Malam Di Istanbul

Malam Di Istanbul
Kangen Ayah


__ADS_3

Namun tentu saja negeri dongeng berbeda dengan dunia nyata. Di dunia nyata tidak ada pernikahan yang akan bahagia selama-lamanya. Dan hal itu terbukti saat ini. Tepat di usia pernikahan Diana dan suaminya yang memasuki usia 7 tahun pernikahan.


Bukannya semakin matang usia pernikahan mereka. Bukannya semakin besar cinta mereka. Namun kini kandas tidak bersisa sama sekali.


Kata-kata cinta, kata-kata sayang dan kata-kata manis yang terucap dari mulut Mas Ryan dari sejak awal mereka bertemu hingga awal-awal pernikahan, kini seperti racun yang pahit di mulut Diana. Namun racun itu sudah telanjur masuk ke dalam tubuhnya dan Diana tidak bisa memuntahkannya kembali.


Setelah mengingat beberapa kilas balik kenangan dari awal pertemuan Diana dengan Ryan, kini muncul rasa penyesalan dalam hati kecilnya. Mengapa waktu itu dia menjadi tuli tidak mendengar kecemasan dan kekhawatiran dari ibunya dan Kak Andi? Padahal yang mereka khawatirkan itu semata-mata untuk kebaikan dirinya sendiri.


Bagi kebanyakan orang tentu saja waktu satu minggu untuk mengenal calon pasangan kita adalah waktu yang sangat singkat. Apalagi berkenalan via sosmed yang kita sama sekali tidak tahu seperti apa latar belakangnya dia dan keluarganya.


Apa jadinya jika Ibunya dan Kak Andi mengetahui bagaimana kondisi Diana dan suaminya saat ini? Tidak tega! Pasti hati Sang Ibu akan hancur. Dan Kak Andi pasti akan marah besar.


Tidak tega Diana membayangkan ibunya nangis tersedu-sedu melihat nasib pernikahan anak perempuannya.


Seandainya dari awal Diana mendengarkan nasehat Ibu dan kakaknya mungkin ceritanya akan berbeda dari sekarang. Mungkin Diana tidak perlu merasakan semua rasa sakit ini dan ia bahkan tidak perlu sampai membohongi ibunya.


Diana kembali melihat layar hp-nya sejenak. Dia melihat daftar panggilan masuk. Berharap Mas Ryan menghubunginya. Seandainya saja Mas Ryan mengatakan dengan jujur apa saja kekurangan dalam diri Diana yang bisa diperbaiki. Pastilah hal seperti ini tidak akan pernah terjadi.


Cukup lama Diana mematung dan memandangi layar HPnya. Suami yang diharapkan menghubunginya sama sekali tidak ada panggilan masuk dari nya. Terakhir kali yang menelpon Diana tetap ibunya.


Mengingat kembali perkataan sang ibu tentang sosok Ayah membuat Diana kembali berandai-andai.


Walau Diana waktu itu masih berumur 2 tahun saat ditinggal oleh ayahnya, ibunya hampir setiap hari menceritakan sosok sang ayah kepada Diana dan Andi. Hal itu dilakukan agar anak-anaknya tidak pernah lupa pada sosok sang ayah meskipun secara raga sudah tidak bersama mereka.


Berbekal foto keluarga dan cerita dari ibunya yang hampir setiap hari diperdengarkan, Diana seperti mengenal baik Ayahnya. Ibunya selalu menceritakan bagaimana sang ayah ketika berjuang mencari nafkah. Terkadang kaki dan tangannya melepuh karena saat itu ayahnya bekerja sebagai buruh kasar dan bekerja serabutan. Sang ayah tidak pernah mengeluh dan selalu bersyukur. Berangkat pagi dan pulang pagi tidak hanya sekedar syair tapi memang benar dilakukan oleh ayah Diana.


Sosoknya yang gagah, berbadan tegap dan tinggi namun berhati lembut begitu menyayangi, mengayomi dan melindungi keluarganya.


Walau saat itu Diana dan Andi masih sangat kecil dan sesekali berbuat nakal tapi tidak pernah sekalipun ayahnya memarahi atau memukul mereka berdua. Alih-alih memarahi, ayahnya malah akan menasehati dengan lembut.


Ketika ayahnya pulang kerja biasanya Diana kecil girang dan langsung berlari minta digendong oleh sang ayah.

__ADS_1


Seperti tidak ada waktu untuk istirahat, saat Ayahnya di rumah dia pun menemani Diana dan Andi bermain.


Saat itu mereka hanya mampu tinggal di rumah kontrakan berukuran sepetak dengan bilik kayu dan beberapa atap langit yang sudah bolong dan ketika hujan turun tidak jarang akan bocor. Walaupun demikian, suasana rumah kecil itu sangat hangat dengan kehadiran sang ayah.


Kata ibu Diana, sewaktu Diana masih berusia 1 tahun, Diana pernah sekali terkena penyakit malaria. Saat tengah malam, tiba-tiba tubuh Diana kecil demam tinggi. Hal itu membuat ayahnya panik. Walau saat itu hujan deras, ayah Diana tidak lantas menyerah. Ayahnya meminta tolong untuk dipinjamkan tumpangan mobil dari pintu ke pintu agar bisa membawa Diana dengan aman ke rumah sakit.


Tidak mudah untuk mendapatkan tumpangan mobil pada tengah malam. Yang ada sang ayah terkadang diusir karena dianggap mengganggu. Hingga akhirnya ayahnya pun meminta pertolongan kepada RT sekitar. Melalui RT dicarikanlah mobil tumpangan yang bisa membawa Diana.


Mengingat cerita dari ibunya, tersungging senyuman di wajah Diana. Dia nampak merindukan sosok yang tegap dan tegas, namun bisa memberikan pelukan hangat kepada keluarganya.


Banyak orang yang mengatakan bahwa ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuan. Dan itu yang dirasakan Diana saat ini. Walau hanya sampai usia 2 tahun Diana bersama ayahnya, tapi rasa sayang sang ayah seolah masih dapat Diana rasakan.


Yah seandainya Ayah Diana masih hidup kira-kira apa yang akan dilakukannya saat ini jika mengetahui putrinya dikhianati oleh suaminya?


Atau seandainya Ayah Diana masih hidup apakah 7 tahun yang lalu ayahnya akan menolak mentah-mentah lamaran dari Mas Ryan?


Seandainya Ayah masih hidup dan berkata saat tujuh tahun yang lalu dan menolak lamaran Mas Ryan, Diana pasti akan mengikuti keputusan ayahnya.


Air mata yang sudah hampir kering kini seperti keluar kembali walaupun tidak sederas sebelumnya. Rasanya Diana ingin sekali bercerita kepada sang ayah tentang semua rasa sakit yang dia alami saat ini. Dia ingin sekali dipeluk erat oleh sang ayah dan menangis sekuat-kuatnya.


Tidak lama kemudian terucap surat Al Fatihah untuk almarhum ayahnya.


Seolah sudah puas berandai-andai, Diana menghapus sendiri air matanya. Nasi sudah menjadi bubur. Kalimat itu yang sering Diana baca di setiap cerita dalam novel-novel favoritnya, ketika tokoh utamanya mulai menyesali semua keputusan yang sudah mereka ambil. Dan kini Diana tidak menyangka bahwa dia berada di posisi itu sekarang ini.


Berada di posisi dimana dia tidak mampu untuk memutar kembali waktu, Diana terlihat begitu pasrah mengikuti konsekuensi dari keputusan yang dia ambil 7 tahun yang lalu.


Kini dia harus kembali bersikap rasional, karena saat ini Diana sudah ada Indra yang menjadi penyemangatnya. Dia harus kembali memikirkan langkah apa yang harus diperbuat selanjutnya.


Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul satu siang waktu setempat. Saatnya memasuki waktu Dhuhur. Orang-orang sekitar sudah mulai ramai memasuki masjid termasuk tempat salat khusus perempuan yang saat ini Diana berada di dalamnya.


Di antara muslimah yang memasuki masjid untuk salat Dhuhur terlihat Tina dan Intan menghampirinya. Raut dari wajah keduanya menggambarkan bahwa selama mereka meninggalkan Diana disini selalu dihantui oleh rasa cemas.

__ADS_1


Mereka berdua mengajak Diana untuk keluar sejenak sekedar makan siang di kantin.


"kita salat Dhuhur dulu yuk berjamaah.." Ajak Diana.


Mereka bertiga salat berjamaah di Masjid. Setelah selesai Tina nampak memperhatikan dengan betul raut wajah sahabatnya itu.


"Bagaimana perasaan kamu sekarang Na?"


"Alhamdulillah aku sudah lebih baik Tina..."


"aku rasa kita harus mengompres sebentar mata Diana dengan air hangat agar tidak terlalu bengkak." Usul Intan.


"iya, aku sudah bawa botol air hangat." Tina mengeluarkan botol aluminium kecil yang berisi air hangat lalu pelan-pelan mengompres mata Diana.


"kita makan siang dulu ya di kantin. Setelah itu baru kita pikirkan bersama apa saja yang akan kita lakukan setelah ini..."


"Terima kasih ya Tina dan Intan. Walaupun aku berada di titik terbawah saat ini tapi Allah masih menyayangiku dengan adanya kalian yang selalu mendukungku..."


Kini terlukis senyum di wajah Diana. Hal itu jelas membuat Tina dan Intan kembali merasa lega.


"Syukurlah kalau kamu sudah baik-baik saja.."


"Ana, kamu kuat Na. Allah kasih ujian ini pasti karena kamu bisa melewatinya.." Intan memberikan semangat.


"aku harus kuat Tan. Aku kan selalu menjadi kuat untuk Indra.."


"Ana, apapun yang terjadi kami berdua akan selalu membantu kamu. Kita akan selalu bersama dalam hal senang walaupun keadaan sulit..." kata-kata Tina membuat hati Diana tenang.


"pasti kita akan selalu saling membantu." Diana mengangguk.


Mereka bertiga keluar dari masjid menuju kantin. Kini mata Diana tidak terlalu bengkak sehingga ketika Diana memakai kacamata, sudah terlihat biasa seperti orang pada umumnya.

__ADS_1


Saat perjalanan mereka menuju kantin Tina dan Intan saling bertatapan. Tanpa perlu bicara seolah mereka bisa tetap berkomunikasi.


Walau awalnya mereka merasa cemas dengan keadaan Diana tapi ketika melihat wajah Diana dengan sedikit tersenyum, sepertinya tindakan mereka meninggalkan dia sendirian di masjid untuk meluapkan semua rasa sakitnya itu adalah keputusan yang tepat.


__ADS_2