
Setelah menghabiskan beberapa puluh menit Diana meluapkan semua rasa sakitnya, kini ia bersandar pada dinding sudut masjid. Terasa sangat lelah jiwa dan raganya. Kerudungnya kini tidak serapi saat dia berangkat. Bahkan sudah basah dengan air matanya sendiri.
Untung saja masih tidak ada siapa-siapa selain dirinya. Hingga Diana tidak perlu merasa malu saat menangis seperti tadi.
Tubuhnya masih bersandar di dinding namun, pandangan matanya seperti melayang jauh seakan Diana Sedang mengulang memori dimana dia pertama kali bertemu dengan suaminya.
Potongan-potongan memori itu kini terlintas dengan sendirinya di dalam benak Diana. Masih teringat jelas di dalam pikirannya bagaimana awalnya dia bisa bertemu dengan Mas Ryan.
Sekitar 7 tahun yang lalu, saat itu sebuah aplikasi medsos sedang ramai diperbincangkan. Tidak ada seorang pun yang tidak punya akun di medsos itu. Begitupula dengan Diana dan Mas Ryan.
Diana menggunakan akun medsos itu sekedar hanya untuk berbagi kegiatan dia sehari-hari di kampus.
Diana sebenarnya bukanlah gadis biasa saja. Dia cukup manis memiliki hidung yang mancung dan bulu mata yang lentik dengan warna kulit kuning langsat serta berat dan tinggi badan standar wanita pada umumnya. Selain itu prestasi akademiknya pun cukup membanggakan.
Merasa ibunya membesarkan dia dan Kak Andi seorang diri sebagai single parent, Diana sedari kecil sudah bertekad tidak ingin menyusahkan ibunya. Setidaknya dia ingin mendapatkan beasiswa pendidikan dengan usahanya.
Oleh sebab itu Diana kecil sudah belajar dengan rajin sedari duduk di bangku sekolah dasar. Ia tidak pernah keluar dari peringkat ranking tiga besar di kelasnya.
Diana terus menerus mempertahankan prestasinya hingga ia bisa lolos dan masuk ke salah satu universitas negeri terbaik di kota itu dengan full beasiswa.
Oleh sebab itulah Diana cukup populer. Dan saat kehidupan di kampusnya, Diana sudah beberapa kali banyak menerima tawaran perjodohan. Mulai dari sesama mahasiswa, karyawan hingga dosen. Apalagi saat itu kak Andi sudah menikah. Maka tawaran perjodohan pun semakin banyak yang masuk.
Namun saat itu di pikiran Diana dia masih ingin terus kuliah. Diaa khawatir hal itu akan mengganggu belajarnya dan nilainya akan menurun sehingga bisa mempengaruhi beasiswa yang selama ini dia terima. Karena tentu saja syarat dari beasiswa itu adalah nilai Diana tidak boleh turun. Minimal nilai Diana harus sama dengan ujian semester sebelumnya. Lagipula dia sudah memasuki semester akhir. Ibunya pun saat itu tidak mendesak Diana untuk segera melepas masa lajangnya.
Keseharian Diana yang hanya sekitar kampus, rumah, dan perjalanan pulang-pergi terkadang membuat Diana jenuh. Oleh sebab itu dia beberapa kali membagikan kegiatannya atau sekedar curhat di akun miliknya di aplikasi medsos tersebut.
Diana sudah lupa, siapa tepatnya yang meng-add friend**s terlebih dahulu. Yang ia ingat Diana dan suaminya saat itu sering memberikan respon. Entah itu saling memberikan like atau comment di status masing-masing.
Saat itu Diana sedang berada di semester akhir S1 nya. Sedangkan Mas Ryan suaminya sudah bekerja sebagai karyawan di suatu swalayan.
Mereka sering berinteraksi tanpa rasa canggung. Mereka berinteraksi seperti mengobrol via dunia maya.
Lama-kelamaan mereka pun saling berkirim pesan lewat inbox. Mereka mulai dekat dan mulai bercerita banyak hal. Tentang keseharian mereka masing-masing mulai dari hal remeh hingga terkadang masalah yang cukup berat. Seperti saat Diana sedang bertengkar dengan Kak Andi atau sedang berselisih pendapat dengan ibunya.
Begitu juga dengan Ryan suami Diana.
Terkadang Ryan membagikan cerita saat dia sedang punya masalah dengan teman kerjanya atau dengan atasannya. Tidak jarang juga dia punya masalah dengan kedua orangtuanya. Mereka jadi sering saling curhat, saling berbagi cerita dan saling mendengarkan.
Merasa sudah sangat dekat dan seperti gayung bersambut, mereka pun sudah mulai saling bertukar nomor kontak. Mereka saling menanyakan kabar satu sama lain. Bahkan terkadang pun mereka saling memberikan dukungan.
Tina dan Intan yang memang sahabat Diana sejak duduk di bangku SMA dan satu kampus dengan Diana tentu saja mengetahui jika Diana saat itu sudah dekat dengan Mas Ryan. Hanya saja mereka berdua tidak menduga kalau kedekatan itu ternyata menuju ke arah yang lebih serius.
Karena yang mereka berdua tahu, sahabatnya itu hanya ingin fokus belajar saja. Entah rayuan apa yang dilakukan oleh Ryan hingga bisa membujuk Diana untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Walaupun saat itu sudah cukup ramai orang yang berkenalan dan menemukan jodohnya dari medsos tapi Tina dan Intan masih merasa khawatir dengan Diana. Mereka tahu Diana itu anak yang sangat polos belum begitu paham soal hubungan laki-laki dengan perempuan. Dan seperti belum mengenal baik bagaimana sifat dan karakter laki-laki.
Diana yang mengetahui kedua sahabatnya merasa khawatir mengatakan bahwa Ryan akan segera pergi menemui ibu dan kak Andi secara langsung untuk mengutarakan keseriusannya dengan Diana.
"Kamu sendiri gimana Diana? Kamu sendiri yakin dengan Ryan?" Tina masih menunjukkan kekhawatirannya.
"Iya Diana. Apalagi kamu kan kenalnya via medsos. Kita tidak tahu seperti apa kehidupan dia di dunia nyata.." Intan ikut cemas.
"aku sendiri memang belum pernah bertemu secara langsung dengan Mas Ryan. Tapi aku merasa Mas Ryan termasuk pria yang baik."
__ADS_1
"kalau kamu seperti itu, kamu terlalu naif Diana. Aku setuju kalau kamu ingin melihatnya dulu. Tapi kamu jangan terlalu gegabah mengambil keputusan.." Tina mengingatkan.
"Iya Tina, aku akan mengingat kata-katamu."
"Jadi kapan Diana Ryan akan ke rumahmu dan bertemu dengan ibu serta Kak Andi?" Intan mulai kepo.
"rencananya Mas Ryan mau ke rumah hari Minggu besok.."
"kamu sudah bilang ke ibumu bahwa nanti akan ada pria yang ingin berkunjung ke rumah?"
"sudah. Aku sudah bilang ke ibu dan kak Andi."
"Terus bagaimana respon mereka?"
"tentu saja mereka awalnya terkejut, karena selama ini aku menolak semua tawaran perjodohan...."
"dan yah, Ibu dan Kak Andi sama seperti kalian merasa khawatir dan ragu karena aku mengenal Mas Ryan melalui medsos.."
"tapi kata kak Andi kita bisa mengetahuinya nanti setelah bertemu langsung dengan Mas Ryan..."
"Iya sih kak Andi benar kita akan tahu bagaimana Ryan itu setelah melihatnya secara langsung.."
Hari Minggu yang dijanjikan tiba. Ryan saat itu datang seorang diri dengan pakaian formal. Kemeja putih bergaris hitam. Celana berwarna hitam dengan tas selempang sambil membawa parcel buah.
Malam hari sebelumnya Ryan dan Diana saling mengirim pesan. Ryan bertanya kira-kira Ibunya dan ke Andi menyukai buah seperti apa. Lalu Diana menyebutkan jenis-jenis buah yang disukai oleh ibunya dan Kak Andi.
Seperti ingin pergi berperang Ryan pun meminta doa dan dukungan kepada Diana agar besok ketika bertemu dengan Ibunya dan kak Andi dilancarkan dan dimudahkan semuanya.
Ryan sampai di rumah Diana pukul sembilan pagi. Rumah yang cukup bagus di sekitar jalan situ. Dengan cat warna ungu pastel dan bertingkat 2. Pagar pun dicat dengan warna senada. Sebenarnya itu bukanlah rumah Diana. Namun rumah Kak Andi. Ya, walaupun Kak Andi sudah berumah tangga namun tentu saja Ibu dan Diana masih menjadi tanggung jawabnya. Beruntung Andi begitu lulus kuliah dia langsung diterima kerja di sebuah perusahaan ternama di ibukota.
Ryan disambut dengan hangat oleh Kak Andi dan ibu Diana. Namun begitu Ryan duduk di ruang tamu dia dihujani berbagai macam pertanyaan oleh Kak Andi seperti seorang pelaku kejahatan.
Yah Wajar saja jika Andi melakukan seperti itu. Semata-mata dia ingin menjadi kakak yang baik serta melindungi adik perempuan semata wayangnya. Agar benar-benar bisa ada yang melindungi dan menyayanginya dengan tulus serta menyerahkan semua dan menggantikan peran Ayah yang selama ini sudah tidak Diana temukan. Oleh sebab itu Diana hanya diam tidak memotong pembicaraan Kak Andi.
Selama sesi introgasi tersebut, ibu Diana nampak dengan seksama memperhatikan tampilan Ryan. Mulai dari pakaian, gesture badan hingga ekspresi wajahnya.
Sesi tanya jawab antara Kak Andi dengan Ryan dijeda oleh suara adzan dhuhur. Sekitar dua jam lebih Ryan berhadapan dengan Andi. Padahal Ryan hanya duduk, namun kaki dan badannya terasa sangat lelah.
Andi mengajak Ryan untuk salat Dhuhur berjamaah di Masjid. Namun jawaban dari Ryan sepertinya mengurangi poin di hadapan ibu Diana dan Andi.
"Maaf Bu dan Kak Andi saya mau ijin pamit. Karena hari ini saya masuk kerja shif siang saya akan solat di tempat kerja..."
Ryan segera pamit. sebelum pamit dia seperti memberi isyarat kepada Diana agar nanti menghubunginya via telepon.
Selesai salat Dhuhur, Ibu dan Kak Andi mengevaluasi Ryan. Diana dipanggil untuk menemui mereka di ruang tamu. Menurut Kak Andi sebenarnya Ryan memang bukanlah termasuk pria yang tidak baik. Entah kenapa tapi kak Andi merasa kurang puas dengan hasil jawaban dalam sesi interogasi tadi.
"Ana, kalau menurut Ibu, ibu juga merasa kurang sreg dengan Ryan..." Setelah dari tadi diam akhirnya Ibu pun angkat bicara.
"Ibu merasa Ryan seperti kurang berwibawa dan tegas untuk nanti memimpin kamu dalam rumah tangga Na..."
"Ibu, apakah Mas Ryan masih memiliki kesempatan? Bukankah kita baru bertemu dengannya sekali Ini saja?"
"Maksudnya kamu masih ingin melanjutkan ini dengan Ryan, Na?"
__ADS_1
"Iya Bu bagaimana kalau kita coba dulu dengan ta'aruf?"
"Toh kalau pun tidak cocok aku dan Mas Ryan bisa berhenti untuk saling menghubungi..."
"Bagaimana menurutmu Andi?" Ibu melempar pertanyaan kepada Kak Andi.
"kalian bukan sedang ta'aruf. Kalian juga selama ini sudah saling berhubungan dan sudah saling suka kan?"
"Ana kalaupun kamu sudah menyukainya sejak awal dan jika misalnya nanti saat ta'aruf ada ketidakcocokan apa kamu yakin kamu bisa berhenti menghubunginya?"
Diana terdiam seakan-akan Kak Andi sangat mengetahui isi hati adik perempuannya itu. Dan memang benar jika kedua sejoli ini sudah saling memendam perasaannya masing-masing.
"Jadi sebenarnya kalian ini bukan ta'aruf tapi kalian memang sedang meminta restu dari kakak dan ibu kan?"
"kamu sangat menyukainya Ana?" Ibu sangat penasaran dengan isi hati anak perempuan satu-satunya itu.
Diana hanya mengangguk malu. Melihat hal itu Ibu dan kak Andi saling melempar tatapan.
"Sudah berapa lama Na kamu mengenal Ryan di medsos?" Kak Andi kini mulai mengintrogasi Diana.
"Aku lupa tepatnya kapan Kak. Tapi kami benar-benar dekat kurang lebih satu minggu ini.."
Mendengar jawaban Diana Kak Andi hanya menghela nafas dan ibunya hanya menggeleng-gelengkan kepala. Anak gadisnya kini tengah dimabuk asmara. Yang artinya mungkin perkataan seperti apapun dari ibu dan kakaknya tidak akan masuk ke telinganya.
Setelah itu tentu saja Ryan tidak putus asa. Ia terus-menerus mengunjungi rumah Diana dan membawakan berbagai macam makanan kesukaan Ibunya dan ke Andi. Dia bersikap sangat baik dan dia berusaha sangat keras untuk merebut hati calon mertua dan calon kakak iparnya.
Sedangkan Diana berusaha meyakinkan Ibunya dan kak Andi bahwa Mas Ryan adalah pria baik-baik pilihannya.
Memakan waktu beberapa minggu, restu yang selama ini diperjuangkan itu pun akhirnya turun. Masih terpancar di wajah ibunya Diana perasaan yang berat untuk melepaskan Diana kepada pria itu. Kak Andi seperti tidak habis pikir. Bagaimana bisa adik perempuannya yang polos itu termakan rayuannya Ryan.
Walaupun Ibu Diana dan Kak Andi sama-sama mengakui bahwa Ryan bukanlah termasuk pria yang buruk. Tapi entah mengapa rasa mengganjal itu tetap ada dan sulit untuk diutarakan.
"Ibu, tenang saja. Sekalipun Diana sudah menikah, Aku tetaplah kakaknya dan dia adalah adikku. Aku akan terus menjaga dan mengawasinya Bu.." Andi berusaha menghibur ibunya yang saat ini masih terlihat gelisah menghadapi anaknya yang sedang mabuk kepayang. Namun setelah mendengar perkataan Andi, kini Ibunya sudah bisa sedikit tersenyum.
Hari bahagia bagi Ana dan Ryan sudah ditetapkan. Kedua kedua sahabatnya benar-benar shock mendengar berita itu. Berkali-kali Tina dan Intan memastikan kepada Diana tentang kebenaran hari pernikahan mereka.
"Diana kamu beneran yakin dengan keputusan kamu ini?"
"Iya Tina. Aku sudah yakin. Mas Ryan pria baik-baik. Ibu dan kak Andi juga sudah merestui.."
"Ibu dan Kak Andi sudah merestui?"
"Iya Tin. Oleh sebab itu kami sudah menentukan tanggalnya."
Tina dan Intan hanya saling memandang. Mereka tidak tahu lagi harus berkata apa dan mereka bingung harus menunjukkan wajah senang atau khawatir.
Tanggal pernikahan ditetapkan satu bulan setelah Diana selesai wisuda. dan memang bukan acara resepsi pernikahan yang mewah namun tetap sakral karena hanya dihadiri oleh keluarga inti dan sahabat dekat saja.
Masih teringat jelas dipikiran Diana saat hari pernikahan itu ibunya berkali-kali memeluk dan menangis sembari mendoakan agar Diana selalu bahagia.
Dan ya, awal-awal pernikahan begitu terasa manis. Mereka mengontrak di rumah yang sederhana yang berjarak tidak jauh dari rumahnya Kak Andi. Hari-hari sebagai pengantin baru ibarat pernikahan Cinderella bagi Diana.
Ryan masih bekerja di Swalayan sedangkan Diana karena nilai IPK kelulusannya cumlaude ia berniat ingin mengajukan beasiswa dan melanjutkan S2 nya. Ryan mendukung karena itu sudah kesepakatan mereka berdua.
__ADS_1
Satu tahun pernikahan mereka diberikan anugerah dengan kelahiran Indra. Ibu sangat bahagia karena Indra adalah cucu laki-laki pertamanya. Dan setelah itu kehidupan rumah tangga Diana seperti cerita di negeri dongeng.