarapan untuk wanita itu?”

__ADS_1


“Wanita mana Tuan? Maksudnya Nyonya?”


“Ya iya lah. Memangnya wanita mana lagi?”


“Oh, sudah Tuan! Tapi saya tidak tahu apa makanan kesukaan Nyonya jadi saya pesankan sarapan biasa saja seperti yang biasanya Tuan makan.”


...*********...


Di ruang kerjanya terlihat sibuk bekerja, tiba-tiba dia teringat Anneke. ‘Apa yang dilakukan wanita itu sekarang? Apa dia sibuk bekerja? Setahunya dulu Anneke bukanlah tipe pekerja keras kecuali pekerja keras dalam hal menguntit dirinya.


Memikirkan Anneke yang sudah punya perusahaan sendiri membuat Noah resah karena dia mengira wanita itu sudah tidak ingin mengejarnya lagi.


‘Bukan alasannya saja buka perusahaan sendiri! Dia pasti tidak mau mengejarku lagi! Apa dia sudah tidak menyukaiku lagi? Tapi? Apa itu mungkin setelah apa yang terjadi semalam?’ pikirnya.


Memikirkan kalau Anneke tidak akan punya waktu lagi mengejarnya karena disibukkan dengan pekerjaan. Entah mengapa membuat Noah merasakan hatinya perih.


Ia tidak tahu bagaimana bisa dia merasakan hal itu, tetapi jelas kalau dia tidak rela kalau diacuhkan oleh Anneke. Dia tidak rela diabaikan wanita itu lagi kedepannya. Dia menyukai keintiman mereka semalam, aroma tubuh wanita itu yang mengacaukan akal sehatnya. Seandainya dia tahu kalau seperti ini rasanya berdekatan dengan Anneke, sejak dulu dia akan mengejar istrinya itu.


‘Aduh! Dasar tolol! Kenapa pikiranku jadi kemana-mana? Tidak, ini tidak boleh terjadi.’ dia pun meraih ponselnya dan menghubungi Anneke. Setelah beberapa saat panggilan tersambung, “Ada apa?”


Noah terdiam mendengar suara ketus wanita itu.


“Tidak! Aku takut kau beri racun! Aku berikan pada karyawanku.”


“Apa? Aku yang mengirimkan sarapan itu untukmu karena kau belum makan apapun tadi!”


“Oh, Tuan Arsenio yang terhormat! Anda baik hati sekali. Terima kasih tapi jangan kirimkan makanan apapun padaku! Aku tidak mau mati muda karena keracunan.”


Noah geram dan mengepalkan tangannya. Kenapa wanita ini selalu saja mampu membuatnya emosi.


“Kalau tidak ada lagi yang mau dibicarakan. Aku tutup teleponnya! Aku sibuk!”


“Anneke! Ingat ya, aku ini klienmu! Selesaikan tugasmu dan bawa sketsa desainmu ke kantorku.”


“Oh, apa aku tidak salah dengar? Yang kutahu Adrian adalah klienku! Bukan anda Tuan Arsenio.”

__ADS_1


“Adrian adalah orang yang bekerjasama dengan perusahaanku! Dia bekerja dibawah perintahku.”


“Kalau begitu urusan anda dengan Adrian, bukan denganku! Bye!”


Belum sempat Noah bicara tapi Anneke sudah mematikan teleponnya. Hal ini membuat Noah semakin geram dan emosinya memuncak. “Levi!” teriaknya memanggil asistennya. Levi yang mendengar suara teriakan itu langsung memucat wajahnya. Dengan ketakutan dia membuka pintu ruang kerja Noah dan melangkah perlahan-lahan.


Sementara itu di ruang kerja Anneke, dia mendengus kesal setelah menutup teleponnya. Dasar laki-laki gila! Sudah diceraikan tapi menolak dan seenaknya saja membatalkan perceraian! Dia malah seenaknya membuat Anneke kehilangan harta berharganya semalam.


Anneke menarik napas panjang, ‘Aku tidak boleh membiarkan ini! Bukankah rencanaku membuatnya bertekuk lutut dan menyerahkan hartanya padaku?’


‘Kenapa jadinya aku yang terlihat lemah? Tidak bisa begini! Aku harus membalikkan keadaan!’ pikir Anneke. Setelah beberapa saat terdiam, tiba-tiba dia tersenyum, muncul sebuah ide dibenaknya.


‘Pertama aku harus menyingkirkan Shelly! Aku harus bisa membuat Noah mencium kakiku dihadapan perempuan tak tahu malu itu! Perempuan perusak itu harus pergi jauh!’


Sambil memikirkan kehidupan sebelumnya mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya. Dia mulai merasakan keganjilan dalam kehidupan ini.


Dulu Noah sangat membencinya dan merasa jijik padanya, kenapa dikehidupan sekarang Noah seperti harimau buas yang selalu ingin menerkamnya? Apa pria itu mengalami gangguan otak?


Dreeetttt dreeetttt dreeettt


Ponselnya berbunyi dan dia melihat nama yang muncul dilayar ponselnya. “Halo papa?”


“Keke, kau ada dimana sekarang?” tanya Alfred.


“Ada dikantor. Ada apa papa meneleponku? Apa ada yang bisa kubantu?”


“Ehm, apa kau sudah bertemu Noah?” tanya pria paruh baya itu lagi.


“Ya, kemarin aku bertemu dengannya bersama klien. Aku sedang mengerjakan desain untuk hotel barunya, pa. Memangnya kenapa?” tanya Anneke lagi. Tak biasanya ayahnya menanyakan tentang Noah yang sejak awal memang tidak disukainya.


‘Kenapa papa tiba-tiba menanyakan tentang Noah? Apa dia mulai menyukai laki-laki brengsek itu?’ pikirnya.


“Ehm, begini! Perusahaan ingin mengajukan kerjasama dengan perusahaan Noah! Untuk pembangunan resortnya diluar kota! Apa kau bisa membuat desainnya? Papa tidak mau proyek ini jatuh ketangan perusahaan Runako! Lebih baik perusahaanmu saja yang menanganinya, dengan begitu keuntungan proyek akan jadi milikmu!” ujar Alfred Runako setelah dia memikirkan dan membicarakan hal itu dengan Liam Runako semalam.


“Kenapa begitu pa?” tanya Anneke yang tak paham maksud ayahnya.

__ADS_1


“Papa mau kau fokus mengembangkan perusahaan barumu! Arsenio Grup akan membuka kompetisi untuk desain resortnya. Peluang ini terbuka untuk semua perusahaan, sepertinya Kaylee ingin ikut mengajukan desainnya. Jadi menurut papa lebih baik kalau kau saja yang membawa nama keluarga Runako untuk mendapatkan peluang ini.”


Setelah mendengarkan penjelasan ayahnya, Anneke pun paham maksud pria itu. Intinya, Alfred tidak mau jika Kaylee yang memenangkan proyek ini makanya dia meminta Anneke membuat desain dan mengirimkan pada Noah. Jika dia bisa mendapatkan peluang ini, maka nama perusahaannya akan semakin terkenal dan ini menguntungkan baginya dan keluarga Runako.


__ADS_2