
Diana keluar kamarnya menuruni tangga. Kini dia tidak peduli lagi jika suara langkah kakinya akan membangunkan suaminya.
Dia mengambil air wudhu. Menggelar sajadah dan memakai mukena. Suasana sepertiga malam yang biasanya sunyi kini penuh dengan suara Isak tangisnya. Tangis yang ia tahan dari tadi di kamar, kini tumpah ketika dia sedang berdiri dan mengucap takbiratul ihram.
Tubuhnya masih bergetar. Pundaknya seakan memikul beban yang sangat berat. Air mata terus membasahi pipinya. Bibirnya terasa kaku dan terbata-bata ketika mengucapkan bacaan salat. Sesekali ia tersenggal oleh suara nafasnya yang tidak beraturan. Kakinya masih terasa lemas untuk sekedar berdiri namun Diana berusaha untuk tetap khusyuk.
Empat rokaat salat malam yang biasa dilewati hanya lima belas menit, saat ini dia menghabiskan waktu hingga tiga puluh menit. Diana tampak meresapi setiap bacaan salat yang dia ucapkan.
Diana mengakhiri shalatnya dengan salam. Di dalam hati kecilnya dia masih terus berusaha mengatakan bahwa ini semua bukanlah kenyataan. Tetapi saat teringat isi pesan dan juga foto-foto suaminya dengan wanita itu membuat Diana tertampar dan menyadari bahwa ini semua adalah kenyataan. Ini kenyataan dan inilah yang terjadi!
Diana mengangkat kedua tangannya. Disaat semua orang tertidur lelap dan Diana tidak tahu ke mana tempat dia harus mengadu, dia ingin bercerita kepada Sang Khaliq.
Lirih terdengar ucapan istighfar keluar dari mulutnya. Tidak hanya pipinya kini mukenanya pun basah karena air matanya yang terus menerus mengalir.
"Astaghfirullah..... Astaghfirullah..."
"Ya Allah... Engkau telah tunjukkan kebenarannya.."
"Sekarang apa yang harus hamba lakukan ya Allah?"
Kata-katanya tersenggal. Terputus-putus karena nangisnya yang sesenggukan.
Seperti potongan puzzle. Semua hal yang terjadi beberapa bulan ini dan membuat suaminya berubah kini bisa Diana susun jawabannya dengan mudah.
Jadi ketika selama ini Mas Ryan jarang ada di rumah bukanlah sekedar pergi ke minimarket. Melainkan menemui wanita itu dan barang-barang yang Mas Ryan beli di minimarket hanyalah alat untuk mengelabui istrinya.
Ketika Mas Rian pun menjadi pesolek dan suka merawat dirinya itu bukanlah untuk isterinya tapi untuk wanita itu.
Belum lagi ketika Mas Rian menjadi cuek, dingin, marah dan mengumpat kata kasar kepada Diana bukanlah semata-mata karena khilaf atau malu karena tidak mampu membiayai dan memberikan nafkah.
Tapi memang sudah tidak ada cinta lagi yang tersisa untuk istrinya. Karena semua cintanya sudah dia diberikan untuk wanita itu.
Saat Indra mendengar Mas Ryan menelpon dan sayang-sayangan berarti memang dia sedang menelpon wanita itu. Dan tentang Ita yang katanya resign hanyalah alasan untuk membodohi istrinya.
Dan semua itu baru beberapa kebohongan-kebohongan yang Diana ketahui. Karena selama beberapa bulan belakangan ini sudah pasti banyak kebohongan-kebohongan yang suaminya lakukan.
Diana menjadi tidak habis pikir. Bagaimana bisa suaminya tidur dengan nyenyak padahal dia sudah melakukan dosa besar hingga berzina?
__ADS_1
Bagaimana bisa suaminya bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Padahal dia sedang menyembunyikan aroma busuk dari istrinya.
Semakin Diana menyadari bahwa dirinya telah dibohongi mentah-mentah oleh suaminya dan kepercayaan yang selama ini dibangun selama tujuh tahun kini hancur seperti cermin berkeping-keping dan tidak mungkin bisa untuk disusun kembali seperti semula.
"Ya Allah.... Hamba mohon petunjukMu..."
Tidak banyak yang ia ceritakan kepada Tuhannya namun ia yakin bahwa Sang Pencipta pastilah mengetahui apa yang ia alami.
Waktu sepertiga malam kini sudah lewat. Terdengar sayup-sayup suara Adzan Subuh berkumandang.
Diana yang biasanya bergegas ke lantai dua menuju kamar untuk membangunkan Mas Ryan agar bisa salat subuh berjamaah, kini lebih memilih untuk salat sendiri.
Diana masih bersyukur karena seandainya saja tadi dia salat tahajud di atas pasti Indra akan terbangun mendengar suara tangisnya.
Walau hatinya masih terasa sangat sakit, kini Diana mampu berdiri dengan kedua kakinya. Matanya menjadi bengkak karena air yang keluar dari sana hingga subuh ini tidak juga berhenti.
Ia salat subuh lebih khusyuk dari biasanya. ini seperti Diana menemukan obat untuk sakit hatinya dengan menghabiskan waktu bertemu dengan Tuhannya.
Selesai salat subuh Diana menyiapkan sarapan. Dia tidak bisa bersikap cuek seperti yang dilakukan suaminya. Karena bagaimanapun juga ada Indra yang harus ia beri makan.
Saat Diana sedang memasak di dapur suaminya keluar dari kamarnya dan turun. Mas Ryan memanggil dan bertanya kepadanya.
Diana hanya diam dan meneruskan memasak tanpa membalikkan badan.
Melihat Istrinya tidak menjawab, suaminya mengira bahwa Diana mungkin saja tidak mendengar pertanyaannya. Maka suaminya melanjutkan untuk mengambil wudu dan salat subuh sendiri.
Sarapan sudah siap lebih cepat dari waktu biasanya. Diana menuju lantai 2 untuk membangunkan Indra yang masih belum turun.
Saat bangunkannya Indra terlihat ada yang aneh diwajah Mamanya.
"Mama kok matanya bengkak banget?"
"Ma-mama lagi sakit mata sayang. Yuk, bangun dan turun kebawah. Mama sudah selesai bikin sarapan."
Dia mengajak Indra turun kebawah dan menyiapkan sarapannya. Setelah itu Diana bergegas ke atas untuk mandi dan siap-siap berangkat kuliah. Entahlah, tapi siapa yang akan tetap mempunyai nafsu makan disaat seperti ini?
Awalnya Diana sangat bingung apa ia bisa pergi kuliah dengan perasaan yang sangat hancur seperti ini? Tapi kalau pun Diana di rumah saja ia masih belum bisa mengontrol emosinya. Melihat wajah Mas Ryan tadi saja Diana belum sanggup. Darahnya seakan langsung mendidih. Dan sisa air mata sejak tadi pun belum sepenuhnya bisa hilang.
__ADS_1
Walaupun Diana masih terasa sangat terpukul dengan apa yang dia temukan tadi malam tapi dia harus segera menyadari bahwa dia harus bisa berpikir jernih dan ia harus bisa menenangkan emosi nya agar logikanya bisa kembali berjalan. Karena bagaimanapun juga dia sudah memiliki indra.
Ya, Indra. Dia yang membuat Diana sekarang sudah bisa sedikit tenang. Ada malaikat kecilnya yang akan selalu menjadi pelipur lara baginya.
Diana masih merasa aman untuk saat ini meninggalkan Indra dengan Mas Ryan di rumah sedangkan dia pergi kuliah. Karena bagaimanapun juga Mas Ryan tidak pernah berlaku kasar terhadap Indra.
"Mama mana Indra?" Suaminya heran melihat anaknya makan sendiri di dapur.
"Mama tadi langsung keatas Pa. Katanya mau mandi dan siap-siap kuliah."
"Mama juga lagi sakit mata Pa. Tadi mata Mama bengkak"
"Oh, harus segera diobati itu. Nanti bisa menular. Indra jangan dulu dekat-dekat mama ya sampai mata Mama sembuh."
"Iya Pa.."
Aku sudah selesai mandi. Aku juga sudah bersiap-siap untuk berangkat kuliah. Hanya saja aku menambahkan kacamata untuk menutupi mataku yang sangat bengkak.
Intan pasti masih belum siap karena sekarang belum menunjukkan pukul delapan. Tapi sebaiknya aku tetap berangkat duluan aku rasa aku butuh waktu sendiri sekalipun hanya berjalan ke kampus.
Diana mengeluarkan HP nya dari tas dan segera mencari nomor kontak Intan.
(Assalamualaikum.Tan, aku berangkat ke kampus duluan ya. Sampai ketemu nanti di sana)
Selesai mengirim pesan kepada Intan Diana keluar kamar dan turun ke bawah. Dia berpamitan dengan mencium pipi Indra. Akan tetapi tidak menyentuh seujung jari pun kepada suaminya.
Mas Ryan hanya diam dan heran melihat Diana seperti itu. Dia hanya bisa terus memandang punggung Diana hingga Diana menuju ruang tengah lalu membuka pintu dan mengucapkan salam seperti biasa saat ia akan pergi keluar rumah.
Diana terus melangkah berjalan menuju halte bus. Langkahnya pelan tapi terasa sangat berat. Tangannya masih saja mengeluarkan keringat dingin. Entah karena dia belum sarapan atau karena dia masih shock dengan apa yang dia temukan tadi malam.
Bukti-bukti isi percakapan dan foto-foto suaminya dengan wanita itu kini sudah tersimpan aman di HP miliknya.
Diana memang masih belum bisa berpikir secara logic menggunakan akal sehatnya. Namun yang pasti di saat seperti ini ia butuh saran dari sahabat-sahabatnya.
Tidak lama Diana sampai halte, bus yang ditunggu sudah datang. Saat dia di dalam bis ternyata sudah ramai dengan orang-orang yang memulai aktivitas. Beberapa di antara mereka memandangi wajah Diana. Seolah mereka tahu darimana asal mata bengkaknya itu.
Bagaimana tidak? Mata bengkaknya itu sekalipun sudah tertutup dengan kacamata masih terlihat sangat jelas. Sangat bengkak dan merah.
__ADS_1
Diana berusaha menyembunyikan wajahnya dengan menunduk dan segera mencari tempat duduk. Tempat di pojok paling belakang merupakan tempat duduk yang pas untuk Diana agar tidak perlu lagi menjadi pusat perhatian dan menyembunyikan semua rasa yang masih tertinggal tadi malam.