
Setelah beberapa saat dia pun perlahan membuka matanya dan meraih ponsel yang diletakkannya diatas nakas. Dia melihat layar ponselnya sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
‘Apa? Sudah jam sembilan? Aduh……kenapa ini terjadi sih? Aku harus mulai mendisplinkan diriku mulai sekarang! Aku harus membiasakan bangun pagi lebih Dengan mata yang masih mengantuk dia duduk ditepi tempat tidur lalu meraih gelas berisi air minum dan meminumnya.
Tenggorokannya terasa kering, Anneke menggosok kedua mata dengan tangannya. Anneke segera beranjak menuju kamar mandi, dia sudah berjanji pada kakek dan ayahnya hari ini. Ini adalah hari pertamanya bekerja dan dia harus mendapatkan klien pertamanya hari ini.
Dengan cepat dia membersihkan tubuhnya, gara-gara telat bangun dia harus buru-buru sekarang. Dia tidak mau mengecewakan kakek dan ayahnya. Anneke berjalan keluar dari kamar mandi dalam keadaan polos. Toh hanya dia sendirian tinggal diapartemen itu jadi tidak masalah jika dia berjalan tanpa mengenakan apapun.
Dia membuka wardrobe lalu memilih pakaian yang akan dikenakannya hari ini. Ayahnya mengajak Anneke bertemu klien siang ini, dia harus berpenampilan menarik. Bukankah sekarang dia adalah seorang CEO? Meskipun perusahaannya baru merintis tapi Anneke bertekad untuk mengembangkan bisnisnya dan membuat bangga orangtuanya.
Dengan terburu-buru juga Anneke meninggalkan apartemennya dan saat dia tiba di parkiran ternyata disana sudah menunggu Abner dan para pengawalnya. “Selamat pagi nona.” sapa mereka.
“Maaf membuat kalian menungguku! Aku telat bangun! Kenapa kau tidak membangunkanku?” tanya Anneke pada Abner seraya masuk kedalam mobil.
Asistennya yang mendengar perkataan Anneke pun merasa kebingungan untuk menjawab.
“Kenapa kau diam saja? Harusnya kau membangunkanku, aku jadi telat kan?”
“Tapi nona, saya tidak mungkin masuk ke apartemen dan membangunkan nona.”
“Aku tidak menyuruhmu masuk ke apartemenku, kau kan bisa meneleponku?” sungut Anneke.
Abner tak menjawab dan hanya diam saja. ‘Bukannya tadi aku sudah meneleponnya berulang kali? Apa dia tidak melihat ponselnya? Ada apa dengannya pagi ini?’ bisik hati Abner sambil melirik Anneke.
“Nona, apa anda baik-baik saja?”
“Kenapa kau bertanya begitu? Apa aku terlihat tidak baik? Sakit?” ujar Anneke dingin.
“Bukan begitu nona. Anda terlihat fresh tapi sedikit muram. Tidak seceria biasanya.”
__ADS_1
“Ehm, aku baik-baik saja. Oh iya Abner apakah kau bisa mengatur kencan buta untukku?”
“Hah?’ Abner mengerjapkan matanya. Dia menatap Anneke lalu berkata, “Serius? Bukankah anda mau fokus menjalankan perusahaan baru?” tanya Abner.
“Bukan sekarang! Bagaimana kalau akhir pekan? Apakah kau kenal seseorang yang pantas untuk jadi teman kencanku?”
“Saya akan carikan nona! Apa saya harus diskusikan ini dengan Nyonya Besar?” tanya Abner lagi.
“Tidak usah! Nenek tidak perlu tahu soal ini. Bagaimana menurutmu? Sepertinya bukan ide buruk kalau aku mencoba menjalin hubungan baru! Ya, anggap saja untuk menambah teman dan koneksi?”
“Ya, itu bagus juga nona. Saya akan carikan kandidat yang pantas.”
“Bagus! Kalau sudah menemukan orangnya, segera kabari aku ya? Jangan pilih sembarangan. Aku mau kencan dengan pria yang melebihi Noah!” ucap Anneke sambil tersenyum. Sudah saatnya dia membuat perhituangan dengan mantan suaminya itu.
Sikap Noah yang menginginkannya kembali membuat Anneke membuat keputusan penting. Tidak semudah itu! Lagipula Noah adalah pria pertama yang dia sukai dan dia jatuh cinta pada pandangan pertama.
Bukankah sewajarnya jika seorang wanita jatuh cinta beberapa kali dan merasakan hubungan cinta seperti orang lain? Dia tidak pernah tahu rasanya pacaran dan berkencan sebelumnya. Tapi di kehidupan sekarang, dia ingin merasakan semuanya!
Apa kabarnya gadis itu? Ingin rasanya dia menghubungi Nesha dan mengajaknya bertemu tapi apakah gadis itu sudah tidak marah padanya lagi? Bisakah mereka berteman seperti dulu?
Noah yang datang ke perusahaan setelah dia menghubungi Levi untuk mengatur ulang jadwal pertemuannya dengan kliennya. Noah kembali merasa benar-benar kacau karena mendapati dirinya terabaikan oleh wanita itu! Bahkan sampai pagi ini tidak ada kabar apapun dari Anneke untuknya. Beberapa kali dia menatap layar ponselnya namun tidak ada satu pesanpun dari wanita itu.
Entah mengapa dia merasa gelisah. Hingga akhirnya pria yang dikenal dengan keteguhan hatinya itupun menyerah! Hari ini juga ia harus bertemu dengan wanita itu dan memarahinya. Berani-beraninya wanita itu mengabaikannya dan tidak datang ke apartemennya bahkan pesan yang dikirimkannya tadi malam pun tidak dibalas. Anneke hanya membaca pesan itu dan mengabaikan.
Tanpa berpikir panjang Noah menyuruh asistennya Levi untuk memanggil helikopter pribadinya segera! Dia ingin memberi kejutan pada wanita itu dengan menaiki helikopternya pergi ke kantor. Memang diatas gedung kantornya ada landasan khusus untuk helikopter miliknya. Noah tersenyum menyeringai seperti sedang merencanakan sesuatu.
Dalam waktu tiga puluh menit Noah telah tiba bersama helikopternya diatap gedung milik Anneke. Angin kencang dan suara baling-baling membuat para karyawan di gedung itu bergegas keluar untuk melihat apa yang terjadi. Saat mereka keluar dan menatap keatas, mereka melihat sebuah helikopter yang berada tepat diatas gedung kantor mereka.
Helikopter itu bergerak turun membuat orang-orang yang berada dibawah menyingkir dan masuk kedalam gedung. Saat helikopter itu sudah turun dan mendarat dihalaman depan gedung itu tampak Noah turun dari helikopter dengan percaya diri.
__ADS_1
Sebelum helikopter itu turun, seorang karyawan memberitahu Anneke apa yang terjadi. Wanita itu pun meninggalkan ruang kerjanya karena merasa penasaran. Abner mengikutinya dari belakang dan saat itu mereka sudah melihat sebuah helikopter yang mendarat dihalaman depan gedung yang cukup luas itu.
“Apa-apaan ini?” tanya Anneke mengeryitkan dahinya.
Tampak Noah turun dan langsung berjalan menghampiri Anneke. Sejak tadi dia sudah melihat wanita itu berjalan tergesa keluar dari kantornya dan menatap kearah helikopternya. Melihat orang yang turun dari helikopter itu membuat Anneke pun memasang wajah cemberut.
‘Mau apa lagi dia kesini? Apa dia sengaja pamer ya? Huh! Aku tidak tertarik seandainya dia membawa jet pribadi sekalipun.’
Para karyawan yang bekerja disana terpelongo melihat pria tampan itu. Mereka mengenalinya karena kemarin Noah hadir dan melakukan sesuatu yang mengejutkan. Dan pagi ini pria tampan itu malah datang dengan helikopter?
Saat keduanya sudah saling berhadapan, Noah tersenyum dan menyerahkan sebuah kotak beludru berwarna merah pada Anneke.
“Selamat pagi Anne! Ini hadiahmu hari ini.” ucap Noah menyodorkan kotak perhiasan itu padanya.
Anneke hanya diam saja dan hendak membalikkan tubuhnya namun Noah sudah lebih cepat menariknya dengan kuat hingga tubuh Anneke membentur dada bidang pria itu.
“Aduh!” Anneke meringis saat keningnya membentur dada keras Noah.
Tanpa menunggu lagi Noah menaruh kotak perhiasan itu ditangan Anneke.
“Mulai hari ini aku akan selalu menghiasi harimu dengan hadiah-hadiah kecil dariku!” ucap Noah.
“Maaf, tapi aku tidak butuh! Tolong ambil kembali.” Anneke menolak keras namun Noah tak menyiakan kesempatan ini dan berbisik ditelinga Anneke sambil menghembuskan napasnya.
“Bersikap baiklah. Lihatlah semua orang menatap kearah kita! Apa kau yakin tidak mau hadiah ini?”
“Noah, sudah kukatakan berulang kali, kita tidak ada hubungan apa-apa lagi! Jadi tolong berhentilah menggangguku. Aku mau menjalani hidupku dan bahagia.”
“Aku akan membuatmu bahagia.” Noah menarik Anneke yang berada dalam dekapannya memasuki gedung kantor itu. Anneke hendak berontak namun saat dia melihat tatapan mata semua orang padanya.
__ADS_1
Akhirnya dia pun hanya bisa menahan diri dan diam. Saat keduanya memasuki lift, Abner ingin masuk juga namun Noah langsung berkata, “Naik tangga!” lalu Noah menutup pintu lift meninggalkan Abner yang terpelongo.