Malam Di Istanbul

Malam Di Istanbul
Indra Keenam Perempuan


__ADS_3

Usia pernikahan kami bukan usia yang seumur jagung. Tujuh tahun Mas Ryan selalu berkata dan bersikap baik. Perubahan totalnya beberapa hari ini sangat membuatku shock.


Kenapa dan kenapa. Pertanyaan yang sedari tadi terus terngiang-ngiang di dalam kepalaku. Apa memang ada sisi Mas Ryan yang tidak aku ketahui selama ini?


Aku melihat ke cermin. Bagaimana aku bisa kuliah dengan hati yang sedih dan wajah menangis seperti ini? Bahkan untuk sekedar ke bawah bertemu dengan Indra saja aku enggak bisa.


Untungnya Indra lagi di bawah. Aku duduk disisi tempat tidur. Aku keluarkan air mata hingga aku merasa sudah cukup. Aku kembali melihat cermin.


( Aku harus segera menutup mata sembab ini dengan foundation dan bedak )


Aku pakai foundation dan bedak sedikit lebih tebal dibagian mata dan hidung agar tidak terlihat seperti habis menangis.


( Aku harus berangkat bareng Intan agar suasana hatiku bisa lebih baik )


Aku ambil handphone dan langsung mencari kontak Intan.


( Assalamualaikum. Tan, hari ini berangkat bareng yuk. Kamu siap jam berapa?)


( Wa'alaikumsalam. Ana, aku enggak bisa masuk kuliah hari ini. Aku lagi demam.)


( Syafakillah. Nanti saat berangkat aku mampir sebentar. Aku bawakan kamu madu ya)


( Gak usah repot-repot Na. Tapi makasih ya)


Intan tidak masuk hari ini. Sepertinya aku bisa sharing sama Tina dengan leluasa.


( Bismillah... kamu harus kuat Na.)


( Kamu boleh terkejut dengan sikap Mas Ryan. Tapi kalau kamu nangis aja semua gak akan berubah jadi lebih baik )


Setelah memantapkan hati, aku segera turun ke bawah. Aku mampir dulu ke dapur untuk mengambil madu yang aku simpan di atas kulkas.


Karena ada Indra aku berusaha bersikap seperti biasa. Indra dan suamiku sedang asyik nonton TV sambil sesekali bercanda. Sikapnya ke Indra sama sekali tidak berubah. Seolah aku merasa kalau Mas Ryan hanya memainkan drama didepanku.


"Pa, Indra, Mama berangkat sekarang ya," aku menghampiri Mas Ryan dan mencium punggung tangannya. Si kecil Indra segera menjulurkan tangannya minta tanganku untuk dicium.


"yang pintar dirumah ya jagoannya Mama. Jangan buat Papa repot," aku berkata sambil melirik suamiku. Mas Ryan tidak merespon apapun.


"assalamualaikum..," aku segera pergi menuju pintu. Tanpa menunggu Indra dan suamiku menjawab aku langsung menutup pintu.


Aku segera melangkah sembari berharap jika yang terjadi belakangan ini hanya mimpi buruk bagiku dan aku segera terbangun.


Aku sudah didepan kosan Intan. Aku ucapkan salam seperti biasa. Intan terbaring lemas. Saat aku pegang keningnya memang panas. Untungnya dia sudah sarapan. Aku segera buat madu dicampur air hangat.


"aku berangkat sekarang ya Tan. Madunya aku taruh disini," kutaruh madunya dimeja kamar Intan.


"iya Na. Makasih ya. Btw, kamu berangkat sendiri Na? Gak dianter suamimu? Kan aku lagi sakit."


"enggak Tan. Mas Ryan lagi nemenin Indra juga tadi. Kamu cepat sembuh ya."


"assalamualaikum.."


"wa'alaikumsalam Na.."


Setelah pamit aku segera bergegas meninggalkan kamar Intan. Aku takut mimik wajah ku berubah jika dia bertanya lebih lanjut. Apalagi dia sedang sakit.


( Masa aku menambah beban pikirannya?)


Aku lanjutkan perjalanan ke kampus. Jalannya ramai seperti biasa. Suara kendaraan mulai bising. Namun itu tidak mengganguku untuk terus memikirkan masalah tadi pagi.


Seperti inikah perasaan istri jika mendengar suami berkata kasar? Apa Ibu juga dulu pernah dimaki oleh Ayah ya?


Ah, aku saja sudah lupa bagaimana Ayah bersikap padaku. Jika aku tidak punya foto Ayah, pasti aku akan lupa dengan wajah dan badannya yang gagah.


( Ibu, Ayah aku kangen..)


Aku hanya bisa berbisik dalam hati sambil menahan dada yang kembali sesak. Aku menahan air mata yang hendak keluar. Jangan sampai aku nangis dijalan!


Aku sudah sampai di halte bus. Tidak perlu menunggu waktu lama bus sudah datang. Aku segera mencari tempat duduk paling belakang dan dipojok. Aku tidak ingin menunjukkan wajah sedihku pada orang-orang.


Seperti telepati, tidak lama setelah aku duduk handphoneku berbunyi. Aku segera mencari dan mengeluarkan dari dalam tas. Siapa yang menelponku? Apa Mas Ryan? Aku lihat layar HP. Ibu?!


"halo Bu, assalamualaikum.."

__ADS_1


"wa'alaikumsalam. Gimana kabar kamu Nak?"


"alhamdulillah baik Bu. Kabar Ibu dan kak Andi gimana?"


"alhamdulillah Nak, kami semua disini sehat. Ibu tahu-tahu kangen sama kamu nih. Kamu lagi ngapain Ana?"


"Ana lagi di bus Bu perjalanan ke kampus."


"ohh. Eh iya, kabar Indra dan suamimu gimana? Indra cucu kesayangan Ibu udah bisa apa aja?"


" Mas Ryan juga baik kabarnya Bu."


Jelas aku tidak boleh cerita dulu ke Ibu tentang sikap Mas Ryan yang berubah total belakangan ini kan? Karena yang Ibu tahu hubungan pernikahan kami berjalan lancar-lancar saja.


Seandainya aku cerita, Ibu pasti khawatir dan bisa-bisa bakalan nyusul kesini.


"Indra pintar banget Bu. Udah sering ngoceh dan cerewet. Indra juga diusia yang masuk enam tahun sudah bisa berhitung satu sampai dua puluh. Pelan-pelan sudah bisa menulis walau masih acak-acakan bahkan kadang tidak terbaca. Hihihi," aku mengalihkan topik.


"aduh, Ibu jadi tambah kangen pingin video call sama Indra."


"hehehe nanti kalau aku udah dirumah aku ajak Indra video call Ibu ya."


"iya, nanti telpon Ibu lagi ya."


"iya Bu."


"yaudah kamu hati-hati dijalan. Ibu tutup ya. assalamualaikum."


"wa'alaikumsalam warahmatullahi."


Telpon dengan Ibu walau cuma sebentar, bisa sedikit memberikan aku ketenangan hati. Walau jelas aku tidak bisa melupakan masalah utama. Namun aku sudah bisa sedikit tersenyum selama perjalanan ke kampus.


"Ana...," teriak Tina sambil menghampiriku yang baru turun dari bus.


"tadi aku chat sama Intan, katanya dia sakit ya? Jadi gak masuk kuliah?"


"iya Tin. Intan sakit demam. Tadi pagi sekalian berangkat aku mampir dulu ke kosannya dia."


"tubuhnya memang panas. Tapi untungnya dia udah sarapan dan sudah minum madu hangat."


"nanti pulang kuliah aku mau jenguk dia. Kamu mau jenguk lagi gak?"


"iya, nanti kita jenguk bareng ya Tin. Aku tadi buru-buru berangkat jadi gak sempet ngobrol lama juga."


Kami jalan bareng mulai dari depan kampus. Aku agak bingung gimana mulai curhatnya.


"hmm.. Tina. Aku mau cerita sama kamu."


Tina seperti menyadari bahwa yang mau aku ceritakan penting, matanya segera mencari tempat yang nyaman untuk curhat.


"nah, disana. Yuk kita kesana," Tina menunjuk ke arah tempat duduk yang dikelilingi pohon rindang.


Sambil menuju tempat yang Tina tuju, aku sempat melihat jam. Untungnya masih ada waktu satu jam lebih sebelum kelas dimulai.


"jadi gimana Ana? Kamu mau cerita apa?" tnyanya tanpa basa-basi


"Tin... ini, ini tentang suamiku Tin..."


Posisi duduk Tina seketika berubah. Ia mendekat dan lebih serius memperhatikan.


"selama beberapa hari ini, sikap Mas Ryan berubah total Tin. Mas Ryan jadi dingin, cuek, ketus bahkan dari kemarin udah memaki-maki aku dua kali Tin..."


"aku dikatain be*o dan gob**k Tin cuma karena AC dikamar rusak..."


"dan, dan Mas Ryan gak minta maaf seperti sebelumnya Tin.."


Air mata yang sedari tadi aku tahan, kini tak kuasa mulai bercucuran. Tina dengan sigap membantu mengelap dengan tisu dan menenangkanku.


"mungkin... menurut sebagian orang aku ini berlebihan karena baru dikatain be*o dan gob**k aja udah nangis kayak gini..."


"tapi masalahnya, Mas Ryan selama tujuh tahun nikah gak pernah kayak gini Tin. Tujuh tahun Tin. Itu, itu bukan waktu yang sebentar..."


"Tina, apa, apa memang akunya yang sensitif ya?"

__ADS_1


"tapi, tapi aku benar-benar merasa ada yang aneh dengan Mas Ryan Tin. Aku, aku merasa ada sesuatu dengan Mas Ryan yang bikin dia berubah kayak gini Tin...," aku menjelaskan setengah terbata-bata karena menahan diri agar tidak menangis semakin keras. Malu jika dilihat mahasiswa lain.


Tina mendengar curhatanku dengan seksama. Dia seperti sedang berpikir.


"kamu sudah coba bicara empat mata dengan suamimu Na?"


" udah Tin. Aku beberapa kali sudah coba bicara empat mata sama Mas Ryan. Bahkan sebelum bicara aku lihat dulu gimana suasana hati Mas Ryan. Kalau Mas Ryan lagi badmood, aku urungkan niatku. Tapi kalau sedang bagus suasana hatinya aku langsung bertanya."


"itu juga aku bertanya dengan nada yang pelan. Tapi tetap saja saat aku tanyakan tentang sikapnya yang berubah, Mas Ryan jadi marah dan ketus Tin. Aku gak jadi lanjut nanyanya.."


"maaf Na, kalau pertanyaanku terlalu sensitif. Tapi.. apa ya? Hmm.. kalian lancar kan kalau berhubungan suami-istri?" Tina tampak berhati-hati bertanya.


"Walau Mas Ryan ketus dan cuek, aku tetap melayani suamiku Tin.. Bahkan tiga hari yang lalu, kami baru saja melakukannya..."


Masih teringat jelas diingatan ku saat itu. Sebaik apapun aku melayani suamiku, Mas Ryan malah tetap cuek. Dan setelah berhubungan suami-istri, dia pergi begitu saja ke kamar mandi dan membersihkan dirinya sendiri. Dia benar-benar sudah berubah. Tidak sehangat dulu lagi.


"Atau suamimu sedang bosan karena sering dirumah saja Na?"


"Tina, apa kamu percaya kalo aku bilang Indra belakangan ini sering ditinggal sendiri di rumah saat aku kuliah?"


"Ha?! Indra ditinggal sendiri di rumah?"


"Iya, dengan kondisi pintu dikunci dan Mas Ryan perginya juga tidak dalam waktu yang sebentar."


Tina masih kaget dengan pernyataanku. Matanya masih melotot seakan berkata tidak percaya.


"Jadi kalau mau bilang karena bosan dirumah, seharusnya Indra yang seperti itu Tin." Lanjutku.


"Dan kamu tahu? Alasan Mas Ryan pergi keluar benar-benar tidak masuk akal. Ya, beli jajanlah, keperluan dapur habis atau yang lainnya. Padahal kami sudah belanja bulanan tiap tanggal satu."


"Dan ya akhirnya semua barang yang Mas Ryan beli numpuk dirumah."


Aku merasa sudah sedikit tenang dan bisa mengendalikan emosiku. Air mata sudah berhenti keluar. Lalu entah kenapa aku jadi mengaitkan semua ini dengan pernyataan Indra.


"Tin, anakku beberapa waktu lalu. Mungkin sekitar satu Minggu lebih saat kita ngerjain tugas kampus di kosan Intan, dia memergoki Mas Ryan sedang telponan sambil sayang-sayangan. Dan yang Mas Ryan telpon itu bukan aku.."


"Iya aku ingat. Itu pertama kalinya suamimu tidak pernah chat dan nelpon kamu meski kamu belum pulang..."


"Aku mencoba berpikir positif. Mungkin yang Mas Ryan telpon itu saudaranya."


"Tapi... aku jadi menyangsikan jika yang dia telpon itu adalah saudaranya.."


"Sekalipun Mas Ryan dulu memang bersikap baik dan romantis tapi dia tidak pernah menelpon saudaranya dengan panggilan sayang."


"Aku tahu itu dan aku sudah mengenalnya selama tujuh tahun.." Aku merasa semakin yakin dengan semua ini. Bahwa ini semua saling berkaitan.


"Kamu sudah coba tanyakan ke suamimu tentang hal itu, dan dia masih enggak mau menjawab?"


"Iya, Mas Ryan tidak menjawab bahkan terlihat gusar jika aku menanyakan hal itu. Kalau sudah seperti itu, aku lebih baik mengalah dan diam kan?"


"Terus gimana Na? Ibu kamu sudah tahu?"


"Tadi sewaktu aku di bus, Ibu nelpon Tin. Dan aku tidak menceritakan apapun tentang hal ini. Aku takut membuat Ibu khawatir.."


Tina memegang tanganku.


"Aku tahu Ana yang aku kenal sejak SMA memang seperti ini. Kamu sudah memendam semua ini berhari-hari kan? Sambil berpura-pura ceria seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa."


Aku hanya tersenyum mendengar perkataan Tina.


"Tin, aku benar-benar jadi penasaran. Siapa ya orang yang waktu itu telponan dengan suamiku dan bikin Mas jadi Ryan berubah?" Aku kembali ke topik pembicaraan.


" Aku merasa memang ada hal yang belum aku ketahui tentang Mas Ryan sepenuhnya..."


"Tentang orang yang telponan dengan suamiku dan perubahan sikapnya, kurasa memang saling berhubungan.."


Belum sempat Tina menjawab, alarm di handphoneku berbunyi. Aku sengaja stel alarm tadi sebelum kami mengobrol agar tidak lupa waktu.


"Sudah waktunya masuk kelas Tin. Ayo.."


"Kamu udah enggak apa-apa Ana?" Tanya Tina khawatir.


"Aku sudah merasa jauh lebih baik. Makasih udah mau dengerin aku."

__ADS_1


__ADS_2