Malam Di Istanbul

Malam Di Istanbul
Kesibukan sehari-hari


__ADS_3

Ini sudah memasuki bulan ketiga kami sekeluarga tinggal di Istanbul, Turki. Kami hanya tinggal sementara disini sampai aku menyelesaikan pendidikan S2. Jika selesai dengan cepat, setidaknya aku bisa pulang kurang lebih dua tahun lagi. Sudah rindu sih dengan sanak saudara terutama ibuku. Tapi mau bagaimana? Untungnya aku membawa serta suami dan anakku kesini jadi ada mereka sebagai pelipur lara.


Disini aku hanya kuliah. Aku beruntung karena mendapat full beasiswa mulai dari tempat tinggal, uang kuliah, uang transportasi bahkan uang saku. Terkadang aku juga dikirimkan uang oleh kakak laki-lakiku yang bekerja di ibukota.


Kami hanya dua bersaudara. Aku sebagai adik dan anak bungsu tentunya. Kak Andi, kakak laki-laki yang sangat bertanggung jawab. Dia juga sangat menyayangi ibu. Hal itu membuatku tenang pergi kesini untuk kuliah. Karena disana sudah ada Kak Andi yang akan menjaga ibu.


Ayah? Ahh.. aku rindu pada Ayah. Bahkan wajahnya saja aku hampir lupa. Ayah kami sudah meninggal sejak aku berusia 2 tahun dan Kak Andi berusia 5 tahun. Sejak itu ibu berusaha mati-matian menyekolahkan kami seorang diri. Kak Andi yang sudah lulus S2 dan kini kerja disalah satu perusahaan asing di ibukota. Dia mengajak ibu ikut serta tinggal dirumahnya yang ada disana.


"Allahu Akbar.. Allahu Akbar..."


Seketika suara adzan subuh membangunkan aku dari lamunan.


Aku segera masuk kamar dan membangunkan suamiku.


"Mas bangun. Sudah masuk waktu solat subuh." Kupegang pundaknya dengan lembut


"iya Dek. Mas sudah bangun."


"aku wudhu dulu ya Mas"


Setibanya diruang solat ternyata sikecil juga sudah bangun.


"ma, Pa. Ayo solat bareng." Ajaknya riang lengkap dengan sarung dan pecinya.


"eh, jagoan Mama udah bangun? Pintarnya udah siap solat subuh juga ya," kuhampiri dan kucium pipinya yang chubby.


"ayo iqomat Indra," perintah suamiku seraya mengelus kepala kecilnya.


"iya Pah."


Pagi ini kulalui seperti biasa. Setelah selesai solat subuh aku siapkan sarapan untuk suami dan Indra anakku. Walau dinegeri orang nasi tetap menjadi pilihan kami untuk memulai hari. Kalau kata orang Indonesia, walau sudah ngemil bakso atau kue belum disebut makan namanya jika tidak pake nasi. Hehehe. Jadilah menu sarapan nasi goreng dengan telur orek.


Tidak butuh waktu lama bagiku untuk memanggil mereka. Karena begitu aroma nasi goreng sudah memenuhi ruangan, mereka pun otomatis akan keluar mencari sumber aroma.


"hmm... wangi banget nih yang masak nasi goreng," kata suamiku seraya kepalanya muncul dari balik tembok.


"mama, mama, aku mau yang kecapnya banyak ya," jagoan kecilku ini tidak mau kalah dari Papanya.


"ayo sarapan. Tapi cuci tangan dulu ya."


"masakanmu selalu wangi Ma. Dari lantai dua kamar kita sudah tercium aromanya," puji suamiku

__ADS_1


"iya masakan mama emang juara, " ucap Indra sambil mengacungkan jempol.


"kalau ada lomba masak, mama pasti menang terus," tambahnya sambil memasukkan nasi goreng ke mulutnya.


"duh, Indra masih kecil udah pinter ngomong. Anaknya siapa sih?" ledekku sambil aku cubit pipinya.


"anaknya Mama yang paling ganteng," kata dia memuji diri sendiri.


Celotehannya membuat kami tertawa diruang makan.


"dek, hari ini berangkat kuliah jam berapa?", tanya suamiku sambil membantu mencuci piring di dapur.


"aku berangkat jam08.00 Mas. Setelah ini aku mau langsung mandi dan bersiap-siap."


"kamu berangkat sendiri? Mau aku anterin?"


"aku bareng Intan kok Mas. Kami udah janjian. Nanti jam08.00 Intan kesini."


"oh yaudah kamu siap-siap sekarang aja. Sisanya biar Mas yang beresin."


"iya Mas, Adek siap-siap sekarang ya. Makasih Mas," kucium pipi suamiku seraya melirik ke arah Indra yang sedang asyik menonton televisi.


"hahahah, Indra lagi asyik nonton televisi kok. Kamu gak perlu khawatir curi-curi pandang gitu," bisik suamiku.


"iya, iya. Sudah sana siap-siap. Nanti telat loh kamu Dek."


Aku segera meninggalkan dapur dan menuju ke kamar di lantai dua.


Gamis dan kerudung segera aku keluarkan dari lemari. Tidak perlu waktu lama untukku mandi. Sudah terbiasa mandi secepat kilat kalau waktu mepet gini. hihihi.


Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 dan benar saja Intan sudah ada didepan pintu.


"ma, Intan sudah datang," teriak suamiku memanggil dari bawah.


"iya bentar Pa. Mama tinggal pakai bedak."


"duhh yang dandan buruan dong," teriak Intan dari bawah.


"bentar sist. 10 detik lagi."


"oke. aku hitung ya. Kalau belum turun juga aku tinggal. Satu.. Dua... Tiga...Empat.. Lima...Enam... Tujuh... Delapan.... Sembilan...Sepul....."

__ADS_1


Tap..tap..tap..tap...


Aku segera berlari turun kebawah tepat sebelum Intan menggenapi hitungan kesepuluhnya.


"tada..!" spontan aku langsung membuka lebar kedua tangan seolah memperlihatkan hasil dandan tadi.


"lahh.. Gak ada bedanya woi jeung. Kirain bakal kayak gimana tuh muka," ledek Intan sambil tertawa kecil


"ihh.. jahat kamu Tan. Aku kan memang gak bisa dandan."


Intan masih tertawa saat suamiku mendekati sambil menunjuk jam dinding untuk mengingatkan bahwa waktu sudah pukul 08.10.


"dah yuk berangkat," ajak aku sambil menghampiri dan mencium punggung tangan suamiku.


"ma, aku mau salim," si kecil Indra tidak mau ketinggalan.


"sini Indra sayang sekalian peluk mama," segera aku rangkul jagoanku dalam pelukan. Tidak lupa aku cium kedua pipinya yang berisi.


"hati-hati ya Ma. Nanti kalau pulangnya mau dijemput kabari Papa ya."


"iya Pa. Mama berangkat kuliah dulu ya. Assalamualaikum."


"pamit pergi juga ya Pak Ryan. Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi..."


Aku segara keluar dan menutup pintu. Sesekali membenarkan kerudungku yang aku rasa berantakan karena tadi terburu-buru.


"tan, kerudungku rapi gak? Kok kayaknya berantakan ya?"


"udah rapi kok Na. Itu mah Perasaan kamu aja."


"kamu bawa kaca gak Tan?"


"kebiasaan kamu mah. Selalu ngaret, jadinya kan buru-buru dandannya."


"hehehe... Maklumlah emak-emak"


"heran kamu yang kayak gini bisa-bisanya IPK tinggi," sindir Intan sambil meminjamkan kaca.


"iya dong. Biar greget ," jawabku jahil.

__ADS_1


"apaan sih greget? Dasar gak nyambung kamu juminten," Intan tertawa sambil mengeluarkan kaca dari tasnya.


Kami terus berjalan kaki sampai halte bus sambil mengobrol ringan. Hari ini cuacanya bagus. Saat ini di Turki sedang memasuki musim panas. Mungkin karena masih pagi, suhunya belum terlalu panas. Dijalan sudah ramai dengan aktivitas warga. Angin yang berhembus ringan dan matahari yang sudah meninggi seolah tidak mau ketinggalan sang awan. Sesekali aku melihat handphone dan mengecek perkiraan cuaca. Di ponsel tertera perkiraan cuaca nanti siang akan mencapai 21°C.


__ADS_2