Malam Di Istanbul

Malam Di Istanbul
Kamu Siapa?


__ADS_3

Pukul 10.00 waktu setempat kami bertiga, aku, Tina dan Intan masih berada di kelas. Namun dosen yang seharusnya mengajar tidak hadir.


Akhirnya para mahasiswa pun menghisi jam kosong dengan mengobrol. Termasuk kami.


"Duh, wajahku jadi tumbuh jerawat nih.." Aku mengeluh ketika melihat wajahku di cermin yang aku pinjam dari Intan.


"Ah, kamu jerawatan juga sudah nikah ini Ana.." Intan menggerutu.


"Sudah menikah bukan berarti bisa cuek Tan. Nanti kalo suamiku enggak suka lihat wajahku gimana?"


"Kamu pake skincare apa Ana? Soalnya kulitmu dari dulu kan jarang berjerawat."


"Aku tidak pakai skincare apa pun Tan. Aku harus berhemat karena untuk kebutuhan sehari-hari mengandalkan dari beasiswa dan uang kiriman Kak Andi.."


Setelah aku berkata seperti itu, Tina seolah melihatku dari atas ke bawah. Aku hari ini memakai gamis polos warna navy dan kerudung hitam bekas kemarin. Sama sekali tidak ada polesan lipstik dibibir. Tidak ada mascara yang membuat bulu mata ku terlihat panjang. Hanya sapuan foundation dan bedak tabur untuk melindungi wajah dari paparan sinar matahari.


"Ana nanti setelah dari sini sebelum ngerjain tugas mampir bentar yuk ke toko skincare. Kita pilih skincare yang kamu butuhkan." Sudah kuduga Tina akan berkata seperti itu.


"Untuk apa sih Tina?"


"Ayolah. Kamu kan harus merawat diri juga Ana.." Tina setengah memaksa.


"Tapi kan aku udah bilang kalau uangku tidak cukup Tin..."


"Kamu tidak perlu pusingkan itu Ana. Nanti aku yang bayarkan."


"Tina, kamu udah sering mentraktir kami sarapan, makanan siang bahkan juga cemilan. Masa kamu juga sampai membelikan aku skincare?"


"Kulitku dari dulu memang jarang berjerawat. Ini mungkin karena terlalu banyak bergadang saat ngerjain tugas aja kok Tin.."


"Lah, kan katamu walaupun sudah nikah bukan berarti bisa cuek dengan penampilan?"


"Iya, tapi bukan berarti kamu juga yang belikan Tina. Terkadang Kak Andi mengirim uang lebih. Nanti dari sisa uang itu aku bisa belikan skincare." Aku berusaha menolak dengan halus.


"Jadi kamu tenang aja ya Tin.."


"Memang kenapa sih Ana kalau aku yang bayarin skincare kamu?" Nah, kan. Mulai deh Tina terlihat kesal karena aku menolak bantuannya.


"Jelas aku enggak enak dong Tin. Kalau seperti ini mah, masa segala kamu yang belikan?"


"Kalau enggak enak, kasih kucing." Kata Tina setengah bercanda.


"Sudah slow aja lah. Pokoknya, nanti kita sempatkan pergi untuk beli skincare yang kamu butuhkan. Titik!" Tina memalingkan wajahnya dan fokus kembali dengan handphone ditangannya.


"Tuh kan Bu boss Tina marah..." Intan berbisik.


" Kamu kan tahu kalau dia paling tidak suka kita menolak tawarannya.."


"Aku hanya tidak enak sama Tina, Tan."


"Seolah-olah semua kebutuhan ku Tina yang memenuhi.."


"Iya sih, aku paham posisi kamu. Tapi Tina juga niatnya baik untuk bantu kamu."


"Aku tahu, Tina memang baik kok..."


Aku tersenyum melihat Tina. Sudahlah dia cantik bak model, hatinya juga baik. Dari SMA Tina memang sudah menjadi primadona di sekolah. Namun itu tidak menjadikannya besar kepala. Kami bertiga sudah akrab dan kompak saat itu.


Kini ditambah dia menikah dengan seorang pengusaha. Dan beruntungnya Tina, suaminya memang sangat baik. Tina sering diberikan keberlimpahan materi. Tetapi itu tidak membuat Tina menjadi manja dan sombong. Justru dia menjadi sering mentraktir kami. Suaminya mengetahui hal itu dan tidak melarangnya.


Saat masih di Indonesia, kami bertiga sering kumpul dengan membawa Indra dan suami masing-masing. Yah, tentu saja terkecuali Intan yang hanya membawa diri sendiri.


Jadi bisa dibilang jika hubungan suamiku dan suaminya Tina juga baik.


"Kenapa melihatku seperti itu? Kamu mau nolak lagi?" Tanya Tina judes.


"Enggak kok, aku cuma mau bilang terima kasih..."


"Terima kasih ya Tina, selama kita temenan kamu selalu terdepan untuk memberikan bantuan. Kamu sangat baik sampai-sampai aku merasa, seperti ini ya seandainya aku memiliki saudara perempuan..."


Tina pun tersenyum mendengar perkataanku.


"Oh, jadi Tina saja yang kamu anggap saudara ya? Kalau aku enggak gitu? Karena aku enggak pernah traktir kalian?" Intan terdengar iri.


"Hahahaha, enggak gitu juga kok Tan. Aku juga sudah menganggap kamu seperti saudara perempuanku kok..." Intan langsung tersenyum lebar.


"Yah, walaupun lebih tepatnya mungkin seperti ini ya jika aku punya adik perempuan yang berusia 7 tahun.."


Mendengarku berkata demikian, Intan merubah ekspresi wajahnya.


"Anak kecil dong? Kok gitu sih?"

__ADS_1


Intan hanya menggerutu. Sayangnya aku dan Tina tetap tertawa melihat responnya.


Sore ini kami pulang dari kampus, sebelum kami mengerjakan tugas kami sempatkan mampir untuk membeli skincare yang dibutuhkan kulitku.


Tina segera memanggil penjaga toko dan meminta ku untuk berkonsultasi tentang produk yang sekiranya cocok untuk jenis kulitku.


"Affedersiniz, sivilce tedavisi var mı diye sormak istiyorum?" ( Permisi, obat untuk jerawat ada?)


"Özlemek. kısaca anlayacağım." (Ada. Sebentar saya ambilkan)


"Normal, parlak ciltler için diğer yüz bakımları ile." (Dengan perawatan wajah untuk kulit normal yang mencerahkan)


Tina berkata demikian sembari mengikuti penjaga toko itu. Sementara Intan mengajakku untuk melihat deretan warna-warna lipstik yang dipajang.


"Wih, warna ini bagus ya. Warna pink natural gitu. Warna orange ini juga cantik. Bibir jadi terlihat cerah."


Intan menggenggam dua lipstik warna berbeda dikedua tangannya. Ia segera mengoleskan salah satu lipstik tester dibibirnya sambil terus mengoceh.


"Permisi, Mba Ana ya?"


Suara asing yang memanggilku. Siapa ya? Aku segera menoleh ke arah belakang.


"Hai Mba. Kita baru bertemu lagi setelah beberapa bulan lalu.." Sapanya akrab seperti sudah pernah bertemu denganku sebelumnya.


Melihat wajahku yang sedang bingung, dia langsung memperkenalkan diri.


"Sepertinya Mba Ana sudah lupa ya? Aku Sinta Mba yang beberapa bulan lalu kita bertemu di restoran.."


"Maaf, aku masih tidak ingat.."


"Itu loh Ana,Mba Sinta yang ikut gabung makan dengan kita." Intan berusaha untuk membantuku mengingat


"Oh, ada Mba Intan juga. Gimana kabarnya Mba?"


"Alhamdulillah baik Mba Sinta. Mba Sinta mau memilih warna lipstik juga?"


"Iya, aku mau membeli lipstik, bedak dan pelembab."


"Oh iya Mba Sinta. Maaf aku baru ingat Mba."


"Iya enggak apa-apa Mba Ana. Kita memang sudah lama tidak bertemu lagi."


"Mba-mba masih kuliah disini?" Sinta bertanya sembari ikut memilih warna-warna lipstik.


Rasa minder ku muncul lagi saat melihat Mba Sinta.


(Udah cantik seperti ini, tetap merawat wajah. Hebat ya)


"Mba Sinta tinggal disini?" Intan mulai basa-basi.


"Enggak kok Mba Intan. Aku masih liburan saja disini. Tapi ada beberapa keperluan yang belum selesai jadi aku masih ada disini sampai beberapa bulan kedepan."


(Setelah Sinta berkata demikian, aku jadi ingat jika dia kesini untuk liburan saja)


(Kalau mau liburan sampai beberapa bulan lagi, mungkin urusan yang benar-benar tidak bisa ditinggal)


Mba Sinta tampak sudah memutuskan untuk membeli lipstik warna red cherry. Ia berpamitan kepada kami lalu kembali berkeliling.


"Mba Sinta beneran orang kaya ya. Liburan di sini sampai berbulan-bulan. Apa enggak habis tuh uangnya?"


"Ssst... kamu enggak boleh julid gitu Tan."


"Ana, sini deh. Pilih sendiri skincare yang kamu mau." Tina memanggil kami untuk menghampirinya.


Setelah beberapa menit kami mampir di toko tersebut, kami bertiga segera menuju perpustakaan. Kami disana hingga Maghrib lalu pindah ke kosan Intan hingga malam.


Tina sering menginap di kosan Intan karena kami selalu kemalaman dalam mengerjakan tugas. Tapi tentu saja, Intan malah senang jika ada teman yang menginap.


Pulang pada malam hari setelah mengerjakan tugas sungguh melelahkan. Biasanya saat aku sampai rumah, Indra sudah tidur. Hanya Mas Ryan yang masih terjaga, menunggu aku sampai tiba di rumah.


Begitu sampai dirumah, aku segera ke kamar lantai dua dan menuju kamar mandi. Aku mandi dan mengganti pakaian. Aku begitu lelah hingga ingin merebahkan tubuh dikasur.


(Tapi bagaimana dengan skincare dari Tina? Masa engga aku pakai)


( Kalau tidak aku pakai, dia pasti sedih)


Aku sempatkan memakai perawatan wajah yang dibelikan Tina. Mas Ryan terlihat heran melihat istrinya sebelum tidur duduk dimeja rias untuk menggunakan skincare.


"Dek, tumben kamu pakai krim wajah.."


"Ini dibelikan Tina Mas. Tadi kami sempat mampir ke toko kosmetik. Dan Tina memberikan aku sepaket skincare ini."

__ADS_1


"Tina yang membelikan ini semua?"


"Iya Mas. Padahal aku sudah menolaknya, tapi dia terus memaksa."


"Bahkan saat aku menolak kedua kalinya dia sempat marah Mas. Mas tahu sendiri kan, dari dulu sahabat ku yang satu ini paling enggak suka kalau aku menolak bantuannya."


"Oh yasudah enggak apa-apa. Namanya dikasih..."


Aku meneruskan memakai serum lalu dilanjutkan dengan krim malam. Setelah memakai krim, pandangan mataku tertuju pada minyak rambut, minyak wangi dan perawatan wajah untuk pria.


"Mas, beli minyak rambut dan perawatan wajah untuk pria?"


"Engga Dek. Mas enggak beli kok. Mas dikirimkan sama Ita. Katanya laki-laki harus tampak rapi juga jangan sampai kucel."


"Oh. Terus Ita bagaimana Mas? Apa jadi resign?"


"Alhamdulillah Ita enggak jadi resign. Katanya sayang juga kalau keluar dari perusahaan itu. Nyari kerja disana juga lagi susah".


Aku hanya mengangguk dan segera menuju ke tempat tidur.


"Pas banget ya Tina belikan aku skincare. Mas aja perawatan, masa aku enggak?"


"Dek, maaf ya Mas belum bisa belikan kamu perawatan wajah.." Mas Ryan berkata sembari memelukku.


"Enggak apa-apa Mas. Aku juga kan sebenarnya tidak terlalu butuh. Ini juga Tina yang memaksa."


Mas Ryan langsung mencium kening ku. Kami sama-sama membaca doa tidur. Besok aku harus bersiap kembali untuk kuliah.


Pagi hari sudah tiba. Indra sangat manja bergelantungan di kakiku sambil sesekali bercanda. Aku tidak bisa marah, karena dia sedang melepas kangen kepadaku.


Memang sedikit repot saat kita memasak dengan anak uang yang membuntuti ke dapur. Harus ekstra waspada menjauhkan dari kompor yang menyala.


"Indra sayang, Mama lagi masak. Indra tunggu sambil duduk aja di kursi itu ya?"


Bujuk ku sambil menunjuk kursi yang ada diujung dapur.


"Iya Ma." Untung Indra masih menurut.


"Ma, Mama kok ada dirumah saat pagi aja?"


"Jadwal kuliah Mama lagi padat sayang. Mama jadi pulang malam terus. Kenapa? Indra kangen ya sama Mama ya?" Tanyaku sembari menggoreng nasi.


"Iya, Indra kangen Mama." Jawabnya sedih.


"Eh, nanti hari Minggu pas Mama libur kuliah kita jalan-jalan ke taman yuk. Indra mau engga?"


"Mau Ma! Janji ya Ma."


"Iya sayang..." Untunglah dia sudah ceria kembali.


Nasi goreng sudah siap. Aku segera memanggil Mas Ryan untuk turun dan sarapan bersama.


Betapa kagetnya aku saat melihat Mas Ryan tiba di dapur. Rambutnya yang biasa ikal acak-acakan kini ditata sedemikian rupa dengan minyak rambut hingga rapi dan dibelah pinggir. Bahkan Mas Ryan terlihat sudah mandi. Lalu aku mengendus wangi yang asing. Dia bahkan pakai minyak wangi!


"Mas, kamu mau pergi?"


"Enggak pergi kemana-mana kok Dek. Mas sesekali mau tampil rapi didepan kamu saja." Dia tersenyum melihat ku.


"Aku senang banget Mas, pagi-pagi lihat suami bening begini.."


Kami bertatap mata dan tersenyum bersama. Sampai Indra memanggil karena sudah lapar.


"Ma, aku lapar."


"Oh iya sayang. Yuk kita langsung makan."


Kami segera sarapan. Saat sarapan berkali-kali aku menatap suamiku yang sudah rapi. Mas Ryan membalas dengan senyuman. Aku senang melihatnya rapi di depanku. Tapi ini terlalu mendadak. Karena selama tujuh tahun menikah, baru sekarang Mas Ryan peduli dengan penampilannya.


(Yah, mungkin ada baiknya juga sesekali Mas Ryan seperti ini)


Pikirku Mas Ryan yang bersolek dipagi hari hanya terjadi selama dua atau tiga hari saja. Ternyata sudah satu minggu lebih Mas Ryan menjadi pesolek.


(Apa normal ya suami yang sudah berumur tiga puluh tiga tahun menjadi pesolek?)


(Apa suaminya Tina juga seperti ini?)


(Ah, tapi suami Tina memang sudah terbiasa rapi)


Perubahan Mas Ryan yang tadinya cuek menjadi pesolek terlalu mendadak buatku hingga aku terasa sedikit asing dengannya.


Bahkan tiap malam Mas Ryan seolah tidak mau kalah dariku. Dia juga rajin menggunakan krim malam diwajahnya. Mas Ryan yang pada dasarnya sudah ganteng kini makin charming.

__ADS_1


Aku sudah bertanya kembali kepada Mas Ryan dan memintanya untuk tidak repot-repot memikirkan tampil rapi di depanku karena khawatir akan menyulitkan Mas Ryan. Tapi sepertinya Mas Ryan tidak merasa kerepotan dan senang melakukan itu.


__ADS_2