Malam Di Istanbul

Malam Di Istanbul
Malam di Istanbul


__ADS_3

Aku melanjutkan membereskan dapur sisa makan malam tadi. Piring-piring sudah kucuci. Aku sudah pastikan kompor mati. Lalu aku mengunci pintu. Setelah itu aku menyusul Mas Ryan ke lantai dua.


(Ini sudah sekitar lima belas menit sejak Mas Ryan ke kamar. Apa dia sudah tidur?)


Saat menaiki tangga kaki Diana seolah diikat oleh beban berat. Napasnya tersengal seperti habis lari bermeter-meter jauhnya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Wajahnya memperlihatkan kekhawatiran, kecemasan dan ketakutan yang menjadi satu.


Tiba di lantai dua Diana sempatkan dahulu ke kamar sebelah dan meyakinkan bahwa Indra sudah tidur. Setelah puas mengecek bahwa Indra sudah tidur, kini ia harus segera masuk kamarnya.


Diana tampak mematung sebentar di depan pintu kamarnya. Pintu kamarnya yang terbuka sedikit memperlihatkan cahaya lampu yang keluar dan itu artinya Mas Ryan belum tidur.


Seperti prajurit yang mempersiapkan bekal untuk perang, Diana berusaha untuk mempersiapkan kalimat apa yang akan diucapkan pertama kali jika suaminya belum tidur.


(Aku harus bersikap seperti biasa)


Diana membuka pintu. Tampak suaminya yang sudah mengganti pakaian tidur sedang asyik memainkan handphone di genggamannya. Suaminya masih belum menyadari jika Diana sudah masuk kamar.


(Apa yang membuat Mas Ryan asyik dengan handphone-nya sampai tidak menyadari keberadaan ku?)


Aku menghela nafas panjang. Berusaha untuk tetap bersikap seperti tidak tahu apa-apa.


"Mas, tadi pagi kenapa marah?" Aku membuka obrolan.


"Kamu bisa nanya yang lain nggak?!"


"Mas aku harus tahu kesalahan aku dimana. Supaya aku bisa memperbaikinya.."


"Lagi pula beberapa hari lalu bukankah kita berdua sama-sama sudah sepakat Mas untuk menceritakan apapun perasaan kita.."


"Marah, sedih dan kecewa kita sepakat untuk saling terbuka dan bicara mas agar tidak terulang pertengkaran seperti itu." Aku berbicara dengan hati-hati dan sangat pelan agar Mas Ria Aku berbicara dengan hati-hati dan sangat pelan agar Mas Ryan tidak emosi.


"Aku sudah bilang kan sama kamu tadi di bawah, bahwa aku hanya butuh waktu sendiri. Kenapa sekarang malah ditanyakan lagi?!"


"Baik Mas aku minta maaf. Lain kali kalau Mas butuh waktu sendiri tinggal bilang saja. Aku akan atur jadwal agar aku menjaga Indra seharian dan Mas bisa menikmati waktu sendiri..."


"Ck... sudahlah aku mau tidur sekarang ngantuk."


Ryan tampak menarik selimutnya. Ia berbaring dengan tubuh membelakangi Diana. Nampak ia tidak mau melihat wajah Diana sekalipun sedang tidur.


Hal itu tidak dipedulikan oleh Diana. Karena bukan pertama kalinya suaminya tidur dengan memberikan punggung kepada istrinya itu. Ibarat melihat benda berharga mata Diana justru sedang fokus pada HP yang di taruh Mas Ryan di samping kanannya tepat di atas meja.


(Tepat saat sepertiga malam nanti aku akan bangun seperti biasa)


Malam itu cuaca tidak panas seperti biasanya. Terkadang terdengar suara semilir angin di balik jendela. Ditambah dengan suhu kamar yang dingin akibat AC, Diana nampak menambahkan kain selimut pada dirinya. Ia dan suaminya tertidur sangat lelap.

__ADS_1


Tepat sepertiga malam Diana terbangun. Iya tidak perlu lagi alarm untuk membangunkannya. Matanya segera melirik HP suaminya.


(Hp-nya Mas Rian masih ada di situ)


Sekarang Diana harus memikirkan cara bagaimana dia bisa mengambil hp suaminya tanpa membangunkannya.


Dia sempatkan untuk melihat Mas Ryan. Dia harus meyakinkan betul jika Mas Ryan masih tertidur lelap.


Posisi tidur Mas Ryan sekarang berubah. Ia sedang dalam posisi telentang. Ini lebih baik daripada posisi awal tidur yang menghadap ke handphonenya.


(Ya Allah, jika ini yang terbaik mohon Kau mudahkan)


Diana dengan perlahan menarik selimutnya. Ia turunkan kakinya pelan-pelan hingga tidak terdengar suara langkah. Berjalan mengendap-endap seperti seorang pencuri.


Dalam hati kecilnya sebenarnya ia merasa berdosa, jika ia harus melihat atau mengecek isi handphone suaminya sendiri. Tapi di kepalanya saat ini yang dia inginkan adalah kebenaran yang selama ini disembunyikan oleh suaminya.


Diana sudah berjalan menuju meja tempat suaminya menaruh HP.


(Ayo Diana tinggal sedikit lagi kamu harus pelan-pelan)


Tap


Diana sudah berhasil mengambil hp-nya Mas Ryan. Dia pun melihat kearah Mas Ryan dan suaminya masih tertidur.


(Aku harus pergi sedikit menjauh dari sini)


(Apa ini? Kenapa layar HPnya dikunci?)


(Harus memasukkan enam digit angka?)


(Akan aku coba dengan tanggal pernikahan kami..)


Namun sayangnya layar HP suaminya belum mau terbuka.


(Loh kok salah? Jadi apa passwordnya?)


Diana nampak memencet tombol angka kelahiran suaminya. Berharap benar karena ia tidak punya banyak waktu.


(Terbuka!!)


Begitu layar hp-nya terbuka Diana segera meluncur ke aplikasi pesan Wha**App. Matanya terus mencari siapa nama Mbak Sinta di kontak suaminya. Ada satu nama yang membuatnya curiga.


(My Past? Masa laluku? Mbak Sinta kah?)

__ADS_1


Diana segera membuka isi pesannya. Betapa terkejutnya ketika Diana melihat isi chatnya. Bola matanya seakan ingin keluar, badannya bergetar. Walau suhu kamar sedang dingin karena menyalakan AC namun sekujur tubuhnya keluar keringat dingin. Kedua tangannya segera menutup mulutnya yang menganga seolah ingin teriak kencang tapi tidak bersuara.


Banyak terdapat kata sayang dalam isi percakapan Sinta dan Mas Ryan. Janjian ketemuan pun sering mereka lakukan.


(A-apa? Aku tidak salah lihat?)


(Sejak kapan mereka saling kenal?)


(Aku harus segera melihat pesan sebelumnya)


Tanggal dan bulan dari isi pesan terlihat jelas. Mereka sudah lama menjalin hubungan! Berbulan-bulan lamanya mereka menjalin asmara.


(Inikah penyebab Mas Ryan berubah menjadi pemarah dan pesolek?)


Selain aplikasi pesan Diana meluncur ke galeri. Wajahnya kembali dibuat terkejut dengan sebuah foto yang memperlihatkan Mas Rian dan Mbak Sinta berciuman.


(Seberapa intim hubungan mereka?!)


Baru saja muncul pertanyaan seperti itu pada benaknya, pesan terbaru dari Shinta tadi pagi membuat Diana mengetahui jawaban penyebab Mas Ryan tadi pagi tiba-tiba marah.


(Kak, aku hamil. Aku mau kamu tanggung jawab ya kak)


Diana tak kuasa lagi. Dia menjatuhkan handphone suaminya.


Bruk.


Seperti disambar petir tubuhnya menjadi kaku. Pikirannya tiba-tiba kosong. Dan tanpa diminta air mata keluar dengan sendirinya.


Srek...


Suara selimut Mas Ryan yang sedang mengubah posisi tidurnya membuat Diana menyadari harus segera kembali menaruh HP Mas Ryan ke tempat semula.


Sebelum Diana menaruh HP Mas Ryan dia berbegegas mengambil handphonenya. Dia menscreenshot isi percakapan sampai dengan foto-foto yang ada di galeri HP suaminya.


Setelah dirasa mendapatkan cukup banyak bukti, Diana segera menaruh kembali hp suaminya di tempat semula.


Diana berdiri di samping suaminya. Bukan tatapan sayang lagi yang dia tunjukkan ketika suaminya sedang tidur. Kini Diana melihat suaminya dengan perasaan jijik, sedih, kecewa dan marah. Kata-kata sayang dan manisnya selama ini tipuan.


Ketika dia marah dan mengumpatnya pun bukan sekedar khilaf. Namun seakan memang dia benar-benar benci kepada Diana.


Seperti anak kecil yang polos, Diana merasa dibodohi mentah-mentah oleh suami yang selama ini ia puja-puja.


Tangannya mengepal erat seperti ingin melayangkan tinjunya di pipi suaminya.

__ADS_1


(Ingin sekali aku memukulnya)


(Bagaimana bisa kamu melakukan ini padaku?)


__ADS_2