
Setelah jam kuliah usai, kami mampir sejenak ke minimarket untuk belanja beberapa cemilan. Aneka cemilan mulai dari yang gurih, pedas hingga manis memenuhi keranjang belanja kami.
Selesai belanja kami segera menuju ke rumah Intan. Sedari pulang kampus, belanja cemilan di minimarket sampai diperjalanan ke rumah Intan kepalaku masih penuh dengan tanda tanya atas sikap Mas Ryan.
( Okelah kalau tadi Mas Ryan gak ada kuota, tapi kenapa tadi pagi dan balas via chatnya tidak sama seperti biasanya? )
( Benarkah aku yang terlalu sensitif dan kepikiran? )
( Apa memang biasanya ketika pasangan suami-istri memasuki usia pernikahan diatas lima tahun akan berubah seperti ini? )
( Apa aku tanya ke Tina ya? )
( Tapi kan suami Tina dari awal memang sudah berubah. Dan Tina biasa saja )
Aku menghela nafas panjang. Fix ini mungkin akunya aja yang terlalu sensitif dan belum terbiasa dengan perubahan sikap Mas Ryan. Toh, selama ini pernikahan kami baik-baik saja. Lagipula nanti ketika dirumah aku bisa menanyakan ke Mas Ryan. Aku berusaha menenangkan pikiran.
Tina dan Intan yang dari tadi diam-diam memperhatikan aku, kini lega melihat aku kembali tersenyum. Mereka masih segan sekedar untuk bertanya. Sepertinya mereka tahu kalau ini ada hubungannya dengan Mas Ryan.
"oia nanti mau mampir ke rumahku juga gak?" Ajakku.
"gak usah Ana. Aku nanti langsung ke rumah Intan aja."
"iya Na, aku sama Tina langsung ke rumahku. Tapi kalau kamu nanti mau pulang dulu ke rumah ya gak apa-apa. Dekat ini. Cuma beda dua bangunan aja."
"iya, nanti aku mau pulang dulu. Mau naruh tas dan ganti pakaian. Sekalian ambil buku untuk ngerjain tugas."
"ajak Indra main juga Na. Udah lama loh Indra gak main ke rumahku."
"iya, aku juga udah lama gak lihat Indra. Udah umur berapa sekarang Na?"
"tahun ini masuk umur enam tahun Tin. Lagi pinter-pinternya."
"oke Tan, nanti aku bawa Indra juga ya."
Cuaca hari ini lebih panas dibandingkan kemarin. Jalan dari halte menuju rumah Intan dan rumahku terasa lebih lelah. Sesekali kami kompak mengelap keringat dengan tisu.
"duh, akhirnya sampai juga. Jaraknya sama tapi kok rasanya capek banget ya?" Intan mengeluh.
"karena hari ini panas mungkin ya. Jadi cepat capek," Tina masih mengelap wajahnya yang berkeringat.
"Na, nanti nyusul ya. Kami berdua mau langsung masuk."
"oke. Aku pulang dulu ke rumah ya. Setelah beres langsung ke rumahmu Intan."
Intan dan Tina hanya mengangguk dan langsung membuka pintu kosan Intan. Aku berjalan kembali. Setelah lewat dua bangunan tiba di rumahku. Aku segera memegang gagang pintu. Betapa kagetnya aku dengan kondisi pintu yang dikunci.
( Loh kok dikunci? Apa Mas Ryan pergi? )
( Kalau iya pergi kenapa gak ngabarin aku? Biasanya selalu bilang. Pergi ke minimarket aja ngomong )
( Untung aku bawa kunci cadangan )
Aku segera mencari kunci di dalam tas. Begitu ketemu langsung aku buka pintu.
"assalamualaikum," aku terbiasa mengucapkan salam walau tidak ada orang dirumah.
"wa'alaikumsalam Ma..."
__ADS_1
Aku kembali heran dengar suara Indra dari ruang tamu. Ia pun segera menghampiriku sambil berlari kecil.
"Indra lagi sendirian dirumah? Papa kemana nak?" tanyaku sambil mencium keningnya.
"papa tadi katanya mau beli jajanan di minimarket Ma. Terus Indra disuruh tunggu dirumah aja."
Ahh, aku benar-benar bingung dengan sikap Mas Ryan. Indra dia biarkan menunggu di rumah sendirian? Apa Mas Ryan tahu aku bakal pulang? Tapi tadi Mas Ryan sama sekali gak nanya jam berapa aku pulang.
"Indra sayang, Papa perginya kapan? Udah lama?"
"tadi Papa pergi pas Indra nonton Spongeb*b. Tapi sampai film Spongeb*b udahan Papa masih belum pulang."
Selama itu? Beli jajanan di minimarket mana? Kalau iya didekat sini seharusnya tadi bertemu denganku saat perjalanan pulang.
Jantungku berdetak tak beraturan. Oke cukup aku harus kembali tenang. Ada Indra disini dan teman-teman ku di kosan Intan. Segala sikap Mas Ryan yang aneh sebaiknya aku tanyakan nanti.
"nak, Mama nanti mau ke rumah Tante Intan. Mama mau ngerjain tugas kampus. Indra mau ikut Mama? Ada Tante Tina juga," aku tersenyum melihat wajah jagoan kecilku
"mau Ma. Indra mau ikut Ma," jawabnya girang.
"oke. Mama ganti baju dulu ya. Setelah itu kita langsung ke rumah Tante Intan."
Aku segera ke lantai dua. Mengambil buku-buku yang sekiranya diperlukan dan ganti baju. Saat aku kembali ke bawah, Indra rupanya sudah siap dengan mengemas mainannya di totebag.
"ada lagi mainan yang mau dibawa sayang?"
"gak ada lagi Ma. Ini udah semua Ma."
Dia terlihat senang sekali bisa pergi dan main ke kosan Intan. Ah, aku jadi ingat. Kami sudah jarang pergi untuk sekedar berjalan-jalan saja. Apalagi aku sudah jarang pergi berdua dengan Indra. Wajar jika Indra bersemangat walau hanya ke kosan Intan yang berjarak dua bangunan.
"kak usah Ma. Indra bisa kok. Mama kan juga berat bawa buku-buku."
Duh, ocehan pintarnya bikin gemes. Tanpa perlu pikir panjang aku segera melayangkan ciuman di pipinya. Aku mengandeng tangan Indra dan segera mengunci pintu.
Selama perjalanan singkat ke kosan Intan entah kenapa aku benar-benar berharap bisa bertemu dengan Mas Ryan. Aku benar-benar berharap bisa langsung menanyakan semua hal yang bikin aku penasaran setengah mati atas semua perubahan sikapnya yang drastis.
Namun harapan tinggal harapan. Sampai aku didepan pintu kosan Intan aku sama sekali tidak bertemu dengan Mas Ryan.
"ma, kita udah sampai di kosan Tante Intan. Kok gak ucapin salam?"
Pertanyaan Indra seolah menyadarkanku dari lamunan.
"oh iya nak. Assalamualaikum.. Tan.."
"wa'alaikumsalam warahmatullahi... Masuk Ana pintu gak dikunci." Teriak Intan dari dalam.
Cekrek. Aku segera masuk ke dalam. Kulihat Tina dan Intan masih belum mengerjakan tugas. Yang ada justru beberapa bungkus cemilan sudah terbuka berserakan. Ada yang isinya tinggal setengah bahkan ada yang sudah habis.
"lah, belum pada mulai? malah pada ngemil," aku tertawa melihat tingkah laku kedua sahabatku.
"kita nungguin kamu loh sist," Intan beralasan.
"tante..!" Indra segera berteriak sambil menghampiri Intan dan Tina.
"wah, Indra sudah besar," sambut Tina dengan memeluk Indra.
"Indra kok udah jarang main ke rumah Tante Intan sih? tante Intan kangen loh," Intan tidak mau kalah mencium pipi Indra.
__ADS_1
"duh, kok kamu makin lucu Indra. Gemuk gini."
Mereka sedang asyik bercengkrama. Aku ikut menghampiri dan ikutan mencium kening Indra.
"kalau Indra disini berarti suamimu sendirian di rumah ya Ana?"
Aku hanya terdiam. Bingung mau jawab apa. karena pada faktanya Mas Ryan sudah pergi meninggalkan Indra sendirian dirumah.
"papa tadi udah pergi sebelum Mama pulang," dengan polosnya Indra menjawab.
"oh, kalau gitu Indra bisa puas main disini ya?" Intan seolah senang dengan kedatangan Indra.
"eh, kita disini untuk ngerjain tugas bareng-bareng loh," aku mengingatkan.
"tugasnya juga gak banyak kok sist. Nanti sesekali Tante temenin main ya," Tina ikutan mengajak main Indra.
"Indra sayang, main yang baik ya disini. Mama sama Tante Intan dan Tante Tina mau ngerjain tugas dulu."
"iya Ma. Tante Intan, Indra boleh main kereta-keretaan ini ga?" Indra meminta ijin sambil mengeluarkan mainannya dari dalam totebag.
"duhh, boleh dong Indra yang lucu," seolah tak puas tadi mencium pipinya, Intan kini mencubit pipi Indra yang chubby.
"nak, nanti kalau mau ada apa-apa ngomong ya."
"baik Ma," jawabnya menurut.
Kami segera mengerjakan tugasnya dan Indra masih asyik dengan mainannya. Sedangkan aku sesekali berusaha menjauhkan pikiran dan perasaan negatif tentang Mas Ryan.
Tiga puluh menit telah berlalu. Selama mengerjakan tugas aku berusaha bersikap seperti biasa. Bercanda seperti biasa dan mengobrol seperti biasa.
Kami memutuskan untuk rehat sejenak. Kami kompak merentangkan tangan dan punggung. Tina dan Intan seolah tidak bisa menahan rasa penasarannya, Ia tiba-tiba bertanya.
"Ana kamu baik-baik aja?"
"kamu ada masalah apa Na?" tanya mereka berdua berbisik. Seolah tidak ingin Indra dengar.
Aku tidak menyangka kalau Tina dan Intan masih menyadari kalau aku kebingungan. Padahal aku sudah merasa bisa menyembunyikan dengan baik.
"gak ada apa-apa kok . Kalian tenang aja."
"Na, aku dari pagi lihat kamu udah ngelamun terus."
"tadi kami berdua sempat omongin tentang sikap kamu seharian ini," Intan menjelaskan.
"sebenarnya aku gak enak nanya sampai kamu sendiri yang ceritain, dan aku pikir takutnya kami yang terlalu kepo. Tapi sampai tadi kamu masih beberapa kali melamun. Apa ini ada hubungannya dengan suamimu?" Tina bertanya dengan hati-hati.
"gak apa-apa kok. Aku cuma masih belum terbiasa aja dengan perubahan Mas Ryan."
"Mas Ryan berubah?" Intan mulai kepo.
"yah , berubah seperti suaminya Tina juga. Yang kini sedikit cuek. Tapi kalau mengingat usia pernikahan kita, bukankah itu hal yang wajar? Toh, selama ini pernikahan kami baik-baik saja," aku menjelaskan. Semoga mereka sudah puas dan tidak ikut memikirkannya lagi.
"Oh..." seolah mereka berdua janjian menjawab.
"yuk ngerjain tugas lagi. Tinggal dikit lagi selesai. Semangat, semangat," aku berusaha mengalihkan topik.
Mereka hanya tersenyum. Aku benar-benar tidak enak kalau mereka juga ikut memikirkan rumah tangga ku dan mengkhawatirkanku. Tapi yang pasti entah kenapa hatiku sedikit merasa lega menceritakan sedikit kebingungan ku ini.
__ADS_1