
Pagi ini aku bangun dengan hati yang damai. Seolah sikap Mas Ryan sekitar seminggu yang lalu memang mimpi buruk bagiku.
"Dek, sini biar Mas aja yang bikin sarapan. Kamu temenin Indra main saja." Kata Mas Ryan sambil memegang pundak ku.
"Enggak apa-apa Mas. Aku aja yang bikin sarapan. Kan nanti saat aku kuliah Mas Ryan yang bikin makan siang untuk Indra."
" Mas khawatir kamu masih capek sayang setelah kemarin kamu semalaman menangis.."
"Udah sini, Mas saja ya sayang.."
Mas Ryan merebut posisi ku di dapur. Dia segera mengiris bawang merah.
"Baik Mas , aku nemenin Indra dulu ya."
Sebelum aku pergi dari dapur, Mas Ryan segera menarik tanganku dan mencium pipiku dengan lembut.
Cup.
"Mumpung Indra enggak lihat." Bisikknya
"Mas Ryan..." Aku kaget dan malu.
Suamiku hanya tersenyum melihat aku bertingkah malu-malu.
Entahlah. Tapi perasaan ini seperti kamu jatuh dari jurang dibawah lalu diangkat kembali ke langit yang tinggi. Perasaanku meluap-luap seperti ABG yang baru puber.
Aku hampiri Indra dan menemaninya bermain. Seketika aku ingat akan janjiku pada Ibu untuk melakukan video call dengan Indra.
"Indra, kemarin Mama ditelpon sama Nenek. Terus Nenek bilang kangen sama Indra. Indra mau telpon Nenek enggak?"
"Mau Ma. Indra juga kangen sama Nenek Ma. Indra mau telpon Nenek." Indra senang sekali ingin segera telpon dengan Neneknya.
"Bentar ya. Mama ambil handphone dulu dikamar."
Aku segera ke atas ke kamarku untuk mengambil handphone.
"Mama udah ambil handphonenya belum?" Indra terdengar tidak sabaran.
"Udah Nak. Ini Mama langsung ke bawah."
Aku segera memencet nomor kontak Ibu. Semoga bisa segera Ibu angkat. Aku nyalakan mode video call dan aktifkan kamera depan.
Tuttt... Tuut...
"Halo Assalamualaikum..."
" Wa'alaikumsalam warahmatullahi... Indra.. cucu kesayangan Nenek.."
"Nenek!!"
"Duh Indra sayang udah besar. Indra kangen enggak sama Nenek?"
"Kangen Nek. Indra kannggeennnnn banget sama Nenek."
"Panjang amat kangennya.." Ibu tertawa melihat ocehan Indra.
"Lagi ngapain Indra?"
"Indra lagi main sama Mama Nek."
"Indra udah makan belum?" Tanya Ibu.
"Belum Nek. Tapi ayah lagi masak."
"Yang masak suamimu Ana?" Ibu terlihat terkejut dengan jawaban Indra.
" Iya Bu. Mas Ryan bantuin aku bikin sarapan."
Aku berjalan ke dapur untuk menghubungkan Ibu dan Mas Ryan.
"Mas, ini Ibu lagi video call.."
"Halo Assalamualaikum Bu."
"Wa'alaikumsalam Ryan... Kok kamu yang masak? Apa Ana enggak pernah bikin sarapan?"
"Ana suka bikin sarapan kok Bu. Hanya saja kali ini aku ingin bantu Ana di dapur."
" Alhamdulillah kalau kalian di sana sehat-sehat semua dan baik-baik saja."
"Ibu sempat khawatir sewaktu Ana bersikeras mau ambil S2 di Turki. Karena dia sama sekali belum pernah pergi ke luar negeri.."
" Apalagi untuk kuliah dengan waktu yang tidak sebentar.."
" Tapi sekarang Ibu lega karena ada kamu Ryan yang bisa menjaga Ana dengan baik.."
"Nenek..." Indra seolah ngambek karena dicukein.
"Nek, mau lihat Indra berhitung?" Indra mengajukan diri untuk unjuk gigi.
"Boleh sayang. Nenek mau lihat dong cucu nenek yang pintar."
Indra mulai berhitung dari satu hingga dua puluh. Sekilas aku perhatikan Mas Ryan tersenyum sambil terus memasak sarapan mendengar interaksi Indra dengan Ibu.
Mas Ryan sudah selesai masak. Aroma nasi goreng buatannya memenuhi dapur. Indra yang sedari menunggu sarapan seolah sudah tidak sabar.
"Papa, wangi banget nasi gorengnya.." Indra langsung menoleh ke Mas Ryan.
__ADS_1
" Oh, cucu Nenek mau sarapan ya?"
" Iya Nek. Indra udah lapar.." Jawabnya polos.
" Yaudah kalau gitu, Indra sarapan sama Papa dan Mama ya. Nenek pamit dulu."
"Assalamualaikum cucu kesayangan Nenek.."
"Wa'alaikumsalam Nek. Muach, muach, muach.." Indra memajukan bibirnya seolah mencium Ibu secara langsung.
Sebelum Ibu benar-benar menutup teleponnya, Ibu terlihat tertawa melihat tingkah laku Indra.
Tidak hanya Ibu. Mas Ryan yang di dapur juga tertawa melihatnya.
"Indra sayang banget ya sama Nenek?" Tanyaku.
"Iya Ma. Indra kangen. Nenek baik soalnya. Apa yang Indra mau pasti dikasih.." Dia pun nyengir.
"Udah yuk sarapan. Indra sudah lapar kan?" Ajak Mas Ryan dari dapur.
Kami segera menyantap sarapan buatan Mas Ryan. Di meja makan yang dari beberapa hari belakangan ini terasa kaku dan dingin, kini sudah terasa hangat dengan candaan dan sikap Mas Ryan yang kembali perhatian.
Seusai sarapan aku membantu Mas Ryan membersihkan piring dan mencucinya. Tiba-tiba Mas Ryan merangkul pinggangku dari belakang.
"Mas , nanti dilihat Indra.." Aku kaget sekaligus khawatir.
"Indra lagi asyik nonton TV kok Dek.." Mas Ryan menempelkan dagunya dibahuku.
"Sayang, aku merasa permintaan maaf ku semalam tidak cukup untuk menghapus air matamu..."
"Enggak apa-apa kok Mas. Namanya kita nikah pasti ada bertengkarnya. Walaupun aku merasa pertengkaran kita belakangan ini yang paling besar, tapi aku sudah memaafkan Mas Ryan....."
" Sayaang....." Mas Ryan semakin erat merangkul pinggangku.
" Aku sekarang sudah baik-baik saja Mas. Jadi Mas tidak perlu khawatir.."
"Sayang, terima kasih selama beberapa hari kemarin kamu sabar hadapin aku..."
"Aku janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.."
"Kamu selamanya adalah bidadariku. Dan itu tidak akan berubah. Aku mencintaimu..."
Kata-kata Mas Ryan seperti oase di padang pasir yang kering. Oase yang sejuk untuk berteduh dan melepas penat dari perjalanan yang melelahkan.
"Aku juga mencintaimu Mas..." Aku balas pernyataan cinta Mas Ryan dengan mengecup bibirnya.
"Kamu berangkat kuliah jam berapa sayang? Aku antar ya?"
" Mas kan tadi sudah bikin sarapan. Belum nanti siang masak lagi. Mas juga harus istirahat ya.."
" Mas, kapan-kapan kita jalan-jalan bertiga sama Indra yuk.. " Aku teringat kami sudah jarang menghabiskan waktu bersama.
"Boleh Dek. Kita memang sudah lama enggak family time..."
"Tapi Dek, mau jalan-jalan kemana? Ini udah akhir bulan, apa uangnya masih cukup?"
"Semalam Kak Andi transfer Mas. Katanya untuk keperluan dan lain-lain. Alhamdulillah jumlahnya lumayan.."
Mas Ryan terdiam sejenak. Ah, aku lupa. Semalam bukankah Mas Ryan mengatakan bahwa dia minder karena selama ini hanya mengandalkan biaya dari beasiswa dan transferan Kak Andi.
"Mas.. aku rasa kamu tidak perlu merasa seperti itu. Mas Ryan kan sebelum ini sudah berusaha mencoba berbagai usaha..."
Aku segera berbalik kebelakang dan bertatap mata dengan Mas Ryan. Sambil memegang kedua pipinya, aku berkata.
" Artinya Mas Ryan bukannya tidak bertanggung jawab atau apapun. Tapi memang belum rejeki kita aja..."
"Tidak perlu merasa seperti itu lagi Mas..."
Mas Ryan mulai tersenyum.
" Iya sayangku. Terima kasih sudah bersikap sangat baik sama Mas.."
" Nanti sesuaikan saja dengan jadwal kuliahmu ya, baru nanti kita jalan-jalan.." Mas Ryan mengecup keningku.
"Iya Mas..."
"Mas, aku siap-siap berangkat kuliah sekarang ya. Aku nanti berangkat sama Intan. Jadi Mas tidak perlu cemas.."
Mas Ryan mengangguk. Aku segera ke atas untuk mempersiapkan semua keperluan kuliah.
Aku mandi dan segera berpakaian. Aku cari handphone diatas meja dekat tempat tidur. Aku kirim pesan ke Intan.
( Assalamualaikum. gimana kabarnya? Sudah sehat? Tina tadi chat kalau semalam demammu sudah turun.)
Intan segera membalas.
( Wa'alaikumsalam Na. Alhamdulillah aku sudah sehat.)
( Hari ini masuk kuliah? )
( Masuk Ana. Kalau aku enggak masuk lagi bisa-bisa tugas menumpuk)
Ia tambahkan emoticon sedang menangis
( Kalau gitu berangkat bareng ya. Aku sudah siap. Nanti aku ke kosanmu)
( Wah, tumben kamu jam segini sudah siap?)
__ADS_1
( Tadi pagi tidak banyak yang aku kerjakan Tan karena Mas Ryan sudah bantuin aku bikin sarapan)
( Oh oke. Aku tunggu kamu dikosan ya Ana)
( Oke sist )
Aku turun ke bawah dengan membawa kaos kaki yang baru saja aku ambil dari lemari. Kulihat di ruang tamu, Mas Ryan sedang menemani Indra bermain mobil-mobilan.
"Pa, Indra, Mama berangkat sekarang ya." Aku menghampiri Mas Ryan yang sedang memegang mainan Indra dan mencium tangannya.
" Iya Ma..." Indra segera meraih tanganku untuk mencium tangan.
"Assalamualaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
"Hati-hati dijalan ya Ma.." Suara Mas Ryan terdengar dari balik pintu.
Aku melangkah keluar dengan hati yang ringan. Aku perhatikan cuaca hari ini. Memang masih musim panas, namun karena masih pagi udara masih terasa sejuk.
( Cuaca pagi ini sangat bagus, Mas Ryan sudah kembali seperti semula dan Intan sudah sembuh )
( It's best day ever )
Aku sudah sampai di kosan Intan. Aku sempatkan untuk melihat ke jendela dekat pintu yang memantulkan bayanganku. Tanpa sadar sedari tadi aku ternyata senyum-senyum sendiri.
" Udah, udah cantik. Enggak perlu ngaca." Intan keluar dari kosannya.
Aku jadi malu. Jadi dia melihatku senyum-senyum sendiri sambil lihat bayanganku dijendela.
"Apaan sih Tan. Aku cuma lihat sebentar bayanganku kok. Udah yuk berangkat."
Kami berdua jalan menuju halte. Jalan yang biasa aku lalui sekarang, seolah bertaburan bunga disepanjangnya. Aku bersenandung dengan suara yang pelan.
" Ana, ada suatu hal yang terjadi ya?"
" Maksudnya? Kenapa bertanya seperti itu Tan."
" Bagaimana aku enggak nanya Na, kamu dari tadi senyum-senyum sendiri begitu..."
" Mana sambil bersenandung,~hmm,~hmm,~hmm lagi...."
" Perasaanku hari ini sangat bahagia Tan dan badanku terasa ringan untuk melangkah. Ditambah lagi cuaca hari ini sangat bagus.."
" Aku merasa ini hari terbaik untukku." Aku tersenyum lebar menjawab pertanyaan Intan.
" Memang ada kejadian apa Na?"
" Mau tahu aja apa mau tahu banget?" Aku meledek Intan yang mulai kepo.
Intan langsung manyun mendengarnya.
"Jahat ya kamu. Tinggal cerita doang. Toh, kalau memang berita baik kan aku ikut senang Na.."
"Iya deh iya. Aku ceritakan ya.."Akhirnya aku lemah terhadap rengekannya.
" Seperti yang tadi bilang melalui pesan, kalau Mas Ryan membantuku menyiapkan sarapan. Nah, saat Mas Ryan menyiapkan sarapan aku menelpon Ibu Tan..."
" Indra senang walau hanya video call dengan neneknya. Terus enggak lama aku dapat kabar kalau kamu udah sembuh. Dan sekarang perjalanan ke kampus dengan cuaca yang bagus juga.."
Aku tetap memilih untuk tidak menceritakan sikap suamiku yang sempat berubah. Menurutku itu tidak perlu untuk saat ini karena sikap Mas Ryan sekarang juga sudah kembali.
"Hmmm...."
Melihat respon Intan, sepertinya ia tidak puas dengan jawabanku. Namun aku tetap tersenyum.
Bus sudah datang. Kami berdua naik dan mencari tempat duduk.
Triing..
Aku melihat pesan masuk dilayar handphoneku. Pesan dari Tina.
" Tan, kamu udah sarapan?"
"Belum Ana. Tadi aku hanya minum madu hangat."
" Tadi Tina chat katanya kita langsung ke kantin saja sekalian sarapan."
" Oke nanti kita langsung ke kantin."
( Ah, aku lupa. Kalau ada Intan aku tidak bisa se leluasa kemarin untuk bercerita )
( Padahal ini berita bagus. Dan Tina pasti sudah menunggu hal ini )
( Aku beritahu Tina lewat pesan saja)
( Tin, begitu sampai kampus kami akan segera ke kantin. Oia, terkait pertengkaran ku dengan Mas Ryan Alhamdulillah sudah selesai dengan baik )
( Mas Ryan mengakui semua kesalahannya. Dan penyebab suamiku menjadi cuek dan pemarah karena Mas Ryan selama ini merasa minder dan kesal karena sebagai suami belum bisa menafkahi dengan baik.)
( Itu yang membuat harga diri Mas Ryan terluka. Tapi akhirnya Mas Ryan tadi sudah kembali menjadi Mas Ryan yang kukenal Tin )
( Tadi pagi aku juga sempat menelpon Ibu. Aku sangat lega karena tidak perlu memberi tahu ataupun menyembunyikan masalah kemarin karena kami sudah berbaikan )
( Alhamdulillah aku ikut senang mendengarnya. Semoga kedepannya semakin harmonis ya Na. Aamiin )
( Aamiin )
__ADS_1