
Aku masih berada di taman bersama Indra. Terlihat Indra sangat menikmati sekali saat jalan-jalan di luar seperti ini. Cuaca hari ini juga sangat bagus. Disini masih musim panas tetapi di taman ini sangat teduh
Walaupun aku berada di taman bersama Indra, tapi pikiranku sebagian masih memikirkan tentang Mas Ryan.
Mas Ryan yang tiba-tiba berubah. Padahal baru beberapa minggu lalu dia sudah bersikap romantis dan perhatian. Hanya hitungan jam saja tadi pagi dia berubah kembali menjadi pemarah dan cuek seolah-olah kembali ke titik nol.
(Kenapa Mas Ryan menjadi labil seperti ini?)
(Apa ada masalah keluarga yang tidak dia ceritakan kepadaku lagi?)
(Tapi bukankah masalah Ita waktu itu sudah selesai?)
(Apa ada masalah baru lagi ya?)
(Kalaupun iya ada masalah baru lagi kenapa nggak cerita sih Mas?)
Di saat pikiran ku penuh dengan tanda tanya besar handphone yang berada di kantong gamis ku bergetar.
Drrtt....Drrtt...Drrtt...
Aku lihat di layar HP ada panggilan dari Tina yang masuk.
"Halo Assalamualaikum..."
"Wa'alaikumsalam... Iya Tina ada apa?"
"Kamu lagi ada di mana Ana?"
"Aku lagi ada di taman bersama Indra..."
"Ana aku sudah dengar ceritanya dari Intan, kamu nggak apa-apa?"
"Iya aku nggak apa-apa Kok Tina. Aku rasa mungkin Mas Ryan sedang butuh waktu sendiri saja."
"Tapi bukankah berarti suamimu kembali seperti beberapa waktu lalu Na?"
"Iya Tina Mas Ryan kembali lagi seperti beberapa waktu lalu. Padahal kemarin kami masih baik-baik saja..."
"Kamu sudah tahu...."
Belum selesai Tina melanjutkan kalimatnya aku langsung bertanya.
"Sebentar Tina Kok suaraku terdengar bergema ya. Apa kamu loudspeaker?"
"Iya aku loudspeaker. Maaf Na soalnya Intan juga ingin mendengar..."
"Halo Ana..." terdengar suara Intan dari handphoneku.
Duh kalau sudah seperti ini, Intan mau tidak mau akan tahu semuanya.
"Maaf ya Na.. Jadinya Intan tahu semua.." Tina merasa tidak enak.
"Iya enggak apa-apa kok Tina. Lagi pula tadi kan Intan ke rumahku. Jadi mau nggak mau dia pasti akan tahu..."
"Kalian berdua jahat ya. Enggak mau cerita ke aku, jadi cuma aku doang yang enggak tahu.."
"Bukan begitu Intan. Aku hanya tidak ingin membebanimu dengan permasalahan keluarga aku."
"Huh...!" Intan masih terdengar jengkel.
Sembari aku menerima telepon Tina aku sekali mengecek Indra yang sedang asyik bermain.
"Suamimu gimana Na? Kamu sudah berusaha untuk ngomong?"
"Saat sarapan tadi Mas Indra berubah jadi marah dan aku segera menyusulnya ke kamar atas..."
"Seperti beberapa waktu lalu dia pun menjadi marah kembali dan tidak suka saat aku menanyakannya.."
"Suamimu tiba-tiba berubah pada saat tadi pagi Na?"
"Iya Tina, suamiku tiba-tiba berubah. Tapi ada yang membuat aku sedikit merasa heran..."
"Mas Ryan berubah menjadi ketus dan pemarah itu tepat ketika sedang melihat layar hp-nya dan mengetik sesuatu.."
"Entah sedang mengirim pesan kepada siapa atau sedang membicarakan apa, tapi yang pasti setelah itu Mas Ryan berubah menjadi pemarah kembali."
"Aku benar-benar bingung Tan dengan sikap Mas Ryan. Kami sudah sepakat untuk membicarakan apapun agar tidak terjadi pertengkaran besar..."
"Tapi sekarang justru mas Ryan sendiri yang bersikap seperti itu. Aku nggak tahu harus bagaimana lagi?" Suaraku terdengar frustasi.
__ADS_1
"Ana.. Ada yang ingin aku katakan.. " setelah dari tadi diam Intan mulai bersuara.
"Apa itu Tan?"
"Awalnya aku bingung ingin memberitahukannya kepada kamu. Tapi aku rasa setelah melihatmu seperti ini, kamu harus tahu.."
"Beberapa hari lalu sekitar hari Rabu sore, saat aku tidak masuk kuliah karena sakit..."
"Sore harinya aku merasa sudah agak mendingan. Aku pergi keluar untuk membeli makan..."
"Di sekitar tempat makan itu walaupun dari kejauhan aku melihat dengan jelas sosok Mas Ryan sedang makan..."
"Pada mulanya aku ragu itu bukan suamimu. Yah, karena yang aku tahu suamimu cuek dengan penampilan..."
"Tapi saat aku perhatikan lagi, walau penampilannya makin rapi aku yakin itu adalah suamimu..."
"Dan suamimu makan di sana tidak sendirian Ana tapi tidak juga dengan Indra..."
DEG!! Jantungku tiba-tiba berdetak sangat kencang.
"Aku kira itu kamu Na. Tetapi pada sore itu aku yakin kamu masih kuliah..."
"Apa? Apa maksudnya Tan?"
"Suamimu saat itu... saat itu bersama dengan perempuan lain..."
"Jangan bercanda kamu Tan.." Aku berusaha menepis perkataan Intan.
"Ana aku serius... Dan perempuan yang bersama Mas Ryan, kita pernah bertemu dengannya..." Suara Intan yang terdengar serius membuatku semakin takut untuk mendengar lanjutan ceritanya.
"Tan....cukup Tan..."
"Ana..."
"Ana kami kesana sekarang ya?" Tina menjadi khawatir dengan keadaan ku.
"Kalian kan sedang kuliah. Aku tidak apa-apa.."
"Untuk membicarakan seperti ini memang lebih enak jika kita ngomong langsung Na.."
"Kami juga khawatir dengan kamu Na..."
"Ana, kamu masih disana?" Intan menanyakan keberadaanku.
"Aku masih disini Tan.."
"Tan siapa perempuan yang bersama Mas Rian yang waktu itu kamu lihat?"
Aku sempat menduga-duga nya. Entah apa karena ini indra keenam perempuan? Tapi yang pasti dugaanku dengan perkataan Intan jawabannya adalah sama!
"Yang bersama dengan suami waktu itu Mbak Sinta Na..."
Aku menghembuskan nafas panjang. Tanganku gemetar. Pikiranku sangat kacau. Tiba-tiba muncul di memoriku saat-saat kami tidak sengaja berpapasan dengan Mbak Sinta. Lalu perkataannya yang akan disini sampai beberapa bulan karena ada urusan yang belum selesai.
(Urusan apa itu? Apa itu urusan dengan suamiku?)
(Apa hubungannya Mas Ryan dengan Mbak Sinta?)
(Apa mereka sebenarnya punya urusan yang tidak diketahui?)
(Dan yang paling penting bagaimana mereka bisa saling kenal?)
(Lalu siapa sebenarnya Mbak Sinta?)
"Tan, sudah berapa lama kamu menyimpan ini?"
"Dua hari yang lalu Na, saat kita makan di kafe dan bertemu dengan Profesor Adskhan aku sudah ingin mengatakannya..."
"Tapi saat itu aku mendengar ceritamu, sepertinya hubungan kamu dengan suamimu sedang baik-baik saja. Dan muncul dalam benakku, mungkin suamimu saat itu bertemu dengan Mba Sinta sedang ada urusan..."
"Aku takut merusak suasana itu. Jadi aku memilih untuk diam saja.."
"Namun, saat aku melihat keadaanmu pagi tadi dan mengkaitkan dengan semuanya hal ini seperti benang yang saling berhubungan..."
"Tapi...tapi Tan bisa saja kan kalau semua ini bohong Tan?" Aku masih berusaha mengelak.
"Tidak mungkin kan Tan, Tina..."
"Ana..."
__ADS_1
"Aku juga kaget mendengar cerita itu dari Intan Na.."
"Ana aku rasa agar kamu semakin yakin dan tidak menduga-duga, kamu harus mencari tahu sendiri.."
"Kali ini aku setuju dengan pendapat Intan, Na.."
"Mencari tahu sendiri? Bagaimana maksudmu?"
"Pertama mungkin kamu bisa tanyakan ke suamimu Na, bagaimana hubungannya dengan Mba Sinta..." Intan memberi saran.
"Apa mungkin ada hubungannya Mbak Sinta dengan sikap Mas Ryan yang labil seperti saat ini?" Aku mencoba mengkaitkannya.
"Untuk saat ini aku rasa segala kemungkinan akan selalu ada.."
"Jujur aku masih ragu dan tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Tapi di satu sisi aku merasa tidak bisa mengabaikannya begitu saja..."
"Tapi yang pasti jika aku menanyakannya pada Mas Ryan aku sudah bisa menduga dia akan marah..."
"Ana aku boleh memberikan usul?" Tina mencoba memberikan saran.
"Selama ini kalian tidak pernah kan saling melihat isi handphone? Dan aku rasa semua jawaban atas keraguanmu ada di isi handphone itu Na..."
"Bertahun-tahun kami sudah saling percaya dan sepakat untuk tidak mengecek handphone lalu kalau tiba-tiba aku mengecek HP nya sekarang...."
Napasku tiba-tiba menjadi tidak beraturan. Padahal cuaca sedang musim panas, tapi tubuhku keluar keringat dingin. Dan malangnya, aku tahu bahwa dengan mengecek handphonenya Mas Ryan semua akan terjawab. Tapi aku cukup takut untuk mengetahuinya.
"Mama...!" Indra memanggilku dari jarak beberapa meter.
"Iya sayang.."
"Ma, aku lapar..." Dia berkata sambil memegang perutnya.
"Ayo, kita beli makan siang.."
"Tina, Intan, aku dan Indra harus beli makan dulu. Nanti aku sambung lagi. Assalamualaikum..." Aku langsung menutup telepon dan menyiapkan batinku yang tadi sempat kacau.
Aku menghampiri Indra dan mengajaknya untuk mencari makan siang. Aku harus pura-pura tersenyum di hadapannya jangan sampai Indra merasa mamanya terlihat sedih.
(Apa tindakanku benar jika aku mengecek sendiri HPnya Mas Ryan?)
(Selama ini kami sudah sepakat untuk menjaga privasi masing-masing.)
(Bagaimana bisa tiba-tiba aku melanggar sendiri kesepakatan itu?)
(Tapi kalau aku tidak segera mencari tahu semua ini, pertengkaran ini bisa saja akan terus terulang kembali kan?)
(Ya Allah apa yang harus aku lakukan?)
Hari sudah semakin siang. Setelah puas bermain dan makan siang aku dan Indra memutuskan untuk segera pulang ke rumah.
Dalam perjalanan pulang, aku berharap semoga Mas Ryan sudah tidak marah lagi sehingga mungkin aku bisa menanyakan langsung kepadanya. Jadi, aku tidak perlu lagi kan untuk mengecek HP nya?
Begitu sampai rumah aku benar-benar terkejut karena pintu dikunci.
(Mas Ryan pergi kemana?)
(Apa bertemu dengan Mba Sinta?)
(Ah, aku kan belum memiliki bukti yang cukup untuk menyimpulkan hal itu)
Begitu pintu dibuka kami segera masuk. Kondisi rumah sama seperti saat pagi aku dan Indra pergi. Sepertinya Mas Ryan sama sekali tidak menyentuh sapu.
Aku tidur siang dikamar Indra. Dia yang memintaku menemaninya. Waktu terus berlalu hingga sore hari dan Mas Ryan belum pulang. Aku mulai cemas.
Aku segera mencari handphone ku dan memanggil nomor telepon Mas Ryan.
Tuut...Tuutt...Tuuutt...Tuut..
(Kok tidak diangkat ya?)
Aku coba lagi menelponnya hingga enam kali, tapi responnya tetap sama. Tidak diangkat.
Akhirnya aku putuskan untuk mengirimkan Mas Ryan pesan.
(Assalamualaikum.. Mas ada dimana?)
Sudah ceklis dua, tapi belum ada tanda sudah dibaca. Aku mondar-mandir di dapur. Untungnya Indra sedang bermain mobil-mobilan di ruang tamu.
(Tidak ada gunanya aku cemas dan khawatir. Aku memang harus segera mencari tahu nya sendiri!)
__ADS_1
Aku bulatkan tekad untuk mencari tahunya malam ini!