
Ryan tampak semakin gusar ketika melihat Diana membawa Indra meninggalkannya sendirian. Matanya merah melotot seolah ingin keluar. Warna wajahnya pun ikut merah. Kedua tangannya bertolak di pinggangnya. Sesekali ia mengacak-acak rambutnya sendiri.
Sebenarnya dia Ingin menyusul Diana dan Indra ke lantai 2. Dia geram karena dia tidak menyangka Diana saat ini sudah berani melawannya.
Biasanya Diana, ketika suaminya sedang marah maka dia akan diam. Apalagi ketika sekali mendengar umpatan yang dikeluarkan oleh Ryan. Ryan hapal betul, jika sudah seperti itu, Diana hanya diam sambil melihat dirinya dengan mata yang berkaca-kaca lalu dia meminta maaf.
Tetapi saat tadi Diana berbeda. Dia sepertinya sudah sangat berani menjawab semua pernyataan darinya. Bahkan mendebatnya. Padahal tidak hanya sekali dua kali umpatan yang keluar dari mulut Ryan. Ryan tidak habis pikir.
(dari mana dia belajar berani melawan suaminya?)
Seketika matanya mendelik ke arah lantai dua. Dia benar-benar ingin kesana. Tapi sebenarnya hati kecilnya menyadari, jika ia kesana itu hanya akan memperburuk kondisi Indra.
Bagaimanapun juga Indra tidak tahu apa-apa. Tadi saja dia terlihat sangat kaget dan sedih melihat orang tuanya bertengkar di dapur. Bagaimana tidak? Selama ini mereka baik-baik saja. Kalaupun bertengkar itu hanya pertengkaran kecil dan tidak pernah dipertontonkan dihadapan Indra. Maka tentu saja kondisinya akan semakin shock jika dia melihat Papanya menyusul ke atas dan melanjutkan pertengkaran dengan Diana.
Lagipula image seorang Papa yang baik yang selama ini dibangun oleh Ryan akan hancur seketika. Karena saat tadi di dapur saja, Indra sendiri mendengar beberapa umpatan yang keluar dari mulutnya.
Memikirkan dua hal sekaligus antara melanjutkan pertengkaran dengan Diana dan berusaha menahannya karena mengingat kondisi Indra membuat Ryan bingung dan duduk sejenak di dapur. Ryan seakan berusaha untuk menurunkan emosinya.
Sedangkan di sisi lain Diana yang sudah tiba di kamar Indra masih menangis dengan memeluk Indra. Dari mulutnya hanya terucap kata maaf berulang kali. Indra yang ikut menangis ketika melihat mamanya sedih tentu saja juga menjadi bingung.
"Maaf ya nak...Maafkan Mama Nak. "
"Mama kenapa minta maaf terus? Kenapa tadi berantem dengan papa Ma?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Indra, Diana justru semakin memeluk erat tubuhnya. Dia bingung bagaimana merangkai kata untuk mengatakan bahwa Papanya telah selingkuh bahkan hingga menghamili selingkuhannya. Dan ini artinya Indra akan mempunyai saudara kandung beda Ibu!
Diana terus memutar otaknya. Bagaimana kelanjutan pernikahannya? Ia sangat bingung. Sedangkan dia sendiri melihat reaksi suaminya yang selalu menyangkal dan memutarbalikan omongan seolah benar-benar tidak ingin mengakui bahwa Ryan telah berbuat salah.
Saat berbincang tadi di dapur, sebab Diana berani melawan karena dia sudah tidak habis pikir lagi harus bagaimana menghadapi suaminya? Bukti-bukti sudah jelas dia paparkan tetapi Ryan justru malah memojokkan Diana sebagai seorang pelaku.
Padahal Diana hanya bertanya, mengapa ia melakukan itu dan apa sebabnya. Tapi dua pertanyaan itu sejak tadi belum bisa dijawab oleh Ryan. Ryan hanya terus mendebatnya. Kata demi kata bahkan dicampur dengan mengeluarkan umpatan kasar seperti yang sebelumnya pernah dia lakukan.
"Mama...." Panggilan Indra dengan nada pelan dan sedih membuat Diana kembali fokus pada anaknya.
"Nak... kamu sayang kan sama mama?"
Sambil terus mengeluarkan air mata Indra hanya mengangguk menjawab pertanyaan mamanya.
Mata mereka saling berhadapan. Diana memperhatikan betul raut wajah jagoan kecilnya. Yang biasanya tersenyum ceria penuh riang kini seolah sedih dan terkejut melihat orang tuanya bertengkar hebat tadi.
"Maafkan Mama kalau tadi Mama berteriak hingga Indra bangun dan jadi sedih melihat Mama marah di dapur..."
"Kenapa Ma? Kenapa tadi mama dan papa berantem?"
Indra sudah terlanjur melihat kedua orang tuanya bertengkar tadi, sehingga si kecil pun penasaran apa yang menyebabkan kedua orangtuanya bisa melakukan hal itu?
Belum sempat menjawab pertanyaan Indra handphone Diana berdering. Dering yang cukup panjang seolah itu adalah telepon penting yang harus segera diangkat.
"Bentar ya sayang mama angkat telepon dulu..." Diana meminta izin kepada Ryan sambil mengusap air mata diwajah anak semata wayangnya.
Terlihat di layar HP tersebut panggilan masuk dari Tina. Tampaknya kedua sahabatnya itu masih belum bisa berpikir tenang sampai Diana memberikan kabar tentang keadaannya.
"Halo assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam Na... kamu enggak apa-apa Na?"
Mendengar suara isak tangis Diana dari arah teleponnya membuat Tina tidak bisa menyimpan rasa kekhawatirannya.
"aku lagi ada di rumah Intan.. ini juga aku loudspeaker supaya Intan juga bisa dengar.."
"Na, bagaimana? Kamu sudah bicara dengan suami kamu?" Intan ikutan cemas.
"Aku tadi sudah bicara dengan Mas Rian Tan. Tapi sesuai dengan dugaanku, Mas Rian selalu mengelak. Dia tidak ingin mengakui semua kesalahannya..."
"padahal aku sudah menunjukkan semua buktinya..."
Seolah agar Indra tidak mendengar isi percakapan Diana dengan sahabat-sahabatnya, Diana bangkit dari duduknya. Dia kini dalam posisi berdiri tapi tangannya masih terus mengusap kepala Indra.
__ADS_1
"aku juga sudah bertanya kenapa Mas Ryan melakukan itu dan apa sebabnya. Tapi sejak tadi Mas Ryan hanya memutar balikan fakta sambil terus mengeluarkan umpatan kepadaku..."
"Mas Ryan memang sudah menjawab alasan dia melakukan itu karena aku yang sudah tidak cantik lagi..."
"Yah padahal dia sudah mengetahui alasan kenapa aku tidak bisa merawat diri. Lalu dia malah kembali menyalahkan aku.."
Karena saat itu sedang bersama Indra, Diana berhati-hati sekali memilih kata agar tidak keluar dari mulutnya kata selingkuh.
"Astagfirullah..." Tina dan Intan hanya bisa mengucapkan istighfar.
"sepertinya Mas Ryan sudah tidak bisa diajak berbicara lagi..."
"apa kami perlu ke sana Ana?" Tina tampaknya sudah mengambil ancang-ancang untuk segera pergi ke rumah Diana.
"tidak perlu Tina, Tan..."
"Aku baik-baik saja. Aku sedang dikamar berdua dengan Indra dan Mas Ryan lagi di dapur..."
"Kondisinya sudah tenang saat ini kalian tidak perlu khawatir..."
"Ada Indra disitu Na?"
"tadi saat kami bicara Indra sedang tidur. Tapi karena tadi aku dan Mas Ryan bertengkar hebat di dapur hal itu membuat Indra terbangun..."
"Ya Allah... Ana kamu yang sabar ya.."
"Ana, aku akan terus menginap di rumah Intan sampai masalah kamu dan suamimu selesai..."
"kami berdua akan selalu ada untuk kamu Ana.. kamu harus kuat ya..."
Tangis yang tadi hilang kini membuat Diana kembali sesenggukan. Dia terharu sekaligus sedih. Bagaimana bisa sahabatnya yang justru kini perhatian kepadanya? Sedangkan suaminya, belahan jiwanya justru menjadi cuek, dingin dan pemarah?
"te-terima kasih... kalian selalu ada dan tidak pernah meninggalkan aku..." Tangis Diana pecah di kamar Indra.
"Oh.. jadi Ini sebabnya kamu sekarang berani melawan aku?"
Sambil terus berusaha tenang, sempat terlintas dalam benak Diana. Apakah suaminya sengaja menguping pembicaraan mereka?
(Apakah Mas Ryan sudah dari tadi mendengar dari balik pintu?)
"kenapa kamu diam saja? kamu nggak bisa jawab?"
"ternyata selama ini kamu dipanas-panasi ya sama yang katanya teman-temanmu itu?"
"panas-panasi apa maksud kamu? Mau memang selalu berada di sisiku. Tapi mereka tidak pernah menyuruhku berbuat ini itu..."
"semua perbuatan aku, aku yang memutuskan tidak ada campur tangan orang lain..."
"nah, coba lihat sekarang. Bisa-bisanya kamu sekarang tidak mengakuinya."
"Kalau memang dia sahabat kamu, seharusnya mereka memberi saran agar kamu ini mengalah dan berbaikan.."
"bukannya malah berkata kami akan selalu berada di posisi kamu..."
"Itu kan sama saja mau benar ataupun salah yang pasti mereka akan membela kamu kan?"
"kamu tahu apa Mas tentang Intan dan Tina? Kami kenal lebih lama belasan tahun dibandingkan aku kenal dengan kamu yang baru tujuh tahun..."
Diana kini sudah seperti tidak kehabisan kata untuk berdebat dengan Ryan. Rasa hormatnya kepada Ryan seakan sudah hilang bersama dengan cintanya kepada Diana yang sudah tidak bersisa.
Tentu saja mendengar perdebatan dari Diana, Ryan kembali memanas.
"Apa maksud omongan kamu tadi? Jadi kamu lebih berpihak kepada sahabat kamu dibandingkan sama suami kamu, Hah!?"
"cukup Mas! Jangan sampai aku mengatakan ini depan Indra..."
Diana masih berusaha tidak mengeluarkan nama Sinta selingkuhannya Ryan didepan anaknya. Mendengar ancamannya Diana, Ryan justru merasa semakin tertantang.
__ADS_1
"mengatakan apa maksud kamu? Ngomong aja!"
Mereka berdua kini seperti api bertemu api. sudah tidak bisa lagi untuk saling mendengarkan dan berbicara. Tidak ada yang menjadi air di antara mereka berdua. Tidak ada penyejuk dan tidak ada yang mau mengalah. Sehingga perdebatan mereka pun berbuntut panjang.
Yang sungguh disesali adalah kehadiran Indra seperti sudah tidak diperhitungkan lagi. mereka seolah lupa bahwa anaknya masih berada di situ. Dan Indra saat ini seperti sedang menonton drama televisi dengan tokoh utama orang tuanya sendiri.
Melihat orang tuanya saling melempar perdebatan, kini Indra yang menangis dengan keras. Indra hanya bisa terus menangis tanpa bisa berbicara sepatah kata pun.
Bocah yang baru berusia 6 tahun itu bingung dengan pertengkaran yang dilakukan oleh orang tuanya karena di antara mereka berdua sama sekali tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan mudahnya. Kenapa Mama dan Papanya bertengkar?
Seperti saat di dapur tadi pertengkaran mereka pun berhenti sejenak. Mendengar tangis Indra yang semakin membesar, membuat Diana untuk memeluk Indra dan mengulang kembali permintaan maafnya.
Mendengar Indra menangis, Ryan memang sempat terdiam sejenak. Namun seolah mulutnya gatal untuk menggunakan kesempatan itu agar bisa memojokkan Diana.
Ya, tujuan Ryan adalah membuat Diana merasa bersalah lalu dia meminta maaf. Dan tidak mengungkit kembali masalah perselingkuhannya dengan Sinta.
"Tuh kan kamu lihat! Karena kamu berani melawan aku, Indra jadi dengar semuanya!"
"Astagfirullah.….." mendengar ucapan suaminya Diana terlihat memejamkan matanya dan mengucapkan kalimat istighfar dengan penuh penghayatan.
Merasa sudah berhasil membuat Diana merasa bersalah, senyum licik tersungging di bibir Ryan.
"papa tadi kenapa ngomong kasar ke Mama? Kan Papa sendiri pernah bilang kita nggak boleh ngomong seperti itu ke orang lain..."
Ucapan dari Indra seolah diluar dugaan dan membuat Ryan cukup tersentak. Dari mana Indra belajar melawan orang tuanya?
"kok sekarang kamu melawan papa sih! Kamu belajar itu dari mama?"
"apa sih Mas?! Indra itu tidak melawan dia cuma bertanya larangan yang kamu sendiri melakukannya..."
"kamu sendiri Ada apa mas menyusul aku ke atas?"
"kamu ingin melanjutkan pertengkaran tadi di dapur?! Di depan Indra?!"
"tidak. Aku awalnya hanya penasaran kenapa kamu sekarang begitu berani melawanku..."
"Saat aku ingin masuk dan menanyakannya ternyata aku langsung mendapatkan jawabannya..."
"Mas... sudah Mas... sudah. Aku saat ini benar-benar lelah..." Diana nampak memohon kepada suaminya agar menyudahi sejenak pertengkarannya.
"Kamu pikir kamu saja yang lelah, Hah?!"
Namun sepertinya Ryan memiliki keinginan yang berbeda dengan Diana. Ryan tidak mau dirinya disuruh-suruh oleh istrinya apalagi saat ini dia harus mempertahankan tujuannya. Yaitu agar Diana merasa bersalah dan melupakan masalah perselingkuhannya.
Sikap Ryan ini tentu sangat berbeda saat mereka berdua berada di awal pernikahan. Ryan yang selalu mengalah ketika ada pertengkaran kecil kini merasa tertantang dengan permohonan Diana.
Ryan terus mengoceh. Berbicara panjang lebar dengan kata-kata yang membuat Diana semakin terpukul. Indra menyaksikan dengan jelas dengan kedua matanya Bagaimana Papanya menghakimi dan menunjuk-nunjuk Mamanya sebagai seorang pelaku. Walaupun Indra masih belum terlalu paham namun naluri untuk melindungi ibunya muncul.
"Papa sudah jangan omelin Mama lagi..." Indra seperti mengemis kepada Papanya sendiri.
"Mama di nangis terus Pa... sudah Pa.." Indra lalu memegang jari telunjuk tangan Ryan yang ia gunakan untuk menunjuk-nunjuk Diana.
"DIAM!"
Mendapat respon demikian dari sang anak, justru membuat Ryan semakin marah. Dia menepis tangan Indra dan tidak sengaja membuat Indra terdorong hingga jatuh.
Sekarang saatnya Diana yang maju untuk melindungi anaknya. Saat tadi posisi Diana yang sedang duduk memeluk Indra, kini pandangannya terarah ke tempat Indra jatuh. Serta-merta Diana bangkit menghampiri dan memeluk anaknya yang menangis.
"Mas... kita sudahi saja..."
"kamu sudah sangat kelewatan dan aku sudah tidak sanggup..."
Nada suaranya pelan tapi sangat teratur. Seolah tahu konsekuensi atas perkataannya Diana menghela nafas cukup panjang sebelum dia melanjutkannya.
"Apa maksud kamu?!"
"aku mengajukan khulu. Aku ingin menggugat cerai.."
__ADS_1