
Memikirkan dia akan bersaing dengan Kaylee membuat Anneke pun setuju. “Baiklah pa! Aku akan membuat rancanganku! Bisakah papa mengirimkan padaku kira-kira seperti apa detail yang diinginkan Noah? Aku tidak mau bertanya padanya, aku mau memenangkan peluang ini atas kerja kerasku sendiri dan bukan karena dia membantuku.” ujar Anneke.
“Baiklah keke. Papa akan kirim ke emailmu detail konsep yang diinginkan Noah.” ucap Alfred. Kini pria itupun bersemangat karena dia akan mendukung putrinya. Setelah pembicaraan itu berakhir, Anneke pun tersenyum.
“Hahahaha……aku masih ingat kejadian ini dikehidupan sebelumnya! Bukankah Kaylee mencuri desain ku? Ehm….mari kita lihat apa yang terjadi dikehidupan sekarang.”
...*****...
Anneke berjalan mondar mandir didepan ruang kerja Noah. Sesekali dia melirik dari kaca pintu itu dia bisa melihat Noah begitu serius dengan rapat virtual yang sedang dilakukannya. Sebetulnya Anneke sangat ingin mendobral dan menarik kerah baju pria busuk itu. Tetapi rapat itu menghalanginya. Sialan! Anneke sudah tak sabar lagi berdiri selama dua jam disana. Dalam hati dia menggerutu.
‘Kenapa rapatnya lama sekali? Apa sih yang mereka bicarakan?’ diam-diam Anneke sedikit menguping pembicaraan itu dan dia bisa mendengar suara wanita disana yang mengalun lembut.
“Tuan Noah, mengenao proyek pengembangan taman hiburan bagaimana menurut anda?”
“Ganti!” Noah menjawab sembari sudut matanya menangkap sosok yang saat ini mencuri dengar dibalik pintu ruang kerja itu.
“Apakah Tuan tidak menyukai desainnya atau bagaimana?” tanya wanita itu lagi seakan terus saja berusaha berbicara dengan sang CEO.
“Hmmm.” jawab Noah sedikit tidak fokus dengan seluruh isi rapat yang sudah berlangsung lama. Matanya yang tajam dan telinganya sensitif terpaku pada pintu dimana istri cantiknya sedang menggerutu dengan mulut mungilnya.
Noah berpikir betapa bodohnya wanita itu, andaikan dirinya saat ini tidak sedang berada ditengah meeting, mungkin dia sudah tergoda mengoyakkan pakaian wanita itu. Eits, sebentar? Kenapa tiba-tiba dia berpikiran mesum begitu?
Apa yang baru saja dipikirkannya? Noah menggeleng-gelengkan kepalanya mulai berkonsentrasi kembali pada rapatnya yang sudah dia mute itu.
Setelah sekian lama akhirnya Anneke pun merasa bosan. Sehingga dia meninggalkan tempat itu dengan bibir manyun kembali ke kantornya.
Untungnya kantornya berada tak jauh dari kantor Noah, cukup menyeberangi jalan dan berjalan sedikit saja sudah sampai. Baru saja dia hendak membuka pintu kantornya ponselnya berdering.
Tanpa melihat siapa yang meneleponnya, Anneke langsung menjawab, “Halo selamat siang.”
__ADS_1
“Kembali ke kantorku sekarang!” terdengar suara bariton itu memberinya perintah.
“Maaf? Ini siapa ya?” tanya Anneke asal untuk membalas Noah yang sudah membuatnya kesal.
“Anneke! Jangan main-main denganku! Datang ke kantorku sekarang!”
“Oh!” hanya itu saja yang diucapkannya.
Anneke pun berjalan kembali ke perusahaan Noah. ‘Sialan! Untung saja jaraknya tidak jauh!’ keluhnya. Saat dia kembali melewati lobi, resepsionis memandangnya dengan heran. Bukannya tadi wanita itu sudah pergi ya? Kenapa dia kembali lagi? Anneke mendengar mereka berbisik-bisik, lalu dia menoleh.
“Apakah begini cara kerja karyawan di perusahaan ini? Ck! Kasihan sekali suamiku bekerja keras menghasilkan uang untuk menggaji karyawan seperti kalian?”
Dengan tersenyum Anneke berjalan menuju ke lift khusus meninggalkan kedua resepsionis yang memandangnya dengan diam. Mereka tidak menyadari jika Anneke adalah istri dari CEO mereka.
Saat Anneke memasuki ruang kerja Noah, dia melihat pria itu duduk di kursi kebesarannya. Anneke pun meletakkan tasnya diatas meja kerja itu seenaknya lalu duduk.
“Apa kau lupa tanggung jawabmu?” tanya Noah.
“Heh, tanggung jawab? Harusnya aku yang meminta pertanggungjawabanmu! Dasar brengsek!”
“Aku sudah bertanggung jawab padamu! Kau masih tetap istrikku yang sah. Lalu apalagi?”
“Noah! Dengar baik-baik ya, aku tidak mau lagi jadi istrimu! Sebaiknya kembalikan surat cerai itu.”
“Tidak bisa! Memangnya bisa seenaknya mempermainkan hal seperti itu?”
“Bukannya kau duluan yang melakukan itu? Seenaknya membatalkan surat cerai!”
“Sudahlah! Nikmati saja menjadi istriku! Sekarang kau obati lukaku, hari ini terasa sakit sekali! Kau terlalu ganas semalam. Lihatlah ini.” Noah sudah melepaskan dasinya dan membuka kancing kemeja atasnya.
__ADS_1
Anneke langsung merona, mengingat apa yang terjadi semalam membuatnya merutuki dirinya sendiri. Dengan enggan dia pun beranjak mengambil kotak P3K dan menghampiri Noah. FNamun pria licik itu sudah menarik Anneke hingga terduduk dipangkuannya. “Noah!”
“Jangan membantah! Lakukan dengan santai."
Anneke sedikit tidak rela namun dia harus mengobati luka itu yang sudah sedikit mengering. “Bagaimana? Apakah sudah membaik?” tanyanya dengan bibir manyun dengan wajah cemberut.
“Belum.” jawab suaminya yang dingin itu dengan santai sembari menyesap kopinya. Dia menikmati sentuhan dan aroma tubuh istrinya yang jadi candu baginya.
Noah menyandarkan tubuhnya disandaran kursi sehingga membuat Anneke harus memajukan wajahnya agar bisa mengobati luka itu. Noah melirik ke bawah untuk melihat wanita cantik itu sedang meniup-niup lukanya setelah mengoles dengan krim antibiotik. Sebenarnya luka itu sudah tidak sakit lagi. Mendengar bahwa luka itu belum membaik, Anneke kembali menggerutu.
...*********...
Pagi harinya suasana terasa segar setelah Noah memaksa tinggal di apartemen Anneke semalam. Di ruang tamu Noah tampak beberapa kali melirik jam tangan mewahnya karena tak sabar menunggu kehadiran seseorang yang akan berangkat ke kantor bersamanya hari ini. Bagaimanapun ini adalah kali pertama Noah pergi kerja bersama istrinya itu.
Anneke adalah istrinya sendiri, mengingat ucapan Levi kemarin Noah pun sudah memikirkan apa yang akan dilakukannya pada istrinya hari ini. Noah tersenyum sendiri dengan rasa puas seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan baru. Terlihat dimatanya dia sudah membayangkan apa yang akan terjadi nanti pada Anneke.
Noah bertekad mulai hari ini dia akan memperlakukan Anneke dengan baik. Setelah menunggu beberapa lama tanpa bisa dihindari sorot matanya menangkap sosok yang sedari tadi ditunggunya.
Mata pria itu melotot melihat penampilan istri cantiknya itu yang terlihat sangat cantik pagi ini. Wanita itu……sekali lagi Noah mengerjapkan matanya seakan bertanya-tanya dibenaknya.
Lihatlah disana sosok wanita itu menuruni tangga dengan penampilan formal layaknya seorang pengusaha muda. Ia mengenakan rok diatas lutut dan jas serta kemeja warna biru tua. Setelan jas dan roknya berwarna hitam, dia memakai scarf dengan warna sesuai kemeja satin biru tuanya. Rambut panjang Anneke diikat satu seperti ekor kuda. Memperlihatkan leher jenjangnya.
Noah menyukai penampilan istri cantiknya itu apalagi saat dia memandang kaki jenjang nan mulus itu. Namun tiba-tiba dia merasa tidak senang karena banyak orang yang akan melihat kaki mulus istrinya. Anneke bahkan memakai kacamata layaknya seorang profesional, dengan riasan wajah warna natural membuatnya tampak semakin cantik.
“Apa-apaan ini?” serunya dengan nada terkejut melihat pemandangan didepannya. Dalam hatinya dia jengkel karena Anneke berpakaian seperti itu.
Tapi sudahlah, bagaimanapun wanita itu terlihat semakin cantik dan Noah senang menatapnya seharian. Meskipun disisi lain, dia jengkel karena banyak mata yang akan memandang kecantikan wanita itu.
‘Biarlah! Aku tidak keberatan dia berpenampilan secantik ini! Yang penting tidak akan kubiarkan ada pria lain yang akan mengagumi kecantikan istriku ini? Lagipula dia akan sering datang ke perusahaan! Semua orang harus melihat Nyonya Arsenio yang cantik paripurna tidak terkalahkan. Sebenarnya Noah belum terbiasa dengan penampilan Anneke sekarang yang cantik berbeda dengan dulu.
__ADS_1