Malam Di Istanbul

Malam Di Istanbul
Pubertas Kedua?


__ADS_3

Aku senang dengan perubahan Mas Ryan yang menjadi menawan. Tapi disisi lain aku masih merasa seperti ada yang mengganjal.


(Ayo Ana berpikir positif, Mas Ryan hanya ingin berpenampilan menarik dan rapi didepan kamu)


"Ana, tampaknya skincare yang waktu itu kita beli cocok dikulitmu ya?" Tina memulai pembicaraan di kantin saat kami sedang istirahat siang.


"Iya, wajahku jadi bersih dan cerah sekarang. Jerawat yang beberapa hari lalu juga sembuh. Terima kasih ya Tina.."


"Sama-sama Ana. Aku senang kalau cocok dikulitmu."


"Oh iya, waktu itu Tina belum sempat ketemu lagi sama Mba Sinta ya?" Intan mulai ikut nimbrung.


"Mba Sinta yang mana Tan?"


"Wah, Tina lupa juga. Kukira cuma Ana aja yang lupa."


"Itu loh Tina, yang beberapa waktu lalu kita ketemu di restoran terus dia gabung karena restoran sedang penuh." Intan menceritakan dengan semangat.


"Oh.. Iya aku ingat sekarang. Yang katanya dia lagi liburan kan disini.?" Tina memastikan.


"Nah, betul. Beberapa hari lalu saat kita beli skincare aku sama Diana ketemu lagi sama Mba Sinta itu."


"Oh, terus kenapa dengan Mba Sinta Tan?"


"Kamu tahu enggak Tina? Mba Sinta katanya sampai beberapa bulan nanti masih disini. Katanya ada keperluan yang harus diselesaikan." Intan tampak semangat menjelaskan.


"Terus hubungannya sama kamu apa Tan?"


"Yah, enggak ada hubungan apa-apa sih. Cuma mau bilang saja.." Intan nampak kecewa dengan tanggapan Tina yang datar.


"Yeh, si Intan masih aja julidin orang." Aku dan Tina memang tidak suka dengan sikap Intan yang suka julid.


"Ya, Maaf deh..." Intan tampak menyesal.


"Kurangin yang seperti itu Tan. Enggak baik loh." Tina masih menasihati.


Mendengar Intan membuka perbincangan tentang Mba Sinta aku kembali melihat diri sendiri. Kulit wajahku memang sudah cerah dan jerawat sudah tidak muncul lagi. Tapi, aku masih merasa minder. Apalagi sekarang Mas Ryan juga mulai memperhatikan penampilannya.


"Intan, Tina menurut kalian aku cantik enggak?"


Pertanyaanku nyatanya membuat Tina dan Intan terlihat bingung.


"Kamu kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu Ana?"


"Iya, biasanya kamu cuek dan enggak pernah loh bertanya soal penampilan.." Intan masih mengernyitkan dahinya.


"Beberapa bulan lalu aku sempat minder. Tina cantik dan Mba Sinta cantik padahal umur kita sama. Seketika aku merasa jadi seekor itik..."


"Aku sempat bertanya pada Mas Ryan tentang penampilan ku. Yah, tentu saja Mas Ryan berkata aku tetap cantik...."


"Tapi belakangan ini aku merasa minder lagi..."


"Selain melihat Tina dan Mba Sinta yang cantik, Mas Ryan belakangan ini yang biasanya cuek jadi memperdulikan penampilannya juga..."


"Bahkan sekarang sudah pakai skincare untuk laki-laki..."


Tina dan Intan hanya terdiam. Aku tahu mereka sedang bingung ingin merespon cerita ku seperti apa.


"Ana, tiap wanita punya pesona kecantikannya masing-masing.."


"Kalau setiap orang punya standar kecantikan yang sama, bakal banyak kembaran dong.." Intan berusaha menyemangati ku.


"Ana, hidung kamu mancung, bulu matamu tidak perlu lagi pake mascara karena sudah panjang alami, alis matamu tebal dan rapi..."


"Kamu tidak perlu make up yang aneh-aneh karena memang sudah cantik. Kamu tidak perlu rendah diri seperti itu..." Tina menatap wajah ku dengan tersenyum.


"Betul itu! Kamu cantik dengan sendirinya. Lagipula kalau kamu enggak cantik apa iya Mas Ryan jadi suamimu?" Intan menambahkan.


"Iya makasih ya Tina dan Intan. Aku jadi merasa lebih baik sekarang."


"Ayo lanjut makan lagi gaess. Sebentar lagi masuk kelas." Intan mengingatkan sambil menyantap makan siangnya.


Seusai makan siang kami segera masuk kelas. Hari ini tidak ada tugas kuliah yang perlu dikerjakan dan kami pulang pukul 14.30 waktu setempat.


"Tan, Ana, kita mampir dulu ke kafe yang disana yuk?"


"Ayo..!" Intan semangat menjawab ajakan Tina.


"Aku mau pulang saja ya Tina."

__ADS_1


"Yah, kok gitu? Ayo ikutan dong. Beberapa bulan ini kita sibuk terus loh.."


"Iya Ana. Kita selalu sampai larut untuk ngerjain tugas. Sampai enggak ada waktu untuk sekedar melepas penat.." Intan memelas.


"Yasudah, aku coba minta ijin ke suamiku dulu ya.."


Aku ambil handphone yang ada di tas dan langsung menelpon Mas Ryan.


Tuut... Tuut.... Tuutt... Tuutt..


(Tidak ada jawaban, cobalah beberapa saat lagi)


Muncul dilayar handphoneku tulisan seperti itu.


"Kok tumben enggak langsung diangkat ya?"


"Apa suamimu lagi tidur?"


"Jam segini Mas Ryan enggak tidur Tan. Aku coba lagi ya.."


Tuut...Tuut....Tuut


"Halo Assalamualaikum Mas..."


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi iya Dek ada apa?"


"Mas, tadi lagi ngapain? Telepon aku tidak langsung diangkat?"


"Habis dari kamar mandi sayangku."


"Oh...."


"Ada apa?"


"Mas, aku diajak sama Intan dan Tina ke kafe dekat kampus boleh gak?"


"Hari ini kami pulang cepat dan kebetulan sedang tidak ada tugas."


"Boleh sayang enggak apa-apa.."


"Kamu hampir setiap hari ngerjain tugas sampai malam, wajar jika ada waktu senggang seperti ini teman-temanmu mengajak main.."


"Iya Dek. Pulangnya mau aku jemput?"


"Tidak perlu Mas. Aku bareng Intan nanti."


"Yasudah hati-hati pulangnya ya sayang.."


"Iya Mas. Assalamualaikum.."


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi Dek..."


"Asyik makan bertiga lagi.." Intan tampak sangat girang.


Kami bertiga segera melangkah menuju kafe yang ditunjuk Tina. Sesampainya di kafe, kami bertemu dengan Profesor Adskhan. Dan seperti biasa, Intan pun kembali heboh.


"Ya ampun, aku tidak salah lihat kan? Itu Profesor Adskhan kan?" Tanya Intan


"Sstt..Jangan teriak-teriak Tan. Malu.." Aku menyikut Intan yang berdiri tepat di sampingku.


"Iya, iya. Aku enggak akan teriak. Btw, Profesor Adskhan lagi sama siapa ya? Apa mahasiswa juga? Lebih muda. Tapi aku belum pernah melihatnya di kampus." Intan masih kepo.


Sembari kami duduk, kedua mata Intan seolah tidak mau lepas dari tempat duduk Profesor.


"Intan, tundukkan pandangan. Gak boleh lihat seperti itu." Tina mulai menasihati.


"Oh, iya Astaghfirullah. Tapi ganteng juga loh yang lagi bersama dengan Profesor."


"Ya ampun nih anak. Udah lihat menu aja nih." Aku menyodorkan list menu ke Intan. Dan dia hanya tertawa.


Kami sudah selesai memesan menu dan kini tinggal menunggu pesanan datang. Tidak lama kami memesan, ternyata Profesor Adskhan dan teman makannya sudah tidak ada.


"Yah, Profesor Adskhan sudah pergi ya..." Intan terlihat sedih.


"Memang kenapa Tan?" Tanya Tina.


"Ya, kan bisa aja aku ditraktir seperti kalian waktu itu.."


"Hahahaha... Ya ampun, ngarep ditraktir sama Profesor Adskhan dong si Intan..." Tina spontan tertawa mendengar Intan yang asal bicara.

__ADS_1


"Mungkin di lain kesempatan Tan kamu di traktir sama Profesor..." Aku mencoba menghibur.


"AAMIIN..!"


"Intan..!" Mata Tina melotot seperti menyuruh Intan berbicara dengan pelan.


Intan hanya menutup mulut dengan mata jahil. Seolah sengaja ingin membuat kami malu didepan umum.


"Oh iya Tina aku mau tanya. Suami kamu pernah enggak berubah jadi lebih pesolek gitu?"


"Memang ada apa Ana?"


"Aku senang sih kalau lihat Mas Ryan lebih rapi. Tapi perubahan Mas Ryan ini terlalu mendadak buatku. Dan selama satu Minggu lebih ini Mas Ryan setiap pagi pasti sudah mandi dan rapi. Seperti orang yang siap-siap ingin pergi.."


"Siap-siap ingin pergi seperti apa Na?"


"Mas Ryan pakai minyak rambut sekarang. Dan selalu pakai minyak wangi. Dan yang seperti aku bilang dikampus kalau Mas Ryan sekarang juga rajin perawatan wajah."


"Jujur aku merasa agak mengganjal. Apa semua suami seperti itu ya?"


"Hmm.. kalau suamiku sih enggak mengalami perubahan itu Na. Suamiku masih seperti biasa saat kami awal nikah."


"Tapi mungkin suamiku saja yang tidak mengalami pubertas kedua itu.." Tina menjawab sambil mengambil kacang chickpea yang dibakar.


"Pubertas kedua?" Rupanya Intan ikut menyimak.


"Iya, pubertas kedua. Biasanya dialami oleh suami ketika memasuki usia pernikahan yang sudah lama.."


"Coba deh kamu searching di G**gle..."


Mendengar perkataan Tina aku langsung membuka aplikasi G**gle. Aku langsung ketik kata "Pubertas Kedua".


Dan benar saja muncul banyak penjelasan tentang pubertas kedua bagi suami.


(Syukurlah kalau itu masih tergolong umum yang dialami oleh suami. Termasuk Mas Ryan)


Melihat aku lega, Tina langsung menyadari jika sedari tadi aku seperti merasa cemas dengan perubahan suamiku.


"Masih wajar kok Ana tenang aja. Kalau suamiku tidak mengalami, itu mah karena memang dia sudah terbiasa tampil rapi saja.."


"Aku tadi memang sempat cemas. Tapi kalau sudah tahu begini aku jadi lega Tina..."


"Saranku kalian hari Minggu ini lalui berdua deh. Karena kalau sedang pubertas kedua itu suami butuh waktu untuk berdua dengan istri..."


"Apalagi belakangan ini kamu sibuk karena jadwal kuliah dan tugas kuliah kita..."


"Indra bisa kalian titipkan di Intan..."


"Kayaknya enggak bisa Tina. Beberapa waktu lalu aku sudah janji ke Indra untuk ngajak jalan-jalan ke taman.."


"Indra kangen banget sama aku. Aku jadi enggak tega kalau janji Minggu ini dibatalkan.."


"Hmm... susah juga ya. Karena begitu hari Senin kita sibuk lagi seperti biasa.."


"Tan, kok tumben kamu diem saja.."


Intan yang biasanya selalu cerewet dan nimbrung tiba-tiba diam seribu bahasa.


"Oh, enggak apa-apa kok. Lanjut aja ceritanya Ana sama Tina.."


Raut wajah Intan seperti sedang bingung dan gelisah. Tidak lagi ceria.


"Tan, kamu kenapa? Kamu lagi sakit?" Tina pun tidak puas dengan jawaban Intan.


"Aku beneran enggak apa-apa. Aku ke toilet dulu ya."


Intan pergi meninggalkan kami yang masih bingung. Aku dan Tina hanya saling berpandangan. Intan segera menuju kamar mandi kafe.


"Intan kenapa ya? Apa dia sembelit?"


"Ngawur kamu Na. Mungkin memang kebelet aja kali."


Tidak lama Intan keluar dari kamar mandi, pesanan kami telah diantarkan. Kami mengobrol dan makan. Hingga waktu sore kami pulang ke rumah masing-masing.


Saat dijalan aku terus berpikir.


(Untung tadi aku sempat sharing jadi tidak bingung sendiri)


Setelah menerima jika Mas Ryan sedang memasuki masa pubertas kedua dan itu normal perasaanku jadi sangat lega.

__ADS_1


Jika Mas Ryan sekarang sedang memasuki masa pubertas kedua maka aku tidak boleh tampil kucel didepannya. Selain menghabiskan waktu berdua, sepertinya aku juga harus tampil cantik dan rapi didepannya.


__ADS_2