
Tepat pukul 09.00 kami sudah sampai kampus. Suasana kampus dengan mahasiswa yang hilir-mudik seolah tidak bisa menghilangkan pesona Tina. Terbukti begitu kami turun dari bus, sosok Tina begitu mencolok. Tinggi dan langsing. Walaupun berhijab syar'i pesona cantik wajahnya semakin terpancar.
"*e* dah si Tina, berdiri disitu udah kayak foto model aja," mata Intan sampai tidak berkedip.
"iya, orang cantik mah beda ya. Berdiri gitu aja udah fotogenik," tambahku
"günaydın.." ( selamat pagi )
Sapaan seseorang seolah membuat kami berdua serentak menoleh kebelakang ke arah sumber suara.
"günaydın profesör." ( selamat pagi Professor)
Kami berdua menjawab berbarengan.
"ders 10:00 'da başlar. Ama sen geldin." ( Kelas dimulai jam10.00. Tapi kalian sudah datang)," katanya sambil sedikit tersenyum.
" evet prof. Yani dostum pegged tavuk değil." ( Iya prof. Biar jodoh tidak dipatok ayam)," jawab Intan dengan konyolnya.
" ssstt...," spontan aku menyikut lengan Intan.
Professor hanya tertawa mendengar jawaban Intan.
"İlk ben gideceğim." ( Saya duluan ya )
Pamit Professor seolah membuat kami sadar untuk melanjutkan langkah menghampiri Tina yang sedari tadi sudah menunggu.
"parah banget sih Tan. Aku tahu kamu jomblo. Tapi enggak gitu juga kali. Masa ke Professor jawabnya gitu," meski aku bicara gitu, aku jadi tertawa geli karena jawabannya.
"hahahha.. Biarlah. Toh, Profesor Adskhan baik. Enaknya berangkat pagi gini, bisa gak sengaja ketemu Professor ganteng," jawabnya sambil nyengir.
"iya deh yang Jomblo."
"yee... kamu mah enak. Udah punya si Mas yang juga ganteng sama Indra yang lucu. Lah aku, cuma bisa ngerjain tugas dan ngehalu aja."
"nih, anak dua lama amat. Orang udah nungguin bukannya buruan nyamperin ya," Tina mulai geram ketika kami sudah menghampirinya.
"si Intan ni Tina, parah banget. Gak bisa lihat yang ganteng dikit. Profesor aja kena sama banyolannya," kataku sambil menunjuk Intan.
"aduuhh... Jangan digigit dong," teriakku seraya menarik jari telunjuk yang tadi bersarang di gigi Intan.
"siapa suruh nunjuk-nunjuk," dia menjawab sambil menjulurkan lidah.
"ihh.. Bau kunyit jari kamu Ana."
"hahahaha, makanya jangan asal gigit sist," tawaku puas.
__ADS_1
"udah jangan ngobrol disini. Malu diliatin sama mahasiswa lain. Ayo ke kantin aja sambil nunggu jam masuk kelas," ajak Tina sambil narik tangan aku dan Intan. Seolah Tina yang menanggung malu dari semua kelakuan kami.
"kalian mau pesan apa?" tanya Tina
"aku sudah sarapan tadi dirumah bareng suami sama anak Tin."
"aku, aku! Aku belum sarapan. Aku mau menemen, roti dan kaymak. Minumnya mau air putih aja sist," jawab Intan penuh semangat.
"oke aku pesenkan sebentar. Ana kamu beneran gak mau pesen apa-apa?" Tina bertanya untuk membuatku yakin. Aku hanya menggeleng kepala tanda bahwa aku memang sudah kenyang.
"kalau kopi aja gimana?"
"boleh Tin," aku mengangguk karena tidak enak untuk menolak tawaran Tina ketiga kalinya. Toh, kopi bukan makanan berat.
"oke aku pesankan dulu ya."
Tidak lama Tina segera pergi menuju sederetan menu yang dipajang seperti prasmanan lalu ke kasir.
"selain kamu, Tina juga perfect banget. Udah cantik, pintar, suaminya pengusaha, doyan traktir temennya lagi," kata Intan dengan tatapan mata yang menerawang.
"kamu juga suatu saat bakal ketemu sama jodohmu kok Tan," aku berusaha untuk menghiburnya.
"tapi kapan Na? Kapan? Usia aku aja udah memasuki kepala tiga. Dimana seharusnya aku sudah menikah dan punya anak. Hufft...," kali ini Intan menghela nafas panjang.
"lagi pada ngobrol apa sist? Ditinggal pesen makan bentar udah sedih aja Intan. Kamu lapar banget?" tanya Tina sambil menaruh pesanan Intan tepat dihadapannya.
"emak.. aku mau nikah!!"
Intan yang tiba-tiba teriak di kantin seperti anak kecil membuat kami panik seketika. Tina dengan sigap segera menyumpal mulut Intan dengan roti yang ia pesen.
"husss..diam. Bikin malu aja nih anak ya Allah."
Sedangkan aku sibuk meminta maaf ke mahasiswa sekitar yang terganggu karena teriakan Intan.
"Intan kamu ini bener-bener deh. Liat kondisi dong. Kalau teriak gitu dirumahmu sendiri sih gak masalah," aku jadi ikutan kesal karena kelakuan kekanak-kanakan Intan. Tapi entah kenapa gak bisa marah lama-lama kalo sama dia.
"hiks..hiks..nyum..." sambil menangis Intan berusaha mengunyah roti yang ada di mulutnya.
"Tan, tenang aja. Beneran deh, pasti ada kok jodohmu. Udah sekarang sarapan dulu habis ini kita kan langsung masuk kelas," aku coba menenangkan Intan.
Tina hanya menggeleng kepala tanda tidak habis pikir, sahabatnya dari SMA yang jomblo itu begitu memikirkan statusnya.
"yaudah, nanti begitu kita pulang dari kampus mau ke resto dulu ga? Aku yang traktir," Tina berusaha menghibur Intan yang masih menangis seperti anak kecil.
"beneran Tin?" matanya seolah berbinar senang dijanjikan akan ditraktir makan.
__ADS_1
"iya beneran. Kapan aku bohongin kalian?"
"asyik.." seketika Intan lahap menghabiskan sarapannya.
"lagipula kita bertiga udah jarang kumpul-kumpulkan? Ini saatnya me time," Tina mengedipkan mata kearahku seolah membuat kode agar aku juga ikut mereka.
"iya deh. Aku bakal ijin ke suamiku kalau pulang telat."
"yeayy..."
Butuh waktu 30 menit kami menghabiskan makanan lalu menuju ke kelas. Tidak lama kemudian kelas dimulai. Kami bertiga duduk didepan dan saling berdekatan. Sejak SMA kami sering dikira Trio kwek-kwek yang kemana-mana harus bertiga. Tapi aku sendiri memang nyaman dengan mereka. Mereka care banget dan saling ingetin untuk sama-sama sukses bareng.
Disela-sela menunggu profesor jam kedua datang, aku segera mengeluarkan handphone dari tas. Aku ingin segera mengabarinya akan pulang telat karena pergi bertiga dengan sahabat ku. Tak perlu waktu lama bagiku untuk mencari nomor kontak suami.
(Mas, aku diajak Tina dan Intan makan diluar boleh?)
(Mau makan dimana? Sama siapa aja sayang?)
(Diresto deket kampus Mas. Bertiga aja sama Tina dan Intan)
(Iya boleh sayang. Pulangnya mau mas jemput?)
(Gak usah Mas. Nanti mas capek udah jaga Indra dirumah seharian. Aku pulang sama Intan aja. Dekat juga kosannya dengan tempat kita)
(Iya sayang. Nanti pulang hati-hati ya bidadariku)
Tak lupa Mas Rian menyelipkan emoticon kiss diakhir kalimatnya. Aku yang tersenyum senang melihat balasan chat suamiku membuat Intan melirik kepo ke arah HP dan mulai meledek.
"cieee... yang chat-an sama yayang-nya sampai senyum-senyum sendiri gitu."
Seolah kepergok, aku langsung memasukkan HP ke tas.
"apaan sih jeung. Aku tadi cuma ijin ke Mas bakal pulang telat kok."
"ululu....yang masih mesra kayak pengantin baru nih. Masih pake emoticon kiss dan ayang-ayangan," ledek Intan sambil memajukan bibirnya.
Aku hanya tertawa geli melihat ekspresi sahabatku yang gokil ini.
"tapi suami kamu emang romantis banget Ana. Suamiku aja sekarang kalau jawab chat dari aku singkat banget. Dan udah lama banget kita gak pake sayang-sayangan gitu. Padahal usia pernikahan kita sama kan?" Tina menempali seolah iri.
"hehehe. Alhamdulillah.. Mas Riyan masih sama seperti awal kita nikah."
"iya perfect ya Mas Riyanmu itu. Udah ganteng, tinggi, sayang keluarga, romantis lagi. Duh, kapan ya aku punya suami idaman kayak gitu," Intan kembali merengek.
"nah, kan malah jadi panjang. Udah nanti kan kita jalan-jalan habis ngampus," Tina kembali mengimingi Intan.
__ADS_1
Kelas kami hari ini hanya sampai jam14.00. Begitu kelas usai kami bertiga langsung ngacir untuk hang out sekedar melepas penat dan me time bertiga.