Malam Di Istanbul

Malam Di Istanbul
Alasan Sang Raja


__ADS_3

Kelas sudah dimulai sejak tiga puluh menit yang lalu. Mahasiswa fokus mendengar penjelasan Professor Adskhan. Aku mendapati sesekali Tina melihat ke arahku. Aku tahu dia pasti cemas dengan keadaan ku.


"Aku baik-baik saja. Nanti saat istirahat kita bisa lanjut cerita lagi." Bisikku berusaha meyakinkan Tina.


Tina hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Sepertinya dia tahu kalau aku berkata baik-baik saja hanya untuk meredam rasa khawatirnya.


Dan Tina benar. Kami sudah bersahabat sangat lama, bagaimana mungkin dia tidak mengetahui pikiranku yang saat ini sedang kacau.


Lanjut ke jam berikutnya, Tina sudah tidak melihat ke arahku lagi. Aku memang sedikit tenang jika dia sudah tidak terlalu khawatir.


Waktunya istirahat. Semua menuju kantin. Para mahasiswa antri untuk memesan makanan tidak terkecuali kami. Kami memesan makanan dan langsung duduk di tempat yang tidak terlalu ramai.


Tina duduk di depanku. Matanya mulai fokus dan sepertinya dia sudah siap untuk melanjutkan cerita yang tadi pagi.


"Jadi apa yang akan kamu lakukan Ana?"


"Aku harus tetap menanyakan langsung ke Mas Ryan Tin.."


"Bukannya dia akan marah jika kamu menanyakannya?"


"Iya, dia pasti marah. Tapi kalau seperti ini terus-menerus juga tidak akan menemukan titik terang..."


"Jadi kamu akan tetap memaksa suamimu untuk menjelaskan walau itu membuat dia jengkel?"


"Ya, aku akan tetap bertanya walau dia akan sangat marah nantinya.."


"Kamu yakin Na?"


"Aku sudah membulatkan tekad Tin.."


"Kondisi kamu nanti gimana? Kamu yakin bakal kuat kalau nanti akan di caci-maki lagi? Karena kata kamu sajakan, hanya karena AC rusak suamimu sudah berani berkata kasar...."


" InsyaAllah aku kuat Tin. Hal ini aku lakukan untuk kelanjutan pernikahan kami. Aku tetap harus bertanya langsung dan mendapatkan jawabannya.."


"Aku tahu mungkin itu tidak baik Tin.. Tapi menurutku tidak ada jalan lain.."


"Apa yang bisa aku bantu Ana?" Tina segera menawarkan bantuan.


"Doakan saja agar semua baik-baik saja. Dan dugaan aku terhadap seseorang itu tidak benar..."


" Ibumu dan Kak Andi gimana? Kamu tidak ada niat untuk memberi tahu mereka?"


" Aku belum mau memberi tahu mereka Tina. Penyebab Mas Ryan berubah kan masih belum aku ketahui. Nanti malah nambah pikiran Ibu dan Kak Andi.."


"Dan aku ingin berusaha menyelesaikan masalah keluargaku ini sendiri."


"Jika memang ternyata tidak tertolong baru aku akan memberi tahu mereka....."


Belum selesai aku mengucapkan kalimat, mata Tina langsung berkaca-kaca dan menyela perkataan ku.


" Husshhh... Gak gitu ahh. Pasti cepat selesai kok masalah kamu ini Na."


"Aamiin."


"Tin, aku minta tolong sama kamu untuk rahasiakan ini dari Intan ya. Aku merasa tidak enak kalau Intan jadi tahu. Karena dia tinggal di dekat rumahku, takutnya dia malah makin kepikiran."


" Kamu tahu kan kalau Intan orangnya cepat panik?"


" Iya, Ana. Aku akan rahasiakan ini dari Intan."


" Terima kasih Tina."


"Ana, sekiranya ada yang bisa aku bantu kamu langsung ngomong ya. Gak usah sungkan."


"Sekalipun kamu hanya mau cerita aja, kupingku ini dua puluh empat jam ada untukmu Na."


" Iya Tina. Aku benar-benar bersyukur punya sahabat seperti kamu dan Intan."


"Aku selalu berdoa yang terbaik untuk kamu dan keluargamu Ana."


Aku tersenyum mendengar perkataan sahabatku ini. Tindakanku untuk cerita masalah ini ke Tina tidak terlalu buruk. Aku sudah merasa cukup baikan sekarang.


Kami segera menyentuh makanan yang ada di meja. Aku memesan makanan kesukaanku. Kofte yang merupakan olahan daging sapi dan kambing dengan saus dip. Biasanya aku mampu makan dengan lahap karena rasanya yang menggoyang lidah. Tapi, saat ini terasa hambar dimulutku.


Kami segera masuk kelas begitu waktu istirahat telah usai. Sambil menunggu dosen yang belum datang, Tina bicara padaku.


"Ana, sepertinya kamu tidak perlu menemaniku menjenguk Intan."


"Aku rasa kamu perlu waktu untuk nanti bisa bicara sama suamimu."


" Iya, nanti aku langsung pulang ke rumah."


Dosen segera masuk ke ruang kelas. Kami belajar seperti biasa hingga waktu usai dan kami pulang.


Diperjalanan pulang kami sempatkan mampir ke minimarket sekitar untuk membeli minuman dingin.


" Öğleden sonra da içki mi almak istiyorsunuz?" ( Siang, kalian juga mau beli minuman?)

__ADS_1


Suara dari sebelah kanan Tina membuat kami menoleh.


" Öğleden sonra Prof." ( Siang Prof)


Kami menjawab sapaan Profesor Adskhan.


" Sınıfın bitti ha? " ( Kelas kalian sudah selesai?)


" Evet Prof. Evdeyiz." ( Iya Prof. Kami sudah pulang)


"Alışveriş bitti mi? Sonra ödeyeceğim." ( Belanjanya sudah selesai? Nanti sekalian saya bayarkan)


Kami berdua saling menatap. Enak sih dibayarin. Tapi masa yang bayarin Professor?


" Gerek Prof. Teşekkür ederim." ( Tidak perlu Prof. Terima kasih )


" Sorun değil. Gel ve öde." ( Tidak apa-apa. Ayo sekalian bayar )


" İyi. Bir kez daha, teşekkür ederim Prof." ( Baik. Sekali lagi terima kasih Prof)


"Rejeki enggak boleh ditolak." Tina berbisik.


"Kalau Intan disini udah klepek-klepek deh sama Profesor Adskhan." Aku ikutan berbisik.


" Intan pasti bakal ngomong gini. Profesor Adskhan itu udah ganteng, jomblo baik lagi." Tina tertawa sendiri memperagakan Intan.


Aku tidak bisa menahan senyum melihat Tina meniru Intan dengan sempurna.


Kami berpisah dengan Profesor Adskhan setelah keluar dari minimarket dan melanjutkan perjalanan pulang.


Tepat kami sampai di depan kosan Intan, kami berdua saling beradu tatapan.


" Aku pulang dulu ya Tina." Aku berkata memecah kebisuan.


" Iya Ana. Setelah kamu bicara sama suamimu nanti, besok kamu cerita ke aku ya. Jangan kamu pendam sendirian."


Aku mengangguk dan segera pergi. Dari arah belakang aku merasa Tina masih memperhatikanku. Aku sangat paham, dia masih khawatir.


Oleh sebab itu, kekhawatiran ini harus segera diselesaikan.


( Bismillah. Kuatkan aku ya Allah..)


"Assalamualaikum warahmatullahi..."


( Pintunya tidak dikunci. Berarti Mas Ryan ada di rumah )


"Wa'alaikumsalam." Indra dan Mas Ryan menjawab kompak.


"Aku tadi udah masak dan makan bareng Indra kok."


Aku seperti harus terbiasa dengan sikapnya yang ketus akhir-akhir ini.


Indra lari menghampiriku. Aku peluk lalu gendong dia.


"Tadi dirumah ngapain aja sayang?"


"Indra nonton TV sama main dengan Papa Ma."


( Berarti seharian Mas Ryan tidak keluar rumah )


"Mama mau ganti baju dulu ya Nak." Aku mencium dan menurunkannya dari gendonganku.


"Iya Ma.."


Aku segera ke atas sembari berpikir waktu yang tepat untuk bicara dengan Mas Ryan


( Kalau aku mau bicara sama Mas Ryan, jangan sampai ada Indra.)


( Apa nunggu Indra tidur bicara sama Mas Ryan ya?)


( Kalau iya, berarti habis Isya dan setelah Indra tidur)


( Selama nunggu waktu yang tepat itu, aku harus berusaha sebaik mungkin meningkatkan mood Mas Ryan.)


Waktu sudah menunjukkan pukul 20.43. Kami sudah makan malam dan solat Isya. Tadi saat makan aku memasak menu masakan kesukaan Mas Ryan. Mas Ryan terlihat senang dan menikmatinya.


Aku merasa berhasil sudah membuat Mas Ryan good mood. Tukang servis AC tadi siang juga sudah datang. Alhamdulillah malam ini dikamar Mas Ryan tidak akan kepanasan lagi.


Waktunya sudah tepatkan?


Mas Ryan menuju ke tempat tidur setelah dari kamar mandi. Aku mempersiapkan hati dengan kemungkinan terburuk jika akan diumpat olehnya lagi.


"Mas.. Aku mau ngomong sebentar ya."


Mas Ryan yang sudah di tempat tidur segera menoleh ke arahku. Dia menungguku berbicara.


" Kamu kenapa sekarang berubah total seperti ini Mas?" Tanyaku lembut.

__ADS_1


" Kenapa kamu menanyakannya hal itu lagi?"


Sesuai dugaan ku. Dia langsung gusar.


Namun aku tidak peduli. Aku sudah bertekad akan menemukan jawabannya malam ini.


"Apa aku punya salah? Kalau iya, Mas bisa langsung bicara sama aku. Agar aku bisa berubah jadi lebih baik Mas.." Aku masih merendahkan suaraku.


"Mas sekarang cuek banget sama aku. Bahkan belakangan ini sudah memberikan umpatan kepada ku...."


" Dan Mas Ryan yang dulu bukan seperti ini. Tujuh tahun kita nikah, dan Mas berubah drastis seperti sekarang..."


" Ada apa Mas...?" Aku menahan air mata yang hendak keluar.


"Ck.. Ribet banget sih kamu. Segala ditanyain. Emang kamu siapa? Kamu kuliah tinggi-tinggi cuma buat interogasi suami kayak gini, HA?!"


Mas Ryan semakin marah. Nadanya mulai meninggi.


" Mas, kamu kan tinggal jawab aja. Kalau aku memang ada salah, aku jadi tahu penyebab alasan Mas berubah.." Aku masih tenang.


" Pers**an dengan alasan aku berubah. Itu alasan kamu aja kan yang mau nyari ribut sama aku?!"


DEG!


( Pers**an katanya?)


Oke, Ana sabar. Jangan nangis. Kamu kuat. Ingat, kamu harus menemukan jawabannya malam ini juga.


" Kalau memang aku tidak punya salah sama Mas, apa berarti Mas sembunyikan sesuatu dariku?"


Mas Ryan yang tadi bersungut-sungut , seketika diam. Aku langsung berpikir apa dugaan ku benar?


" Beberapa hari yang lalu, sekitar seminggu lebih Indra dengar kamu sayang-sayangan di telpon dan itu bukan aku..."


"Karena sejak hari itu sampai sekarang, kamu udah enggak pernah telepon dan kirim chat apapun lagi ke aku Mas..." Mataku mulai berkaca-kaca.


"Apa yang kamu sembunyikan Mas?"


" Siapa orang yang kamu telpon sambil sayang-sayangan?"


"Itu yang membuat kamu berubah?"


Mas Ryan jadi terdiam. Tidak bisa menjawab pertanyaanku satu pun.


Aku sudah tidak kuat menahan air mata lagi. Jadi apa benar semua ini? Apa yang Mas Ryan telpon itu seorang wanita? Siapa wanita itu?


"Mas... Siapa wanita itu?"


Mas Ryan tiba-tiba mengambil tanganku sambil menciumnya. Dia terlihat mau menangis juga.


" Dek.. Maafkan Mas... Kamu enggak salah Dek...."


" Ini semua salah Mas...."


" Mas sepertinya depresi dan minder Dek.."


" Kamu pintar dan sekarang sedang kuliah S2.. sedangkan Mas. Mas hanya dirumah aja sambil mengurus Indra...."


Mas Ryan juga menangis. Dia tampak sesungukkan.


" Untuk kebutuhan sehari-hari juga mengandalkan dari beasiswamu dan kiriman Kak Andi..."


" Mas malu dan merasa enggak berguna Dek.."


" Kalau memikirkan hal itu Mas jadi merasa kesal dan emosi. Maaf Dek, Mas jadi marah-marah dan berkata kasar padamu...."


" Mas minta maaf...."


Mas Ryan masih menangis sambil memegang tanganku. Aku yang baru pertama kali melihat Mas Ryan menangis jadi tidak tega. Air mata yang sudah aku tahan pun ikut keluar.


" Yasudah Mas... Aku sudah maafin Mas.."


" Tapi, wanita itu siapa Mas? Siapa yang sayang-sayangan sama Mas?" Aku masih penasaran.


" Itu adikku yang telepon, Ita. Dia katanya mau resign dan mau cari kerja di tempat lain..."


" Terus aku bilang, sayang kalau dia keluar gitu aja. Di tempat kerjanya yang sekarang kan susah masuknya. Dan gajinya lumayan besar..."


Oh iya. Aku ingat Ita adik ipar ku memang bekerja di perusahaan yang tidak kalah bagus juga dengan Kak Andi.


Sudah puas dengan jawaban Mas Ryan, kami jadi menangis bareng. Untung Indra sudah tidur.


" Sudah kamu jangan nangis lagi sayang... Nanti matamu sembab.." Mas Ryan yang sudah mulai tenang membantu menghapus air mataku.


"Iya Mas..."


"Tidur yuk. Ini sudah malam.."

__ADS_1


Mas Ryan memelukku. Menaruh kepalaku di dadanya yang bidang. Dia terus mengusap-usap rambutku dan mencium kepalaku.


Bibirnya sesekali terdengar kata maaf. Aku rasa malam ini aku bisa tidur dengan tenang.


__ADS_2