Malam Di Istanbul

Malam Di Istanbul
Aku Cemas


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore waktu setempat. Sesekali aku kembali mengecek handphoneku dan masih belum ada balasan dari Mas Ryan.


Walaupun pikiranku sedang kacau aku tidak boleh terlihat sedih didepan Indra. Aku kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Tiba-tiba handphone-ku berdering. Segera aku ambil handphone yang ada di meja makan. Aku kira Mas Ryan yang menelpon balik, ternyata Tina yang sedang menelpon.


"Halo assalamualaikum Ana..."


"Waalaikumsalam.. iya Tina ada apa?"


"Ana, aku dan Intan khawatir dengan keadaan kamu. Aku sekarang lagi ada di kosannya Intan..."


"Kami tadinya ingin langsung ke rumahmu. Tapi sepertinya kamu harus menghubungimu dulu..."


"Kalian sudah pulang kuliah?"


"Sudah Ana. Ada jam kosong tadi jadi kami langsung pergi..."


"Bagaimana Ana apa kami bisa ke rumahmu? Kami benar-benar khawatir.."


"Iya kalian boleh kemari. Mas Ryan juga belum pulang kok."


"Ok Na. Sebentar lagi ya kami akan kesana. Assalamualaikum.."


"Wa'alaikumsalam."


Tadi kami memang belum selesai bicara aku langsung menutup telepon Tina, karena Indra memanggil dan kami langsung pergi untuk beli makan siang. Memang masih banyak yang harus dibicarakan bukan?


(Waktu yang tepat mereka kesini saat Mas Ryan memang belum pulang ke rumah)


Sepuluh menit kemudian setelah aku menerima menerima telepon dari Tina terdengar suara Tina dan Intan dari depan pintu.


"Assalamualaikum...."


"Wa'alaikumsalam. Indra sayang bisa bantu Mama untuk bukakan pintu?"


"Iya Ma.."


Cklek.


"Assalamualaikum...Indra ganteng yang buka pintu ya?" Intan terlihat senang melihat Indra.


"Wa'alaikumsalam Tante Intan dan Tante Tina.."


"Silahkan masuk Intan dan Tina aku lagi di dapur." Teriakku dari arah dapur.


Tina dan Intan segera menuju ke dapur.


"Ana kamu baik-baik aja kan?"


Aku menjawab pertanyaan Tina hanya dengan wajah setengah tersenyum.


"Kamu lagi ngapain Ana?"


"Aku mau masak untuk menyiapkan makan malam." Aku menjawab pertanyaan Intan dengan tidak semangat.


"Kamu tidak perlu masak Na, tadi kami sudah beli makanan.."


"Iya aku rasa makanan ini cukup untuk kamu, Indra dan suamimu." Intan menyerahkan bungkusan makanan.


"Tadi kami sempatkan mampir untuk membeli pilav dan pilde..."


"Jadi kamu bisa istirahatkan badan dan pikiranmu sejenak Na.." Tina mengelus pundakku.


"Mama, mama, lihat bolanya Indra gak?" Indra datang ke dapur.

__ADS_1


"Indra carinya sama Tante Intan yuk? Tante Intan mau lihat juga mainan Indra yang lain dong..." Intan segera mengajak Indra pergi dari dapur.


"Kalian bicaralah berdua. Aku yang akan menemani Indra."


"Terima kasih Tan.."


Aku dan Tina segera duduk melingkari meja makan.


"Intan begitu sampai kampus langsung bercerita kepada aku penyebab kamu tidak masuk kuliah.." Tina memulai perbincangan.


"Saat dia cerita soal Mbak Sinta juga aku awalnya tidak percaya, tapi jika semuanya dikaitkan saling berhubungan Na."


"Suamimu tidak ada di rumah, kamu tahu pergi kemana?"


Aku menjawab dengan menggelengkan kepala.


"Aku sampai di rumah siang dan sampai saat ini Mas Ryan belum pulang.."


"Aku sudah mencoba berkali-kali menghubunginya tapi sama sekali tidak diangkat. Aku juga kirim pesan sampai sekarang belum dibalas.."


"Aku sangat shock. Pikiranku sangat kacau.." Aku menundukkan kepala dan mengepalkan tanganku.


"Aku cemas. Aku khawatir. Aku penasaran, tapi disatu sisi aku juga takut jika semua ini benar Tina.."


"Bagaimana jika semuanya benar Tin?"


Aku sudah tidak kuasa menahan tangis. Air mata yang aku tahan dari tadi siang kini meluap. Deras tidak berhenti.


Untungnya Indra dan Intan sedang bermain di kamar Indra. Sehingga Indra tidak bisa mendengar suara tangisku di dapur


"Astaghfirullah.... Astaghfirullah...hiks..." Aku mencoba mengontrol emosi.


Tina beranjak dari kursinya dan memelukku.


"Untuk sekarang aku ingin memastikan nya malam ini Tina.."


"Aku sudah bertekad ingin mencari tahu semuanya sendiri."


"Malam ini juga aku akan berusaha untuk mengecek isi dari handphone-nya Mas Ryan."


"Aku tidak bisa terus-terusan kan untuk tidak tahu semuanya."


"Jika kau sudah mengecek semuanya apa yang selanjutnya akan kamu lakukan Na?"


"Jika aku sudah mencari tahu semuanya sendiri dan semua itu benar, maka tidak ada pilihan lain Tin..."


Tina berdiam diri sejenak. Sepertinya dia paham maksudku.


"Ana aku rasa sebelum memutuskan hal itu kamu harus menghubungi keluargamu dulu.."


"Ibumu dan kak Andi perlu tahu bagaimana kondisimu di sini Na.."


Aku mengangguk.


"Kamu fokus dulu saja pada penyelesaian masalah ini ya.."


"Tidak Tin. Besok aku akan tetap masuk kuliah.."


"Selama mencari tahu semuanya, aku rasa aku tidak boleh membuat Mas Ryan curiga."


"Aku akan bersikap seperti biasanya sampai semuanya terbongkar.."


"Kamu sanggup Na?"

__ADS_1


"Aku harus bisa. Aku juga tidak bisa terlihat sedih terus karena ada Indra."


"Jadi, malam ini kamu akan mengecek sendiri handphonenya suamimu?"


"Iya Tin. Mas Ryan hampir tidak pernah bangun sepertiga malam dan itu kesempatanku.."


"Baiklah... Kalau itu yang mau kau lakukan, kami akan selalu mendukungmu. Kamu harus ingat di sini kamu nggak sendir. Kamu butuh apa pun kamu bisa hubungi aku dan Tina."


"Iya Tin.. Makasih ya.."


"Dan maaf aku Bukannya ingin mengusir kalian, tapi mungkin lebih baik kalian pulang sekarang. Aku khawatir Mas Ryan sebentar lagi akan pulang.."


"Iya Na, kami akan segera pulang. Kamu segera kabari kami ya besok.."


"Iya, besok akan aku ceritakan semuanya..."


Tina dan Intan segera berpamitan. Aku dan Indra sudah lapar, jadi kami makan malam dengan makanan yang dibelikan Tina dan Intan.


Tepat dugaanku, sekitar dua puluh menit setelah Intan dan Tina pamit Mas Ryan pulang.


(Untung Tina dan Intan sudah pulang)


"Assalamualaikum..."


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi Mas.."


"Kalian sudah makan malam?" Tanya Mas Ryan sembari berjalan ke meja makan.


Aku perhatikan ekspresi wajah Mas Ryan. Tampaknya sudah tidak marah seperti tadi pagi.


(Ada kejadian apa di luar sampai dia berubah seperti ini lagi?)


"Kami baru saja selesai makan.."


"Tadi Tante Tina dan Tante Intan kesini Pa, bawa makanan ini.." Indra menunjukkan piring Mas Ryan berisi pilav dan pilde yang sudah aku siapkan.


"Oh, mereka kesini?"


"Iya, tadi main sama Indra Mas..."


"Mas sudah makan?"


"Aku sudah makan diluar Ma.."


"Kalau begitu, pilav dan pilde Papa aku simpan di kulkas ya. Besok tinggal dihangatkan."


(Ya, seperti ini. Bersikaplah seperti biasa Ana)


Makan malam sudah selesai Indra sibuk dengan mobil-mobilannya diruang tamu.


"Pa, tadi pergi kemana? Aku telpon dan kirim pesen tidak dijawab?" Aku bertanya kepada Mas Ryan sambil membersihkan piring.


"Aku tadi pergi keluar. Aku perlu waktu untuk sendiri Ma.."


Mas Ryan menjawab seperti itu lalu segera ke atas.


Aku tersenyum getir mendengar jawaban Mas Ryan. Kercayaanku kepadanya kini tinggal setengah.


(Kita lihat malam ini Mas)


(Semua penyebab kamu berubah dan semua yang kamu sembunyikan bisa aku ketahui malam ini Mas)


Aku memang mengatakan itu di dalam hatiku. Tapi di lubuk hatiku yang paling dalam rasa takut itu masih ada.

__ADS_1


(Ya Allah, jika semua ini benar mohon Kau Tunjukkan kebenaran itu)


__ADS_2